Table of Contents
- Chapter 31: Kamu Saja Jadi Istriku
- Chapter 32: Kebenaran Yang Menyakitkan
- Chapter 33: Tawaranku Masih Berlaku
- Chapter 34: Membebaniku
- Chapter 35: Lepaskan, Nduk
- Chapter 36: Aku Bukan Pembantu!
- Chapter 37: Kamu Bilang Aku Murahan
- Chapter 38: Diam Tapi Tak Bisu
- Chapter 39: Final Decision
- Chapter 40: Akhir Yang Tak Indah
Lates Chapters
Aku Mencintaimu
Mama Candra terkekeh geli melihat reaksi putranya. Dia menaik -turunkan kedua alisnya, menggoda putranya yang tersenyum-senyum tipis, mempertahankan gengsinya. “Mama nggak pulang? Bukankah ada sesuatu yang mau Mama kerjakan?” “Jadi kamu mengusir Mama? Mau jadi anak durhaka, mau mama kutuk kalian cepat punya…
Calon Mantu
Hayu tertawa geli, dia hanya bercanda, tapi reaksi yang ditunjukkan Jelita padanya menurutnya terlalu berlebihan. “Hei aku hanya bercanda, kenapa kamu seserius itu. Nikmati saja waktumu, toh aku tidak pergi ke mana-mana.” Jelita menghela nafas lega, dia pikir sudah mengganggu Hayu sehingga dia…
Menghancurkan Mimpi
Bisma mengetuk pintu kaca mobil Jelita. Mau tak mau Jelita menurunkan kaca pintu mobil miliknya. Dia tak mengerti dengan sikap Bisma. Bukankah kekasihnya itu sudah jelas-jelas mengatakan hal yang tak bisa dia harapkan sama sekali. Lalu untuk apa dia mengejarnya hingga kemari. “Ada…
Dikhianati Keadaan
Jelita geming, menunggu jawaban dari calon suaminya, sementara Nyonya Adibrata dengan sengaja membuang muka menghindari tatapan calon menantunya. Seketika Jelita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Alih-alih mendapatkan jawaban dari orang yang saat ini menjadi tumpuan harapannya, dia lebih memilih untuk…
Maafkan Aku
“Boleh aku masuk? Apa aku mengganggumu? Aku hanya butuh waktu sebentar denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Apa kamu sudah sarapan?” Candra menunjukkan kotak makannya pada Jelita. “Jadi aku mengganggumu, kamu sedang sarapan, ya. Apa sebaiknya aku pergi saja?" “Tidak perlu,…
Comments
Satu pemikiran pada “Hayu”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Nyonya Ayu Adibrata
“Jadi, apa pekerjaan kamu?” “Saya sekretaris di Hardana Grup, Bu.” “Jangan panggil saya, Bu. Panggil saya, Nyonya Adibrata.” “Mi!” seru Bisma anak semata wayangnya. “Jangan ikut campur, Bisma!” Malam ini, Bisma memperkenalkan Hayu dengan keluarganya, keluarga Adibrata. Hayu, yang dulu tidak tahu bahwa…
ReadmoreChapter 2: Bisma Adibrata
Hayu melongo, kenapa mendadak bosnya ada di sini. “Bapak, jelangkung? Datang tak diundang? Kenapa bisa ada di sini?” “Ini jalan raya, yang siapa saja boleh melewatinya, Hayu. Saya sedang lewat dan melihatmu seperti orang gila. Makanya, saya menghampiri kamu. Lagi ada masalah? Bisma…
ReadmoreChapter 3: Feeling Seorang Ibu
“Nduk, ada apa dengan kamu dan Bisma? Apa kalian ada masalah, kalian sedang bertengkar? Kenapa kamu pulangnya diantar Pak Candra. Nduk, di dalam sebuah hubungan, wajar jika ada masalah, kalian harus menyelesaikannya biar tidak berlarut-larut.” “Bu, Hayu tidak bertengkar dan juga tidak ada…
ReadmoreChapter 4: Hari Yang Sial
Pagi ini matahari bersinar cerah sekali, sinarnya yang masuk di antara celah jendela kamar Hayu, membuat Hayu menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, dia hampir terlambat. Tidak biasanya dia bangun kesiangan seperti pagi ini. Semalaman dia tidak bisa tidur, berpikir banyak hal tentang…
ReadmoreChapter 5: Tak Diakui
Hayu mendesah, apalagi yang akan dia alami kali ini, dia berdoa dalam hati semoga semuanya baik-baik saja. Dia tidak mau, kalau Candra tahu apa yang terjadi pada hubungan mereka. Candra keluar dari mobilnya berjalan beriringan dengan Hayu masuk ke dalam restoran. “Lewat sini,…
ReadmoreChapter 6: Jelita
Hayu yang sedang menatap ponselnya menoleh ke arah sumber suara. Sekretaris Sean memanggilnya. Hayu melambaikan tangan. Dina menghampiri sahabatnya itu, tak lupa menyapa atasan Hayu yang juga rekan kerja bosnya. “Selamat Pagi, Pak Candra.” Candra hanya mengangguk menanggapi sapaan Dina. “Kenapa terlambat, kami…
ReadmoreChapter 7: Frustrasi
Hayu masih bingung dengan ucapan atasannya, hingga saat Candra mengajaknya pergi dari sana bersamaan Mami Bisma keluar bersama Jelita juga Bisma. Sepertinya mami Bisma sengaja membiarkan Hayu melihat permainan yang sedang dimainkannya. Yang seolah menunjukkan bahwa sosok Jelita yang lebih pantas mendampingi Bisma…
ReadmoreChapter 8: Gundah Gulana
