Dengan langkah lunglai kaki-kaki ini melangkah menyusuri gang sempit di samping rumah.
Kabar yang baru saja kudengar itu seolah membuat seluruh otot-otot tubuh tercerabut.
Dengan meneguhkan hati, kupaksakan kaki ini terus berjalan. Meskipun langkah terasa kian berat ketika sesak di dada makin tak terkendali.
“Ayo terus jalan! Masuk rumah dulu!” perintahku pada diri sendiri.
Dengan tangan gemetaran, aku membuka gembok pintu belakang yang hanya dikaitkan.
Aku bersyukur sekali, dari dulu gembok ini selalu dikaitkan tanpa dikunci.
“Krek!”
Suara pintu besi yang sudah berkarat berderit tak mengenakkan kuping.
Beberapa langkah kemudian, aku sudah berdiri di pintu rumah di bagian samping rumah.
Sesaat aku mengedarkan mata dan menemukan rumah dan halaman rumah ini begitu kotor dan terkesan memilukan.
Lalu, aku masuk ke dalam rumah.
“Ibu, Bapak!” seruku dengan suara gemetar, aku ingin menghapus apa yang baru saja kudengar tadi.
“Ibu, Bapak!” ulangku sambil berjalan menyusuri setiap ruangan yang berdebu.
Hati ini terasa ngilu saat dengan terpaksa menerima kebenaran yang disampaikan oleh tetangga tadi.
“Aaa.”
Aku berteriak tanpa suara, kemudian isak tangis tertahan. Badan ini menggelesot tanpa tenaga di lantai kotor penuh debu.
Akhirnya, air mata mulai mengalir setelah beberapa saat aku berusaha menahannya agar tak keluar.
Detik ini aku menuntaskan semua kesedihan yang ada dalam dada.
Aku menangis hingga tertidur dan terbangun ketika suara kokok ayam jantan terdengar dari kejauhan.
“Ah, lama sekali tidak mendengar suara kokok ayam seperti ini,” seruku dalam hati.
Aku membuka mata, sejenak lupa di mana aku berada.
Perasaan sedih kembali hadir ketika menyadari apa yang telah terjadi.
Tubuh ini tak bergegas bergerak, aku kembali memandang ruang kosong.
Tidak tahu harus berbuat apa!
Jiwa ini seolah terkurung dalam tembok sempit yang menjepit hingga membuat tulang-tulang ini remuk.
“Ayo, jangan menyerah, tetaplah hidup sebelum kematian benar-benar datang!” ucap bagian diriku yang lain.
Kalimat itu kuucapkan berulang-ulang dalam benak hingga membuat tubuh yang meringkuk di lantai sejak tadi malam ini ingin bergerak.
Lalu, aku duduk dan memegang kepala yang terasa berat.
“Ah iya! Kalau di rumah sakit, ini jam setelah sarapan dan itu berarti di jam ini adalah jam minum obat,” seruku dalam hati.
Setelah merasa kuat berdiri, aku beranjak dan segera mencari sesuatu di dapur yang bia digunakan untuk pengganjal perut.
Betapa terkejutnya aku melihat dapur yang berserakan, sepertinya … tempat ini ditinggalkan dengan terburu-buru. Ibu jelas tidak akan meninggalkan dapur dalam keadaan berantakan seperti ini.
“Ibu!” seruku berharap wanita yang baik itu menyahut.
Ah! Mungkin berada di rumah sakit jiwa selama setahun membuat aku berada di ambang kegilaan yang sebenarnya.
Aku mengecek kompor dan ternyata masih menyala, tetapi pasokan listrik mungkin sudah lama diputus oleh perusahaan listrik negara.
Persediaan beras, gula dan beberapa bahan makanan lain masih ada. Tetapi, banyak bahan yang telah kadaluarsa atau busuk.
Otak yang sering disetrum ini kemudian mengingat apa yang sering ditanam oleh bapak.
“Bapak!” seruku sambil berjalan ke halaman belakang.
Dan aku bersyukur karena menemukan sayur-sayur dan tanaman lain yang bisa dimakan.
“Bapak memang juara!” seruku sambil tersenyum, di sini tak perlu khawatir dianggap gila, karena tak ada seorang pun di rumah ini.
