Table of Contents
Lates Chapters
34
“Juan, kau gila ya? Jujur aku ragu apa kamu beneran kenal istrimu itu. Dengar, aku masih mencintai Melani sampai detik ini. Ingat itu aku masih mencintainya bahkan semakin besar rasa cintaku, tapi itu harus ku kubur dalam dan kubawa sampai mati. Melani tidak…
33
“Siapa ya itu?” tanya Melani sambil berbisik. “Nyonya diem di sini dan jangan bersuara. Saya mau buru-buru buka pintu,” jawab Bu Murni sambil berbisik juga. Perlahan Bu Murni ke luar kamar dan menuju pintu utama, tampak olehnya tiga orang lelaki berpakaian hitam berwajah…
32
[Kalian cari di mana keberadaan istri dan anakku, laporkan segera.] Tulis Juan pada sebuah pesan. [Baik, Tuan,] balas seorang yang dikirim pesan tersebut. Juan kembali melajukan kendaraan roda empat, menuju kediaman. Sebelum sampai tidak lupa dia singgah ke sebuah mini market membeli beberapa…
31
[Aku tunggu di kantin ya.] Candra membaca pesan dari Lusi. “Padahal aku udah sarapan, ga papa deh,” gumam Candra. Candra tampak senang pagi ini dan bergegas menuju kantin, tiba di sana dia mencari keberadaan Lusi. Sekretaris Juan melambaikan tangan dan tampak dia sedang…
30
Pagi ini wajah Candra tampak ceria, dia sudah tampak rapi juga bersih. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya. Senyum menghiasi wajahnya sambil mematut dirinya di cermin, setelah selesai dia menuju meja makan untuk sarapan. “Wah, rapi banget, Pak. Mana wangi lagi,…
Comments
2 pemikiran pada “Bencana Selingkuh”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: 1.
“Dia siapa, Mas?” tanya Melani kepada suaminya. Melani terkejut melihat Candra datang dengan seorang wanita cantik dengan penampilan terbuka. “Perkenalkan ini Riana, madu kamu. Kami udah nikah minggu lalu,” jawab Candra singkat. “Kok bisa? Kamu kenapa gak ijin dulu sama aku, Mas!” pekik…
ReadmoreChapter 2: 2
[Hei istri tua, pinter juga kamu bawa semua perhiasan. Padahal aku udah lama loh ngincer itu, tapi gapapa lah, nanti juga suami aku beliin lagi yang lebih bagus, dia kan cinta mati sama aku sampe ceraikan kamu demi aku.] Tulis Riana pada sebuah…
ReadmoreChapter 3: 3
Melani sudah merasa sudah cukup memberi waktu tiga hari kepada tubuh dan pikirannya. Hari ini dia kembali ke kantor seperti biasa. “Selamat pagi, Bu,” sapa Lisa sekretarisnya. “Pagi, Lisa. Tolong kamu panggilkan manajer keuangan,ya,” kata Melani. Melani masuk ke ruangannya, tampak kursi Candra…
ReadmoreChapter 4: 4
“Andre, ngapain di situ? Sini bantuin aku buang sampah,” kata seorang petugas kebersihan. Andre segera mengikuti petugas tersebut, sebenarnya banyak kejanggalan pada penampilan lelaki yang bernama Andre tersebut, entah mengapa kepala bagian kebersihan meminta untuk tidak terlalu peduli akan hal tersebut. Melani merasa…
ReadmoreChapter 5: 5
[Kamu di mana? Kok jam segini belom pulang sih?] tulis Candra dalam sebuah pesan. [Bukan urusanmu,] balas Riana sengit. Candra kesal dan membanting ponselnya ke atas kasur. Bagaimana bisa Riana tidak pulang sudah larut malam seperti ini. [Awas aja kalo berani macem-macem. Kamu…
ReadmoreChapter 6: 6
“Ngapain sih ondel-ondel kesiangan ke sini? Ganggu aja,” gerutu Juan. “Heh, apa kamu bilang? Ondel-ondel kesiangan? Jangan kurang ajar ya, kamu!” bentak Riana. “Yang kurang ajar itu kamu, seenaknya masuk ruangan orang gak permisi. Pergi sana,” usir Melani. Riana mendengus kesal, kemudian dia…
ReadmoreChapter 7: 7
[Pantesan kamu minta cerai, ternyata main belakang sama Juan selama ini.] Candra menulis pesan kepada Melani. Melani melipat dahinya usai membaca pesan tersebut. ‘Apa-apaan ini? Ngapain kirim pesan begini,’ pikir Melani. Melani memilih tidak membalas pesan dari Candra. Baginya tidak perlu membicarakan hal…
ReadmoreChapter 8: 8
“Mau ngapain kamu ke sini?” tanya Riana dengan ketus. “Bukan urusanmu orang-orangan sawah. Kamu diem deh, aku gak ada urusan sama kamu,” jawab Alex. “Ini surat pemisahan harta kalian, kamu periksa dulu.” Alex menyodorkan sebuah map kepada Candra. Alex segera pamit dan menuju…
