“Rumah sakit jiwa? Ya.” Aku membuat suara dan sikapku sesantai mungkin. “Tapi, bisa jadi tempat yang itu, tempat lain atau hal lain.”
Perempuan ini menatapku lama dan mengakhirinya dengan senyuman.
Raut wajahnya kini tampak kembali tenang.
“Kalau yang aku tahu, Puspa Wangi yang rumah sakit jiwa saja, letaknya dua kota jauhnya dari sini,” ucapnya dengan lebih tenang, kini suara gemetar dalam suaranya hilang sempurna.
Aku tertegun melihat bagaimana ia menjawab pertanyaan ini pada akhirnya.
“Apa ada yang masih ingin ditanyakan?” sambung Rana sambil menghabiskan sisa teh manis yang tadi kubuat.
“Em … apa jika memiliki anggota keluarga yang ada di sana itu … harus disembunyikan?” Pandanganku menerawang.
Lengang.
Kepala ini menoleh ketika tidak ada jawaban yang terdengar.
“Oh!” seru Rana ketika menyadari kepala ini tertoleh padanya karena menunggu jawabannya.
“Em, apa karena yang kemarin,” ucapnya sambil memiringkan kepala, gerakan yang ditujukan untuk menunjuk kepergianku selama beberapa hari lalu.
Dan aku langsung mengangguk tanpa ragu.
Perempuan ini terdiam, menunduk sejenak, lalu kembali mengangkat kepalanya.
“Kalau misalnya itu ada di keluargamu apa yang akan Kamu lakukan?” jawabnya dengan nada suara yang dalam.
Aku cukup terkejut dengan raut wajahnya yang lain dari biasanya, ia seolah menjadi Rana yang lain.
“Em … tentu aku akan membicarakannya baik-baik. Menurutku, hal seperti itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan dan akan menimbulkan … ya … menimbulkan masalah untuk urusan yang lain,” jawabku sambil dalam hati menyayangkan sikap Sakti yang menurutku justru sepertinya … terkesan menutup-nutupi masalah itu.
Dan lebih parahnya, Sakti malah seperti menyalahkan aku dan terlihat marah karena hanya sebuah pertanyaan.
Kejengkelan tentang masalah itu kembali menyeruak dan itu membuat mata ini mulai menghangat.
“Ayla orang yang baik,” kata Rana sambil dengan kaku mengacungkan ibu jari.
Aku tertawa melihat itu. Dan hal itu sedikit mengusir kejengkelan yang baru saja menyeruak sesaat tadi.
“Aku justru kasihan dengan keluarga yang ditempatkan di sana itu, tetapi ….” Kalimatku tak selesai, pikiran ini merekam apa yang kudengar dari mulut calon ibu mertua itu yang sepertinya terlewatkan olehku.
E … tunggu!
Apa benar yang katanya “mendekam” di Puspa Wangi itu benar-benar keluarganya?
Mengapa dalam kalimat-kalimat itu seperti mengandung … e … kebencian?
Ya, sepertinya kalimat-kalimat yang kudengar itu mengandung kebencian.
“Ah!” Aku terlonjak, rupanya Rana menyentuh pundak ini.
“Apa Ayla baik-baik saja?” ucap Rana dengan raut wajah khawatir.
Aku tersenyum, dan agak geli, biasanya pertanyaan itu untuknya, mungkin kebengonganku membuat ia khawatir.
“Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedang memikirkan sesuatu yang tiba-tiba melintas,” jelasku.
Rana tersenyum dan terlihat lega.
“Apa ada yang membenci anggota keluarga sampai seperti itu,” lanjutku tanpa mempedulikan apakah Rana tahu yang kumaksudkan.
Tiba-tiba aku bergidik membayangkan orang seperti apa yang dibalik sosok tinggi kurus itu, ibu calon suamiku.
“Ya?” ucap Rana dengan raut muka kebingungan.
“Em … maksudku jika ada yang seperti anggota keluarga, tapi berada di Puspa Wangi, apa pihak keluarga yang lain harus sangat membencinya?” jelasku pada Rana dengan pelan-pelan.
Rana terlihat langsung paham, tapi kedua bahunya sedikit bergerak turun dengan samar.
