Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1. Rumah Panggung Tua
- Chapter 2: Bab 2. Bu Raras dan mahasiswa perantau
- Chapter 3: Bab 3. Penghuni bawah yang tidak pernah sepi.
- Chapter 4: Bab 4. Ketika tugas dan kebisingan bertabrakan.
- Chapter 5: Bab 5. Tangga yang tidak lagi ramah
- Chapter 6: Bab 6. Dua dunia yang bertabrakan
- Chapter 7: Bab 7. Hati yang tidak selalu keras
- Chapter 8: Bab 8. Rumah Warisan dan Keributan yang Tak Pernah Selesai.
- Chapter 9: Bab 9. Ibu Minah Pasang Badan
- Chapter 10: BAB 10. Geng HP Kalah Judi Online
Lates Chapters
Bab 11. Bu Raras yang hampir kehilangan kesabaran
Pagi itu, rumah panggung tua itu kembali dibangunkan oleh suara yang tidak biasa. Bukan suara ayam. Bukan suara pedagang sayur yang lewat di depan gang. Melainkan suara sesuatu yang jatuh dari lantai atas. BRAK! Lalu disusul suara panik. “Aduh! Laptopku!” Bu Raras yang…
BAB 10. Geng HP Kalah Judi Online
Malam itu seharusnya menjadi malam yang tenang. Hujan yang sejak sore mengguyur kampung akhirnya berhenti. Udara terasa sejuk. Lampu-lampu rumah tetangga mulai dipadamkan satu per satu. Bahkan anak-anak Bu Minah yang biasanya masih berlarian sampai larut malam sudah tertidur lebih awal. Di lantai…
Bab 9. Ibu Minah Pasang Badan
Rumah panggung itu kembali ramai sejak pagi. Bukan karena hujan bocor.Bukan juga karena anak-anak berkelahi. Penyebabnya jauh lebih sederhana… dan jauh lebih memusingkan. Sandal hilang. Dan seperti biasa, kalau ada masalah di rumah itu, penyelidikan akan berubah menjadi drama keluarga. “ITU SANDAL…
Bab 8. Rumah Warisan dan Keributan yang Tak Pernah Selesai.
Malam itu hujan turun perlahan di atas atap seng rumah panggung tua. Bunyi tik… tik… tik… biasanya terasa menenangkan bagi penghuni lantai atas. Namun malam ini, suara hujan kalah oleh keributan lain. “WOI, jangan sentuh laptopku!” Teriakan Rafi terdengar sampai ke…
Bab 7. Hati yang tidak selalu keras
Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada suara langkah kaki berlari ke lantai atas. Tidak ada ember dipukul-pukul. Tidak ada teriakan “JACKPOT!” dari kolong rumah. Bahkan angin yang masuk lewat celah papan pun terasa lebih pelan, seolah ikut menjaga suasana. Di lantai atas, Sasa…
Comments
Satu pemikiran pada “Dua dunia satu atap”
Tinggalkan komentar
You May Also Like
11 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Rumah Panggung Tua
Rumah panggung itu berdiri di tengah kampung seperti seorang kakek tua yang tetap bertahan meski digoyang angin dan langkah kaki puluhan penghuninya. Kayunya telah memudar, tangganya berdecit setiap diinjak, dan kolongnya dipenuhi bayangan gelap yang menjadi tempat bermain anak-anak atau bersembunyi para kucing…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Bu Raras dan mahasiswa perantau
Siang hari, ketika cahaya matahari menerobos celah-celah papan dinding, para mahasiswa di lantai atas biasanya tenang belajar atau tidur siang. Tapi ketenangan itu tidak pernah berlangsung lama, sebab penghuni bawah rumah panggung itu memiliki gaya hidup yang jauh berbeda. Penghuni bawah bernama Bu…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Penghuni bawah yang tidak pernah sepi.
Jika lantai atas rumah panggung itu memiliki ritme pelan seperti jam dinding tua, maka lantai bawah adalah genderang yang dipukul tanpa aturan. Sejak pagi hingga malam, selalu ada suara yang bergerak, berteriak, atau terjatuh. Bu Minah berdiri di depan pintu dengan kedua tangan…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Ketika tugas dan kebisingan bertabrakan.
Sore hari adalah waktu paling rawan di lantai atas. Tugas menumpuk, jadwal kuliah padat, dan suara dari bawah justru semakin menjadi-jadi. Rafi mengusap wajahnya berkali-kali. Laptop di depannya terbuka, tapi pikirannya kosong. “Gue udah ngetik paragraf ini tiga kali,” keluhnya. “Selalu salah fokus.”…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Tangga yang tidak lagi ramah
Sore itu udara terasa lebih panas dari biasanya. Lantai atas rumah panggung dipenuhi kertas tugas, buku tebal, dan wajah-wajah tegang. Gilang sedang menghitung rumus di buku catatannya. Rafi menatap layar laptop dengan dahi berkerut. Sasa membaca sambil menggarisbawahi kalimat penting. Lalu terdengar…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Dua dunia yang bertabrakan
Bu Minah menoleh cepat. “Bu Raras, saya tidak terima anak saya diusir begitu saja.” Raras melangkah mendekat, rambut ikalnya jatuh lembut di bahu. Ia memandang anak-anak itu satu per satu, lalu menatap Rafi dengan isyarat agar menahan diri. “Rafi, masuk dulu ke kamar,”…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Hati yang tidak selalu keras
Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada suara langkah kaki berlari ke lantai atas. Tidak ada ember dipukul-pukul. Tidak ada teriakan “JACKPOT!” dari kolong rumah. Bahkan angin yang masuk lewat celah papan pun terasa lebih pelan, seolah ikut menjaga suasana. Di lantai atas, Sasa…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Rumah Warisan dan Keributan yang Tak Pernah Selesai.
Malam itu hujan turun perlahan di atas atap seng rumah panggung tua. Bunyi tik… tik… tik… biasanya terasa menenangkan bagi penghuni lantai atas. Namun malam ini, suara hujan kalah oleh keributan lain. “WOI, jangan sentuh laptopku!” Teriakan Rafi terdengar sampai ke…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Ibu Minah Pasang Badan
Rumah panggung itu kembali ramai sejak pagi. Bukan karena hujan bocor.Bukan juga karena anak-anak berkelahi. Penyebabnya jauh lebih sederhana… dan jauh lebih memusingkan. Sandal hilang. Dan seperti biasa, kalau ada masalah di rumah itu, penyelidikan akan berubah menjadi drama keluarga. “ITU SANDAL…
ReadmoreChapter 10: BAB 10. Geng HP Kalah Judi Online
Malam itu seharusnya menjadi malam yang tenang. Hujan yang sejak sore mengguyur kampung akhirnya berhenti. Udara terasa sejuk. Lampu-lampu rumah tetangga mulai dipadamkan satu per satu. Bahkan anak-anak Bu Minah yang biasanya masih berlarian sampai larut malam sudah tertidur lebih awal. Di lantai…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Bu Raras yang hampir kehilangan kesabaran
Pagi itu, rumah panggung tua itu kembali dibangunkan oleh suara yang tidak biasa. Bukan suara ayam. Bukan suara pedagang sayur yang lewat di depan gang. Melainkan suara sesuatu yang jatuh dari lantai atas. BRAK! Lalu disusul suara panik. “Aduh! Laptopku!” Bu Raras yang…
Readmore






😁 mantap