Arpha berjalan memasuki kantor dengan sejuta pesonanya.Banyak para karyawan yang mengagumi bos dan asistennya itu. Karena memang wajah mereka yang tampan dan juga mempesona tapi mereka sangat tegas dalam hal apapun.
Kini Arpha memasuki lift menekan tombol angka lima dimana ruangan Presedir.
Tring..Tak butuh waktu lama pintu lift terbuka.Arpha keluar,berjalan menuju ruangan Alex.Tak perlu waktu lama untuk Arpha sampai di ruangan Alex.
Tok..
Tok..
“Masuk!” teriak Alex dari dalam.
Arpha membuka pintu,melangkahkan kakinya memasuki ruangan Alex.
“Ini tuan. Handphone keluaran terbaru yang tuan pesan” Arpha menyimpan paper bag di atas meja kerja Alex.
Alex meraih paperbag. Mengeluarkan isinya.Satu buah ponsel keluaran terbaru sudah ada di tangannya.Alex tersenyum puas.
‘ Erina pasti senang dengan hadiah ini’ batinya. Tanpa Alex sadari bibirnya mengulas seutas senyum.
“Kau memang hebat Arpha selalu mengerti apa yang aku mau!” Ucap Alex menepuk nepuk pundak Arpha.
” Terimakasih tuan.”
“Em.kamu boleh lanjutkan pekerjaanmu”
“Baik tuan. Nanti jam dua ada meting di luar tuan.”Arpha kembali mengingatkan Bosnya itu.
“Baiklah.siapkan saja berkasnya” ucapnya. Alex kembali duduk di kursi kebesarannya.
“Baik tuan” Arpha memutar badannya,melangkahkan kakinya berjalan dari ruangan Alex.
Setelah Arpha keluar. Hanz kembali memegang ponsel itu sambil senyum senyum sendiri.
‘ Jadi gak sabar, pengen liat reaksinya Erina nanti.’
Di rumah utama!
Erina sedang di dapur hendak mengambilkan Mama makan siang. Erina menyiapkan makan kedalam piring menyimpanya pada nampan,tak lupa juga Erina mengambil gelas mengisinya dengan air putih.
Erina berjalan membawa nampan hendak naik keatas. Di dekat tangga Erina berpapasan dengan Alin.
“Loh Kak.Kaka mau kemana ko udah rapi?” tanya Erina yang melihat Alin sudah rapi.
“Saya mau ke rumah suami saya! Saya titip Mama. Selama saya tidak ada disini!” Ucap Alin dengan nada di buat sesinis mungkin.
‘ Semoga rencana aku sama Mama berhasil’ batinnya.
Flasback!
“Ma.Gimana sama rencana kita buat pada Erina.” Ucap Alin saat berada di kamar Mama.
“Kita jalankan saja rencana pertama kita Alin.”
” Baiklah Ma. Setelah ini Alin akan pulang ke rumah mas Adrian dulu.” Ucap Alin. Mama mengangguk paham.
” Semoga saja Erina benar benar tulus ya Alin.” Dari nada bicara Mama ada sebuah harapan disana.
“Oh. Iya Kak. Kak Alin tenang aja,aku bakal rawat Mama dengan baik” Jawab Erina dengan seutas senyum di bibirnya.
“Em.Baiklah!” Alin berlalu dari hadapan Erina. Begitu pun dengan Erina,Ia berjalan menaiki anak tangga satu persatu sampai akhirnya sampai di lantai dua.
Tok..
Tok..
“Mah! Ini Erina bawain makan siang” Panggil Erina dari luar kamar.
Mama yang sedang tiduran langsung bangun mendudukan dirinya bersandar di dinding ranjang. Sebenarnya kaki Mama memang sudah sembuh. Tapi demi misinya Mama rela harus berpura pura.
“Ia Erina.masuk saja tidak di kunci!” Terdengar suara Mama dari dalam.
Erina membuka pintu,setelah ia masuk menutupnya kembali. Erina berjalan mendekati Mama. Erina menyimpan Nampan yang ia bawa pada meja yang ada di kamar. Setelah itu Erina berjalan menghampiri Mama.
” Kakinya masih sakit Mah?” Tanya Erina dan duduk di samping Mama.
“Udah agak enak Erina.” Mama beranjak turun hendak pindah ke sopa. Melihat itu Erina langsung sigap.
