Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1 : Mimpi Buruk
- Chapter 2: Bab 2 : Pembicaraan Pagi
- Chapter 3: Bab 3 : Kembang Desa
- Chapter 4: Bab 4 : Hari Kelabu
- Chapter 5: Bab 5 : Tragedi Berulang
- Chapter 6: Bab 6 : Kelahiran Sang Penyihir Angin
- Chapter 7: Bab 7 : Pustakawan Informasi
- Chapter 8: Bab 8 : Kebenaran Dibaliknya
- Chapter 9: Bab 9 : Kue Manis
- Chapter 10: Bab 10 : Malam Penyerbuan
Lates Chapters
Bab 34 : Anne dan Rose
Tubuh Antilles gemetar hebat begitu melihat sosok yang sangat tak biasa dan mengerikan itu ada di depannya. Tepat di belakang Rikka, sesosok cahaya putih menyerupai manusia raksasa menjulang ke langit setinggi ratusan meter. Partikel-partikel gaib yang ada di sekitar tempat itu seakan tersedot…
Bab 33 : Pertemuan Kembali
WUSHH TRINGG Pedang cutlass perak dan pisau kecil bermotif salib saling beradu memecah keheningan senja. Di dalam kubah perisai sihir jiwa itu, sang peringkat 10 Brigade Penyihir, Antilles Samarchia menentukan pertarungan antara hidup dan matinya melawan sang peringkat 18, Rikka Gallipolia yang sudah…
Bab 32 : Sang Ninja
Langit senja mulai menyinari langit Distrik Wilwien dengan gradasi jingga keemasan yang perlahan pudar menjadi ungu gelap. Sebuah kubah sihir transparan yang besar menjulang setinggi hampir 100 meter dengan reruntuhan gubuk yang sudah hancur itu sebagai pusatnya. Tak ada satu pun makhluk yang…
Bab 31 : Tabiat Dibaliknya
Hembusan angin sisa-sisa tebasan sihir itu berhenti, kembali berganti dengan tiupan angin alami di waktu menjelang petang. Pepohonan beringin tropis yang banyak ditemukan di Matrotshaven itu bergoyang lembut, menciptakan bayang-bayang yang seakan menari di bawah sinar Formalha sang mentari biru. Gubuk kayu yang…
Bab 30 : Semua Tentangnya
Angin petang bertiup kencang di atas perkebunan Wilwien, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang berguguran. Tampak puing-puing gubuk yang berterbangan akibat serangan sihir yang dilancarkan Antilles tersebut. Gadis bermata hijau itu berhasil memergoki pertemuan rahasia Rikka dengan seorang gadis penyihir asal Karelia,…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1 : Mimpi Buruk
Sinar bintang biru Formalha menerobos celah jendela, menciptakan bias-bias cahaya keemasan di lantai rumah sederhana itu. Kicauan burung-burung liar yang bersarang di pepohonan membuat pagi itu terasa lebih hidup. Desa Utara, tidak ada nama spesial untuk sebuah perkampungan yang terletak di utara Tolvanstandt…
ReadmoreChapter 2: Bab 2 : Pembicaraan Pagi
Sinar mentari pagi yang lembut menembus jendela dapur di rumah keluarga Samarchia. Aroma roti gandum panggang dan telur yang dimasak dengan mentega memenuhi seisi ruangan. Virginia dngan cekatan menata meja makan, sementara Richard yang sudah duduk di kursinya terlihat sedang membaca surat kabar…
ReadmoreChapter 3: Bab 3 : Kembang Desa
Pagi itu pantai utara Tolvanstadt begitu cerah dengan deburan suara angin laut yang tak terlalu kencang. Hembusan angin pantai yang sejuk seakan membawa kedamaian dan kenikmatan. Antillia duduk di tepi pantai, memandang jauh ke arah laut, atau lebih tepatnya selat di depannya. Rambut…
ReadmoreChapter 4: Bab 4 : Hari Kelabu
Siang itu kondisi Desa Selatan masih damai seperti biasanya. Burung-burung berkicau riang, serta masyarakat yang sedang beraktivitas normal, menambah nuansa hidupnya kampung kecil yang indah ini. Namun hal tersebut tak berlaku bagi Antillia. Gadis berambut panjang itu masih diliputi kekhawatiran semenjak pembicaraan yang…
ReadmoreChapter 5: Bab 5 : Tragedi Berulang
Air dingin membasahi kepala Antillia saat Slovak berusaha membersikan darah di keningnya. Ia sedikit merintih kesakitan, namun bila dibandingkan dengan luka batinnya, itu tidak ada apa-apanya. “Begitu ya? Gadis yang malang,” ucap Slovak seraya mengeringkan kepala Antillia perlahan dengan handuk agar tak membuatnya…
ReadmoreChapter 6: Bab 6 : Kelahiran Sang Penyihir Angin
Dunia Antillia kini adalah sekat-sekat besi yang dingin dan tembok batu hitam yang seakan menelan cahaya. Penjara Tanjung Charnevall, Vitania Timur. Para penjahat kelas kakap pasti akan merinding begitu mendengar nama tempat yang sangat tertutup dan sangat jarang dijamah oleh orang biasa tersebut.…
ReadmoreChapter 7: Bab 7 : Pustakawan Informasi
WUSHH SRINGG SRINGG Gadis penyihir terakhir tumbang di tangannya. Dengan pedang cutlass perak disertai sihir angin yang dikuasainya, wanita berpakaian militer itu berhasil menghabisi 8 gadis penyihir penjaga ibukota kerajaan dengan mudah. Antillia Samarchia, atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Antilles Samarchia memulai…
ReadmoreChapter 8: Bab 8 : Kebenaran Dibaliknya
