Table of Contents
Lates Chapters
Chapter 26
Jika rumah Vira adalah mahkota yang menjanjikan masa depan cerah, maka rumahku, sebuah bangunan sederhana yang menaungi kenangan dan ketenangan, adalah akar yang harus disirami kejujuran. Sejak keputusanku bulat, Vira tak pernah absen. Ia datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai penawar rindu, membawa…
Chapter 25
Kepulangan dari kampung halaman terasa seperti perjalanan melintasi kabut tebal menuju daratan yang dijanjikan. Bekas-bekas luka di punggungku masih terasa perih, namun tatapan mataku kini fokus pada satu tujuan, merayakan kelahiran kembali hati di sisi Vira. Aku tidak menunda. Siang itu, aku kembali…
Chapter 24
Bis malam yang membawaku melaju membelah malam, meninggalkan gemerlap kota yang baru saja menjadi saksi atas janji yang kuucapkan pada Vira. Setiap denting roda di rel terasa seperti palu godam yang menghitung mundur menuju sebuah eksekusi; eksekusi atas sisa-sisa ikatan yang telah lama…
Chapter 23
Vira tersenyum. Senyum itu, sebuah lengkungan takdir di wajahnya, selalu menjadi sumbu yang memantik bara dalam kekosongan hatiku. Namun, kali ini, ada kilau yang berbeda, sebuah campuran antara kelegaan dan sebuah pertanyaan yang masih menggantung, menuntut sebuah janji yang tak terucapkan. Aku menyesap…
Chapter 22
Keesokan harinya aku memutuskan menemui Vira di depan rumahnya. Kebetulan juga aku ingin bertemu dengan Rahim, adik Vira yang satu tempat kerja di kantor Pak Nathan yang tak lain kakak iparnya. Kartia, istri Pak Nathan anak pertama dari keluarga Vira. Vira dengan nada…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Chapter 1
Bahagia seakan sulit untuk diraih. Cinta kita hanya sebatas cinta. Sulit untuk mengecap bahagia asmara. Cinta tak pernah memandang status, dan usia. Dia akan datang dimana dia berkehendak. Dan akan pergi ketika dia merasa tak lagi nyaman bersemayam selama ini. Cinta antara dua…
ReadmoreChapter 2: Chapter 2
Mawar tak seindah namanya. Dialah adik Arumi. Ia adalah kebalikan dari Arumi. Bila Arumi pendiam, penyayang, dan sabar, maka Mawar adalah duri tajam di antara hubungan kami. Ia materialistis, menimbang segalanya dengan ukuran materi. Mungkin semua berawal dari pertemuan pertama kami di rumah…
ReadmoreChapter 3: Chapter 3
“Jangan dong,” potongku cepat, berusaha menenangkan hatinya yang rapuh.“Kalau kamu tidak ada di dunia ini, terus aku sama siapa?” candaku, mencoba mengurai tangisnya dengan sedikit gurauan. Arumi terdiam, lalu terdengar helaan napasnya di seberang sana. “Beri aku waktu, sayang,” ucapku lirih namun mantap.…
ReadmoreChapter 4: Chapter 4
Walau tekanan dari Mawar semakin keras, cinta kami justru tumbuh seperti pohon yang akarnya tertanam makin dalam. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, setiap pandangan sinisnya, seperti ujian yang justru membuat kami semakin kokoh—seakan tidak ada tangan manusia yang mampu memisahkan kami. Namun…
ReadmoreChapter 5: Chapter 5
Kata pepatah, nasib anak manusia tiada yang tahu. Hari ini mungkin berbalut bahagia, esok bisa saja dipenuhi derita. Tepat satu tahun empat bulan aku menjalin kasih dengan Arumi. Rumah kayu tua tempat Arumi dan keluarganya tinggal akhirnya harus direnovasi. Puluhan tahun berdiri tanpa…
ReadmoreChapter 6: Chapter 6
Pijar-pijar cinta itu kian menyala. Ia bertakhta di atas singgasana kesucian, berdiri kokoh di antara keyakinan dan pengorbanan. Saling percaya, saling memahami, adalah tiang penyangganya. Namun cinta, sebagaimana hidup, selalu menuntut pengorbanan. Kadang ia memaksa sepasang kekasih untuk rela berpisah, tetapi jika kesetiaan…
ReadmoreChapter 7: Chapter 7
Hari-hari di rumah sakit menjelma menjadi buku harian penuh air mata. Setiap lembar waktunya menyimpan kisah getir: infus yang tak kunjung lepas, hasil pemeriksaan yang selalu mundur, dan tatapan kosong Arumi yang terkadang tak mengenalku sama sekali. “Randy, kamu ini keras kepala sekali.”…
ReadmoreChapter 8: Chapter 8
Langit Makassar pagi itu seperti lukisan.Pelangi yang semula tegap di langit mulai meredup warnanya, menguning di atas genangan air hujan yang memantulkan cahaya jingga. Aku berdiri sendiri di bawahnya, memandang lengkung warna yang perlahan pudar. Di setiap helaan nafas yang terhembus sempurna, aku…
