Sekilas Mama udah bisa membaca apa yang terjadi dengan melihat gelagat Alexander. Mama nampak tersenyum gemes melihat tingkah Mereka, lalu melenggang pergi begitu saja.
Mama berjalan angkuh, walau sambil pura pura pincang, terlihat dia memegang dadanya sendiri. Ada rasa bahagia ketika menatap Putranya berada satu kamar dengan Wanita. Ya, meskipun Mama sudah tau dan Alin beberapa hari ini sudah memastikan jika pernikahan mereka hanyalah sebatas kontrak.
Bahkan Mama sudah tau , bagaimana kronologisnya Erina bisa menerima tawaran Alexander.
Ada rasa terimakasih dalam hati Mama, karena Erina sudah menyelamatkan nama baik mereka. Ada rasa Kasihan saat tau bagaimana masa lalu Erina yang nampaknya tidak baik baik saja. Namun disisi lain, terselip rasa sedih di hati Mama. Pernikahan mereka hanya Kontrak!
Mama rupanya mulai menaruh harapan pada Erina.
Persetan dengan semua itu. Mama jatuh cinta pada Erina dari pertama bertemu. Dan mungkin Mama akan mempertahankan menantu sandiwaranya itu. Bila perlu sampai titik darah penghabisan sekali pun.
Sekarang, Wanita paruh baya ini hanya perlu menyiapkan satu jebakan untuk mengetahuinya ketulusan hati Erina. Setelah lulus jebakan itu, Mama akan lanjut ke tahap Mempertahankan!
Alex sudah selesai mandi rupanya. Erina sudah menyiapkan seluruh keperluan Alex.
Dia mulai membantu Alexander saat satu jari Alex bergerak tanda menyuruh tanpa suara.
Erina dengan malas dan hati dongkol mendekat, mulai memakaikan kemeja dan ikat pinggang. Dia hanya menunduk saja. Tidak mau melihat sedikitpun wajah Alex yang terus saja tersenyum tanpa merasa dosa itu.
Mungkin saking dongkolnya Erina tidak sadar begitu kuat mencengkram pinggang Alex saat memakaikan sabuk.
“Arg.. Kau sengaja ingin membunuhku ya.” Pekik Alex . Padahal tidak sakit. Dia hanya lebay.
“Eh, maaf Tuan. Tidak sengaja.”
“Hem.. Mau hukuman lebih parah ya?”
“Tidak Tuan. tidak. Maafkan saya.” Iba Erina. Sekarang dia mendongak dan memasang wajah memelas.
“Bersikaplah yang manis padaku. Maka aku akan meringankan hukuman untukmu.” Tegas Alex.
“Iya Tuan.” Erina mengangguk lembut.
Nurut saja dari pada dia seenak jidatnya nanti. Aku memang yang salah.
Erina akhirnya mengalah.
“Selesai Tuan. Apa anda ingin sarapan dahulu?” Tanya Erina setelah Alex selesai dengan pakaian kantornya.
“Tidak usah. Ini sudah siang. Di kantor saja nanti.” Jawab Alexander. Ia menyambar Tas kantornya.
“Tak perlu mengantar ku. Dan jangan lupa kamu sarapan ya? Jaga kesehatan.” Dia berdiri tepat di hadapan Erina.
“Iya Tuan.” Jawab Erina patuh.
“Erina.” Alex mengangkat dagu Erina Memandangi dua mata Erina yang juga melakukan hal yang sama. Beberapa saat pandangan beradu dengan hangat.
Ya Tuhan! Keduanya ingin memekik ketika merasakan getaran aneh dalam diri masing masing.
“Ah, yang tadi maaf ya. Aku hanya gemes padamu.” Tatapan itu begitu teduh dan menenangkan. Erina hampir terhanyut.
“Iya Tuan. Tidak apa apa. Saya memang salah. Sudah menjadi konsekuensi saya. Ya meskipun saya marah dengan hukuman anda yang egois.”
“Sudah. Jangan di perpanjang. Aku tadi itu tidak berniat menghukumku. Aku hanya, hanya entah kenapa bisa gemes padamu. Mungkin, mungkin..”
“Mungkin apa Tuan?”
Alexander menarik nafas. Terdengar berat.
“Ah, lupakan saja. Aku,.. Aku berangkat ya?” Sebenarnya bukan itu yang ingin dikatakan Alex. Tapi dia gugup.
Ah baiklah. Lain kali saja.
Erina hanya mengangguk.
Hem, Alex memutar langkahnya untuk melangkah keluar setelah Erina mencium telapak tangannya. Sandiwara ini kenapa terasa begitu tulus?
Sebenarnya ingin sekali Alex memeluk atau mencium kembali bibir Erina. Ah, tapi tapi. Ya sudahlah. Dia akhirnya melambaikan tangan di ujung tangga. Erina membalas itu.
Perasaannya yang tadi ingin marah dan meninju Alex tiba tiba sirna. Lambaian tangan Pria itu menenangkan hatinya.
Ya Tuhan! Apa aku jatuh cinta padanya?
