Arpha terlihat berjalan mendahului Alex dari Cafe itu. Lalu segera membukakan pintu mobil untuk Alex.
Namun betapa terkejutnya Alex saat ia hendak masuk malah mendapati seorang wanita meringkuk di jok mobilnya.
“Heh, apa yang kau lakukan? Kau mau mencuri?” Tegur Alex.
Erina menoleh dengan wajah pucat.
Menatap dua pria yang sudah menatap penuh curiga padanya.
“Tuan, tolong saya. Biarkan saya bersembunyi disini. Ada yang mengejar saya dan hendak memaksa saya untuk menikah dengannya. Tolong saya tuan. Saya tidak mau menikah dengan pria itu.”
“Apa peduliku! Cepat keluar!” Bentak Alex .
“Tuan. Kasihani saya. Saya mohon.” Erina tidak menyerah untuk mengiba.
“Nona keluarlah! Jangan menunggu Tuan ku marah.” Sekarang Arpha yang membentak Erina.
Erina tapi masih bertahan hingga Alex hilang kesabaran dan menarik tangan Erina agar keluar.
Alex akhirnya bisa membuat Erina Keluar dari mobilnya bersamaan dengan gerombolan Fic datang menghampiri mereka.
“Dasar wanita Jalang. Rupanya bersembunyi disini!” Fic langsung mencengkram tangan Erina dan menariknya.
“Lepas Tuan. Lepas. Aku tidak mau!” Erina berteriak memberontak.
Alex tentu saja melihat itu dan langsung mengenali L
Fic.
“Tuan Fic. Ini ada apa?” Tanya Alex.
“Tuan Alex. Kau rupanya.” Fic menoleh pada Alex dan langsung menyadari kehadiran pria terhormat itu. Pria yang hampir menjadi Adik iparnya jika saja Via tidak kabur. Dan mengenai hal itu, Fic entah sudah tau atau hanya pura pura tidak tau saja. Karena pria dihadapannya ini juga termasuk Pesaing beratnya.
“Ya. Wanita ini tadi bersembunyi di mobilku. Sebenarnya siapa dia? Apakah salah satu dari wanitamu?” tanya Alex kembali.
“Oh ya. Maafkan aku. Dia calon istri keempatku. Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk membelinya dan dia malah kabur seenaknya jidatnya.” Jawab Fic.
“Oh, baiklah Tuan Alex. Kita tidak urusan. Aku harus pulang membawa wanitaku ini.” Selesai bicara, Fic segera menyuruh anak buahnya untuk menyeret Erina kembali.
“Tunggu Tuan Fic!” Tiba tiba Alexander memanggil Fic.
Hanzero mendekati Fic yang menghentikan langkahnya.
“Ada apa Tuan Alex?”
“Berikan wanita itu padaku. Aku akan mengembalikan uangmu dua kali lipat.”
“Hah!” semua orang tercengang, baik Fic maupun Arpha. Erina pun sama.
” Apa kau sedang tidak bercanda?”
“Ya. Aku serius.”
“Oh. Tapi aku ingin menjadikan wanita ini istriku. Mana bisa?” Sahut Fic.
“Jika kau tidak bisa,maka aku akan melaporkan perihal ini kepada yang berwajib. Karena kau telah memaksa seseorang atau lebih tepatnya sudah berusaha menculiknya.” Ancam Alexander.
Fic terdengar tertawa. “Aku tidak menculiknya atau memaksanya. Tapi aku sudah membelinya dari suaminya” Bantah Fic.
“Alasan itu akan lebih kuat Tuan Fic. Asal Anda tau, bagaimana hukum di negara kita ini tentang undang-undang perbuatan perdagangan manusia.” ucap Alex lagi. Itu cukup membuat Arpha heran, kenapa bosnya tiba tiba peduli dengan wanita itu. Oh, rupanya Aprha cepat paham, jika bosnya semata bukan karena wanita itu, melainkan karena Fic adalah Kakak dari wanita yang sudah membuat masalah dengannya.
“Brengsek! Kau mengancamku?” Seru Fic.
“Tidak juga. Hanya mengingatkan saja. Apa kau lebih sayang wanita itu daripada Nama baik mu?”
Fic terpaku sekarang, gentar dengan ancaman Alexander. Rupanya Alexander dendam padanya karena perlakuan Via. Itu yang dipikiran Fic saat ini.
“Aku ingin bertanya, apakah kau tertarik pada Wanita ini?” Alih alih, Fic ingin menjebak Alex dengan pertanyaan itu.
Alexander menyeringai. “Aku tidak mengenalnya, tapi aku telah mengingatnya. Dia istri dari seorang yang ku kenal. Dan pernah mempunyai masalah dengan ku. Kebetulan, aku butuh pelayan untuk di apartemen ku. Aku berpikir, akan sangat menyenangkan jika aku menjadikan mantan istri seseorang yang sudah membuatku marah sebagai pelayanku.” Jelas Alex.
“Berikan dia, dan akan ku ganti kerugian mu dua kali lipat. Sebut saja berapa kau membelinya.”
Fic masih terdiam untuk berpikir.
“Pilih saja, uangmu kembali dua kali lipat atau namamu hancur!” Alexanderkembali mengingatkan.
