Topeng di Balik Pernikahan

Perawan

            “Aku juga istrimu, Mas!” nada suara Febi kali ini cukup keras. Ia merasa lelah menghadapi sikap Rey yang semakin hari semakin membencinya.

 

            Kepergian Ningsih tak lantas membuat Rey menerima Febi, justru sebaliknya, ia sangat muak melihat istrinya.

           

            “Iya benar kamu istriku, tapi bukan wanita yang aku cintai!” pungkas Rey. Nada bicaranya ikut meninggi, “jika bukan karena Ningsih, aku tak akan bertahan.” telunjuknya mengarah pada putri kesayangannya yang juga diberi nama Ningsih.

 

            Pertengkaran yang sudah sangat sering terjadi, hampir tak lagi dipedulikan Febi. Bahkan saat suaminya itu memberi nama “Ningsih” kepada buah hati mereka, Febi tak ingin membantah. Ia tahu, tak mudah mengubah isi hati seseorang. Lagi pula nama yang disematkan Rey dianggap sebagai rasa kehilangan yang ingin diredam suaminya dengan tetap mengukir nama Ningsih dalam hidupnya.

            Febi juga bisa dikatakan istri yang sangat sabar menghadapi suaminya. Ia selalu berusaha diam saat diperlakukan sesuka hati oleh Rey. Tak jarang Rey membentak dan memaki istrinya itu.

            Rey sendiri bukan lelaki yang mudah mengujar kebencian dan kata-kata kasar. Tetapi kehilangan Ningsih menjadikannya mudah tersulut emosi, terlebih pada Febi.

 

            Tapi kali ini, Febi merasa jenuh. Tepat dua bulan setelah Ningsih pergi, Rey masih saja tak ingin berubah.  Ia yang bahkan enggan bicara pada Febi, membuat istrinya jenuh dan merasa terabaikan.

 

            “Apa lagi yang kamu mau, Mas? Ningsih sudah tidak ada di sini, sadar kamu, Mas!” Febi terisak.

 

            Ia yang awalnya ikhlas diperlakukan semena-mena, kini merasa harus berontak. Dulu, Rey selalu mengutamakan Ningsih, dan wajar menurutnya. Tapi sekarang, bahkan saat Ningsih sudah tidak di sini, Rey masih saja mengagungkannya. Tega sekali ia pada istrinya itu.

 

            “Iya memang Ningsih sudah tidak ada di sisiku, tapi rasa cintaku tidak pernah enyah untuknya!” Rey tetap tak ingin iba.

Rey yang sudah kehilangan jejak, menghabiskan hari-harinya untuk mencari informasi tentang Ningsih. Sering ia tidak pulang ke rumah dan memilih untuk tidur di kantor, demi mencari tahu lebih banyak tentang keberadaan pujaan hatinya itu.

Dan yang lebih menyayat hati Febi, Rey sering ke luar kota untuk mencari Ningsih tanpa memberitahunya. Bukan karena cemburu, tapi Febi merasa benar-benar tak dianggap istri oleh suaminya.

Ningsih pergi setelah meminta Rey menceraikannya, sesuatu yang tak akan pernah dikabulkan lelaki itu. Ningsih memutuskannya sebelah pihak, membuat lelaki itu tak bisa menerimanya.

Bukankah mereka menikah didasarkan dengan rasa cinta? Lantas mengapa kini Ningsih memilih pergi?

 

“Jika memang aku tak bisa kamu anggap sebagai istri, lebih baik aku pergi dari sini, Mas!” lanjut Febi.

Ia bergegas menuju kamar dan mengemasi semua pakaiannya. Tak luput pula menyematkan seluruh pakaian putrinya yang ikut ia bawa bersamanya. Febi ingin menyudahi luka batinnya. Ia pikir, setelah Ningsih pergi, ia dapat membuat Rey mencintainya. Ternyata salah.

Dan kini, Febi sudah tidak tahan lagi. Meski air matanya berderai, tapi ia memberanikan diri untuk meninggalkan rumah suaminya.

 

 

****

 

            “Aku ingin melamarmu, Ning!” ucap Danu seraya menyodorkan sebuah cincin berlian yang harganya ratusan juta.

            Namun, bukan tentang harganya, Ningsih masih tak percaya Danu akan melakukannya.

            Dan entah bagaimana, ia berhasil menemukan kediaman wanita itu.

