Mohon terus dukung Novel Janur Kuning di Rumah Tanteku, like dan comment ya 🙂
“Akan aku buat Mas Rey tak akan melupakan malam pertama kami!” ujar Ningsih. Ia sangat berambisi. Entah itu sungguhan, atau hanya ingin membuat Febi cemburu.
Ini pertama kalinya mereka saling bicara setelah satu tahun lamanya. Jika dikenang kembali, Febi dan Ningsih sangat dekat, mereka selalu bersama dan saling menyayangi. Sangat bertolak belakang dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Febi yang mendengarnya, hanya bisa diam sambil memeras jeruk yang sudah dipotongnya. Ia tidak bisa tidur malam ini, pikirannya tak karuan, kantung matanya pun membengkak karena terlalu lama menangis.
Sementara Ningsih, ia sedang membuat jus wartel kesukaan Rey. Minuman yang pernah dibuat juga oleh Febi untuk suaminya, namun rasanya tetap tak seenak buatan Ningsih, ujar Rey kala itu.
“Aku masuk kamar dulu ya,” Febi membawa secangkir jus jeruk kesukaannya.
Mungkin saat ini lebih baik ia di kamar saja, pikirnya.
“Tunggu!” Ningsih menghentikannya. “malam ini kamu pindah kamar ya, semua sedang disiapkan, kamu tidur di kamar tamu saja dulu malam ini ya!” pintanya.
Febi kaget, wajahnya berubah, ia tak percaya kamar yang ditempatinya selama satu tahun ini ikut pergi meninggalkannya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
“Febi bisa langsung masuk ke kamar sebelah kok, kamarnya sudah siap!” jelas Betty. Kali ini nada suaranya begitu lembut.
“Loh, Ma, cepat banget selesainya?” Ningsih menanggapi mertuanya.
“Iya dong, kalo Mama yang minta pasti semua asisten di rumah ini gercep kerjanya!” Betty melayangkan senyum pada menantu kesayangannya, begitu pun Ningsih. “oh iya, kamar yang kamu tempati itu luas, jadi biar Ningsih saja yang tempati ya” Betty mengarahkan pertanyaan yang menurut Febi justru sebuah pernyataan.
Febi tak bisa menjawab, ia hanya mengangguk kaku. Pikirannya semakin teruk. Belum genap satu hari Ningsih tinggal di rumah ini, tapi sudah berhasil mengendalikan semuanya.
Febi melangkahkan kakinya menuju kamar pengganti yang telah disiapkan untuknya. Ukurannya memang lebih kecil, namun masih sangat nyaman baginya. Ia merebahkan tubuhnya. Bukan hanya hatinya yang letih, tapi tubuh mungilnya juga begitu lelah menghadapi para tamu undangan yang datang. Beberapa kali nyinyiran tentangnya juga sayup-sayup terdengar. Memang tidak mungkin mengatupkan mulut semua orang untuk tidak menghinanya sebagai seorang istri pertama yang bodoh.
Febi sempat ingin pergi dan meninggalkan semua sandiwara ini. Ia merasa telah menjadi seorang perempuan miskin yang rela dimadu demi tetap bergelimang harta. Sungguh sangat rendah statusnya di mata orang-orang. Namun kembali ia tepis semua itu saat mengingat bayi yang ada di kandungannya.
****
“Mas, hari ini jadwal untuk kontrol ke dokter kandungan untuk kedua kalinya, kamu bisa ikut, kan?”
“Kamu ini gak punya etika ya!” celetuk Betty, wanita itu memang suka sekali ikut campur urusan rumah tangga putranya. “suami lagi makan, malah ditodong dengan pertanyaan!” sambungnya.
Meja makan bundar yang mewah tak lagi mengesankan. Febi merasa tak berharga di mata mertuanya. Apa pun yang ia lakukan selalu saja salah.
“Bukan begitu, Ma, “
“Sudah sudah, kita makan dulu,” Betty tidak mengizinkan Febi menjelaskan.
“Oh iya Mas, hari ini kita jadi kan liburan, aku sudah pesan tiketnya!” celetuk Ningsih. Febi yang mendengarnya langsung menatap Rey, menunggu jawaban dari suaminya.
