Table of Contents
Lates Chapters
Perasaan
“Bicara tentang perasaan memang sangat melelahkan ya?” Mas Agung tersenyum tanpa menatap ku. Ada sedikit penyesalan yang ku lihat dari raut wajahnya. Tapi jika ditanya tentang apa, aku pun tak tahu. Semua hanya praduga ku yang tak berdalil. Dan tentang apa…
Mencintaiku?
“Gak mungkin Sintia yang melakukannya!” bantah Mas Erlangga, ia lantas berdiri dan menatap tajam ke arah Mas Agung. Jujur saja aku cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Mas Agung tadi. Tentang Sintia yang disebutkannya sebagai penyebar video asusila tersebut. Tapi, aku…
Siapa Pelakunya?
“Kamu lihat ini!” pinta ku pada Anton, sembari menunjukkan video yang ada di ponselku. “jelas ini bukan rekaman dari sudut dimana kita meletakkan kameranya.” Lanjutku menjelaskan. Anton terlihat berpikir. Ia mencerna maksudku. Benar saja, video yang isinya adegan ranjang Mas Erlangga…
Video Asusila
Jelas bukan aku yang menyebar video asusila Mas Erlangga dan Sintia. Meski aku memiliki duplikatnya, tapi aku yang sudah mengikhlaskan segalanya, bahkan aku mencabut tuntutan terhadap Sintia, mustahil membuka aib mereka berdua. Dan seharusnya Mas Erlangga tahu itu. Lagi pula,…
Diam
Sesaat aku hanya diam menatap bunga mawar yang ditawarkan Mas Agung tadi. Aku tahu, ia pasti punya alasan kuat melamar ku tepat di hari putusan sidang perceraian aku dan Mas Erlangga disahkan. Aku juga tahu, mencintai adalah hak semua orang. Karena…
Comments
3 pemikiran pada “Grup Arisan Keluarga Suami”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Pesan Dihapus
[Mas, kamu dimana? Aku mau tanya siapa wanita yang ada di sebelah kamu kemarin saat arisan keluarga kita? Aku tahu dari photo yang dikirimkan Ratu di wa grup, tapi pesannya segera dihapus.] aku mengirim pesan suara ke Mas Erlangga, suamiku. Perasaan…
ReadmoreChapter 2: Salah Sangka
[Oh, itu temen Mbak Maya, Mbak] [Terus, kenapa photonya kamu hapus lagi dari grup?] Aku menunjukkan isi pesan yang ku kirimkan ke Ratu. Bahkan pertanyaanku yang terakhir kalinya tidak lagi dibalas, padahal centang dua berwarna biru. Wajar saja jika…
ReadmoreChapter 3: Tidak Bertanya
Pikiranku semakin kalut. Aku mulai mengulik kebenaran kalung tersebut dari berbagai kisah drama rumah tangga yang pernah aku baca, dari beberapa novel yang terbit di website NovelGood, sebuah website menulis yang memuat berbagai kisah dengan genre yang berbeda serta jauh dari kata “vulgar”.…
ReadmoreChapter 4: Kalung
Yang benar saja. Masa iya sebuah kebetulan jika kalung yang ada di baju jas Mas Erlangga sama persis dengan kalung yang dipakai wanita bernama Suci itu. Bagaimana aku bisa menalar semua ini secara kongkrit, jika semua keadaan tetap saja menjurus…
ReadmoreChapter 5: Hadiah
Mas Erlangga membuktikan kebenarannya. Dan lagi-lagi, aku merasa sudah keterlaluan pada lelaki yang sangat ku cintai itu. “Sayang?” kejut Mas Erlangga. Aku sontak kaget dan sadar dari lamunanku sendiri. Sedang ku pikirkan bagaimana caranya berdamai dengan perasaanku yang terus…
ReadmoreChapter 6: Photo Keluarga
“Mas Erlangga?” aku kembali menyangkal pernyataan Suci yang baru saja aku dengar. Tak bisa ku cerna kenyataan yang baru saja dikatakan wanita itu. Aku menggenggam erat kedua tanganku yang sedikit bergetar. Agar tak ada yang tahu jika aku tengah menyimpan ketakutan…
ReadmoreChapter 7: Permainan
“Kamu buka pesan di WhatsApp aku ya?” tanya Mas Erlangga sembari mengendalikan stir mobilnya. Lelaki kekar yang tepat duduk di sebelahku terlihat sesekali menoleh ke depan, memastikan jalanan yang ia tempuh sudah benar. Sedangkan sisipan tatapannya ikut mengitari raut wajahku…
ReadmoreChapter 8: Ponsel Inara
[Halo Mas, kamu bisa ke rumahku sekarang? Tiba-tiba saja perutku terasa sakit dan aku juga sangat pusing, Mas] nada suara wanita yang sedang ku dengar itu begitu menjijikkan. Bukan hanya suaranya yang mendesah, entah karena kesakitan atau bukan, tapi juga hembusan napasnya yang…
ReadmoreChapter 9: Tak Ku Sangka
Bisa-bisanya mereka menuduhku seperti itu. Dan Mas Erlangga, ia sama sekali tak membela. Aku tahu, aku memang salah. Tanpa sepengetahuan suamiku, aku yang tak sengaja bertemu dengan Anton, kembali berteman dengannya. Lelaki yang pernah sangat ku cintai, tapi itu dulu, jauh sebelum aku…
ReadmoreChapter 10: Hamil?
