“Tuan….!” Erina mengepalkan tangannya.
Yang di dalam kamar mandi tertawa tawa senang. Sambil memikirkan alasan apa nanti jika Arumi benar benar pencak silat.
Erina sudah mondar mandir menunggu Alexander keluar dari kamar mandi. Ingin menuntut keadilan dari pria yang sudah menyerobot bibirnya.
Terdengar pintu dibuka, Alex melangkah keluar dengan wajah tanpa bersalah. Malah tersenyum manis kepada Erina
Erina juga mendekat tanpa menunggu Alex berganti dahulu.
“Apa yang kau lakukan tadi Tuan? Anda sudah melanggar Perjanjian kita!” Ucap Erina dengan menahan kesal.
“Perjanjian yang mana?” Tanya Alex masih dengan wajah polos.
“Pernikahan kita hanya kontrak Tuan. Anda pasti ingat. Anda bilang tidak akan merugikan saya dan tidak akan menuntut apapun selain hanya untuk berpura pura mencintai Tuan.”
“Hem, iya. Aku baru ingat. Kalau begitu maafkan aku. Tadi aku, aku khilaf. Kamu menggemaskan sih. MMaafkan aku ya?” Alex memasang wajah memelas sekarang.
Sedangkan Erina mengerucutkan bibirnya tanda kesal. Bagaimana tidak kesal, Erina rugi lagi.
Erina memilih melangkah pergi, karena pikirnya percuma berbicara dan menuntut Alex. Eriana nmembaringkan kembali tubuhnya. Ia menutupi badannya dengan selimut seperti tadi,karena tidak ingin bertemu dengan Alex lagi. Dia benar-benar marah.
Jujur saja saat ini Erina benar benar kesal pada Alex niatnya tadi ingin membalas mendiami Alex. Eh. Malah dikerjain balik.
Alex terkekeh melihat Erina meringkuk dibawah selimut. Alex tau Erina tidak tidur itu dan marah padanya.
Alex berjalan ke arah lemari.Mengambil piyama tidur dan memakainya. Setelah berpakaian lengkap Alex berjalan mengambil paper bag yang ada di meja.Setelahnya Alex kembali berjalan menyusul Erina ke tempat tidur. Alex duduk di samping Erina yang sedang meringkuk dibawah selimut.
Alex berdehem untuk memecah keheningan.”Ehm.” Tapi Erina tetap saja diam.
“Erina.” Alex kembali memanggil Erina sambil mengguncang guncangkan tangan Erina.’ Ih mau ngapain lagi sih nih orang. Gak tau orang lagi kesel apa ya!’ Erina yang kesal pun hanya bisa ngomel dalam hati.
‘ Wah. Beneran marah nih! Aduh gimana ya biar gak marah lagi?’ Lama berpikir Alex akhirnya menemukan cara agar Erina mau berbicara dengannya.
“Ok. Kalau kamu gak mau maafin aku sih gak masalah ya. Tapi kamu harus bayar hutang kamu. Aku beri waktu kamu besok!”
“Ayo lah Erina. Aku tau kamu belum tidur.Pasti kamu dengarkan ucapan ku barusan!” Alex hendak beranjak dari duduknya. Sebenarnya Alex ingin tertawa tapi ia tahan.
‘ Ya ampun. Lagi lagi dia mengancamku seperti itu.’ Mau tak mau Erina mulai menurunkan selimutnya. Erina mulai bagun dan memposisikan dirinya untuk duduk.
Alex yang merasakan pergerakan dari Erina tidak terasa bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
“Masih tidak mau memaafkan aku? Ah baiklah, bayar–”
Erina langsung memegang tangan Alex.
” Maafkan saya tuan?” Erina menurunkan egonya walau rasa kesal masih menyelimuti hatinya.
“Kan aku yang minta maaf. Kamu mau maafin aku?” Tanya Alex, tanpa melirik Erina dengan berpura pura cuek.
Walau Alex tidak melihatnya Erina dengan reflek menganggukan kepalanya. “Hem.” jawabnya setengah males.
“Bagus.” Alex menepuk kepala Erina lalu kembali naik ke kasur. Memutar tubuhnya menghadap Erina.
Matanya tertuju pada wajah Erina yang ayu. Beberapa saat lamanya Alex memandang wajah itu hingga Erina yang merasa dipandang seperti itu merasa risih.
“Kenapa tuan liatin saya kaya gitu?” tanyanya masih dengan nada juteknya.
“Ge’er banget sih kamu!” Alex memalingkan wajahnya. Ia sedikit malu Alex mengetahui jika ia .sedang memandangnya. Bukannya menjawab Erina hanya mencebikan bibirnya kesal
“Apa ada yang mau tuan bicarakan lagi? Saya sudah mengantuk!” Ucap Erina ketus.
Tanpa menjawab Alex meraih paper bag yang ada di sampingnya.
” Nih buat kamu.” mengulurkan tangannya pada Erina.
“Buat saya?” Erina malah balik bertanya. Dengan wajah keheranan.
“Cepat ambil. Pegel nih! Tangan saya” Dengan malas Erina mengambil paper bag dari tangan Alex.
Bukannya di buka Erina malah menyimpannya di atas nakas. Membuat Alex sedikit kesal.
“Kamu gak pengen tau apa isinya?”