Lalu, aku membuat makanan sederhana dari bahan-bahan yang ada.
Beberapa saat kemudian, makanan siap santap. Setelah meludeskan isi piring aku mencoba membersihkan rumah sambil bergerilya mencari barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan, terutama baju, ya … tidak mungkin aku terus menggunakan seragam rumah sakit jiwa ini.
Kaki ini sampai di kamar tidur, dengan mengesampingan rasa sedih yang terus menusuk, aku terus mencari.
“Aah ….” Aku merasa menyesal ketika dulu tak satu pun baju kutinggal di rumah.
Kamar dengan semua kenangan ini kutinggalkan setelah kurapikan. Kemudian, giliran kamar bapak ibu yang kutuju.
“Heh! Kemana perginya semua baju ibu dan bapak?” seruku pada lemari yang tampak kosong.
Kedua orang tuaku memang bukan orang yang kaya, tetapi setidaknya mereka tetap memiliki beberapa baju untuk ganti ‘kan?
Aku tak putus asa dan menemukan sebuah baju yang mungkin diproduksi sebelum zaman kemerdekaan.
Tak apa, yang penting seragam yang menyedihkan ini tidak melekat lagi di tubuhku.
Kemudian, aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Untunglah air untuk rumah ini didapatkan dari sumur.
Sekali lagi, bapak memang juara!
Semua yang cara lama masih dipertahankan, seperti sumur pompa ini.
Setelah badan ini bersih, perasaan sedikit ringan, walaupun kesedihan dan kepiluan menyumbat saluran-saluran kebahagiaan.
Aku melanjutkan bersih-bersih rumah dan rasa pilu makin kental ketika bayangan ibu dan bapak selalu hadir di setiap ruangan.
Semua kenangan itu, kenangan indah dan sedih yang telah terjadi di rumah di mana aku dilahirkan ini berkelebat satu per satu menambah kesedihan.
Apalagi kenangan ketika suamiku yang “itu” datang dan melamarku pada kedua orang tuaku.
Mendadak kenangan indah itu berubah menjadi siksaan ketika bersandaing dengan kenyataan yang kurasakan kini.
Setelah semua tampak sedikit bersih dan tertata, kaki ini sampai di ruang tamu.
“Hah!”
Tanpa sadar mulut ini berteriak melihat amplop-amplop yang berserakan di bawah pintu masuk.
Mungkin petugas eskpedisi pengiriman begitu saja menjejalkan amplop-amplop itu di celah yang ada antara pintu dan lantai.
“Eh!”
Aku berteriak ketika melihat satu amplop yang telah terbuka dan isinya tergeletak di sebelahnya.
Aku mendekat dan meraih kertas itu.
“Ini ….” Sebuah berita tentang masuknya aku ke rumah sakit jiwa tertulis dengan jelas di sana.
“Ah! Apa karena itu tempat ini ditinggalkan dengan buru-buru?” teriakku dalam hati.
“Ah!” teriakku keras menyadari satu kemungkinan yang mungkin terjadi. “Apa karena itu kedua orang tuaku meninggal?”
Kaki-kaki ini kembali gemetar dan lemas hingga tubuh ini kembali menggelesot ke lantai yang belum sempat kubersihkan.
Aku kembali menangis dan menumpahkan kesedihan yang terus merangsek naik ke permukaan.
Apa ada hal yang lebih menyedihkan dari apa yang kualami ini?
Pertanyaan ini muncul disertai satu rasa sesal yang mendalam.
Andai … andai aku tidak mencintai dengan membabi buta pada laki-laki itu, tentu kemalangan tidak akan menimpa kedua orang tuaku.
Sayang sekali …, apa yang bisa didapatkan dari berandai-andai?!
Aku bergegas memunguti semua amplop-amplop ini setelah puas menangis.
Tiba-tiba, pandangan mata ini tersedot pada satu amplop dengan namaku tertera di bagian depannya.
Bagaimana mungkin amplop ini bisa berada di rumah orang tuaku ini?
Aku meletakkan amplop-amplop yang lain di atas meja dan segera membuka isi amplop ini.
Tangan-tangan ini dengan gemetaran mengeluarkan isi amplop yang membuat firasat burukku bekerja.
“Hah! Ini?” seruku dengan mata terbelalak.