“Apa aku harus menceraikannya sekarang, Ning?” pertanyaan Rey tak lantas membuat istrinya bergeming.
Ningsih merasa sudah sangat lelah. Bukan karena menjadi istri seorang Rey, tetapi ia tak sanggup lagi menjadi istri kedua. Apalagi cemoohan orang tak henti mencibirnya, tanpa mereka tahu duduk permasalahannya. Menanggapi komentar orang lain memang sangat melelahkan.
Kini usia kandungan Febi sudah menginjak angka delapan. Tentunya hanya tinggal sedikit lagi Ningsih menunggu. Namun bukan hanya itu, Ningsih merasa tak ingin memiliki Rey lagi.
“Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” Rey kembali melontarkan pertanyaan, membuat Ningsih tak tahu bagaimana menjelaskannya.
Jelas sekali terlihat di mata Ningsih bahwa ia masih sangat mencintai suaminya. Lelaki sebaik Rey, tak mungkin semudah itu dilupakan. Namun ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Semua yang terjadi membuatnya tak ingin lagi memiliki Rey.
“Apa karena ada lelaki lain?” pertanyaan Rey masih saja memburunya.
Mungkin Rey masih mencurigai kedekatan Danu dan istrinya. Memang, Ningsih sering menemui Danu diam-diam tanpa memberitahunya, tapi semua itu hanya karena satu misi yang belum ia selesaikan, yaitu menemukan Sekar. Toh selama ini, Danu juga tidak pernah mengungkapkan apa pun tentang perasaannya. Dan Ningsih juga yakin, lelaki yang telah banyak menolongnya itu hanya menganggapnya sebagai sahabat.
“Lantas apa?” lagi-lagi Rey tak berhenti.
Febi yang sedang menguping dari luar kamar, sesekali mengelus perutnya. Ia masih tak paham apa yang membuat Ningsih meminta Rey menceraikannya? Bukankah semua keinginan Ningsih selalu dituruti Rey dengan senang hati? Bahkan keuangan keluarga seluruhnya ada di tangan Ningsih. Beda dengan Febi, untuk sekadar ke dokter saja ia harus mengemis pada suaminya.
Dan yang lebih menyayat, di usia kehamilannya yang ketujuh, tidak ada acara syukuran untuk calon bayinya. Semua terlewatkan begitu saja. Sempat Febi mengutarakannya pada Rey, namun tak digubrisnya.
Dan kali ini, apa Rey juga akan menceraikan Febi demi mempertahankan Ningsih?
Benar-benar tak bisa diterima oleh Febi, air matanya menetes. Malang sekali nasibnya, beginikah rasanya mencintai tanpa dicintai? Sangat menyakitkan hingga ubun-ubunnya terasa sakit.
“Nyonya!” teriak seorang asisten rumah tangga. Membuat Rey dan Ningsih bergegas keluar dari kamarnya. Ternyata Febi pingsan.
****
Rumah tak lagi menjadi tempat ternyaman bagi Febi, mungkin semua tekanan itu membuatnya semakin rapuh. Ini ke sekian kalinya ia pingsan.
“Jika terlalu sering seperti ini, saya khawatir akan membahayakan keduanya, ibu dan bayinya!” jelas dokter. Jesi yang ikut hadir ikut menyimak.
Meski pun ia juga merupakan dokter spesialis di rumah sakit besar itu, tapi setelah tahu Febi adalah madu keponakannya, ia mulai tidak menyukainya. Bagaimana pun ia tidak ingin Ningsih menderita, meskipun saat ini keponakannya itu masih dingin padanya.
“Lebih baik, Febi tinggal di rumah yang berbeda agar mentalnya terjaga. Mungkin ia tak bisa menerima kehadiran Ningsih!” saran Jesi. Dokter yang menangani Febi ikut mengangguk.
Sebenarnya saran yang diungkapkan Jesi justru ia niatkan untuk membuat Ningsih hidup bahagia bersama suaminya.
“Baik, Dok!” jawab Rey.
Febi yang mendengarnya sedikit murung. Jika pisah rumah, pastinya ia tidak akan bertemu suaminya lagi. Mana mungkin suaminya mau datang menemuinya dan berlaku adil padanya.
Meski dalam agama islam jika lelaki memiliki istri lebih dari satu, maka ia harus berlaku adil pada keduanya, tapi Febi yakin Rey tak akan melakukannya.
