Table of Contents
Lates Chapters
Rasa Takut
Tubuh Adrian bergetar melihat Hesta menatapnya dengan tajam. Kembali pada posisi seperti saat bersama dengan kakeknya. Pemuda yang terbiasa dengan gaya percaya diri kini tidak berdaya. Yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin keluar dari ruangan kamar itu. Dengan pelan tangannya mulai bergerak…
Terjebak
Adrian mundur ke belakang saat Hesta berdiri dan berjalan menghampirinya. Ketakutan mulai menyerang Adrian melihat gadisnya tidak seramah tadi. Pikirannya sudah berkecamuk dengan hal-hal yang buruk, akankah berakhir hidupnya saat ini? Suasana mendadak tegang dengan kakek yang ikutan berjalan ke arah Adrian. Tubuh…
Tersesat
Sementara Adian yang pingsan saat ini tubuhnya berada di ranjang kamar dalam sebuah bangunan mirib dengan rumah tua. Telinga mendengar suara orang memanggil namanya membuatnya terjaga. Mengerjapkan mata berulang kali hingga membuka lebar. Terkejut melihat ke sekelling yang terlihat asing. Bangkit dan duduk…
Adrian Menghilang
Kakek yang diyakini adalah kakek Hesta menurut Tina, terus bergerak hingga tepat berada di bawah pohon beringin. Terlihat samar pohon bergerak lambat di bawah sinar rembulan. Tidak ada angin yang berhembus, bahkan suasana sunyi mencekam. Suara binatang malam sayup terdengar di sekitar pohon.…
Sosok di Bawah Pohon Beringin
Ayah Tina akhirnya memutuskan untuk ikut dengan mereka ke pohon beringin tempat biasanya Adrian dan Wandi bertemu dengan makhluk jadian itu. Perjalanan malam yang dingin membuat ayah Tina memutuskan untuk menggunakan mobil Pikeup yang biasanya ia pakai untuk mengangkut barang ke pasar. Bagaimanapun…
Comments
Satu pemikiran pada “Goyangan Pohon Beringin”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Bertemu Hantu Pohon
Sepi, itu gambaran yang nampak pada jalan yang dilalui dua orang anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas sebelas SMK. Kanan kiri jalan hanya nampak pepohonan di antara gelapnya malam. Lampu jalan menyinari terlihat temaram seolah kabur bersama pantulan cahaya sang rembulan.…
ReadmoreChapter 2: Tergoda Gadis Cantik
Adrian melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan pohon beringin yang terlihat bergoyang meskipun angin belum berhembus. Hari mulai gelap, sedangkan kakek misterius sudah kembali ke balik pohon dan menghilang. Suasana di sekitar tempat itu kembali sepi dan hanya beberapa kendaraan saja yang…
ReadmoreChapter 3: Bayar Dulu, Mas
Wandi yang gelisah akhirnya teringat jika Adrian selalu menyiman dompetnya di dalam jok sepeda motor. Kemudian dia melihat ke arah meja saat dia makan, matanya bersinar melihat kunci motor Adrian tergeletak di sana. Pelan dia menerobos orang yang menghalangi untuk menjangkau tempat duduknya…
ReadmoreChapter 4: Boleh Kenalan, Nggak?
Adrian terlihat serius sambil tersenyum melihat ke arah gadis itu. Sering kali tangannya mencoba bergerak maju ke dekat gadis itu, tetapi selalu diurungkan saat gadis itu sudah mengelap keringat dengan tangannya. Berada berdua dengan angin sepoi yang mulai datang, daun pohon beringin yang…
ReadmoreChapter 5: Noda Darah
Tidak banyak yang Wandi ucapkan demikian juga dengan Adrian. Namun saat Wandi akan memutar kunci sepeda motor Adrian menyambar tangan Wandi dengan kasar. “Lu mo apa?” Adrian menatap tajam kepada Wandi. ”Bisa bonceng gue? Anak kecil sok-sok an naik sepeda motor. Sini kuncinya!…
ReadmoreChapter 6: Bayangan Bergoyang
Adrian menatap tajam gadis yang hendak menyentuhnya, sambil mengangkat sandal sebelah kiri yang dia kenakan. Belum juga pergi gadis yang bernama Kunti dari hadapan Adrian. Dia semakin tertawa renyah, melihat tetangganya marah. Bukan Adrian namanya jika tidak bisa membuat orang kesal. Rambut Kunti…
ReadmoreChapter 7: Ngintip
“Gila, ini kenapa kita sampai ngompol? Kurang asem, gara-gara iklan kagak bener nih!” “Iklan apa-an? Lu kalo ngomong yang jelas Wan. Mana ada rumah gue buat shooting iklan? Iklan obat nyamuk?” “Lu kenapa jadi rada konslet sih. Biasanya juga gue yang eror, apa…
ReadmoreChapter 8: Tidak Bersalah