ReadmoreChapter 9: Chapter 9
Suara ponsel itu memecah keheningan pagi. Getarannya membuat dadaku ikut berdegup. Di layar, tertera nama yang selalu membuatku hangat: Arumi. “Assalamualaikum… Randi… cepatlah ke rumah. Ibu… ibu Randi…” suara Arumi pecah di seberang sana. Ada tangis yang menahan napas, serak dan bergetar, membuatku…
ReadmoreChapter 10: Chapter 10
Mentari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan jejak cahaya jingga di permukaan bumi. Langit memerah, laut berkilau, dan angin sore membawa bisikan tentang kefanaan. Malam segera turun, menyelimuti semesta dengan keheningan yang tak terelakkan. Perjalanan hidup manusia, sesungguhnya telah tertulis jauh sebelum ia…
ReadmoreChapter 11: Chapter 11
Seminggu berlalu sejak terakhir aku bertemu Arumi. Pagi itu, tiba-tiba ponselku berdering. Nama Ratih muncul di layar. “Assalamualaikum, Kak Randy. Arumi mencarimu… cepatlah datang ke rumah sakit,” suaranya terdengar terburu-buru, sedikit bergetar. Tanpa pikir panjang, kulirik jam dinding. Pukul 09.30 WITA. Aku segera…
ReadmoreChapter 12: Chapter 12
Dan akhirnya, semua gugur terbawa angin. Begitulah harapanku padamu—berkecai, hancur menjadi serpihan mimpi yang tak lagi bisa kurangkai.Impian untuk terus bersamamu kini sirna,cintamu telah kau bawa pergi,bersama separuh hatiku. Alam pun seakan ikut meratap. Langit meredup, awan kelabu menutup seluruh horizon.Aku seperti bunga…
ReadmoreChapter 13: Chapter 13
Pantai Losari, Malam Minggu Malam itu, pantai Losari seperti permata hitam yang dihiasi taburan bintang di langit. Riuh rendah pengunjung memenuhi udara, gelak tawa muda-mudi bercampur dengan alunan musik dari panggung kecil bazar. Angin laut membawa aroma asin, membelai rambut dan wajah kami.…
ReadmoreChapter 14: Chapter 14
Rianti menunduk, suaranya lirih ketika membalas perkataan kakaknya.“ Iya, aku tahu, Kak. Selama ini aku selalu menyelesaikan tugasku. Membantu kakak di sekolah setelah mengurus adik-adik dan mengantar mereka ke sekolah.” Rivai menghela napas, nada bicaranya meninggi.“ Iya, tapi kakak tidak suka kalau kamu…
ReadmoreChapter 15: Chapter 15
Di balik tembok sumur umum yang remang, aku mendengar suara air beradu dengan perabot. Aku tahu, itu Rianti. Gadis itu masih setia mencuci peralatan bakso milik Kak Rivai, bahkan ketika malam sudah larut. Aku berdiri di pintu sumur, menatap punggungnya yang mungil. “An,”…
ReadmoreChapter 16: Chapter 16
Cinta, pada hakikatnya, selalu mengajarkan arti sebuah pengorbanan.Bukan keterpaksaan.Karena cinta yang sejati tak pernah ingin dipaksakan. Begitulah cintaku padamu, Rianti.Ia bukan kepura-puraan, bukan pula keterpaksaan.Aku mencintaimu seperti api yang mencintai kayu: menyala, diam-diam menghanguskan, meski tak sempat diucapkan. Sejak pertama kali mataku menatapmu,…
ReadmoreChapter 17: Chapter 17
Aku berjanji pada diriku sendiri:Aku tak akan pernah menyia-nyiakan kehadiranmu dalam hidupku.Aku akan menjaga kehormatanmu sebagai istriku, menjadikanmu dewi pada istana cinta yang kita bangun bersama.Aku tak akan membiarkan matamu yang indah meneteskan air bening karena luka yang kubuat.Selama nafasku masih ada, aku…
ReadmoreChapter 18: Chapter 18
Aku tahu betul apa yang bergolak di dada istriku. Namun, hanya kesabaran dan ketabahan yang bisa kami genggam saat itu. Tiga bulan lamanya kami menempati rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya, hingga akhirnya harus pindah lagi. Kak Rian menolak tinggal di rumah mertuanya, padahal…
ReadmoreChapter 19: Chapter 19
Usia Devi kini 4 bulan. Dan putri lucuku itu harus aku tinggalkan untuk kembali ke kota. Karena ibu sakit. Ibu selalu menyebut namaku jika demamnya naik. Akhirnya adik berkabar ke kampung agar aku kembali ke kota.jawab Rianti sam ” Kamu baik – baik…
ReadmoreChapter 20: Chapter 20
Sepi rasanya ditinggal sang istri. Aku hanya mampu berharap akan ada pertemuan. Untuk kekampung halamannya butuh banyak ongkos, sementara kerjaku belum menentu. Kadang juga masih dibantu ibu yang bekerja di sekolahan. Walaupun hanya bekerja serabutan, namun aku dapat mengumpulkan uang untuk ongkos ke…
Readmore