“Aku tetap ingin tinggal sama kamu, Mas!” pungkas Febi.
Matanya berbinar, pertanda ia sangat berharap lelaki yang ada di hadapannya mau mengiyakan. Tapi, jangankan hanya berbasa-basi, melirik pun Rey tak mau. Ia segera keluar dari ruangan menuju bagian administrasi untuk melunasi semua biaya pengobatan istri pertamanya itu. Begitu pun kedua dokter tadi, ikut meninggalkan kamar Febi.
“Kamu?” Ningsih melejitkan telunjuknya ke arah Febi, membuat madunya itu sedikit resah. “wanita tidak tahu malu yang aku temui di muka bumi ini!” sambungnya.
Benarkah? Febi masih merasa permintaannya tadi masih masuk akal. Sebagai seorang istri yang sedang mengandung, tentunya ia ingin tetap bersama suaminya.
“Sampai kapan kamu akan terus membenciku, Ning?” Febi memelas.
Pertanyaannya bukan malah membuat Ningsih iba, madunya itu justru tersenyum jahat padanya. Berani sekali ia bertanya seperti itu, pikir Ningsih.
“Sampai kamu dan ibumu menerima hukuman yang sama, seperti apa yang telah dilakukannya pada keluargaku!” sinis Ningsih.
Balasan seperti apa yang akan membuat Ningsih puas? Bukankah Hanum telah dipenjara? Dan Febi merasa itu sudah cukup untuk menebus semua kesalahan ibunya.
“Belum!” pungkas Ningsih.
Dendam di hatinya semakin besar. Apalagi sampai sekarang ia belum menemukan keberadaan Sekar. Itu juga yang membuatnya ingin bercerai dari Rey, ia tak kuat menatap wajah Febi setiap hari. Wajah wanita yang pernah begitu ia sayangi, kini seperti percikan api yang setiap saat memancing emosi. Sebelum semuanya lebih membara, Ningsih ingin menyudahinya dan fokus mencari ibunya, Sekar.
“Jadi kamu ingin bercerai dengan Mas Rey?” tanya Febi.
Ningsih dapat menafsirkan pertanyaan Febi. Jelas ia sedikit lega jika Ningsih meninggalkan suaminya.
“Tapi sekarang tidak! Aku berubah pikiran!” Ningsih semakin sinis pada adiknya itu. “setelah aku pikir-pikir, seru juga jika kita memperebutkan lelaki yang sama!” sambungnya.
Ningsih akan memastikan Febi harus keluar dari rumah Rey. Jika itu terjadi, maka ia tidak akan menceraikan suaminya. Tentu saja Ningsih yakin Rey akan patuh padanya. Sebaliknya, Febi merasa khawatir jika harus melewati sisa masa kehamilannya seorang diri. Tentu akan lebih menyakitkan dari pada saat ia tinggal bersama madunya.
“Memang itu yang aku inginkan, melihatmu lebih menderita dari ini!” memohon pun rasanya percuma. Ningsih tetap kekeh pada pendiriannya.
“Aku benar-benar sendirian sekarang. Ibu, kamu, dan Mas Rey, aku kehilangan semuanya. Bahkan Dokter Jesi, yang aku kira akan menjadi teman baru bagiku, ternyata tak lain adalah orang yang ikut membenci ibuku.” Febi kembali memelas.
Terkadang Febi marah pada keadaan, mengapa ia harus menanggung semua dosa yang dilakukan Hanum? Sedangkan lahir ke dunia ini saja bukan keinginannya. Lantas mengapa semua membencinya?
“Karena orang sepertimu tetap akan mewariskan sifat bengis ibumu! Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?” sinis Ningsih kembali.
Ini pertama kalinya Ningsih banyak bicara pada madunya itu. Biasanya ia tidak ingin terlalu menggubrisnya. Tapi entah bagaimana, kali ini ia benar-benar tersulut emosi.
“Apa yang bisa membuatmu mengizinkanku tetap tinggal di rumah Mas Rey, Ning?” Febi masih belum berhenti.
“Tidak ada! Sudah cukup semuanya!”
“Bahkan jika aku memberi tahumu tentang keberadaan Pak Capi?” tawar Febi.
Sial. Darimana ia tahu semuanya?