Raut wajah calon mertuaku itu tampak sangat serius dan terbaca sangat menginginkan jawaban yang mengikuti kemauannya.
“Em … saya malah tidak tahu akan ada masalah seperti ini, Bu. Dalam rentang satu tahun ini, kami sama-sama saling mengenal pribadi kami masing-masing saja,” jawabku dengan lembut.
Sesaat aku berpikir, mungkin … mungkin selama satu tahun ini, aku malah sama sekali tidak mengenal calon suamiku dengan baik.
Itu hal yang baru kusadari.
Ya … aku baru menyadari kalau selama ini, aku sibuk jatuh cinta dengannya, mencintainya dengan apa yang ada di pikiranku.
Mendadak aku mendapati diriku sendiri terkejut dengan kenyataan ini. Lalu aku bertanya pada diri sendiri, aku ini jenis wanita seperti apa?
“Huft!”
Suara embusan napas yang terdengar jelas membuatku mengakhiri lamunan dan kembali menatap ibu Sakti yang tengah menunjukkan ekspresi kecewa.
“Ibu benar-benar mengharapkan jawaban iya dari mulut Nak Ayla,” jelasnya dengan terus terang.
Aku mencoba melemparkan senyum dan berusaha dengan sabar menghadapi kekecewaan yang ia tunjukan.
“Saya harap Ibu bisa bersabar karena seperti yang diungkapkan oleh anak ibu, banyak sekali yang harus dipikirkan sebelum memutuskan, mengingat saya ada kesibukan sendiri di kota saya,” kilahku memberi alasan agar calon mertuaku ini tidak begitu kecewa.
Wanita paro baya yang tampak berpengaruh ini kembali mengembuskan napas, lalu mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Ibu rasa jika Nak Ayla sudah menjadi istri anak ibu, Nak Ayla tidak akan sedikit pun kekurangan jika tidak menjalankan kesibukan itu,” ucapnya sambil masih menatap tanpa ekspresi ke arah lain.
Ucapan itu begitu tidak enak didengar di telinga ini, ingin sekali mulut ini langsung menjawab dengan deretan kata-kata yang tak kalah tak enak didengar, bahkan disertai dengan paparan bukti dan data.
“Seharusnya ibu tahu, tanpa menikah dengan anak ibu dan tanpa bekerja pun orang tua saya bisa menjamin kecukupan itu,” jawabku dalam hati, sayang … hanya dalam hati saja!
Mungkin calon mertuaku ini lupa jika aku juga berasal dari keluarga yang tidak kekurangan.
Lalu, aku merasa ada yang menyentuh lembut tangan ini, dan ketika menoleh Sakti sedang menatap sambil sedikit mengangguk dengan mimik wajah meminta pengertian.
Calon suamiku ini kemudian menggenggam erat tanganku.
“Bu, ini ‘kan baru pertama kali bertemu, masak langsung meminta persetujuan seperti itu. Sabar …, nanti menantu kita ini takut lo,” seloroh bapak Sakti sambil tersenyum untuk membujuk istrinya.
“Iya, Bu. Namanya juga orang lagi jatuh cinta, dalam waktu setahun itu yang diomongkan pasti cinta-cinta saja,” celetuk Sinta sambil terkikik.
Dan luar biasanya, ucapan yang seperti diucapkan untuk bercanda itu justru mampu membuatku tersindir karena hal itu sepertinya lebih mirip menggambarkan apa yang selama ini terjadi.
“He em, he em,” sahut si bungsu sambil menghabiskan minuman yang ada di depannya.
“Kalian tahu apa sih? Kalian ‘kan masih kecil!” protes ibu Sakti pada anak-anak perempuannya.
“Bu, kami ini sama-sama wanita jadi tahulah. Kalau punya pacar seganteng Kak Sakti, tentu kerjaannya tiap hari hanya jatuh cinta … khusus, itu saja!” sangkal Sinta sambil tersenyum lebar.
“Woh! Benar sekali,” sahut si bungsu sambil bertepuk tangan dengan meriah.
Acara malam itu berakhir dengan sedikit tidak bahagia.
Sesungguhnya, detik itu juga, banyak hal yang akan langsung kubicarakan dengan sakti, termasuk apa yang berulang kali ditegaskan oleh ibunya itu.
