Seorang perempuan berdiri di depan pintu. Jujur saja, aku agak terpana melihat penampilannya. Ingin kuurungkan kesepakatan yang telah ada, tetapi pasti aku akan menjadi perempuan tanpa hati di abad ini.
Paduan tubuh kurus dan wajah pucat dengan rambut agak awut-awutan, serta baju yang lusuh dengan model tahun keberapa sebelum perang dunia pertama, mungkin.
Ah, maafkan pengamatanku yang terlalu. Sebagai seorang pemerhati fashion, aku tidak memiliki referensi dari tahun berapa model baju itu datang. Bahkan, beberapa jahitan di bagian kelim terlihat mulai lepas. Membuat mata ini tambah sakit melihatnya.
Ekspresi wajahnya tampak ragu dan takut, sesekali melirik ke kanan dan ke kiri. Membuatku mulai curiga dan mempertanyakan tingkat kewarasannya.
Aku menunggu tanggapannya dengan tetap berdiri mematung di depan pintu yang terbuka lebar. Semenit, dua menit, justru keheningan berjejalan di teras rumah ini.
“Rana?” ucapku memulai percakapan. Aku tak ingin berlama-lama dalam ketidakpastian.
“Eh, ya.” Ia menjawabnya gugup, tiba-tiba napasnya memburu seakan dikejar pemburu. Kecemasan mungkin tiba-tiba menyergapnya.
“Iya, saya yang tadi menelepon, dengan Mbak Ayla, kan?” lanjutnya dengan sedikit lebih lancar.
“Iya.” Aku mengangguk.
Kecurigaan masih mengakar, pertanyaan tentang berapa tingkat kewarasannya masih mengganjal di benakku.
Perempuan ini kemudian meremas bagian samping baju dan kemudian membuat gerakan dengan tangan, kelihatannya ingin mengajak berjabat tangan. Tetapi aku ragu untuk menyambut. Dan beberapa saat hanya mampu menatap tangan yang teracung itu.
“Eh, maaf,” katanya kikuk sambil menurunkan tangan dan kembali meremas bagian samping baju.
“Benar ya, kamu Rana yang ingin menyewa di sini?” tanyaku memastikan.
Bukan apa-apa, aku hanya ingin memastikan, tahu ‘kan, zaman sekarang banyak kejahatan. Tetapi, sejujurnya, melihat penampilannya, kembali ingin kubatalkan perjanjian penyewaan ini.
Yang ditanya manggut-manggut dan menurutku anggukan itu berlebihan. Ah, aku menekan perasaan. Jangan hanya karena baju yang lusuh, semua jadi kupandang menyebalkan.
“Tapi seperti yang kukatakan, kamarnya kecil dan belum dibersihkan,” ucapku, berharap hal itu membuatnya membatalkan penyewaan.
“Oh, ya nggak papa,” jawabnya sambil memberikan senyum yang dipaksakan.
Mencelos hati ini, sedikit kecewa. Jawabanku dimentahkan.
Lalu, aku mengajaknya masuk.
Dengan kedua tangan, diangkatnya satu tas kecil berwarna hitam yang kelihatan kotor di sana sini. Tas yang kelihatan tidak berat itu dibawa sambil dipeluk. Dia mengikuti langkahku menuju kamar kecil yang ada di bagian samping rumah.
Dan begitu sampai di kamar kecil yang dulunya merupakan kamar asisten rumah tangga, aku membuka pintu kamar, segera terpampang sebuah kamar kotor dengan beberapa perabot berdebu yang berserakan. Alat-alat kebersihan berantakan di sana-sini.
Penyewa ini menjulurkan kepala ke dalam untuk melihat keadaan. Kemudian, ia menoleh ke arahku. Sekali lagi dengan senyum yang dipaksakan.
“Barangmu cuma itu?” tanyaku sambil melirik tas kotor di pelukannya.
Dia mengangguk mengiyakan.
“Itu sudah semua?” tanyaku memastikan.
Dia kembali mengangguk.
Bagaimana tidak heran, perempuan di era ini hanya memiliki barang segitu.
Aku angsurkan kunci kamar dan kunci gerbang.
Sekilas tangan itu terlihat kurus, seakan daging enggan menempel di atas tulangnya.
“Tangan yang mengundang kesedihan,” batinku. “Tapi, gimana lagi? Perjanjian penyewaan sudah dibuat, tidak mungkin dibatalkan secara sepihak. Tidak mungkin perjanjian dibatalkan dengan alasan karena tangan yang mengundang kesedihan ‘kan? Lagian, lebih baik kamar itu ada yang menghuni. Jadi, aku yang penakut ini tidak merasa dihantui dengan suara-suara atau bayangan-bayangan yang seakan ada dalam kamar kosong itu.”
Lalu, aku memutuskan untuk meninggalkan perempuan itu dalam kamar barunya sambil berharap semoga semua akan baik-baik saja.