“Jadi dong, kalian kan belum berbulan madu.” Betty langsung menyela. “Rey, bawa istrimu ke Paris, itu tempat yang sangat ingin ia datangi!” perintahnya.
“Iya, kami memang berencana ke sana, Ma” Rey semakin membuat Betty tersenyum lebar.
Febi ingin sekali meneteskan air matanya yang sudah sedari tadi memaksa. Tapi sekuat mungkin ia tahan, ia tidak ingin Betty semakin membully. Mereka saling tertawa sambil bercerita tentang rencana liburan, sementara sedari awal Febi dilarang bicara karena sedang dalam suasana sarapan pagi. Diskriminasi terhadapnya sangat terlihat jelas. Lantas siapa lagi yang bisa diandalkan oleh seorang istri, jika suaminya pun tidak ikut membela?
“Kamu mau oleh-oleh apa, Feb?” Tanya Ningsih.
Febi tak menoleh, ia meletakkan sendoknya dan pergi meninggalkan mereka.
“Nah itu, kelihatan kan kelakuannya!” cetus Betty. Febi yang sekilas mendengarnya tidak lagi peduli.
Tak pernah terlintas di benaknya, ternyata hari ini Rey akan pergi bulan madu ke Paris, kota yang juga sangat ingin dikunjungi Febi. Ia kembali terngiang masa-masa SMA dulu, saat ia dan Ningsih membuat sebuah cerpen dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia berjudul Ketemu Jodoh di Paris. Sebuah kota yang memang sangat ingin mereka datangi.
Namun kali ini hanya Ningsih yang bisa mewujudkannya, bahkan mimpi itu semakin indah ketika Rey ikut menemaninya.
Beruntung sekali Ningsih, pikirnya.
Sejak kecil, meskipun Ningsih hidup menderita bersama Hanum, namun ia selalu mendapatkan apa yang ia cita-citakan. Mungkin itu semua balasan atas setiap luka yang telah ia terima. Tapi bagaimana dengan Febi? Dosa apa yang telah ia lakukan hingga rasanya sulit sekali baginya untuk bahagia. Kepalanya tiba-tiba saja sakit memikirkan semua itu.
****
“Suami tidak ikut, Bu?” dengan penuh harap dokter tampan itu bertanya.
Ini pemeriksaan kehamilannya yang kedua kali. Sebelumnya dokter telah mengingatkan agar Rey datang, karena ada hal penting yang akan dibicarakan dengannya.
“Suami saya sedang ada urusan pekerjaan di Paris, Dok.” Sahutnya.
Tak mungkin juga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dokter, sebaik mungkin ia harus menjaga nama baik suaminya.
“Ada sesuatu yang penting, dan harus saya bicarakan langsung pada suami pasien,” ia menjelaskan.
“Jelaskan saja pada saya, Dok. Saya ibunya!” Hanum menyela pembicaraan.
Sebenarnya Hanum juga sudah gerah dengan kelakuan Rey dan Ningsih. Namun sebisa mungkin, ia harus menahan emosinya. Bukan hanya demi Febi, tapi juga demi masa depannya sendiri, ia tak kuat jika membayangkan harus menghabiskan usianya di balik jeruji besi seperti ancaman Ningsih kala itu.
“Saya melihat ada kelainan kromosom pada janin Bu Febi.” Tanpa basa-basi dokter mulai menjelaskan.
“Maksudnya, Dok?” Febi tak mengerti maksud lelaki pintar itu.
“Kemungkinan bayi ibu akan mengalami kelainan genetik. Tapi saya belum tahu pasti syndrom apa yang dideritanya!” Dokter semakin pada intinya, dan jelas membuat Febi dan Hanum terpukul.
Hanum mengusap bahu putrinya, untuk sekadar menguatkan. Perlahan air mata Febi menetes, namun ia tak ingin terisak. Sekuat mungkin, ia tetap berusaha tegar, demi bayi yang sedang dikandungnya.
Sekuat itukah seorang ibu?