 

            Sore itu, Ningsih yang sedang duduk menikmati suasana alam pedesaan, dikejutkan oleh datangnya lelaki tampan yang tak lain adalah Danu. Tanpa basa-basi, Danu berhasil mengejutkannya dengan pertanyaan yang sulit ia jawab.

 

            “Kamu serius?” tebak Ningsih.

 

            Wajar saja Ningsih berpikir begitu. Selama bersamanya, Danu sama sekali tak pernah menunjukkan perasaannya pada Ningsih. Atau mungkin Ningsih yang tidak peka?

 

            “Aku tidak main-main, Ning!” mata Danu terlihat sangat meyakinkan.

 

            Bibir Ningsih kelu, perasaannya juga ikut kalut. Ia yang masih menyimpan trauma, seolah enggan jatuh hati. Dan baginya, seorang Danu yang kaya raya tentu layak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya.

 

            “Aku tidak peduli, Ning!”

 

            Lelaki yang dikenalinya itu memang pelik. Ia tak romantis dan tidak bisa merangkai kata-kata indah. Ningsih baru sadar ternyata kebaikannya selama ini adalah bentuk rasa cinta yang ia ungkap melalui sikapnya yang begitu peduli pada Ningsih.

 

            “Kamu jangan khawatir Ning, kita akan mencari ibumu, tentunya sebelum kita menikah!” lanjut Danu.

 

            Menikah?

            Ningsih tak yakin. Bukan karena ia meragukan ketulusan Danu, tapi ia takut untuk kembali menautkan hati pada lelaki.

            Dan sebenarnya, perasaannya masih sangat lekat pada Rey, lelaki yang hampir satu tahun menjadi suaminya. Karakter Ningsih yang tak mudah mencintai, juga tak mudah melupakan.

            Dan bagaimana mungkin ia menikah dengan Danu, lelaki yang sama sekali tidak ia cintai.

           

            “Ning, percayalah padaku!” pinta Danu.

 

            Setelah banyak kekecewaan, apa ia masih pantas percaya pada seorang Danu? Kini yang ada di pikiran Ningsih hanya tentang bagaimana menemukan Sekar. Ia bahkan tak tahu Sekar masih hidup atau tidak.

            Segala cara telah ia lakukan, tapi hasilnya tetap sama. Dan ia baru sadar ternyata Danu juga tidak berhenti mencari Sekar sampai saat ini. Tapi hasilnya sama saja.

 

            “Aku banyak dikecewakan oleh manusia, dan aku enggan percaya lagi!” sahut Ningsih.

            Danu menarik kembali cincin yang tak digubris oleh Ningsih. Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk melamar, pikirnya.

 

            “Aku minta maaf, Ning” Danu tak lagi memaksa. “aku akan tetap menunggu sampai kamu siap!” sambungnya lagi.

 

            “Aku hanya seorang janda, kamu bisa dapat yang lebih baik dariku!” pungkas Ningsih.

 

            “Memangnya kenapa kalau kamu janda? Aku tidak masalah!” Danu begitu lantang menjawab keraguan Ningsih. “apa keperawanan selalu menjadi tolak ukur untuk menikah?” berani sekali Danu menantang.

 

            Danu yang kehabisan kata, berpikir terlalu jauh. Sesuatu yang sama sekali tidak dipikirkan oleh Ningsih. Mendengarnya, Ningsih sedikit kaget, tapi ia tahu tujuan Danu menyinggung tentang ketabuan itu. Tak lain hanya ingin membuat wanita itu yakin.

 

            “Sudahlah!” Danu menyerah. Ia bangkit dari kursinya. “aku tak ingin membahasnya terlalu jauh. Nanti ditakutkan terjadi kesalah-pahaman.”

 

            Ya, benar kata Danu. Rasanya ia tak perlu mendeskripsikan sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Belum tentu juga Ningsih mengkhawatirkan apa yang dicurigai Danu. Terlalu cepat jika ia menyimpulkannya.

 

            “Aku masih perawan, Dan!” ucap Ningsih.

 

            Danu yang mendengarnya, sangat terkejut. Langkahnya yang sudah meninggalkan Ningsih, seketika terhenti. Ia menoleh ke arah Ningsih yang sama sekali tak menoleh ke arahnya. Ningsih masih saja menatap pohon-pohon rindang yang ada di halaman rumah dan beberapa burung yang hinggap di dahannya.

 

            “Aku serius!” ucapnya lagi. Kali ini ia menoleh, menatap wajah Danu yang penuh tanda tanya.

