Table of Contents
- Chapter 11: Chat Di Hari Senin
- Chapter 12: Pesona Fatimah
- Chapter 13: Ku Kunci Hati Fatimah
- Chapter 14: Larangan WA
- Chapter 15: Anakku Malang Anakku Sayang
- Chapter 16: Binar Itu Kini Terpancar Lagi
- Chapter 17: Pertemuan tak Sengaja dengan Anastasia
- Chapter 18: Ternyata Aku Tak Dianggap, Ada
- Chapter 19: Terlambat Datang
- Chapter 20: Permintaan Maaf Rahmat
Lates Chapters
Bab 44. Episode Terakhir
Bab 44 Part Ending Rangkaian warna warni bunga segar menghiasi dekorasi setiap sudut ruang. Lampu-lampu gantung dan beberapa tersemat diantara bunga menyala dengan indahnya. Alunan musik syahdu mengiringi sepanjang jalannya acara, sesekali lagu bahagia bertema wedding pun diputar, menambah romantisnya suasana. Tamu…
Bab 43 Penyesalan
Bab 43 Penyesalan Rahmat POV Rahmat Perkenalan yang dirangkum dengan acara makan malam tersebut memberikan kesan mendalam untukku. Lagi-lagi aku terpesona. Gadis tinggi semampai itu mengenakan gaun muslim modern berwarna merah marun, dikombinasikan dengan jilbab warna hitam motif bunga senada…
42.
Bab 42 “Apa kamu telah berubah pikiran?” tanyaku lagi. Etzar menatapku sekilas lalu pandangannya kembali ke depan. “Bukan begitu,” kata Etzar datar. Kami kembali ke pikiran masing-masing. Hanya kesunyian yang ada, musik dari media player pun tidak di putar oleh…
41. Garis Waktu
Part 41 Garis Waktu Etzar. Aku cari nama itu di kontak, kemudian menelponnya. Aku merasa sangat bersalah padanya atas kejadian malam itu, ketika lebih memilih Mas Rahmat dibandingkan ketemu dengannya. Setelah tiga kali nada dering terdengar suara di seberang sana,…
Bab 40. Drama Pertemuan Terakhir
Part 40 Drama Pertemuan Terakhir "Tadi kami habis antar terapi rutin si kecil. Setelah itu kami kesini bareng." Ana yang menjawab, dari raut wajahnya dan penyampaian dia terlihat sungguh-sungguh tanpa mengada-ada. "Oh ya ... Kok mereka tidak diajak, sama siapa dirumah?" "Farrel tadi…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Part 1 Perkenalan singkat Fatimah dengan Rahmat.
Namanya Rahmat, pria berusia tiga puluh delapan tahun itu telah berhasil menghipnotisku. Aku memanggilnya Mas Rahmat, tentu saja atas permintaan dia. Setelah sekian tahun merasakan hidup sendiri dan sulit untuk menerima sosok pria di hidupku, Tuhan mengirimkannya untukku. Kami bertemu melalui wadah organisasi…
ReadmoreChapter 2: Part 2 : Pertemuan Pertama
Seseorang yang datang berbadan tinggi tegap atletis, rambutnya rapi seperti anggota TNI perawakannya, sama sekali tidak ada satupun bayanganku sesuai dengan pria yang masih berdiri di pintu. Kebetulan kantor kami di lantai satu, lantai dua hanya untuk mushola dan ruang meeting. Sehingga pintu…
ReadmoreChapter 3: Part 3 : Perhatian Rahmat
Waktu berjalan sangat cepat, obrolan satu jam kami saat itu terasa singkat. Setelah banyak hal bertukar pendapat dan sharing mengenai kehidupan masing-masing dari sebelum hingga paska hijrah, dia pun akhirnya undur diri. Dia beranjak dari duduknya berpamitan tanpa jabat tangan denganku, senyum manis…
ReadmoreChapter 4: Bunga Harapan, tapi Palsu
Kulewati sepanjang malam melihat layar gawai, berharap ada notif muncul. Sesekali kulihat di percakapanku dengannya, tapi yang di dapat masih tetap ceklist satu dan tidak ada tulisan online dibawah namanya. Adzan subuh berkumandang, lekas aku bangkit untuk menunaikan kewajibanku sebagai muslimah. Selepas subuh,…
ReadmoreChapter 5: Mulai terbuka dengan keluarga
Di suatu kesempatan akhirnya kita pun bertemu lagi meski awalnya banyak keraguan pada dirinya yang seperti belum siap menemuiku. Sempat dia memutuskan tidak jadi, ekspresi sedihku ternyata terlihat dari setiap chat yang aku kirim. Akhirnya dia menelponku. Dan ini kali pertama aku bisa…
ReadmoreChapter 6: Kecemasan Ibu
Semilir angin pagi membelai lembut, kicauan burung terdengar merdu memecah keheningan. Pohon mangga di depan rumah menambah sejuknya suasana pagi ini, sesekali daunnya gugur di atas pangkuanku. Di balkon ini adalah tempat favoritku, nyaman banget senyaman tatapan Mas Rahmat. “Kamu yakin mau menikah…
ReadmoreChapter 7: Bertemu kembali
"Mas Rahmat ...?” Ya tamu itu adalah dia. Kaget tak percaya, ternyata sudah duduk di ruang tamu saja itu orang padahal kita tidak ada janjian sama sekali. "Kaget ya ... tadi kan udah mas WA," ucap Mas Rahmat sambil tersenyum manis sekali. “Hah…