Tetapi, sayang …, semua harus dijaga karena ini bukanlah waktu dan tempat yang tepat.
Setelah acara selesai, kami kembali ke kamar kami masing-masing.
Dengan lelah, aku memasuki kamar hotel. Segera membersihkan diri untuk kemudian merebahkan diri di kasur empuk hotel.
Ah!
Menurutku … ini bukan awal yang indah.
Aku yang biasa nggak pernah dapat hambatan berarti dalam kehidupan yang selama ini kujalani, mendadak merasa ada bongkahan batu yang menghalangi langkah.
Tapi, untuk saat ini, sepertinya, sebaiknya aku tidur karena rasa kantuk yang tak bisa ditahan dan memang seluruh badan terada penat.
***
Malam berlalu.
Pagi hari sebelum semua orang bangun, mata ini sudah terbuka, di luar langit masih gelap karena matahari masih sekitar satu jam lagi baru akan menerangi langit.
Setelah mengecek handphone untuk mengetahui pesan-pesan yang mungkin semalam belum sempat terurus, juga … mengecek notifikasi lanjutan tulisan milik Kakak penulis idolaku, kaki ini sepertinya ingin bergerak untuk menikmati udara pagi.
“Tidak! Aku mau dia ditemukan dan dibawa ke tempat semula,” ucap sebuah suara dengan nada tegas terdengar ketika aku melewati satu balkon di luar kamar hotel.
Tunggu!
Sepertinya suara itu mirip suara yang baru-baru ini aku dengar.
Benar, nada ketegasan dalam suara itu tidak beda dengan nada yang semalam kudengar, ibu Sakti.
Kekepoan yang telah tertanam dalam diri membuat kaki ini berhenti di tempat. Balkon itu hanya berjarak beberapa langkah dari lorong hotel tempatku berdiri.
“Lakukan apa saja! kalian telah kusewa. Jangan sampai dia muncul dan kehadirannya mengacaukan semuanya!” Suara itu kembali terdengar.
Kuping ini tambah tegak dengan alis sedikit terangkat.
Tentang apakah itu?
“Telusuri semua keluarganya yang masih ada, mungkin dia bersembunyi di sana … bisa saja ‘kan? Jangan lupa kontak terus dengan Puspa Wangi! Mana tahu mereka memiliki informasi,” perintah wanita itu tanpa menurunkan kadar ketegasan dalam nada suaranya.
“Tidak! Tidak! Jangan sampai ada yang tahu! Termasuk anak laki-lakiku itu, aku tidak mau dia terganggu,” lanjutnya sambil menurunkan nada suara.
Wah!
Kok terdengar makin bikin pensaran ini.
Aku menggeser kaki agar lebih dekat ke asal suara.
“Gimana dengan catatan itu?” ucap wanita itu dengan masih memelankan suara.
“Oh! Bagus! Bagus! Begitu yang kuharapkan,” jawab wanita itu setelah diam mendengarkan suara dari si penelepon.
Beberapa saat tidak terdengar lagi suara calon mertuaku itu berbicara, aku menjadi waspada, khawatir tiba-tiba ia mendadak menemukan aku sedang berdiri di sini.
Em … sebenarnya aku juga bingung, mengapa aku tertarik dengan apa yang sedang wanita paro baya itu bicarakan.
Kemudian terdengar suara ibu Sakti mengembuskan napas panjang berulang kali.
“Tapi, ini sudah lama sekali. Sudah berapa lama sejak ia menghilang? Harusnya, saat ini dia sudah ditemukan dan dikembalikan di tempat semula. Mungkin pernikahan anakku akan diadakan sebentar lagi dan aku nggak mau wanita itu muncul sebagai pengganggu pernikahan ini,” ucap ibu Sakti dengan nada geram.
Eit!
Tunggu!
Aku terkejut mengetahui ternyata apa yang sedang dibicarakan ada hubungan dengan pernikahan anaknya.
Dan anaknya yang akan menikah itu … bukannya calon suamiku?
Eh! Eh! Ini berarti ada hubungannya denganku ‘kan?
“Tidak! Jangan! Aku hanya ingin wanita itu mendekam di sana selamanya,” ucap ibu Sakti dengan nada marah.
Aku-