” Biar Erina bantu Ma.” Erina mengambil sebelah tangan Mama.Membantunya turun, Erina membantu Mama berjalan dengan cara menggandengya hingga sampai di sopa. Biar aktingnya sempurna Mama jalan dengan terpincang pincang.
‘ Udah bisa jadi pemain sinetron aja nih, Akting bengini. Hhehehe
Setelah memastikan Mama duduk dengan benar Erina mulai menyiapkan makan siang Mama.Erina mengambil piring berisi satu piring penuh nasi dan lauknya. Kemudian Ia duduk di samping Mama.
“Biar Erina suapin ya Ma.” tawar Erina.
“Ah.gak usah Mama bisa sendiri. Lagiankan yang sakit kaki Mama bukan tangan Erina” Mama terkekeh.
“Hehe. Iya deh Ma.” Memberikan piring pada Mama.
Mama menyantap makan siangnya dengan lahap.Arumi tersenyum melihat itu.’ Syukurlah walaupun pernikahan ini hanya pernikahan kontak. Setidaknya aku beruntung Mama dan Kak Alin mau menerima ku.Mereka memperlakukan aku dengan baik,walau kadang kala perkataan Mama dan Kak Alin sedikit jutek.’
Beberapa saat kemudian piring Mama sudah kosong.Mama meletakan piring dan mengambil gelas berisi air putih.Dalam sekali tenggak gelas pun sudah kosong.
“Makasih ya Erina.Kamu sudah mau rawat Mama.”
“Jagan berterima kasih Ma. Karena itu udah jadi kewajiban Erina untuk merawat Mama.”
Erina bangun hendak membersihkan piring kotor namun Mama keburu menahannya.” Biarkan pelayan yang bersihkan Erina. Kamu pergi ke kamar Alex aja untuk istirahat.” Ucap Mama masih memegangi tangan Erina.
“Tapi Ma_” Belum lagi selesai pembicaraan Erina sudah di potong Mama.
“Mama tidak suka pembantahan!” Ucap Mama tegas.Erinahanya bisa mengalah.
“Baik Ma.” Erina pun keluar dari kamar Mama. Kini Erina kembali ke kamar Alex yang masih ada di lantai dua.
Di Tempat Lain!
Alex dan Arpha baru saja memenangkan tender proyek besar setelah pertemuannya di cafe dengan klien dari luar kota.
“Alhamdulillah tuan.Kita memenangkan tender ini” Arpha berkata sambil mengambil gelas jus di hadapannya.
“Kau benar Arp.” Alex pun mengambil gelas di hadapannya. Mengacungkan gelas itu di depan Arpha. Sama halnya dengan Arpha ia melakukan hal yang sama.
” Toash!” Ucap mereka bersama sama.
Setelah sedikit merayakan kemenangan Alex dan Arpha kembali kekantor karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus mereka kerjaakan.
Jarak dari cafe ke kantor tidak terlalu jauh hanya memakan waktu dua puluh menit saja.
Selama dalam perjalan tidak ada obrolan apapun anatara Alex dan Arpha. Mobil yang Arpha kendarai mulai memasuki area parkiran gedung perkantoran. Arpha memarkirkan mobilnya tepat di depan loby.
Arpha mematikan mesin mobilnya.Ia turun terlebih dahulu mengitari mobil,membuka kan pintu untuk Alex.Setelah pintu terbuka Alex turun dari Mobil dan berjalan Memasuki loby kantor. Sedangkan Arpha ia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.Setelah itu ia menyusul Alex memasuki kantor.
Hari sudah mulai gelap Erina mengerjap ngerjapkan mata. “Ya ampun ini jam berapa? Sepertinya aku tertidur cukup lama.” Arumi menatap jam dinding yang terpasang dikamar.
“Hah! Jam tujuh malam!” Suara nya setengah berteriak karena kaget. Erina segera turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dulu.
‘ Aduh. Semoga tuan Alexbelum pulang. Bisa bisanya aku tertidur cukup lama.’ batinya mengomeli diri sendiri.
Tak butuh waktu lama Erina sudah keluar dari kamar mandi. Karena tidak merasa ada siapa siapa di kamar itu jadi Erina keluar dari kamar mandi hanya menggukan Handuk. Erina berjalan menghampiri lemari mengambil satu satu setel pakaian dengan santai.
Tanpa Ia sadari ada yang memperhatikannya dari sofa. Erina berbalik hendak membuka handuknya. Betapa kagetnya melihat Alex sudah duduk santai di sofa sambil terus memandanginya.
“HAaaaaaa!” Erina berteriak Kaget.