“Bisa. Bisa sekali, meskipun orang yang berada di sana itu dari anggota keluarga sedarah atau yang hadir karena perkawinan,” jawabnya dengan tenang.
Sekali lagi, aku tertegun melihat ketenangan yang tersirat dalam wajah dan suaranya. Lalu, perempuan ini kembali menatap dengan tak berkedip.
“Apa Ayla benar-benar ingin tahu?” ucapnya kemudian.
Aku terheran dengan apa yang ia tanyakan, tetapi tak urung hal itu membuat kepala ini mengangguk.
Rana tak melepaskan pandangan matanya.
Dan aku menyadari reaksi-reaksi dari Sakti yang di luar kebiasaan, justru membuat rasa penasaran ini makin bergejolak.
“Kurasa hal itu akan sedikit sulit,” jawab Rana dengan ketenangan yang makin bertambah.
Aku tertegun ketika menyaksikan perubahan pada diri perempuan yang menyewa kamar kecil di samping rumah ini.
“Oh ya? Dari mana Rana tahu?” ujarku penuh selidik.
“Tentu saja hal seperti itu bukan hal yang mudah untuk dibuka, ya setidaknya untuk orang yang memiliki keputusan untuk menyembunyikan hal tersebut,” ucapnya dengan ringan.
Keadaan seperti berbalik, kini aku menjadi orang yang tidak tahu apa-apa.
“Benar juga ya,” balasku menyetujui apa yang ia ungkapkan.
“Sepertinya, Ayla harus berusaha sendiri untuk mengungkapkannya,” lanjutnya sambil beranjak dan membawa nampan berisi alat-alat makan ke belakang.
“Kita sambung lain kali, ada yang harus aku selesaikan,” ucapnya sambil menggerakkan kepala untuk meminta izin masuk ke dapur dan mencuci alat-alat makan itu.
Aku mengangguk.
“Benar ya, nanti kita ngobrol lagi,” balasku sambil mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Perempuan ini manggut-manggut menanggapi ucapanku.
Rana tampak buru-buru menyelesaikan mencuci alat makan itu dan ia kembali mengatakan harus menyelesaikan pekerjaan yang baru diperolehnya, yang bisa dikerjakan secara online.
Aku bersyukur sekali, perempuan ini kini tampak bersemangat.
Aku juga segera menuju meja kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus dikirim ke kantor sore ini.
***
Hari berganti, waktu berlalu.
Ini adalah akhir pekan dan sudah beberapa hari berlalu dari terakhir aku dan Sakti berbicara.
Tapi, sampai saat ini, kami berdua tidak saling berkirim pesan apalagi teleponan.
Walaupun begitu, kedua pihak keluarga tetap berkomunikasi dan menjadwalkan pertemuan awal untuk membahas acara lamaran lebih lanjut.
Bersyukur sekali, sekali lagi, ada Rana di rumah ini dan dalam beberapa hari ini ia sering menjadi teman bicara yang menyenangkan.
Perempuan itu sudah dapat berkomunikasi dengan baik, meskipun kadang beberapa hal masih membuatnya bereaksi seperti semula.
Apa yang dipakainya juga tak lagi menyakiti mata. Dua pasang baju yang semula sering dikenakan itu tak lagi dikenakannya.
“Sepertinya, Ayla harus berusaha sendiri untuk mengungkapkannya.” Kata-kata dari Rana itu kembali terngiang.
Apa aku harus bertindak untuk memenuhi rasa penasaran ini?
Em … sepertinya pertanyaan ini patut ditindaklanjuti, toh keluarga itu akan menjadi keluargaku. Dan kurasa masalah ini sangat penting karena saat ini pun efeknya sudah memperngaruhi hubungan ini.
Aku bergegas memasukkan barang-barang yang perlu dibawa dalam perjalanan akhir pekan ini.
Ya, aku harus melihat sendiri apa yang ada di tempat itu, tempat yang disebut Puspa Wangi itu.
Tangan ini mengetuk pintu kamar Rana.
“Aku akan ke Puspa Wangi,” ucapku ketika wajah perempuan itu nongol di ambang pintu.
“Hah?!” seru Rana dengan kelopak mata melebar dan mulut menganga.