Satu Bulan Kemudian …
Terkadang memang sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Di mana keinginan selalu ingin kita prioritaskan sehingga kita lupa ada kebutuhan yang juga menjadi pilihan pelik untuk ditinggalkan.
Begitu pun dengan Ningsih.
Berbalut gaun putih, dimandikan pernak-pernik yang juga ikut membuatnya terlihat bak seorang ratu, ia memutuskan bersanding dengan lelaki yang mungkin belum sepenuhnya ia cintai, Danu.
Bulan lalu, saat Rey masih menunggu keputusan darinya, Ningsih yang ia kira akan kembali, ternyata justru memilih lelaki lain.
“Aku akan berusaha mencintainya, Feb!” pungkasnya, saat Febi masuk ke ruang rias dan kembali menyinggung tentang keputusan yang telah dibuat oleh kakaknya itu.
Hubungan keduanya pun terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Febi kembali diterima Ningsih, sama seperti sebelum semua luka merobek kedekatan mereka. Febi sangat mensyukurinya.
Namun, kini justru Rey yang menghilang entah ke mana. Ia pergi di hari Ningsih memutuskan menikah dengan Danu, keputusan yang mencabik-cabik perasaan Rey. Wajar saja, Rey yang berusaha keras meyakinkan Danu untuk mengikuti arahannya, yaitu menyerah untuk mengejar Ningsih, akhirnya luluh dan memilih mundur.
Ternyata kini justru Ningsih yang berubah pikiran. Ia tetap kekeh tak ingin menerima mantan suaminya itu.
“Terkadang dalam hidup, kita harus berani mengambil keputusan atas dasar pertimbangan yang telah kita pikirkan matang-matang” ucap Ningsih, sambil menatap wajah Febi dari balik cermin, Febi yang tengah duduk di atas kasur pengantin hanya bisa diam. Ia tak bisa berbuat apa-apa.
Ningsih yang sudah terlalu lama terluka, tentu sudah sangat bijak untuk menyikapi segala permasalahan dalam hidupnya sendiri. Bukankah setiap fase sulit dalam hidup manusia selalu saja menitipkan sebuah amanat yang kemudian mendewasakannya?
Namun, sebenarnya bukan hanya tentang Ningsih. Febi juga sangat mencemaskan suaminya yang telah satu bulan menghilang. Sekuat apa pun Febi mencari, tetap saja ia kehilangan jejak.
Sejujurnya, Febi pun sudah berada di tahap ikhlasnya yang tertinggi. Ia benar-benar tak lagi memaksakan keadaan dan takdir untuk tetap menyatukannya dengan Rey. Ia sadar, meskipun Rey kembali, tentu tak akan membuat lelaki itu kembali menerimanya.
“Mungkin saat ini, aku belum mencintai lelaki yang sesaat lagi akan menjadi imamku. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, hatiku tak akan mungkin ingkar untuk jatuh cinta pada lelaki sebaik Danu!” pungkas Ningsih. Ia memalingkan wajahnya ke arah Febi.
Febi hanya mampu menatap Ningsih dengan tatapan tabunya. Pikirannya ada di tempat lain.
“Semoga kamu dan Danu menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah” ucap Febi sambil tersenyum.
Kini Febi bisa membaca semuanya. Ningsih yang memang belum sepenuhnya mencintai Danu, tapi sudah mengikhlaskan Rey. Sehingga meskipun Rey berlutut, wanita itu tak akan berubah pikiran.
“Terima kasih ya,” Ningsih membalas ucapan Febi. “sekarang aku tahu, ternyata apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan. Dan kali ini aku memilih untuk menikah dengan lelaki yang aku butuhkan!” Ningsih kembali tersenyum.
Mata Danu terbelalak menatap calon istrinya yang begitu cantik. Kedua mempelai dipersilahkan duduk di depan penghulu. Selendang panjang diulurkan Febi pada keduanya, untuk bersiap memulai proses ijab dan qobul.
“Sah!” ucap penghulu dengan sangat tegas. Kemudian diyakinkan kembali oleh beberapa saksi. Wajah keduanya begitu berseri menatap satu sama lain. Diiringi bacaan doa yang menjadi harapan terbesar mereka untuk menjadi keluarga yang bahagia.
“Selamat, Ning!” lagi-lagi Febi mengucap kan selamat, namun kali ini Ningsih memeluknya. Membuat air mata seketika mengalir, Febi sangat merindukan pelukan itu.
Semoga kamu bahagia, Ning.
****
Febi pulang ke rumahnya dengan keadaan yang sangat lelah. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Ditambah lagi besok adalah jadwal bayinya check up. Ningsih kecil memang lahir dengan keadaan yang baik, tapi bagaimana pun ia tetap harus rutin ke dokter untuk memeriksa tumbuh kembangnya, dikarenakan bayinya lahir dalam kondisi prematur.
“Mas Rey?” Febi sangat terkejut, melihat Rey yang sedang berada di ruang tamu, tengah menggendong bayinya. Seorang asisten rumah tangga juga ada di sana, ia sedang merapikan baju-baju bayi.
Rey tak bergeming, ia segera duduk sambil tetap merangkul bayinya. Febi yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, mengikuti pergerakan Rey untuk ikut duduk di sofa, berhadapan dengan suaminya.