“Nanti saja lah. Saya ngantuk tuan.” Erina hendak membaringkan tubuhnya.tapi ia urungkan tatkala mendengar ucapan Alex.
” Buka sekarang!” perintahnya dengan nada bicara sedikit di naikan. Alex tau Erina tidak akan berani menolak. Dan benar saja Erina tak jadi tidur.
Erina menjulurkan tangannya mengambil paper bag yang sempat ia taruh tadi. Dengan posisi duduk Erina meletakan paper bag tersebut di pangkuannya,tangannya mulai ia masukan kedalam meraba isi di dalamnya.
Saat tangannya menyentuh benda kotak Erina berhenti sebentar tidak segera mengeluarkannya.
‘ Kotak apa ini?’ Batin Erina. Perlahan tangan Erina memegang kotak itu dan mengeluarkannya dari dalam paper bag.
Saat tangannya berhasil keluar mengangkat sebuah kotak Erina sempat dibuat terkejut dengan kotak tersebut.
” Hah!” Tanpa sadar Erina membuka mulutnya lebar,matanya pun melotot seolah tak percaya dengan benda yang ia pegang sekarang. Sebuah ponsel keluaran terbaru dengan merek Apple digit,yang memiliki harga setara dengan satu buah motor itu ada di tangannya.
“I_ini buat sa_saya tu_tuan?” tanya terbata bata. Mungkin karena masih kaget.
” Tentu itu buat kamu. Kalau buat orang ngapain saya kasih kamu!”Jawab Alex enteng.,tapi terdengar menyebalkan oleh Erina.
“Tapi tuan harga ponsel ini begitu mahal,saya gak mungkin sanggup untuk membayarnya. Hutang saya yang kemaren saja belum beres.” Jawab Erina. Ada nada kecewa di sana.
“Kamu tidak usah pikirkan itu. Ini aku kasih cuma cuma buat kamu hadiah karena kamu sudah mau bekerja sama dengan baik.” Erina menatap Alex seolah tidak percaya dengan perkataan pria di hadapannya. Tapi yang Erina lihat hanya ketulusan dari pria di hadapannya.
“Apa kamu tidak menyukainya? Kalau tidak biar Arpha menukarnya sesuai kemauan kamu.” Erina langsung menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu tuan. Saya suka” Alex tersenyum puas mendengar jawaban Erina.
“Baiklah. Ponsel itu sudah ada kartu simnya jadi kamu tinggal pakai saja. Dan di sana sudah ada nomer ponselku”
” Sini biar aku nyalakan.” Alex mengulurkan tangannya pada Erina. Erina pun memberikan ponselnya pada Alex.
Alex mulai mengutak atik ponsel tersebut. Setelah selesai mensetting posel baru tersebut Alex mengembalikannya pada Erina.
Erina menerimanya dengan senyum mengembang di bibir tipisnya.
“Tuan apa saya boleh menggunakannya untuk nonton drakor. Kalau saya sedang jenuh?” tanyanya ragu ragu.
” Boleh. Asal jangan kamu gunakan untuk menghubungi laki laki lain selain aku. Karena ponsel tersebut sudah aku sadap” Kata kata Alex yang mulai posesif.
“Memangnya siapa yang mau saya hubungi tuan. Anda tentu tau saya hanya sebatang kara.”
“Ok. Baiklah. Ya sudah sekarang kamu bisa tidur.” Hanz pun bangun dan berjalan menuju sofa. Sebenarnya Alex ingin tidur memeluk Erina seperti malam kemarin tapi ia harus punya siasat untuk itu.
Ada rasa tak enak Erina yang membiarkan Alex tidur di sofa tapi mau bagaimana lagi.
” Terima kasih hadiahnya tuan.” Ucap Erina sebelum menyembunyikan dirinya di bawah selimut.
Alex tersenyum gemas melihat tingkah Erina. ” Hem.” Alex membaringkan tubuhnya di sopa,sebenar ia tak nyaman tidur seperti ini tapi demi rencananya lancar ia rela. Daripada melihat Erina marah padanya sungguh seperti ada rasa tak nyaman jika Erinaterus mendiamkannya.
Hampir satu jam Alex merebahkan tubuhnya di sofa. Ia hanya membolak balikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
‘ Erina sudah tidur belum ya’ Batin Alex. Kemudian melirik Erina yang terbungkus selimut. Perlahan Alex bangun dan berjalan mengendap endap menghampiri Erina.Sampainya Alex di samping Erina ia membuka sedikit selimut yang menutupi wajah Erina.Pelan tapi pasti selimut mulai terbuka,terlihatlah wajah Erina yang sudah tertidur pulas. Alex mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah Erina untuk memastikan benar apa tidak Erina sudah tertidur.
Setelah merasa Aman Alex memutar tubuhnya kembali mengitari ranjang. Ia naik pelan pelan takut menimbulkan suara yang membuat Erina terbangun. Sebelum membaringkan tubuhnya Alex mencium kening Erina.
” Selamat tidur,semoga mimpi indah” Alex pun membaringkan tubuhnya memeluk Erina.
Dia sejenak berpikir, sepertinya wanita ini benar benar sudah menempati ruang hatinya. Dia ingin terus seperti ini. Dan selamanya seperti ini.
Huh! Alexander sekarang merasa resah.