Jelita menghela nafas kasar, melanjutkan perkataannya yang terkesan lebih dominan ketimbang Bisma. “Semua yang kamu lakukan akan jadi pembicaraan publik yang akan berlangsung terus-menerus. Don’t be stupid, Bisma! Jadi siapa wanita itu, siapa wanita yang jadi pesaingku?” Bisma mendengus kasar, mana mungkin maminya…
ReadmoreChapter 9: Ketahuan
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Bisma keluar dari ruangannya, hendak menemui Hayu dan mengajaknya pulang, banyak hal yang ingin dia bicarakan. Sayangnya orang yang baru saja dia pikirkan itu terlihat sedang bersama seseorang. “Jelita?” Hayu sedang bersama Jelita saat Bisma mulai mendekat,…
ReadmoreChapter 10: Main Hati
“Aku sudah selesai makan, mau ke toilet, dan tak sengaja melihat kalian di sini, jadi sebagai kawan, tentu saja aku menyapa kalian. Ngomong-ngomong terima kasih tawarannya, Jel. Tapi sayangnya aku tidak tertarik!” Candra seolah memanasi mereka berdua. “Kamu! Apa kamu masih menyimpan rasa…
ReadmoreChapter 11: SK Berlaku
Dengan kecepatan penuh dia melesat. Sampai di rumah, maminya sudah menunggunya di pintu sembari berkacak pinggang. Seseorang yang bersembunyi di belakang maminya keluar, menatap tajam ke arahnya. “Apa kabar, Nak. Sudah cukup main-mainnya. Masuk, banyak hal yang mau papi dan mami katakan padamu!” …
ReadmoreChapter 12: Lawan Seimbang
Bisma melemparkan ponselnya begitu saja. Pikirannya menerawang, dia teringat dengan Hayu, teringat akan janjinya pada kekasihnya untuk menjemputnya besok pagi. Bisma keluar kamar, dia ingin bicara dengan Maminya. Ingin mengatakan pada maminya, jika dia akan mengajak Hayu ke rumah esok hari. Baru saja…
ReadmoreChapter 13: Broken
“Aku mau pulang ke apartemen, bukan ke rumah Mamiku Bisma!” serunya kesal. Dia menoleh ke arah Bisma yang diam, dia tahu Bisma sedang kesal padanya juga. Hening tak ada pembicaraan lagi, hingga suara dering ponsel berdering memekakkan telinga mereka berdua. Bisma melirik ponselnya,…
ReadmoreChapter 14: Aku Mau Pulang
Hayu memulai pekerjaannya, dia meretakkan dan memecahkan butir demi butir telur. Hingga saat semua telur-telur mulai pecah, hatinya juga ikut retak karena ucapan Bu Ayu. “Jangan harap saya akan menerima kamu jadi menantu saya, saya hanya mengikuti kemauan anak dan suami saya. Jelita…
ReadmoreChapter 15: Rumah Rasa Neraka
Hayu hampir tertawa mendengar perkataan kekasihnya itu, tapi kembali lagi dia menahannya, dia tidak mau mami Bisma semakin membencinya. “Sekarang kamu bersihkan semuanya, Bisma jangan bantu dia!” Glek! Kesusahan Hayu menelan salivanya, dia sudah cukup lelah, dan sekarang dia juga harus membereskan semuanya…
ReadmoreChapter 16: Merutuki Kebodohan
“Tunggu sebentar, ya. Pak. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum. Hayu menyeberang jalan dan memesan mie goreng kesukaan ibunya. Selesai memesan dia menunggu mie goreng matang. Hayu duduk di kursi yang disediakan penjual. Namun dia terkejut melihat seseorang yang berada di sana. Candra…
ReadmoreChapter 17: Aji Mumpung
Setelah tadi bersama Candra emosinya sempat menurun drastis, tapi sekarang, emosinya naik lagi, tersulut lagi, karena Bisma. Dia yang tadi berpikir untuk menenangkan pikiran dengan tidur, nyatanya malah pikirannya semakin kalut. Ponselnya berdering, Hayu menatap layar ponselnya. Candra meneleponnya, mungkin ingin menanyakan keberadaan…
ReadmoreChapter 18: Deep Talk
Candra membuka mulutnya, Hayu memasukkan sepertiga kue lemper ke dalam mulut Candra. Namun Hayu terenyak kaget, saat lidah Candra tak sengaja menyentuh jari Hayu. “Ough..” “Damn,” rutuknya dalam hati, tak sengaja kata itu lolos dari mulutnya, membuatnya malu pada Hayu. “Maaf, aku tak…
ReadmoreChapter 19: Situasi Rumit
Candra menikmati secangkir expreso yang dia pesan, sementara Hayu, mulai memakan nasi goreng yang masih mengepulkan asapnya, hingga suara seseorang yang sangat dikenalnya memanggil mereka. Mereka menoleh ke arah sumber suara dan saling melempar tatapan. Jelita tampak tersenyum melangkah menghampiri mereka berdua.…
ReadmoreChapter 20: Jangan Denial
“Sebagai teman dan sebagai orang yang pernah mencintaimu, aku cukup tahu banyak tentang kamu, seperti apa kamu, ketika menginginkan sesuatu.” “Cukup! Aku tidak mu mendengarkan apapun darimu, dan juga, jangan berprasangka buruk denganku, kalau memang aku melakukan segala cara, sudah sejak lama aku…
Readmore






Karya yang luar biasa indah