Gadis itu masih berdiri terpaku sambil mendekap koper. Sejenak dia tersadar lalu buru buru berjalan keluar. Menaruh dahulu paku dan palu untuk mengunci pintu kembali tanpa melepaskan koper itu dari tubuhnya. Selesai, dia segera beranjak meninggalkan gudang selepas menyambar paku dan palu.
Erina masih dengan jantung berdegup melangkah ke kamar Mama.
“Erina… Kamu menemukan Pakunya?” Tanya Mama melirik Erina tapi tidak begitu peduli dengan koper yang di bawa gadis itu.
“Iya Ma.” Erina mengangguk, meletakkan Paku dan Palu di atas meja. Mama sedikit bingung kok Erina tidak segera memasang Foto malah menaruh palu itu?
Erina mendekati Mama. Langkahnya sedikit gemetaran.
“Ma.. Erina menemukan ini.” Katanya seraya mengacungkan koper dengan dua tangannya.
Mama memperhatikan itu dengan tanda tanya.
“Itu apa?” Tanya Mama.
“Mama coba periksa deh isinya. Erina tadi tidak sengaja menyenggol koper ini dari dalam lemari saat hendak menutup lemari sesudah menemukan Pakunya. Koper ini jatuh dan isinya berantakan.” Ucap Erina, kini meletakkan Koper di atas kasur Mama.
Mama memperhatikan Erina sejenak lalu beralih ke koper itu dan kemudian memeriksanya. Matanya seketika terbelalak.
‘Erina menemukan ini dan dia tidak tertarik?’ hatinya Mama sungguh tertegun. Dia menoleh untuk menatap Erina. ‘Dia punya banyak hutang pada Alexander. Uang ini sengaja untuk menjebaknya. Jika dia mau, bisa saja dia mengambilnya untuk kabur atau untuk membayar hutang Alexander.’
“Ma. Itu uang dan perhiasan siapa? Kenapa ada di gudang itu? Kalau orang lain yang tidak jujur menemukannya kemungkinan akan di bawa lari.” Ucap Erina.
Mata Mama berkaca kaca. ‘Kamu jujur Erina. Maafkan Mama yang masih mencurigaimu.’
“Ma.. Mama menangis? Ada apa?”
“Astaga Erina. Mama kehilangan ini sudah hampir satu tahun. Mama sampai takut bicara sama Alex dan Alin. Mama takut mereka Marah karena ini semua adalah milik Mama peninggalan dari Papa Alex. Mama mencarinya kemana mana. Mama tidak tau kenapa bisa ada di Gudang. Mama teledor. Mungkin Mama lupa saat menyuruh pelayan bersih bersih kamar ini, dan meminta menyisihkan barang. Mungkin mereka juga tidak tau apa isinya. Mama teledor.” Ucap Mama.
Dan Alasan Mama sebenarnya begitu tidak masuk akal bagi Erina. Tapi Erina tidak ingin bertanya lagi. Mungkin saja Mama benar benar lupa. Erina tidak pernah menyangka jika sebenarnya koper itu sengaja Mama dan Alin taruh di sana untuk menguji kejujuran Erina.
“Terimakasih Erina. Terimakasih ya. Untung kamu menemukannya.”
Erina mengangguk. “Lain kali hati hati Ma. Sebaik baiknya atau sejujur jujurnya orang, ada kalanya bisa khilaf dan silau melihat uang dan perhiasan sebanyak itu. Mama kehilangan sekian lama dan merahasiakan ini pada Anak anak Mama. Itu pasti sangat berat. Untung masih rejeki Mama. Kalau beneran hilang bagaimana?” Ucap Erina sungguh bijak bagi Mama.
Mama bangun dan tiba tiba memeluk Erina.
Mama menangis bahagia dalam pelukan Erina Bukan senang uangnya kembali. Tapi senang, akhirnya bisa menemukan wanita jujur untuk putranya. Coba saja kalau Via, semua itu pasti sudah sirna. Mama pernah melakukan ini pada Via, menaruh beberapa puluh juta uang dan sekotak perhiasan untuk menguji wanita itu.
Sama persis seperti yang dilakukannya pada Erina saat ini. Dan alhasil , uang serta perhiasan itu raib digondol Via.
Sebab itulah, Mama dan Erina sudah bisa menebak jika Via bukan wanita tulus dan jujur, tapi Alexander tidak pernah mau mendengarkan Mereka dan akhirnya Mama harus mengalah untuk tetap bisa menerima Via. Tapi akhirnya bagaimana? Beruntung Tuhan masih mengabulkan doa Mama yang meminta kebaikan untuk Putranya. Walaupun kepergian Via tidak tepat waktu dan hampir saja menghancurkan nama Baik Keluarga Alexander.
Dan wanita ini.
