Table of Contents
Lates Chapters
Bab 9 Cita-cita Radit
Embun menguatkan hatinya. Mengingat perjalanan cinta Embun dan Radit yang sangat indah. Waktu itu Embun sedang main kerumah temannya dan disana Ia mengenal Radit. Saudara Radit adalah teman Embun. Perbincangan hangat dan tatap sejuk mata Radit yang membuat Embun tersipu akhirnya berlanjut…
Embun Pingsan
Berita on line, mulut tetangga, gosip menyebar luas bagai wabah. Ranti tak mampu mengendalikan itu semua. Perkampungan padat penduduk yang ditinggali Embun memang strategis ada di pusat kota. Rumah Embun tak jauh dari pos Ronda, toko sayur-mayur Bu Yuni dan toko kelontong Bu…
Kuliah Embun Berhenti
Dengan cepat Ranti mencoba melepaskan cengkeraman tangan Hendra dari rambut anaknya. Sayang tidak semudah itu melepas tangan yang sedang marah. "Pak, jangan seperti ini. Kasihan Embun!" "Huuu ..." Embun hanya terdengar suara tangisnya yang kesakitan. Rambutnya belum juga dilepas oleh Hendra.…
Berhenti Kuliah
Dengan cepat Ranti mencoba melepaskan cengkeraman tangan Hendra dari rambut anaknya. Sayang tidak semudah itu melepas tangan yang sedang marah. "Pak, jangan seperti ini. Kasihan Embun!" "Huuu ..." Embun hanya terdengar suara tangisnya yang kesakitan. Rambutnya belum juga dilepas oleh Hendra. Akhirny, PLAK!.…
Pertunangan Putus
"Embuun, Embun pegang tanganku Embun. Mama lepasin tangan Radit. Radit gak mau pisah dari Embun!" Radit berontak dari tarikan mamanya. "Radit kamu berani lawan Mama?" Mata Retno mendelik. Ia menarik tangan anaknya lebih keras tapi Radit juga punya tenaga untuk bertahan. Tarik-menarik terjadi…
Comments
You May Also Like
9 Chapters
Chapter 1: Pagi Nestapa
Pagi itu bukan pagi yang biasa. Sebuah mobil polisi tanpa sirene menyala datang membawa seorang gadis yang hilang selama seminggu. Ranti yang baru selesai menyapu mengenali wajah kuyu yang turun dari mobil polisi menyongsong 2 polisi wanita dan anaknya itu. Sapu ia lempar…
ReadmoreChapter 2: Kemarahan Hendra
Seharian itu Ranti hanya menemani Embun. Embun tak bicara apapun. Ranti juga tak memaksa bicara. Ranti hanya mengelus rambut anaknya penuh kasih. Sorenya Hendra, Ayah Embun pulang. "Pak!" Ranti tak mampu melanjutkan bicaranya ketika suaminya itu duduk melepas sepatu. "Ada apa? Matamu ingin…
ReadmoreChapter 3: Bisik-bisik Tetangga
"Embun sudah pagi sholat dulu!" "Aku kotor, Bu. Nggak usah sholat. Aku pezina." "Hush ngomong apa kamu Embun. Jangan begitu, Nak!" "Bu, Embun tidak mau keluar kamar. Embun mau di kamar saja." Tatapan mata Embun datar menerawang. Matanya cekung, bengkak karena kurang tidur…
ReadmoreChapter 4: Radit dan Retno
"Assalamualaikum ..." Sekali lagi suara itu mengulang sapanya. Dada Ranti berdentum keras. Hendra mengambil inisiatif membuka pintu. "Bu Retno, nak Radit Silahkan masuk." kata Hendra ramah. Wajah memang bisa tenang tetapi debur hati Hendra menyatakan suasana akan bertambah pelik setelah ini. Ranti tersenyum.…
ReadmoreChapter 5: Pertunangan Putus
"Embuun, Embun pegang tanganku Embun. Mama lepasin tangan Radit. Radit gak mau pisah dari Embun!" Radit berontak dari tarikan mamanya. "Radit kamu berani lawan Mama?" Mata Retno mendelik. Ia menarik tangan anaknya lebih keras tapi Radit juga punya tenaga untuk bertahan. Tarik-menarik terjadi…
ReadmoreChapter 6: Berhenti Kuliah
Dengan cepat Ranti mencoba melepaskan cengkeraman tangan Hendra dari rambut anaknya. Sayang tidak semudah itu melepas tangan yang sedang marah. "Pak, jangan seperti ini. Kasihan Embun!" "Huuu ..." Embun hanya terdengar suara tangisnya yang kesakitan. Rambutnya belum juga dilepas oleh Hendra. Akhirny, PLAK!.…
ReadmoreChapter 7: Kuliah Embun Berhenti
Dengan cepat Ranti mencoba melepaskan cengkeraman tangan Hendra dari rambut anaknya. Sayang tidak semudah itu melepas tangan yang sedang marah. "Pak, jangan seperti ini. Kasihan Embun!" "Huuu ..." Embun hanya terdengar suara tangisnya yang kesakitan. Rambutnya belum juga dilepas oleh Hendra.…
ReadmoreChapter 8: Embun Pingsan
Berita on line, mulut tetangga, gosip menyebar luas bagai wabah. Ranti tak mampu mengendalikan itu semua. Perkampungan padat penduduk yang ditinggali Embun memang strategis ada di pusat kota. Rumah Embun tak jauh dari pos Ronda, toko sayur-mayur Bu Yuni dan toko kelontong Bu…
ReadmoreChapter 9: Bab 9 Cita-cita Radit
Embun menguatkan hatinya. Mengingat perjalanan cinta Embun dan Radit yang sangat indah. Waktu itu Embun sedang main kerumah temannya dan disana Ia mengenal Radit. Saudara Radit adalah teman Embun. Perbincangan hangat dan tatap sejuk mata Radit yang membuat Embun tersipu akhirnya berlanjut…
Readmore