Lates Chapters

Kebahagiaan Yang Sesungguhnya

  Satu Bulan Kemudian ...               Terkadang memang sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Di mana keinginan selalu ingin kita prioritaskan sehingga kita lupa…

Ningsih Setia Asih

“Ini minum dulu!” Bu Santi menyodorkan secangkir wedang jahe. “semalaman kamu gak tidur, setidaknya ini bisa buat badan kamu segar.” lanjutnya seraya duduk di sebuah…

Kembali Luka

              “Ning!” suara Rey terdengar sangat jelas. Ia menyentuh pundak mantan istrinya itu.               Ningsih yang tertidur mulai terjaga dan membuka matanya. Tangannya…

Ikhlas

“Aku ikhlas jika kamu kembali kepada Mas Rey, Ning!” mata yang berbinar tak dapat disembunyikannya.   Entah dari mana ia tahu tempat tinggal Ningsih. Tiba-tiba…

Febi

“Kita akan utamakan salah satu dari mereka, Febi atau bayinya?”               Rey tak bisa menjawab apa yang ditanyakan dokter. Bibirnya kelu. Bagaimana memilih salah…

Terkuak

“Ratihlah yang mencari PSK untuk membuat lelaki hidung belang seperti ayahmu bertekuk lutut!” pungkasnya. Hanum merasa sangat puas dengan pernyataannya. Kini ia merasa impas. Rahasia…

Pemotong Besi

Betapa terkejutnya Hanum melihat wajah Ningsih tiba-tiba muncul, namun lebih mengejutkan lagi saat ia melihat dua orang lelaki kekar di sebelah Ningsih, dan salah satu…

Tutur Batin

        "Sudah pernah aku ingatkan, mencari Sekar hanya akan membuka kembali luka lama, Ning!" Jesi sangat tidak setuju Ningsih mencari kembali ibunya…

Pilih

              “Kamu pilih diceraikan saat ini juga, atau pindah ke rumah yang sudah aku siapkan?” tawaran Ningsih begitu membuatnya tersayat. Lebih dari itu, melihat…

Lelah

            “Apa aku harus menceraikannya sekarang, Ning?” pertanyaan Rey tak lantas membuat istrinya bergeming.             Ningsih merasa sudah sangat lelah. Bukan karena menjadi istri seorang…

Jesi

            “Benarkah ia Asih? Bayi yang aku cari selama 25 tahun?” monolognya.               Berpura-pura untuk memeriksa psikologi Febi, dokter yang baru ia kenal tempo…

Percuma

“Seharusnya kamu mati di tangan ibumu sendiri 25 tahun yang lalu!” cecar Hanum. Sepertinya percuma saja menyambangi Hanum di penjara. Ia sama sekali tak memberi…

Sakit

“Tidak harus kamu yang menemaninya, Rey!” Retno langsung menyela pembicaraan Febi dan suaminya.             Febi pun merasa menyesal, seharusnya ia tidak bicara saat makan malam…

Syarat

“Aku akan mencabut tuntutanku,” apa yang diujar oleh Ningsih membuat Febi sedikit lebih lega dari sebelumnya.             Ia yang awalnya berulang kali tersungkur di hadapan…

Bui

“Aku mohon, Ning!” Febi tersungkur di bawah kaki Ningsih, berharap wanita yang ada di hadapannya luluh.               Tapi sepertinya percuma. Ia sama sekali tak…

Pesan Singkat

“Mas, maaf mengganggumu. Hari ini dokter bertanya tentang kehadiranmu dalam pemeriksaan kedua. Ada masalah dengan bayi kita. Semoga saat pemeriksaan selanjutnya kamu bisa datang.”  …

Malam Pertama

Mohon terus dukung Novel Janur Kuning di Rumah Tanteku, like dan comment ya :)   “Akan aku buat Mas Rey tak akan melupakan malam pertama…

Janur Kuning 2

“Sah!”               Febi menatap tabu para tamu yang sedang berdoa. Ia juga ikut menadahkan tangan meski sebutir air matanya menetes. Pernikahan yang hanya dihadiri…

Hamil

“Aku hamil, Ma!”               Pernyataan wanita yang ada di hadapannya membuat Betty tercengang. Ia sedikit memijat dahinya, berusaha menenangkan batinnya yang bergejolak.             Sementara…

Cincin

            “Aku ingin menikahimu, Ning!” pungkasnya.               Ia menyodorkan sepasang cincin yang sangat cantik kepada gadisnya. Cincin yang persis sama seperti cincin pernikahan mereka…
error: Content is protected !!