Ah, Erina lulus ujian rupanya. Mama begitu bahagia. Tapi di dalam hati Mama terselip rasa nyeri,mengingat jika Wanita ini hanya menikah kontrak dengan putranya dengan sebuah perjanjian. Bagaimana jika masa kontrak itu berakhir dan Erina pergi meninggalkan Alexander? Dia kehilangan menantu idaman.
Erina menepuk nepuk halus punggung Mama untuk memberi ketenangan. Mungkin Erina mengira Mama sangat bahagia karena uang dan perhiasan itu kembali. Erina tidak pernah tau.
“Sudah Ma. Uang dan perhiasan Mama kan sudah kembali. Nanti disimpan yang baik . Atau minta tolong kak Alin untuk menaruh uang ini di bank saja biar aman. Bagaimana?” Usul Erina.
“Iya sayang.” Mama melepas pelukannya. Sekali lagi menatap Wajah ayu Erina.. Lalu meminta Erina untuk membantunya menghitung uang itu dan memeriksa Perhiasan.
“Apa ada yang kurang Ma?” Tanya Erina setelah selesai menghitung.
“Tidak ada sayang. Ini cukup. Memang segini. Mama masih ingat betul kok jumlahnya. Tidak berkurang sedikitpun.”
Mendengar itu Erina lega. Entah kenapa Erina begitu nyaman menatap Mama ini. Meskipun kadang Mama masih suka ketus padanya. Tapi Erina merasa tenang disisinya. Erina seperti bisa merasakan kasih sayang Ibu yang sudah lama tidak ia dapatkan.
Sebenarnya jika Erina mau, dia bisa melakukan apa saja dengan uang dan perhiasan itu. Tapi sedikitpun Erina tidak berpikir seperti itu. Mungkin karena hatinya memang asli tulus. Dia memang punya hutang pada Alexander. Tapi itu harus dibayar dengan kesempatan.
Ah, ya sudahlah. Erina dan Mama nampak mengobrol hangat sekarang. Makin dekat dan Akrab, bahkan Mama sesekali menusuk pipi gembul Erina dengan ibu jarinya ,mungkin Mama
gemes.
Di balik pintu, Alin tampak tersenyum bahagia mengintip mertua dan menantu itu. Lalu melangkah pergi dengan menghela nafas lega.
Di kantor!
Alex nampak murung dari awal datang tadi. Menaikkan kedua kaki di atas meja, dan menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya. Angannya berputar tak karuan.
Arpha tau yang membuat Bosnya gelisah. Lalu menunduk untuk menyodorkan Berkas yang perlu di tanda tangani oleh Alex.
“Tuan. Tandatangani ini dulu, baru melanjutkan lamunan mu.”
“Sial kau!” Alex mengumpat seraya memeriksa Berkas dan cepat menandatanganinya.
“Nih! Pergi sana!” Dia memukul berkas ke dada Aprha yang masih tertawa kecil.
“Tuan. Seharusnya anda tak perlu menahannya. Itu hanya membuat anda Tersiksa.” Ucap Aprha.
“Maksudmu?” Alex melirik sekarang.
Arpha sekarang tersenyum manis dan mendekat ke telinga Alex .
“Dia milikmu. Kau berhak atas dirinya. Kau menikahinya secara sah di depan agama maupun dalam Negara.”
Alexander langsung mencengkram kerah Arpha yang hendak pergi setelah berbisik.
“Kau sudah Gila! Bagaimana dengan perjanjian yang sudah kami sepakati Bodoh!”
“Hem.. lepas dulu.”
Alex langsung melepaskan tangannya.
“Anda lebih bisa pintar untuk mencari alasan. Hanya saja..” Arpha menghentikan ucapannya membuat Alexander geram.
“Hanya saja apa Sialan! Kau membuat jantungku berdebar!”
“Hem.. Hanya saja. Anda perlu meyakinkan. Apakah anda benar benar sudah menyukai Nona Erina . Dan siap menerimanya segenap jiwa raga. Karena walau bagaimanapun juga, Nona Erina sudah pernah menikah. Pernikahannya sebelumnya tidak baik baik saja. Itu pasti meninggalkan luka yang dalam dan pasti membuatnya trauma.”
Erina terdiam cukup lama memikirkan ucapan Arpha. Lalu dia bangun dan melangkah meninggalkan kursinya.
“Cepat berkemas dan kita pulang sekarang.”
“Ada apa Tuan?” Arpha terkejut dan bertanya.
“Untuk memastikan ucapanmu barusan!”
“Hah! Yang mana?” Arpha belum paham.
Alexander membalikkan badannya dan kembali mendekat.
“Untuk memastikan apakah aku benar benar menyukai Erina.”
Arpha langsung tersenyum dan mengangguk cepat. Dalam hati ia berkata.
‘Wah! Ini akan berat!’
_____