Fic kalah telak, akhirnya mendorong tubuh Erina ke arah Alex.
Alexander tersenyum menang dan menoleh pada Arpha.
“Beri dia cek.”
Arpha segera mengambil sebuah cek kosong dan menulis nominal yang disebut Fic dengan dua kali lipat. Setelah itu menyerahkan pada Alexander untuk ditandatangani. Alexander melempar cek itu ke wajah Fic yang langsung menangkapnya.
Melihat nominal yang benar benar tertera di sana, mata Fic terbelalak. Alexander sudah gila! Menginginkan wanita ini hanya untuk pelayan dengan harga setinggi ini?
“Kau tidak main main?” Menatap penuh heran pada Alex.
“Apa kau pikir cek itu palsu?”
Fic menelan ludah, kembali mengamati cek tangannya.
“Baiklah Arpha, wanita ini sudah menjadi milik kita. Bawa dia!”
Arpha mengangguk, kemudian membuka pintu belakang untuk Erina
“Silahkan Nona!”
Erina sebenarnya belum sepenuhnya mengerti dengan pembicaraan mereka. Dia semakin ketakutan, tapi tidak bisa membantah. Karena dengan begini dia bisa lepas dari Tuan Fic.
Erina cepat cepat masuk, di susul Alex dan Arpha. Arpha melajukan mobilnya ke arah Apartemen sesuai tujuan awal.
“Tuan. Anda serius akan membawa wanita ini ke Apartemen?” Tanya Arpha.
Alex menoleh.
“Setelah aku kehilangan begitu banyak uang, apa kau berniat untuk melepaskan dia begitu saja?”
“Ah iya. Saya tau. Tapi,”
“Kau bisa menjadikannya Pelayan di Apartemen itu. Bukankah kau sering sibuk mengurus ku?”
Arpha mengangguk, tapi dia belum sepenuhnya paham.
“Saya hanya sedang terheran. Anda menghabiskan begitu banyak uang.”
“Aku tidak peduli dengan wanita itu. Tapi aku lebih ingin, mengalahkan Lubis saja.”
“Oh. Aku sekarang mengerti.” Jawab Arpha.
Percakapan mereka sempat di dengar dengan jelas oleh Erina. Tapi dia masih belum mengerti juga. Hanya bisa pasrah kemana mereka akan membawanya. Setidaknya hati Erina sedikit lega. Dua pria di depan ini tidak menggambarkan wajah wajah Pria brengsek.
Tapi apakah Tuan ini benar telah mengenal Bryan? Apakah Bryan pernah membuat masalah dengannya? Jika benar, ini akan menjadi pertanda tidak baik untuk Erina.
‘Ya Tuhan. Lindungi aku.’
Tak begitu lama Mobil itu telah membelok dan terparkir rapi di depan sebuah Apartemen. Arpha segera turun untuk membukakan pintu untuk Alex.
“Silahkan.”
Alex mengangguk. “Kau urus wanita itu saja. Aku akan beristirahat dahulu.” Alex melangkah mendahului untuk masuk.
Arpha kemudian menoleh pada Erina yang sudah keluar dari Mobil.
“Nona. Mari ikut denganku.” Erina hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki pria itu yang membawanya sampai ke sebuah kamar.
“Gunakan kamar ini sebagai kamarmu.” Arpha membuka pintu kamar.
“Jika kau perlu apa apa, boleh menghubungi menggunakan pesawat telepon itu.” Arpha menunjuk pesawat telepon yang ada di ruangan di luar kamar.
“Ku harap, kau bisa bekerja sama dengan baik. Jangan mengecewakan Tuan Alex yang sudah menolongmu. Kau bisa menjadi pelayan disini dan hidupmu akan selamat. Jangan coba coba membangkang atau Tuan Alex akan menemukanmu. Jika kau baik, Tuan Alex pun tidak akan mengganggumu. Apa kau paham?”
Erina mengangguk. “Terimakasih Tuan. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Bertanyalah.”
“Apa Tuan Alex mengenal mantan suamiku?”
Arpha tergelak. “Tidak.”
“Tapi , aku mendengar tapi dia mengatakan itu.”
“Tuan Alex, tidak pernah mengenal mantan suami Anda. Tapi dia mengenal Pria yang mengejar mu tadi. Fic adalah pesaing bisnisnya dan sekaligus kakak dari wanita yang sudah mengkhianati Tuan Alex.”
“Ah baiklah. Kau tidak perlu ingin tau lebih banyak. Bekerjalah dengan baik. Ingat, hutangmu sangat banyak. Bahkan tidak akan bisa dibayar dengan kau bekerja selamanya dengan Tuan Alex. Maka berpikirlah, agar Tuan Alex mau sedikit meringankan mu.” Selesai bicara Arpha meninggalkan Erina.
Erina memilih untuk melangkah masuk ke kamar. Berjalan lemas menuju ranjang besar disana dan membanting diri.
Tangis Erina kembali terdengar, dia meratapi lagi nasibnya. Meskipun sedikit lega, tapi.. mengingat pria tadi sudah mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya dari Fic, apakah pria itu akan melepaskannya begitu saja?
Lalu bagaimana jika Pria itu meminta Erina untuk mengembalikan uangnya?
“Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai matipun aku tidak sanggup untuk mengumpulkannya.”