“Kamu sudah gila ya, Sin?” aku tak bisa percaya apa yang baru saja aku dengar dari wanita yang kini tepat ada di sampingku. Meski sudah larut malam, aku tetap memaksa diri untuk datang ke alamat yang disebutkan Sintia melalui ponsel pintarku tadi.…
ReadmoreChapter 11: Rumah Inara
“Kamu sudah gak waras ya?” Mas Erlangga terlihat kesal padaku, sesaat setelah aku mengantar Sintia ke kamarnya. Aku masuk ke kamarku untuk beristirahat, apalagi hari ini sangat melelahkan bagiku. Bukan hanya fisikku yang seakan dihajar habis-habisan, tapi pikiranku juga tak karuan…
ReadmoreChapter 12: Luar Kota
“Selama kamu di luar kota, aku akan menginap di rumah Mama.” Ucap Mas Erlangga kepadaku. Meski Mas Erlangga sudah setuju dengan keputusanku untuk membiarkan Sintia tinggal bersama kami, tapi raut wajah tidak senang terlihat jelas olehku. Tapi aku tak peduli, sifat…
ReadmoreChapter 13: Protes
“Memangnya mereka tak ada yang protes dengan keputusanmu itu?” tanya Anton padaku, sesaat setelah ia menyeruput secangkir kopi hangat kesukaannya. “Tentu saja protes, mereka mengira aku sudah gila. Tapi aku tetap pada keputusanku.” Sahutku pada lelaki berkulit sawo matang itu. …
ReadmoreChapter 14: Ada Apa Dengan Mama?
“Ada apa dengan Mama?” tanya Mbak Maya kembali, sebelumnya pertanyaan Mbak Maya pun belum dijawab tuntas oleh wanita yang telah melahirkannya itu. “Sama seperti Inara, Mama hanya ingin menolong sahabatnya, Sintia.” sahut Mama dengan mimic wajahnya yang gugup. Mas…
ReadmoreChapter 15: Bunuh Diri
Aku tak menyangka Sintia akan bertindak sebodoh ini. Tergopoh-gopoh aku dan Mas Erlangga mendorong ranjang Sintia menuju IGD rumah sakit dibantu oleh beberapa perawat lainnya. Lumuran darah terlihat membasahi seluruh pergelangan tangannya. Bahkan baju tidur berwarna putih yang dikenakannya pun ikut berubah warna.…
ReadmoreChapter 16: Mas Agung
“Aku pergi dulu ya, Sin?” ucapku pada Sintia yang masih merebahkan tubuhnya di kasur. Meski di bagian kepala dan pundaknya sedikit meninggi, menandakan ia tidak ingin sepenuhnya berbaring, namun aku bisa melihat tubuhnya yang masih sangat lemah. “jangan lupa minum obat dan istirahat…
ReadmoreChapter 17: Penasaran
“Isi naskah buku kamu bagus,” Mas Agung mengangguk ke arahku. Aku hanya membalas sanjungannya dengan senyuman. Sungguh, aku cukup terkejut melihatnya ikut hadir dalam seminar tadi dan menjadi salah satu pembicara di sana. “Topik yang kamu bawakan tadi juga…
ReadmoreChapter 18: Cemburu
“Jadi tujuan kamu ke Bali untuk bertemu lelaki itu?” Mas Erlangga yang baru pulang kerja langsung tersulut emosi. Ia bahkan belum meletakkan tas ransel yang dikenakannya saat ke kantor. Aku yang baru saja merebahkan tubuh di atas kasur empuk di kamar,…
ReadmoreChapter 19: Kakek
Ini kesempatan bagus bagiku, melarikan Sintia ke rumah sakit. Kepanikanku tadi berhasil membuat Mas Erlangga percaya jika telah terjadi sesuatu pada Sintia. Dan Sintia yang sedang tertidur pulas pun bisa ku manfaatkan. “Anton?” aku kaget melihat sahabatku itu ada di depan…
ReadmoreChapter 20: Sadar
“Aku senang melihat Kakek sadar.” Ucapku seraya memeluk tubuh kakek yang terbaring lemah. Kerutan yang sudah menyelimuti seluruh bagian tubuhnya membuat perasaanku tidak tenang. Rasa takut kehilangan tiba-tiba saja datang. Aku tahu, di dunia ini tak ada yang benar-benar menjadi milik…
Readmore






Assalamualaikum pembaca karya Aini Pien, jangan lupa baca juga novel Janur Kuning di Rumah Tanteku di novelgood.id. Happy Reading 🙂
Untuk Novel Janur Kuning di Rumah Tanteku sudah berganti judul menjadi Topeng di Balik Pernikahan. Semoga novel ini dapat menginspirasi pembacanya (Tersedia juga versi cetak)
Bagi pembaca setiaku, yang suka baca di APK Fizzo, boleh singgah di karyaku yang berjudul:
1. Tulang Rusuk Kakak
2. Ayah, Izinkan Aku Durhaka
Terima kasih pembaca setia karya-karya Aini Pien 🙂