Table of Contents
Lates Chapters
BAB 6
Setelah Dermawan melepaskan ciumannya, dia berpindah kebagian yang begitu indah di pandang. Dua buah benda kenyal, padat, dan berisi, yang ujungnya masih ranum. Di sana dia menjelajahi. Dia sesekali mengigit ujungnya, membuat Anita beberapakali tersentak. Puas bermain pada benda lunak itu, Dermawan turun…
BAB 5
"Hengki!" Mona terkejut kala yang berdiri di depanya bukanlah Dermawan. Melainkan Hengki. "Dari mana kau tahu alamat rumah ini?" tanya Mona kemudian. "Dari Mami," jawab Hengki lirih "Lantas, apa yang membuatmu datang ke sini?" "Aku merindukanmu, Mona," kata Hengki. Mona…
BAB 4
Di dalam ruangan yang diselimuti hawa dingin dari pendingin ruangan, kesibukan melanda di siang yang hangat. Langkah cepat dan telepon berdering, kantor dan tugas menantang. Siang itu Dermawan hanya sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Di jakarta yang ramiai, hiruk pikuk terdengar. Kendaraan…
BAB 3
Sinar itu tidak pernah pudar di hujung timur di singgasana kekar. Sang bayu pun terhirup begitu segar turut mengiringi. Ranumnya celoteh burung saling bersahutan, riangnya tarian camar tanpa beban. Seorang gadis muda nan cantik perlahan membuka mata menyambut pagi nan elok permai. Dia…
BAB 2
"Dermawan." Dermawan mengulurkan tangan lalu Mona meraihnya dengan senyum yang cantik sekali. "Jadi, Tuan. Apakah malam ini saya harus melayani Anda berdua?" tanya Mona. Namun, baik itu Samuel maupun Dermawan tidak ada yang menjawab, keduanya hanya saling menatap dan melempar tatapan mereka…
Comments
You May Also Like
6 Chapters
Chapter 1: BAB 1
Di sebuah nigh club di dalam sebuah ruangan, seorang gadis cantik dengan pakaian minim samapai-sampai menampakkan belahan dadanya yang kenyal padat dan berisi. Dia tengah menghadap pada seorang wanita dengan tampilan yang glamour. "Apa kau sudah siap melaksanakan tugasmu sebagai wanita penghibur,…
ReadmoreChapter 2: BAB 2
"Dermawan." Dermawan mengulurkan tangan lalu Mona meraihnya dengan senyum yang cantik sekali. "Jadi, Tuan. Apakah malam ini saya harus melayani Anda berdua?" tanya Mona. Namun, baik itu Samuel maupun Dermawan tidak ada yang menjawab, keduanya hanya saling menatap dan melempar tatapan mereka…
ReadmoreChapter 3: BAB 3
Sinar itu tidak pernah pudar di hujung timur di singgasana kekar. Sang bayu pun terhirup begitu segar turut mengiringi. Ranumnya celoteh burung saling bersahutan, riangnya tarian camar tanpa beban. Seorang gadis muda nan cantik perlahan membuka mata menyambut pagi nan elok permai. Dia…
ReadmoreChapter 4: BAB 4
Di dalam ruangan yang diselimuti hawa dingin dari pendingin ruangan, kesibukan melanda di siang yang hangat. Langkah cepat dan telepon berdering, kantor dan tugas menantang. Siang itu Dermawan hanya sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Di jakarta yang ramiai, hiruk pikuk terdengar. Kendaraan…
ReadmoreChapter 5: BAB 5
"Hengki!" Mona terkejut kala yang berdiri di depanya bukanlah Dermawan. Melainkan Hengki. "Dari mana kau tahu alamat rumah ini?" tanya Mona kemudian. "Dari Mami," jawab Hengki lirih "Lantas, apa yang membuatmu datang ke sini?" "Aku merindukanmu, Mona," kata Hengki. Mona…
ReadmoreChapter 6: BAB 6
Setelah Dermawan melepaskan ciumannya, dia berpindah kebagian yang begitu indah di pandang. Dua buah benda kenyal, padat, dan berisi, yang ujungnya masih ranum. Di sana dia menjelajahi. Dia sesekali mengigit ujungnya, membuat Anita beberapakali tersentak. Puas bermain pada benda lunak itu, Dermawan turun…
Readmore