“Bagaimana acara resepsi Ningsih?” tanya Rey, kini ia menatap wajah istrinya, menunggunya menjawab.
“Alhamdulillah, berjalan lancar.” Jawab Febi, mengangguk.
Beberapa detik begitu hening. Untuk memecahkan kecanggungan, Febi meletakkan tasnya di sofa dan beranjak ke dapur. Ditemani Susi, asisten rumah tangganya, ia menyiapkan makan malam. Karena menurut cerita Susi, Rey sama sekali belum makan.
Dengan bahan yang seadanya, ia mulai memasak. Hanya sekadar sambal telur serta tumis bayam dan jagung. Ia menyajikannya ke atas meja makan, lengkap dengan jus wartel yang dibuatnya sendiri.
Sejujurnya, Febi mulai mempersiapkan diri. Ia harus siap jika saja malam ini Rey akan menceraikannya. Lagi pula apa lagi yang diharapkan, kini Ningsih pun telah bersama lelaki pilihannya. Tentu Rey tak ingin menambah lagi luka dengan tetap bertahan dengan wanita yang tak pernah dicintainya.
“Kenapa? Kamu gak suka?” tanya Febi. Ia sedang menerka, mengapa Rey hanya menyicipi sedikit saja dari makanan yang dihidangnya.
“Bukan, aku hanya sedang tidak enak badan!” pungkas Rey seraya meneguk jus wartel.
Rey memang jarang sekali makan masakan istrinya. Setiap hari lebih memilih makan di luar. Jadi wajar saja jika dia tidak berselera.
“Aku tahu hati dan pikiranmu sedang tidak baik-baik saja, Mas!” Febi menatap lelakinya. Ia tahu saat ini Rey sedang melawan perasaannya sendiri yang begitu tersiksa. Menerima Ningsih yang telah menikah dengan lelaki lain tentu tak mudah baginya. “tapi kamu harus mikirin kesehatan juga, jangan sampai sakit!” sambungnya, sekadar menasihati.
“Besok jadwal Ningsih ke rumah sakit, kan?” tanya Rey. Febi sedikit terkejut, dari mana suaminya tahu? Padahal sebelumnya, Rey tak pernah ambil pusing tentang kesehatan Ningsih, bayi yang tak pernah ia pedulikan. “aku tahu dari Susi!” Rey langsung memecahkan rasa penasaran istrinya.
Febi mengangguk. “Iya, besok aku akan bawa Ningsih ke rumah sakit!” sahut Febi, seraya menyantap makanannya.
“Aku ikut!”. Ucapan Rey membuat Febi batuk, hingga ia harus segera meraih minumannya. Febi tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ada apa dengan suaminya?
“Tumben?” kali ini pertanyaannya mungkin akan menyinggung perasaan Rey. Tapi ia rasa pantas bertanya seperti itu, bukan untuk balas dendam, ia hanya ingin tahu alasannya.
“Aku sadar selama ini rasa marah dan ambisiku, membuatku lupa tentang peranku sebagai seorang ayah. Aku telah mengecewakan bayi yang tidak berdosa!” sesal Rey.
Febi tak menyangka akan mendengar jawaban santun seperti yang baru saja diutarakan lelaki yang ada di hadapannya.
“Boleh, kan?” Rey memastikan. Febi mengangguk.
****
“Ini!” di dalam mobil, Febi menyodorkan sebuah surat di dalam map merah, warna yang masih sangat dibencinya.
Rey meraihnya, sambil membukanya pelan.
“Aku sudah menandatanganinya!” jelas Febi.
Surat cerai yang selalu diminta oleh Rey, kini resmi ditandatangani oleh Ningsih. Kali ini ia benar-benar ikhlas dan yakin dengan keputusannya. Bukan seperti sebelumnya, ia merasa terpaksa dan sangat tertekan.
Tadi juga dokter mengatakan, agar Febi dan Rey menjadi orang tua yang bahagia. Karena menurut dokter anak tersebut, kebahagiaan anak ditularkan dari perasaan bahagia yang dimiliki kedua orang tuanya. Lantas bagaimana Ningsih memperolehnya jika kedua orang tuanya tidak harmonis?
“Kamu bisa menemui Ningsih kapan pun kamu mau!” Febi kembali menjelaskan.
Ia sadar, bayinya tetap butuh sosok ayah. Jadi, ia tak ingin membatasi keduanya.
“Hah? Ada apa?” Febi terkejut melihat lelaki yang nyaris akan menjadi mantan suaminya itu merobek surat yang telah disetujuinya. “kamu kenapa?” sambungnya lagi.
Rey terdiam, lantas ia menghela napas, dan menatap Febi yang sedang merangkul bayinya.
“Sama seperti apa yang dikatakan Ningsih, aku juga ingin memperjuangkan wanita yang aku yakini akan bertahan hingga akhir!” pungkasnya. Lalu ia memeluk Febi seraya meminta maaf.
Akhir yang tak hanya membuat Febi bahagia, tapi juga membuatnya tahu, bahwa cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang mampu menghadapi segala bentuk ujiannya, dan bertahan sampai akhir meski harus tertatih-tatih.
Terima kasih, Ning. Kamu mengajarkan banyak hal bagi Febi dan Rey.
TAMAT.