Aku kembali ke kegiatanku semula, mencoba resep masakan yang baru saja kuperoleh. Sejak adanya seruan untuk “Bekerja Dari Rumah”, waktu jadi terasa banyak tersisa. Jadi, hobi lama bisa bersemi kembali.
Tetapi, kali ini pikiranku tidak tenang. Entah kenapa wajah penyewa terus membayang. Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana dia bisa menjadi seperti itu? Dibalik tatapan mata itu, kenapa tersimpan kekosongan? Apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Kekepoan langsung menyeruak mengobrak-abrik benak.
Ah, kenapa aku jadi seingin tahu ini.
Suara-suara terdengar dari kamar kecil itu. Pertanda si penghuni sedang membersihkannya.
Kuputuskan segera menyelesaikan masakan ini dan menikmati hasil karya. Eit, tentu tak lupa kufoto dulu untuk dipamerkan pada cintaku yang sedang sibuk di sana sebelum melahapnya sampai ludes.
Langit di luar mulai menggelap, tanda malam mengambil alih waktu, sejenak menyingkirkan siang yang esok pagi akan mendapat giliran kekuasaan lagi.
Tidak terdengar lagi suara-suara dari kamar sebelah. Mungkin ia kelelahan.
Meskipun begitu, aku merasa ada yang lain malam ini. Mungkin karena ada orang lain di rumah ini jadi aku sedikit merasa lebih tenang.
Walaupun rumah ini tidak begitu besar, tetapi tinggal sendiri di rumah merupakan bagian dari siksaan. Suara detik jam saja terdengar menyeramkan. Belum lagi suara hewan malam yang sepertinya iseng ingin menambah ketakutan.
Ah, kenapa aku begitu penakut!
Untuk mengalihkan pikiran, kuambil smartphone dan membuka cerita seru yang sedang kuikuti pada suatu platform online. Sebuah kisah nyata yang dipaparkan oleh pengarang bernama Amarga Pranaditya. Pengarang favoritku, idolaku.
Cerita-ceritanya benar-benar kusukai. Apalagi cerita yang satu ini. Benar-benar cerita yang menegangkan dan mampu menjadi pengalih perhatian. Aku begitu merasuk dalam kisah yang kubaca ini.
Di abad ini bagaimana mungkin cerita seperti ini bisa terjadi? Cerita tentang seorang istri yang terdholimi, begitu tema kisah yang sedang terpampang di layar ini.
Benar-benar tak bisa dipercaya!
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar.
Aku terkejut. Tapi, ketakutan ini sirna mengingat kini kamar kosong itu telah terisi.
“Ya?” jawabku setengah teriak.
Maaf Mbak Ayla, saya mau minta air.” Terdengar suara dari luar pintu.
Aku menghela napas dan beranjak dari posisi berbaring yang nyaman.
Kubuka pintu samping, terlihat pemandangan yang mengundang berderet komentar dalam hati.
Penyewa ini … celana pendek selutut warna biru pudar mendekati lusuh dipadu dengan kaos warna yang dulunya aku yakin berwarna putih. Bagian lobang leher kaos sudah molor ke sana kemari. Rambut yang tadi awut-awutan kini dikuncir belakang, menyisakan poni yang berjuntai menutupi dahi.
Sebenarnya wajah itu terbilang manis. Hanya apa yang dikenakannya benar-benar memiliki daya rusak yang kuat. Tatapan matanya masih terlihat gugup. Tetapi, tidak segugup ketika datang tadi.
Aku memintanya masuk sebelum lebih banyak deretan kalimat tanya bersliweran dalam pikiran ini.
“Maaf lo, Mbak,” ucapnya sambil mengikuti langkahku ke dapur yang tidak jauh dari pintu samping.
Aku mengibaskan tangan tanda hal itu tidak masalah.
“Saya hanya beli satu botol tadi,” lanjutnya sungkan.
Aku melirik, melihat kembali tangan itu meremas bagian samping celana lusuhnya. Dan ternyata tangan yang lain memegang botol air mineral yang telah kosong.
“Dimasukan di sini saja, Mbak,” katanya sambil mengangsurkan botol itu ke arahku.
“Ambil sendiri aja, tuh galon,” jawabku sambil menunjuk dispenser yang berdiri di dekat jendela.
“Kamu sudah makan?” tanyaku kemudian, menindaklanjuti rasa kasihan yang mendadak melintas.
“Sudah, Mbak. Saya beli biskuit tadi,” jawabnya sambil berjalan menuju arah yang kutunjuk.
Kuletakkan smartphone di atas meja dapur dan melangkah menuju kulkas mengambil beberapa kue dan makanan lain yang bisa dijadikan sebagai pengganjal perut.
“Ini ada sedikit camilan.” Aku meletakkan makanan ini di atas meja dapur.