ReadmoreChapter 9: 9
Sepanjang jalan Melani memikirkan keputusannya yang menurutnya terburu-buru, karena memikirkan terlalu serius hampir saja dia menabrak pembatas jalan. Melani terkejut kemudian dia memilih untuk menepi sejenak, guna menguasai pikirannya yang sedang kacau. “Apa kata orang nanti? Masa baru cerai udah nerima pinangan laki-laki…
ReadmoreChapter 10: 10
“Mama sampe lupa ngasih tau kamu. Itu si Juan malem-malem dateng ke rumah melamar kamu sama Papa. Tentu lamaran itu direstui sama Papa, dia kemudian menitipkan cincin tunangan biar kamu pake.” Liliana menyerahkan kotak berisi cincin kepada Melani. Mata Melani membulat sempurna, ternyata…
ReadmoreChapter 11: 11
‘Emang kalo rejeki gak ke mana. Pamer dulu ah,’ pikir Candra. Dia bergegas menuju ruangan Melani dengan wajah berseri. Tujuannya adalah memberitahu jika ada seseorang yang menghubungi dan akan membeli saham miliknya. Memang dia mengunggah akan menjual asetnya di akun yang dia sembunyikan…
ReadmoreChapter 12: 12
_Sebelum bertemu Candra_ [Simon aku minta tolong dong sama kamu, tolong beli saham Candra pake uang Melani. Kamu mau kan nolong dia?] Juan menulis pesan kepada Simon. [Melani? Cewek yang kamu suka itu kan? Oke deh aku bantu deh. Apa sih yang enggak…
ReadmoreChapter 13: 13
[Tuan, Nona Melani sudah menjadi pemilik tunggal saat ini. Mereka sedang makan malam di sebuah tempat, apakah masih perlu saya awasi? Tuan Juan selalu bersamanya.] Andre menulis pesan dan mengirimkan kepada Wandra. [Tidak perlu, tugasmu di sana sudah selesai. Mulai besok kembali bekerja…
ReadmoreChapter 14: 14
“Ngapain kamu ke sini? Oh …, kangen sama suami aku ya? Pengen nostalgia sama rumah ini? Atau kamu lagi kesepian butuh dibelai suamiku? Pasti itu alasannya,” cibir Riana. “Pelakor, kamu makan yang baik kan? Bukan kaca, tanah kuburan atau bangke. Makan yang sehat…
ReadmoreChapter 15: 15
“Rama? Sama siapa kamu di sini? Binimu mana?” tanya Riana terkejut. “Aku sendirian, udah cerai juga aku sama istri sekitar dua bulanan gitu lah. Ya …, gara-gara ketauan selingkuh sama kamu lah, eh ‘main’ yuk, kangen nih.” Rama mengedipkan mata dengan genit. “Ssst,…
ReadmoreChapter 16: 16
“Siapa, Sayang? Kok gak dijawab teleponnya?” tanya Candra heran. “Temen aku ajak nongkrong di cafe, udah aku tolak tapi masih juga nelpon-nelpon,” jawab Riana berdusta. Candra mengangguk dan mengajak sang istri masuk, tidak tampak kecurigaan sama sekali. Lelaki itu meyakini bahwa tidak mungkin…
ReadmoreChapter 17: 17
Candra melihat Riana yang duduk lemas, dia segera menghampiri. “Kamu kayanya kecapean deh sampe lemas begitu, ayo berobat ke dokter,” ajak Candra. “Gak usah, Sayang. Aku istirahat di rumah aja,” tolak Riana dengan halus . “Ya udah kalau begitu, besok aja kamu ikut…
ReadmoreChapter 18: 18
“Bau? Bau apa?” Riana mengendus sekitarnya. Candra mendekati Riana sambil terus mengendus, wajahnya tampak marah. “Bau parfum siapa ini? Seingatku gak pernah ada parfum kamu aroma begini, parfumku juga gak ada yang begini.” Candra menatap penuh selidik. Riana seketika menjadi gugup. Aroma parfum…
ReadmoreChapter 19: 19
“Duduk, Pak Candra,” ujar Tama dengan ramah. Candra duduk sambil tersenyum, ‘kok itu mirip nomer istriku yang lagi chat? Kenapa panggil sayang-sayangan gitu? Eh tapi itu gak ada fotonya, bukan dia berarti,’ batin Candra. Melihat Candra termenung, Tama memesan kopi dan makanan ringan.…
ReadmoreChapter 20: 20
“Itu karena istrinya Bapak sedang hamil dan sepertinya kandungannya lemah atau bisa saja kehamilannya terganggu oleh sesuatu,” ungkap bidan tersebut. Candra terperangah karena terkejut dan mundur dua langkah, dia menggelengkan kepala kuat. Sang bidan merasa iba dan memberikan resep obat penguat kandungan. “Maaf,…
Readmore






Boleh cekek Candra gak sih kak… Kok kesel ya.. Baru baca bikin emosi…
Ayo kita cekek bareng2, Kak. Kita santet juga boleh 🤣