Sinar matahari menerobos tirai rumah sakit, membuat mata ini terkesiap. Rupanya aku ketiduran, duduk di kursi kecil disamping bed ibu dengan kepala sedikit menyandar ke dinding. kulihat ibu yang masih terlelap, wajahnya masih tampak lelah, tapi setidaknya napas ibu lebih teratur dibanding kemarin. Tak lama dokter jaga masuk untuk memeriksa belahan jiwaku saat ini.
Dokter mengatakan, kondisi ibu mulai membaik, meski kami harus bersiap dengan perawatan jangka panjang. Namun aku merasa lega, daripada sesak melihat ibuku merintih seperti kemarin di dalam kamar, menyedihkan sekali rasanya.
Aku melirik ponsel, teringat pesan dari seseorang bernama Alvaro. Sejujurnya bingung, tidak tahu harus menganggapi atau mengabaikannya.
“Laira,” suara ibu memecah keheningan, membuatku langsung mendekat.
“Ya bu, apakah butuh sesuatu?”
“Kamu gak pulang dari kemarin, ibu tidak apa jika kamu ingin istirahat sejenak dan membersihkan diri.” Ujar ibu dengan tersenyum lemah
“Aku disini saja bu, nanti mbak Leli mau jenguk, sekalian nitip baju dan sabun serta lainnya.” Mbk Leli merupakan tetangga kami sebelah rumah yang baik sekali, dia peduli pada hidup ibu dan anak yang hanya tinggal berdua.
Ibu mengangguk pelan, namun sorotan matanya menyiratkan kekhawatiran. Aku tahu beliau memikirkan uang yang sudah ku keluarkan.
Setelah memastikan ibuku nyaman, aku melangkah keluar dari rumah sakit. Rasanya seperti dunia disekitarku berjalan terlalu cepat, sementara aku sendiri masih terjebak dalam putaran masalahku. Aku duduk disalaj satu bangku lorong, dan memutuskan untuk membalas pesan Alvaro.
“[Hallo, terima kasih apresiasinya, boleh saya tahu lebih lanjut tentang tawaran Anda?]”
Tidak sampai lima menit, pesanku mendapat balasan.
“[Tentu saya seorang pemilik butik lokal, dan kebetulan mencari desainer baru untuk koleksi terbaru kami. Saya melihat boots anda di instagram dan sangat terkesan, apakah bisa bertemu hari ini untuk diskusi lebih lanjut?]”
Jantungku berdegup kencang, apakah ini keberuntungan atau justru sebuah jebakan. Tapi, aku sadar tidak banyak pilihan. Harus segera mengembalikan uang pinjaman dari Bu Ratna.
“[Baik, dimana bisa bertemu?]” Balasku, lalu dia mengirimkan sebuah alamat di salah satu kafe pusat kota. Todak terllai jauh dari rumah sakit harapan sejahtera, jadi aku menyetujui.
Sebelum kembali ke kamar ibu, ponselku berdering.
“[Hallo Laira, aku Arkan”]
“[Iya aku sudah menyimpan nomormu Arkan, apa ada kendala untuk acara nanti?]” Tanyaku pada Arkan, pria tampan yang sangat santun, selalu mengenalkan dirinya saat menelponku, walau aku sudah tahu.
Arkan mengingatkan agenda kami nanti sore untuk melakukan photoshoot sepatu boots miliku, terutama yang kuikutkan kompetisi internasional. Namun aku izin terlambat, akibat janji lain siang nanti.
“[Terima kasih Arkan, aku akan segera ke lokasi setelah selesai]” ucapku sambil mengakhiri obrolan.
*****
Tiga jam kemudian, aku duduk di sudut kafe, dengan secangkir teh didepanku. Tidak lama seorang pria muda dengan jas kasual masuk ke kafe dan berjalan ke arahku.
“Laira, kan?” Tanya orang itu
“Iya, Anda Alvaro zain?”
“Ish, jangan panggil nama panjang, cukup Al saja.” Katanya sambil duduk di kursi depan, dengan meja di tengah-tengah kami.
Aku memindai Al sebelum berbicara lebih banyak, auranya terpancar kuat, dengan penampilan rapi, penuh percaya diri. Sekilas, badan tegap itu mirip dengan Arkan.
“Maaf, apa anda mengenal Arkan?” Tanyaku spontan, membuatnya mentautkan kedua alis, “lupakan, Anda mirip sekali dengannya.” Ucapku tak enak hati.
“Oh, oke, katanya, bukankah kita memiliki kemiripan wajah dengan orang lain sebanyak tujuh orang,” Al mencairkan suasana dan tersenyum manis, “wajahmu juga mirip artis yang dari Aceh itu,”hatiku sontak tersipu dibilang mirip artis. Tapi benar, beberapa orang juga mengatakannya.
Minuman latte yang dia pesan datang. Bergegas latte itu dia minum satu tegukan.
“Baik, langsung ke intinya saja ya, karena saya tidak bisa terlalu lama,” katanya tanpa basa-basi. “Saya lihat desain boots kamu punya potensi besar, kami sedang menyiapkan koleksi terbaru satu bulan kedepan, dan aku ingin salah satu koleksi desain boot kamu menjadi salah satunya.”
Aku terdiam sejenak, untuk mencerna kata-katanya, “maksud Pak Al, desain saya dibeli gitu?”
“Ah, jangan panggil Pak, cukup Al saja, ya, tidak hanya membeli, mungkin juga melibatkan timku dalam proses produksi dengan kamu Laira.”
Ini bak mimpi di siang bolong, terlalu indah untuk jadi kenyataan.
“Tapi, kenapa saya?, banyak desainer lain yang lebih pengalaman” Tanyaku polos
“Justru itu, saya suka cara kamu mendobrak tradisi. Desain kamu unik dan terlihat berkelas,” jawabnya dengan terkekeh kecil, “tapi…ada satu syarat.”
“Apa itu?”
“Desain ini harus eksklusif untuk butik saya, kamu tidak boleh menggunakannya untuk kompetisi atau dijual ke brand lain manapun.”
Seketika waktu berhenti sejenak, membuatku berpikir keras. Aku sudah berjuang sejauh ini untuk ikut dalam kompetisi itu, dan sekarang harus memilih antara tawaran yang aku harapkan, atau tetap memngikuti kompetisi boots.
“Maaf sepertinya aku pikirkan dulu, terima kasih atas tawarannya.” Jawabku akhirnya setelah menghela napas panjang.
“Sure, kamu bisa kapan saja menghubungiku.” Al menyodorkan kartu nama yang sudah ber-barcode, lalu dia izin tuk meninggalkan kafe lebih dulu.
“Tolong, beri aku keputusan sebelum akhir minggu ini, waktu kami terbatas untuk persiapan.” Ucapnya sambil bersiap berdiri, kujawab anggukan kecil sambil memaksa tersenyum.
-bersambung-