Dua anak itu saling menatap, Adrian menggelengkan kepala memberi isyarat pada Wandi untuk mengikutinya. Suara yang mereka rasa aneh, jika itu mesum, seperti orang yang sedang melakukan suatu permainan. Permainan yang bagaimana yang mereka lakukan? Suara orang dewasa yang tidak mungkin sedang bermain…
ReadmoreChapter 9: Misteri Kain Di Saku Celana
Hampir lima menit Adrian berpikir, kemudian berdiri dan kembali dengan air satu gayung. Dia ambil dan mengusapkan pada wajah Wandi yang katanya gantengnya se-ember kamar mandi. Berkali-kali hingga air yang ada di basom itu habis, anak itu belum juga tersadar. Kepanikan mulai melanda…
ReadmoreChapter 10: Petugas Medis
Pemuda itu lantas mengambil keranjang dan membawanya ke mesin cuci yang ada di dekat jemuran. Cowok itu sangat paham dengan ibunya, jika sudah mulai marah karena tugasnya tidak dikerjakan dengan baik. Satu persatu baju kotor masuk ke mesin cuci. Waktu sudah lewat tengah…
ReadmoreChapter 11: Kangen Hesta
Bidan yang memeriksa memastikan jika keduanya tidak ada masalah dengan kesehatan. Membuat kedua orang tua Adrian bingung dan menghubungi orang tua Wandi. Hari ini juga mereka tidak dapat ke sekolah, dan Jamilah tidak bekerja. Demikian juga dengan ibu Wandi yang bernama Siti. Mereka…
ReadmoreChapter 12: Kejutan Buat Hesta dan Adrian
Adrian tergesa memeluk Hesta yang sudah berdiri di depannya. Pelukkan erat seperti lama tidak bertemu. “Iya, ini gue. Gue kangen ama lu. Kakek sih, larang ketemu. Yuk, main ke taman sebentar!” Ajak Hesta sambil menarik tangan Adrian dibawa ke belakang pohon beringin. Pohon…
ReadmoreChapter 13: Kedatangan Tina
Suasana mendadak hening, Adrian dan Hesta hanya duduk di bawah pohon beringin tanpa bicara sepatah katapun. Keduanya duduk berdampingan dan saling mengeratkan tangan. Lalu lalang kendaraan tidak lagi mereka pusingkan. Pikiran bergelut dengan kejadian yang baru saja mereka lakukan. Adrian sejenak menatap Hesta yang…
ReadmoreChapter 14: Suara Tabrakan
Tangan Adrian sudah merasakan gatal, ingin memukul Tina. Tetapi dia merasa masih sehat, dengan hanya mengacungkan jari telunjuk yang mengarah kepada wajah temannya. “Ya ampun, lu kagak percaya banget ama gue. Ya udah cari-in gih! Gue keburu ngantuk belum ngerjain PR,” ucap Tina…
ReadmoreChapter 15: Kakek Misterius
Akhirnya Adrian kembali menyalakan motornya, menuju sekolah. Suasana mendadak hening di sekitar tempat pohon beringin. Hingga selesai pelajaran Adrian dan Wandi terlihat renggang. “Ada yang harus gue lakukan sama dia kayaknya. Mana mungkin gue diem saja liat dia bengong dan aneh. Gue haru…
ReadmoreChapter 16: Bayangan Hitam
Sunyi, padahal hari masih siang matahari nampak menghilang dari peraduannya. Suasanya mendadak gelap sunyi. Adrian ketakutan, namun kakinya tidak dapat digerakkan. Matanya lurus menatap kakek Hesta yang semakin mendekat ke arahnya. “Kakek, gu-gue nggak ganggu kakek. Gue cuma mo ketemu Hesta saja.” “Itu…
ReadmoreChapter 17: Merinding Bulu Kuduk
Hingga pukul sembilan malam kedua orang Adrian barulah datang dan mendapati keduanya sudah tidur nyenyak di kamarnya. Jamilah ibu yang baik, meskipun kondisi capek dia selalu luangkan waktunya melihat anaknya di kamar sebelum tidur. “Ini anak-anak tidur kayak orang pingsan saja. Udah selimut…
ReadmoreChapter 18: Makhluk Tak Kasat Mata
Beruntung Adrian membawa ponsel dan berpikir akan melihat binatang itu dengan jelas. Sorot lampu ponsel ia arahkan ke suara kucing. Tetapi sayang, tidak ada seekor kucing di belakangnya. Merinding bulu kuduknya dan melihat ke arah kursi, kosong. “Anjir, di mana anak itu? Kurang…
ReadmoreChapter 19: Mata Aneh Adrian
Siti dan Badrun hanya menggeleng kepala, melihat tingkah kedua anak yang ada di depannya. Setelah selesai mereka berangkat sekolah, tanpa menceritakan apapun kejadian yang ada di rumah Adrian. Dalam benaknya, hanya minta uang saku saja untuk jajan nanti. “Apa? Uang jajan?” tanya Siti…
ReadmoreChapter 20: Berteduh
Adrian berjalan semakin mendekat ke arah Wandi dan Tina. Dengan wajah menunduk menatap tanah. Tina sehera berdiri dan berteriak memanggil Adrian, namun cowok itu seakan tidak mendengarkannya. Bingung mengambil sikap, akhirnya kedua teman Adrian sepakat mendekati Adrian terlebih dahulu. Mereka berhenti berhadapan, namun…
Readmore






Horor komedi, asyik baca sambil senyum-senyum