ReadmoreChapter 8: Huru Hara di Restorant
"Rahmat …? kamu disini?" Mereka mendekat ke arah meja kami. Ternyata dia kenal dengan Mas Rahmat. "Eh Nat, kamu kesini juga, sama siapa, lho mana suamimu?" Jawab Mas Rahmat, tapi wanita tinggi semampai dengan wajah rupawan itu tak menjawab pertanyaan mas Rahmat, sekilas…
ReadmoreChapter 9: Kecurigaan Ayah
“Fat, darimana?” suara barito laki-laki yang sangat akrab di telinga mengagetkanku. Apes deh, rupanya Ayah duduk di bawah pohon Mangga saat aku memasuki halaman rumah. Di sana ada satu bangku besi memanjang menghadap ke taman dimana beberapa bunga warna-warni yang ditanam ibu tumbuh…
ReadmoreChapter 10: Kepergian Ayah
Sudah pukul sebelas malam, mataku masih belum bisa terpejam. Benda pipih itu masih ada digenggamanku, sudah beberapa hari dia menghilang tanpa kabar. Itu sering dia lakukan, tapi masih saja aku tunggu seperti dulu awal-awal kenal yang menyapaku sebelum dan bangun tidur. Pernah kukirim…
ReadmoreChapter 11: Chat Di Hari Senin
"Mas boleh aku bertemu dengannya?" Setelah dua minggu tidak ada kabar, kami janjian bertemu di sebuah cafe yang terletak di pinggiran kota. Tanpa basa-basi setelah pesanan kami tersaji, aku langsung melayangkan sebuah pertanyaan. Lama dia termenung, sampai aku menyampaikan caranya menjawab pertanyaanku barangkali…
ReadmoreChapter 12: Pesona Fatimah
POV Rahmat Namaku Rahmat Sudirman, seorang duda dengan dua anak. Aku sebenarnya masih sayang terhadap mantan istriku, kalau bukan karena perbedaan keyakinan aku akan tetap setia pada pernikahan kita. Di usiaku yang sudah matang tentu akan aku pertimbangan segala konsekuensinya ketika mengambil sebuah…
ReadmoreChapter 13: Ku Kunci Hati Fatimah
Masih Pov Rahmat Semakin hari sikapku semakin terlihat tidak baik di matanya. Ini merupakan bagian dari rencanaku. Selama ini memang banyak yang bilang aku menakutkan tak banyak bicara, tapi sekali bicara menusuk relung hati. Aku tidak suka basa-basi, langsung pada sebuah inti…
ReadmoreChapter 14: Larangan WA
Masih Pov Rahmat [Mmm ... kalau yang dekati adek adalah mas gimana?] Aku beranikan diri mengungkapkan kalimat ini. Sebuah kalimat romantis untuk bisa mengunci hati seorang wanita, meskipun melalui tulisan di WhatsApp. Dia tidak menjawab, aku membayangkan wajahnya sedang bersemu merah sambil senyum…
ReadmoreChapter 15: Anakku Malang Anakku Sayang
POV Ayah Fatimah Masih aku ingat peristiwa yang menimpa anak gadis kami satu-satunya. Bagaimana traumanya dia mengenal namanya cinta. Karena kekecewaan yang dialaminya empat tahun silam. Waktu itu ... dua hari sebelumnya Fatimah berencana akan memperkenalkan calon suaminya ke kami, ayah ibunya. Kami…
ReadmoreChapter 16: Binar Itu Kini Terpancar Lagi
Masih Pov Ayah Fatimah Hari ini setelah empat tahun berlalu, Fatimah masih sendiri. Beberapa bulan lalu dan untuk yang pertama kalinya dia berani jatuh cinta lagi. Aku tentu sangat bahagia melihat binar kembali terpancar di matanya. Senyum mengembangnya ketika bercerita pada kami tentang…
ReadmoreChapter 17: Pertemuan tak Sengaja dengan Anastasia
POV Fatimah Aku tak sebodoh yang orang di luar sana pikirkan tentangku, Mas Rahmat memang sudah resmi bercerai. Biarkan waktu yang membuktikan. Sampai detik ini aku masih kekeh ingin memperjuangkan perasaan cintaku pada Mas Rahmat. Aku sangat yakin bahwa dia orang yang baik.…
ReadmoreChapter 18: Ternyata Aku Tak Dianggap, Ada
Yes … berhasil rencanaku. Mari kita lihat reaksi Mas Rahmat. Kini pandanganku bertemu tepat di manik matanya yang mengarah kesini. Dia berdiri tanpa melanjutkan langkah ketika melihatku. "Pa ... ada apa? Papa kenal dengan wanita itu?" tegur wanita disamping Mas Rahmat. Sedikit kaget…
ReadmoreChapter 19: Terlambat Datang
Aku buka gawai yang sedari tadi getar di dalam tas. Lima panggilan tak terjawab dari Nisa, berikut notif 17 pesan WA masuk dengan nama sama nongol di depan layar. Banyak kata maaf tak jelas tersemat di pesan yang dikirim Nisa. Lalu aku buka…
ReadmoreChapter 20: Permintaan Maaf Rahmat
[Maaf ya Dek atas kejadian tadi siang] Sebuah pesan masuk melalui aplikasi WA dari Mas Rahmat, sehabis isya. Karena rasa sakit itu sudah sering aku pun tak ingin merajuk. Tak lagi menghiraukan kata-katanya. Aku benci air mata yang terus menetes tanpa henti. Apa…
Readmore





