Lama Alex termenung di belakang punggung Erina, hingga akhirnya dia pun terlelap.
Tengah malam Erina terbangun, merasakan sesuatu yang menindih tubuhnya seperti malam kemarin. Dia membuka mata untuk memastikan. Wajah tampan itu terlelap seperti tanpa beban. Hampir saja Erina berteriak. Namun tiba tiba ia mengurungkan niatnya.
Wajah tanpa beban tapi sebenarnya penuh tekanan. Erina mengamati wajah itu dengan seksama, lalu menarik tubuhnya untuk duduk. Dia masih mengamati wajah itu. Sebenarnya laki laki itu pria baik dan lembut. Bodoh sekali wanita yang sudah mengkhianatinya.
Tanpa sadar Erina tersenyum. “Andai pernikahan ini bukan kontrak.” Erina mulai berperang dengan khayalannya. Mungkin dia akan menjadi wanita yang beruntung.
Tangan Erina bergerak tanpa kendalinya, menyentuh rahang pria itu membuat si pemilik bergerak karena merasakan sentuhan. Erina cepat menarik tangannya.
Alex membuka mata dan tiba tiba duduk. “Astaga! Maafkan aku. Aku , aku tadi, ah.. Aku tadi kedinginan dan , dan.. Aku tidak bermaksud apa apa kok pindah kesini. Hanya , hanya …” Alex gugup.
“Tidak apa apa Tuan. Harusnya saya minta maaf. Ini Ranjang milik Tuan. Harusnya saya yang berada di sofa. Sudah. Tuan lanjut saja tidur ya?” Ya Ampun, Alex tertegun dengan ucapan lembut Erina. Sampai dia tidak sadar jika Erina sudah bergeser untuk turun dari Ranjang.
“Eh,” Alex cepat menangkap tangan Erina.
.
“Em.. begini saja. Kita sama sama tidur disini.”
Erina bukannya menjawab malah langsung melotot membuat Alex menggaruk tengkuk sendiri.
“Jangan salah paham Erina. Biar tidak ada lagi kesalahan, kita bisa mempunyai wilayah kekuasaan masing masing. Bagaimana?” Tawaran Alexander.
“Maksudnya?” Erina tidak mengerti.
“Begini.” Alex bergerak mengambil dua guling besar dan menaruh di tengah tengah Ranjang.
“Nah, kamu disana dan aku disini. Guling dua ini untuk batas wilayah kita. Aku tidak mungkin menjangkau tubuh kamu bukan? Hehe… Jika ada yang melewati area terlarang ini, dia akan kena hukuman. Apapun itu. Kau setuju?” ide cemerlang Alex rupanya diterima Erina.
“Ah baiklah kalau begitu.” Mungkin karena masih mengantuk berat Erina langsung setuju lalu kembali merangkak ke tengah Ranjang dan memposisikan tubuh di wilayah yang sudah ditunjuk Alex tadi.
Melihat Erina sudah terbaring dengan membelakanginya, Alex pun melakukan hal yang sama. Erina sudah kembali terlelap. Alex tidak begitu. Dia kelimpungan. Ada rasa aneh menggelitik hati dan tubuhnya. Lalu rasa indah yang menyeruak ke dalam relung hati. Kemudian semua rasa itu membuat dadanya begitu sesak. Ah,…! Susah sekali.
Dengan susah payah, Alex akhirnya kembali tertidur dengan membelakangi Erina..
____
Sinar mentari yang mulai mengintip lewat celah celah Jendela menembus Gorden membuat mata Erina terbuka sipit. Namun mata yang mula mula sipit itu mendadak terbelalak. “Astaga…!” Dia memekik. Menyadari jika dirinya sudah memeluk erat perut Alex dengan paha tertumpang bebas di atas paha Pria itu.
“Untung Tuan Alex tidak terbangun.” Dia masih merasa beruntung Alex tidak menyadari hal itu. Cepat dia menarik tubuhnya. Wajahnya memerah tidak jelas. Lalu melirik Dua Bantal guling yang sudah teronggok di Lantai. Cepat cepat Erina memungut benda itu dan menaruhnya pelan pelan di tempat semula.
Secepatnya dia masuk ke kamar mandi. Menyapu wajah Semerah tomat itu dengan air dingin sambil menatap wajahnya di cermin.
Dadanya bergemuruh mengingat hal tadi.
“Ya Ampun! Kenapa bisa begitu. Aku malu sekali kalau Tuan Alex melihat tadi. Aku mau bilang apa? Dia pasti akan menghukumku karena sudah melewati area terlarang.”
Ah, dia juga pernah melakukan itu. Ini tidak sengaja. Ini kecelakaan!
Setelah meyakinkan diri, Erina cepat mandi segera keluar lagi. Terburu berganti di balik pintu lemari yang sengaja di buka lebar hanya untuk menghindari jika sewaktu waktu Alex membuka mata tanpa sepengetahuannya.
Setelah selesai, Erina meraih sisir untuk merapikan rambut.
“Ehem…!”
Jantung Erina hampir saja melompat dari tempatnya. Untung buatan Tuhan, jika bukan mungkin sudah terjadi.
Erina menoleh cepat. Orang yang berdehem barusan sudah duduk santai dengan memangku bantal. Tersenyum sangat manis padanya.
