Hiraeth

By: MH Ghani
11 Readers 6 Chapters 9.9

Senandika

Hiraeth, cerita kecil tentang rindu yang tidak selesai, percakapan yang terlalu larut, dan keajaiban kecil yang datang tanpa permisi. Dari meja makan yang sunyi setelah pesta usai, hingga secangkir kopi dingin yang lupa diteguk karena terlalu sibuk menyesali kata-kata yang tak diucapkan. Setiap halaman adalah ruang…
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

Luka yang Kutemani

~Luka ada agar tak lupa rasanya mencintai.~ ---   Aku tidak lagi ingin pura-pura baik-baik saja.  Aku juga tak lagi ingin sembuh sepenuhnya. Hari kemarin terlalu panjang untuk aku tutup dengan senyum. Terlalu banyak malam yang aku lewati dengan pertanyaan yang sama dengungnya…

Rumah yang Tak Lagi Ada

~Beberapa rumah tak punya atap, hanya kenangan yang menggantung di langit-langit kepala.~ ---   Ada satu tempat yang tak tercantum di peta, tetapi terus-menerus kupanggil dalam mimpi. Di sana, hujan turun pelan tanpa membuat baju basah. Aroma tanah seperti kenangan manis yang belum…

Cangkir Retak

~Kadang, duduk diam di tengah sunyi, membiarkan segala yang pernah hangat menyapa sekali lagi tanpa kata, kita kembali merasa utuh.~ —   Aku bukan siapa-siapa. Bahkan bukan sesuatu yang penting. Aku hanya sebuah cangkir keramik putih polos dengan garis retak halus, yang tak…

Ruang yang Bernama Kemarin

~Tidak semua yang hilang ingin ditemukan, tetapi beberapa hal tetap ditunggu, diam-diam, di tempat yang sama.~ —   Aku mulai memahami satu hal. Kenangan tidak tinggal di masa lalu. Ia tinggal di sebuah tempat yang kusebut, ruang. Ruang yang tak pindah ke mana-mana.…

Hal yang Tak Selesai

  ~Kita hidup di antara pertemuan yang terlambat dan perpisahan yang terlalu cepat.~ —   Aku tak tahu apakah kamu juga mengingat meja itu. Bukan meja makan besar yang biasa kita pakai saat semua masih utuh. Bukan yang di ruang utama yang punya…

Comments

Tinggalkan komentar

You May Also Like

andy.lorenza
Aryati Mudjiono
eli.budianto
dwi.fitriani
6 Chapters

Chapter 1: Hiraeth

Oleh: MH Ghani
~Kerinduan mendalam terhadap sesuatu yang tak bisa kembali—baik itu tempat, masa lalu, seseorang, atau bahkan versi lama dari diri sendiri.~ —   Aku selalu suka kota ini menjelang malam. Ketika suara-suara mulai mengecil, lampu jalan menyala malu-malu, dan langit tidak lagi menuntut apa-apa.…
Readmore

Chapter 2: Hal yang Tak Selesai

Oleh: MH Ghani
  ~Kita hidup di antara pertemuan yang terlambat dan perpisahan yang terlalu cepat.~ —   Aku tak tahu apakah kamu juga mengingat meja itu. Bukan meja makan besar yang biasa kita pakai saat semua masih utuh. Bukan yang di ruang utama yang punya…
Readmore

Chapter 3: Ruang yang Bernama Kemarin

Oleh: MH Ghani
~Tidak semua yang hilang ingin ditemukan, tetapi beberapa hal tetap ditunggu, diam-diam, di tempat yang sama.~ —   Aku mulai memahami satu hal. Kenangan tidak tinggal di masa lalu. Ia tinggal di sebuah tempat yang kusebut, ruang. Ruang yang tak pindah ke mana-mana.…
Readmore

Chapter 4: Cangkir Retak

Oleh: MH Ghani
~Kadang, duduk diam di tengah sunyi, membiarkan segala yang pernah hangat menyapa sekali lagi tanpa kata, kita kembali merasa utuh.~ —   Aku bukan siapa-siapa. Bahkan bukan sesuatu yang penting. Aku hanya sebuah cangkir keramik putih polos dengan garis retak halus, yang tak…
Readmore

Chapter 5: Rumah yang Tak Lagi Ada

Oleh: MH Ghani
~Beberapa rumah tak punya atap, hanya kenangan yang menggantung di langit-langit kepala.~ ---   Ada satu tempat yang tak tercantum di peta, tetapi terus-menerus kupanggil dalam mimpi. Di sana, hujan turun pelan tanpa membuat baju basah. Aroma tanah seperti kenangan manis yang belum…
Readmore

Chapter 6: Luka yang Kutemani

Oleh: MH Ghani
~Luka ada agar tak lupa rasanya mencintai.~ ---   Aku tidak lagi ingin pura-pura baik-baik saja.  Aku juga tak lagi ingin sembuh sepenuhnya. Hari kemarin terlalu panjang untuk aku tutup dengan senyum. Terlalu banyak malam yang aku lewati dengan pertanyaan yang sama dengungnya…
Readmore
error: Content is protected !!