Pagi itu Formalha menyinari Distrik Tyrenne dengan cerahnya. Bangunan-bangunan dengan arsitektur kuno berdiri kokoh di pusat distrik. Di tengah keheningan itu, terdengar suara hembusan angin yang tidak murni dari alam, melainkan dari partikel gaib yang berputar mengelilingi sesosok tubuh gadis penyihir. Antilles Samarchia…
ReadmoreChapter 9: Bab 9 : Kue Manis
Sinar mentari pagi menyinari Distrik Tyrenne. Embun pagi tipis yang nyaris menghilang masih terlihat diantara bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur Vitania kuno. Di tengah hamparan tanah yang luas itu, Antilles Samarchia mengayunkan pedang cutlass peraknya dengan tangkas. Setelan gadis penyihirnya yang menyerupai seragam militer…
ReadmoreChapter 10: Bab 10 : Malam Penyerbuan
Sinar rembulan Folmane menerangi langit malam yang dingin di langit Distrik Aastland, ibukota Sentralberg, menyinari Jalan Volksargaten yang sepi dengan cahaya keperakan. Lampu-lampu jalan bercorak kuno menghiasi pinggiran jalan, menerangi pohon-pohon palem yang berdiri berjajar menghiasi jalan beraspal hitam yang mulus. Angin malam…
ReadmoreChapter 11: Bab 11 : Saat yang Dinantikan
Langit malam ibukota Sentralberg tampak begitu indah dengan cahaya rembulan Folmane dan sebintik kecil Ilmane yang berwarna keperakan menyinari Distrik Aastald. Namun keindahan itu kini ternoda oleh kilatan sinar-sinar sihir yang saling beradu di taman dekat Jalan Volksargaten yang sepi. Suara dentuman dan…
ReadmoreChapter 12: Bab 12 : Angin Panas
Bintang-bintang tampak redup di langit ibukota Sentralberg. Kabut tipis melayang-layang di atas tanah Taman Volfostadt, sedikit mengaburkan pandangan taman yang hijau itu, tapi tak cukup tebal untuk menyembunyikan peristiwa yang terbentang di sana. Antilles Samarchia berlari dengan sangat cepat dengan bantuan sihir angin…
ReadmoreChapter 13: Bab 13 : Tiga Serangkai
Pagi itu, udara kota Millerachen tampak lebih dingin dari biasanya. Tiupan angin dari arah Gunung Müller, gunung tertinggi di Daerah Otonom Vitania sekaligus gunung tertinggi di Kerajaan Archipelahia itu menyejukkan suasana. Pepohonan rindang berjejer di sepanjang jalan kecil di pinggiran kota, menciptakan tarian…
ReadmoreChapter 14: Bab 14 : Si Gesit
Suara derit kayu tua menyambut Antilles saat kesadarannya perlahan kembali. Sensasi dingin dari lantai yang lembab menyapa kulitnya yang langsung bersentuhan dengan permukaan. Pandangannya yang kabur mulai menyesuaikan diri dengan keremangan gudang tua yang hanya disinari beberapa lampu kecil yang tergantung di atas.…
ReadmoreChapter 15: Bab 15 : Di Alun-alun Kota
Sang mentari Formalha sudah bergerak ke ufuk barat. Mungkin sekitar tiga setengah jam lagi sebelum ia tenggelam dan rembulan kembar Folmane dan Ilmane menggantikan tugasnya menerangi kota Millerachen. Angin sepoi-sepoi membelai nisan-nisan tua di pemakaman yang terletak di Distrik Kruschberg itu. Derap langkah…
ReadmoreChapter 16: Bab 16 : Luka Hati
Ruangan kerja Antilles Samarchia sebagai pemimpin skuad yang baru menggantikan Izetta yang gugur beberapa waktu yang lalu tampak tak terlalu rapi hari ini. Beberapa dokumen penting tampak jelas dari lemari kayu di sampingnya. Jendela besar menghadap langsung ke pusat kota Millerachen, memperlihatkan sang…
ReadmoreChapter 17: Bab 17 : Langkah Penghakiman
Rembulan Folmane tertutup awan pada malam itu, sedikit menutupi sinar yang menerangi wilayah tengah Distik Aastland, ibukota Sentralberg. Udara dingin menyelinap di antara dedaunan Hutan Kota Yukavik yang tampak sunyi, nyaris tanpa ada seorang pun di sana. Di balik rimbunan pepohonan, Antilles Samarchia…
ReadmoreChapter 18: Bab 18 : Sang Penyihir Buku
Konsentrasi partikel gaib yang sangat kuat begitu terasa malam itu di Hutan Kota Yukavik, Aastland Tengah. Tak mengherankan karena sejumlah gadis penyihir kuat akan saling berhadapan satu sama lainnya. Sesosok gadis penyihir ibukota Sentralberg bersenjatakan buku akan menghadapi 8 gadis penyihir pemberontak Brigade…
ReadmoreChapter 19: Bab 19 : Alibi Dibaliknya
Angin malam berhembus dingin di Hutan Kota Yukavik, bagian tengah Distrik Aastland di ibukota Sentralberg. Pohon-pohon rindang menjulang, membentuk dinding alami di sekeliling tempat pertarungan yang kini hanya tersisa dua sosok itu. Charlotte Fatir dan Antilles Samarchia saling berdiri, berhadapan satu sama lainnya.…
ReadmoreChapter 20: Bab 20 : Kembali ke Markas
Angin dingin berhembus menembus kulit. Tidak ada hal lain yang dirasakan selain udara dingin yang menembus pori-pori kulit halusnya. Antilles Samarchia terbangun dengan napas sedikit terengah. Ia mengerutkan kening, kebingungan melanda pikirannya. Mata hijaunya yang tajam menyapu seluruh pemandangan yang sangat familiar itu.…
Readmore