“Tuan! Anda sudah bangun?” Erina cepat cepat meraih handuk untuk Alex.
“Hem.. Sudah dari tadi.”
“Oh, ya. Mandi dulu ya?” Tawar Erina mengulurkan handuk.
“Hoam… Aku bangun dari tadi bahkan sebelum kamu bangun.”
“Hah! Apa?” Erina tersentak, menarik handuk itu lagi.
“Tuan duluan bangun sebelum saya?” Tanya Erina untuk meyakinkan.
“Betul sekali. Hem, tapi karena aku tidak ingin mengganggumu yang sedang asyik bermimpi indah, jadi aku harus pura pura tertidur lagi.” Ucap Alex dengan senyuman tanda mengejek. Dia mendekati Erina yang kini menunduk malu.
“Kalau boleh tau, kamu mimpi apa? Memeluk guling atau memeluk mantan suamimu?”
“Tidak Tuan? Saya, saya tidak bermimpi apapun.” Erina gugup, wajahnya semakin memerah.
“Haha.. Asyik ya? Asyik kan memeluk Tuan Alexander yang tampan ini?”
Erina menggelang. “Bukan begitu. Ini kecelakaan!” Elak Erina.
“Hem.. kamu sengaja ya ingin menggodaku?”
“Stop Tuan? Tidak begitu!”
“Lalu bagaimana?”
Erina mendongak. “Maafkan saya, maafkan saya. Sungguh saya tidak tau kalau, kalau..”
“Wah,kau harus ku hukum karena sudah menyebrang wilayah kekuasaan ku.” Alex kini mendekat, sangat dekat. Wajah mereka berhadap hadapan sekarang.
Erina gemetaran, dia mundur ke belakang. Alex terus maju. Hingga punggung Erina sudah menabrak tembok.
Sekarang dua telapak tangan Alex menabrak tembok mengukung tubuh Erina.
“Hukuman apa yang pantas untukmu Erina?”
“Tu,Tuan. Saya sudah meminta maaf. Itu kecelakaan sumpah. Saya tidak berniat menggoda Anda.”
“Benarkah?” Satu tangan Alex sudah mencengkram tengkuk Erina. Pria itu nampak gemetaran, tapi bukan karena takut. Namun karena menahan gejolak yang tiba tiba menggebu di dadanya.
“Tu, Tuan. Anda pernah salah juga. Pernah melanggar kesepakatan kita. Tapi saya memaafkan. Kenapa anda tidak memaafkan saya?”
“Beda dong. Saat itu posisi ku karena khilaf dan gemes padamu. Apa kau juga begitu? Khilaf dan gemes dengan ketampanan ku?”
Astaga, Aku ingin meninju pria ini!
“Tidak Tuan. Sungguh. Saya tidak tau apa yang terjadi. Saya juga tidak bermimpi apapun.”
“Hem. Baiklah. Begini saja. Aku tetap ingin menghukummu sebagai kesepakatan kita sebelum tidur semalam.” tangan Alexmenyibak lembut rambut Erina . Dan wanita ini benar benar sudah sangat gugup.
“Sekarang aku sedang tidak khilaf ya Erina. Aku hanya sedang gemes melihat wajah mu yang memerah ini. Aku tidak tau sih karena apa kok bisa wajah mu memerah begini?” Ucap Alex.
Erinasemakin gugup saat Alex melirik bibirnya. Dan benar saja, wajah Alex sudah mulai bergerak.
“Tuan.” Erina hendak Mendorong tubuh Alex. namun Alex memegang erat tangan Erina.
“Sebentar saja.” Bisik Alex, ia mendaratkan bibirnya tepat di bibir mungil milik Erina..
Erina sungguh berdegup jantungnya. Ada rasa ingin memberontak, tapi tubuhnya tiba tiba berkhianat. Kecupan itu begitu lembut dan hangat.
Dua bibir yang sudah bertemu itu sama sama terdiam cukup lama. Entah saling merasakan desir desir aneh yang langsung menyebar keseluruhan nadi atau bagaimana. Hingga bibir Alex mulai bergerak pelan dan berputar.
“Tok.. Tok… Tok..!”
“Alex …! Erina..!”
Dua bibir yang baru saja terpaut itu seketika terlepas.
Kesempatan Erina untuk lepas dari kukungan Alex dan berlari menghampiri pintu.
“Mama! Benar benar mengganggu!” Gerutu Alex..
Erina segera membuka pintu.
“Erina .. Apa Alex masih tidur?” Mama sudah berdiri di depan pintu.
“Tidak Ma. Tu, ah, Mas Alex sudah bangun kok. Tapi belum mandi.” Jawab Erina berusaha menyembunyikan gugupnya.
“Oh,” Mama mendengus, sambil melirik wajah Erina yang sangat memerah.
Ada apa ini? Hati Mama bertanya tanya.
Mama mengintip ke dalam. Dilihatnya Alex duduk di pinggir Ranjang.
“Heh, ini sudah siang Alex! Arpha sudah menunggumu dari tadi. Kau ini ya!” Semprot Mama tanpa mendekat.
“Hem..” tanpa menjawab apapun Alex melangkah ke kamar mandi.
“Suruh Arpha menunggu. Jika tidak mau, suruh berangkat sendiri saja!” Seru Alex sambil menutup pintu kamar mandi.
______