Hati Erina bertanya tanya sekarang. Lalu tersenyum menyentuh bibirnya.
“Gila! Apa apaan ini?”
“Pernikahan ini hanya Kontrak. Tuan Alex tidak mungkin juga menyukaiku. Aku hanya seorang janda.” Erina segera menepis perasaannya.
Dia hanya membayar hutang pada Pria yang sudah menolongnya lepas dari Lubis. Dan pria itu sedang terluka karena pengkhianatan. Jika Dia suka padanya itu mungkin hanya sebatas karena merasa kesepian saja.
Erina memutar langkahnya. Tapi begitu terkejut, Mama sudah berdiri di hadapannya.
“Mama!”
“Eh, Erina. Kok kaget.”
Erina tersipu saja, cepat ingin memapah Mama untuk menuju sofa.
“Mama sudah bisa berjalan baik Erina.” Tolak Mama.
“Benarkah Ma?”
“Iya. Ini buktinya.” Mama menunjukan jalan yang sempurna. ‘Malas berpura pura lagi tau. Capek!’
“Syukurlah Ma. Erina senang sekali.”
“Hem..” Mama duduk di sofa. Erina mengikuti tapi hanya berdiri di sampingnya.
“Lho kenapa tidak duduk?” Mama menoleh.
“Eh iya Ma. Erina ingin mengambil sarapan untuk Mama dulu ya. Mama mau disini apa di meja makan?”
“Mama sudah sarapan. Kamu belum kan? Cepat sana sarapan. Setelah itu Mama tunggu kamu di kamar. Ada sesuatu yang Mama ingin bicara padamu.”
Sesuatu? Aduh! Apalagi ini? Jangan Jangan Mama sudah tau tentang pernikahan ini. Dan minta kami bercerai. Bagaimana ini? Hutang ku bagaimana?
Pikiran Erina sudah kemana mana.
“Erina? Apa yang kau pikirkan?” Mama melihat kegelisahan Erina.
“Tidak Ma. Kalau begitu, Erina sarapan sebentar ya.”
Mama mengangguk. Erina segera pergi ke dapur untuk sarapan.
Erina mengunyah sarapan, menelan dengan terburu. Dia khawatir sekali. Apa yang ingin dibicarakan Mama kali ini? Kalau banyak tanya yang tidak bisa dijawab bagaimana?
Mampus!
Erina cepat menyelesaikan sarapan. Lalu meminta pelayan membersihkan meja dan dia pergi menyusul Mama yang sudah ke kamar.
“Ma!”
“Eh Erina ! Sini bantu Mama dulu.” Seru Mama yang sedang berdiri di atas kursi.
Tentu Erina terkejut dan langsung berlari mendekat.
“Mama ngapain?” Langsung menopang tubuh Mama.
“Mau betulin Poto Almarhum Papa suamimu. Apa kamu bisa bantu?”
“Tentu Ma. Biar Arumi saja. Mama turun ya. Nanti jatuh.”
“Ah, iya. Terimakasih nak.” Mama turun dari kursi di bantu Erina.
Erina mulai mengambil Alih Foto ukuran jumbo itu untuk menggantungnya.
“Ini butuh paku kayaknya Ma?” Ucap Erina, karena untuk menggantung Poto itu memang tidak ada.
“Oh iya. Mama lupa. Lalu bagaimana?” Mama minta pendapat.
“Biar aku mencarinya dulu kalau begitu.” Erina turun dari kursi dan menyimpan dulu Foto Pria yang masih nampak gagah itu.
“Hem. Kamu juga sepertinya perlu palu Erina.”
“Iya Ma. Dimana Erina bisa mendapatkannya Ma? Biar Erina ambil.”
“Oh, kamu bisa pergi ke Gudang. Mama cari kuncinya dulu.” Mama ada ide dan segera mencari kunci gudang. Mama menemukannya di laci dan memberikan pada Erina.
“Kamu bisa tanya pada Pelayan dimana gudang. Tapi jangan menyuruh mereka ya. Bukan apa , gudang itu banyak menyimpan benda benda antik milik Papa Alex sewaktu hidup dulu. Alex suka marah kalau ada pelayan yang pegang pegang Barang peninggalan Papanya.”
Erina mengangguk tanda mengerti dan segera keluar untuk mencari gudang. Dia bertanya pada satu Pelayan yang langsung mengantarnya.
“Nona ingin ditemani?” Tanya Pelayan saat Erina sudah membukakan kunci gudang yang ada di dalam rumah itu juga, tempatnya tidak jauh dari dapur.
“Tidak usah. Aku bisa sendiri.” Jawab Erina. Erina pun melangkah ke dalam.
Ini gudang? Dalam hati Erina terkagum. Ini lebih layak disebut Monumen mini.
Ruangan besar dengan banyak barang antik tertata rapi dan tanpa debu sedikit pun. Sepertinya sangat terawat. Kenapa bisa disebut mereka gudang? Sungguh tidak pantas batin Erina.
Mata Erina menjelajah, melupakan ruangan apa ini dan kembali fokus pada palu dan paku yang sedang ia butuhkan sekarang