“Wah, makasih Mbak,” jawabnya setelah sejenak tertegun, tampak keraguan dan keengganan membayang di wajahnya.
Aku berdiri menanti ia mengambil apa yang kuberikan.
Dengan langkah berat dia mendekat ke meja dapur. Dia berdiri ragu, dan tak lagi melanjutkan langkah, padahal selangkah lagi sampai di meja dapur.
Tiba-tiba lampu smartphone menyala disertai bunyi ringtone tanda panggilan masuk. Mataku berbinar melihat image foto cintaku terpampang di layar. Bunga-bunga auto bermekaran di dalam hati. Senang banget.
“Brukk!”
Mendadak suara benda jatuh memutus rasa senang ini.
Kualihkan pandangan mata ke asal suara.
Botol air mineral yang terisi penuh tampak menggelinding menjauhi meja dapur. Pemiliknya nampak tercenung. Berdiri tegak kaku. Wajahnya yang sudah pucat kian memutih.
Heh!
Aku takut, apa dia kesurupan?!
Sebuah tayangan yang sempat kulihat di media sosial terbayang.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Hanya membeku menatapnya. Sejurus kemudian dia tersadar.
“Oh, maaf, maaf, maaf.” Kata itu terus diucapkan dengan postur tubuh yang sedikit membungkuk.
“Nggak papa, Mbak,” jawabku mencoba menenangkan.
Kemudian dia merunduk mengambil botol air mineral yang menggelinding, lalu bergegas berjalan menuju pintu samping.
“Makanannya!” teriakku menghentikan langkahnya.
Dia mengangguk dan dengan cepat mengambil makanan di atas meja makan dan secepat kilat keluar ruangan, meninggalkan pintu samping yang menganga terbiar.
Aku menghela napas dan berjalan menutup pintu ini.
Apa yang terjadi? Apa penyewa ini benar-benar waras atau hanya setengahnya?
Khawatir, heran, penasaran dan kasihan berpadu menjadi nada-nada yang tidak enak didengar di dalam hati.
Tapi, bunyi ringtone menyadarkan aku dari lamunan. Aku segera bergegas ke meja dapur dan menyambar smartphone kesayangan.
Duh si Cinta, kembali menaburkan rasa rindu, padahal baru beberapa saat lalu bertemu. Suaranya sanggup menggantikan nada sumbang dalam hati. Lagu ini menjadi hymne keriaan di malam ini. Berton-ton kata cinta bagai berlompatan dari speaker benda kotak ini. Semua akan tersimpan dalam memori otak dan pasti malam ini akan dirajut menjadi mimpi indah.
Aku masuk ke kamar dan membaringkan badan di atas kasur. Aku terus memandangi layar smartphone, padahal suaranya sudah sejak beberapa menit lalu tak lagi terdengar. Tetapi, masih terasa getaran kebahagiaan itu.
Panggilan dari Cintaku berakhir ditutup dengan janji untuk bertemu di akhir minggu. Seketika terbayang kegembiraan yang pasti akan kurasakan minggu itu.
Angan ini tak terkendali, mengunjungi keinginan yang kuharapkan terjadi. Tapi malam makin larut, tak terasa genggaman tangan mulai melemah, mata terpejam dan berlayarlah aku ke alam mimpi.
Entah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba suara tangis sayup terdengar. Suaranya hilang timbul seolah tertiup angin. Lama-lama suara itu makin jelas merongrong telingaku. Dan hal itu mampu membuat otak memerintahkan mata ini untuk membuka.
Setelah kesadaran pelan-pelan kembali, suara itu makin jelas terdengar. Bergidik bulu roma membayangkan kisah horor yang berjudul Tangisan di Tengah Malam.
Tapi, sejurus kemudian aku tersadar, rasa takut pudar saat mengetahui dari mana asal suara tersebut.
Dengan pelan aku bangkit dari peraduan dan berjalan menuju ke kamar penyewa. Pintu samping kubuka, lalu terhenti di depan pintu kamarnya.
Apakah harus kuketuk?
Tangisnya makin jadi.
Ada yang berderak-derak dalam hati, pilu sekali mendengarnya.
“Mbak?” panggilku pelan.
Mendadak suara tangisannya terhenti.
Hening.
Keheningan di tengah malam ini membuatku takut. Dan entah kenapa takut ini kian menguat.
Aku putuskan untuk kembali masuk rumah dengan setengah berlari kembali ke kamar. Lalu, aku melompat dan menarik selimut hingga menutup kepala.
Aku ingin melanjutkan kembali tidur yang terganggu, tapi pikiran ini sesak oleh pertanyaan tentang semua yang membutuhkan jawaban sejak kedatangannya.
Mungkin besok aku bisa bertanya pada penyewa itu. Tapi, sebersit ragu menyeruak tanpa perintah. Akankah?