Table of Contents
Lates Chapters
Luka yang Kutemani
~Luka ada agar tak lupa rasanya mencintai.~ --- Aku tidak lagi ingin pura-pura baik-baik saja. Aku juga tak lagi ingin sembuh sepenuhnya. Hari kemarin terlalu panjang untuk aku tutup dengan senyum. Terlalu banyak malam yang aku lewati dengan pertanyaan yang sama dengungnya…
Rumah yang Tak Lagi Ada
~Beberapa rumah tak punya atap, hanya kenangan yang menggantung di langit-langit kepala.~ --- Ada satu tempat yang tak tercantum di peta, tetapi terus-menerus kupanggil dalam mimpi. Di sana, hujan turun pelan tanpa membuat baju basah. Aroma tanah seperti kenangan manis yang belum…
Cangkir Retak
~Kadang, duduk diam di tengah sunyi, membiarkan segala yang pernah hangat menyapa sekali lagi tanpa kata, kita kembali merasa utuh.~ — Aku bukan siapa-siapa. Bahkan bukan sesuatu yang penting. Aku hanya sebuah cangkir keramik putih polos dengan garis retak halus, yang tak…
Ruang yang Bernama Kemarin
~Tidak semua yang hilang ingin ditemukan, tetapi beberapa hal tetap ditunggu, diam-diam, di tempat yang sama.~ — Aku mulai memahami satu hal. Kenangan tidak tinggal di masa lalu. Ia tinggal di sebuah tempat yang kusebut, ruang. Ruang yang tak pindah ke mana-mana.…
Hal yang Tak Selesai
~Kita hidup di antara pertemuan yang terlambat dan perpisahan yang terlalu cepat.~ — Aku tak tahu apakah kamu juga mengingat meja itu. Bukan meja makan besar yang biasa kita pakai saat semua masih utuh. Bukan yang di ruang utama yang punya…
Comments
You May Also Like
6 Chapters
Chapter 1: Hiraeth
~Kerinduan mendalam terhadap sesuatu yang tak bisa kembali—baik itu tempat, masa lalu, seseorang, atau bahkan versi lama dari diri sendiri.~ — Aku selalu suka kota ini menjelang malam. Ketika suara-suara mulai mengecil, lampu jalan menyala malu-malu, dan langit tidak lagi menuntut apa-apa.…
ReadmoreChapter 2: Hal yang Tak Selesai
~Kita hidup di antara pertemuan yang terlambat dan perpisahan yang terlalu cepat.~ — Aku tak tahu apakah kamu juga mengingat meja itu. Bukan meja makan besar yang biasa kita pakai saat semua masih utuh. Bukan yang di ruang utama yang punya…
ReadmoreChapter 3: Ruang yang Bernama Kemarin
~Tidak semua yang hilang ingin ditemukan, tetapi beberapa hal tetap ditunggu, diam-diam, di tempat yang sama.~ — Aku mulai memahami satu hal. Kenangan tidak tinggal di masa lalu. Ia tinggal di sebuah tempat yang kusebut, ruang. Ruang yang tak pindah ke mana-mana.…
ReadmoreChapter 4: Cangkir Retak
~Kadang, duduk diam di tengah sunyi, membiarkan segala yang pernah hangat menyapa sekali lagi tanpa kata, kita kembali merasa utuh.~ — Aku bukan siapa-siapa. Bahkan bukan sesuatu yang penting. Aku hanya sebuah cangkir keramik putih polos dengan garis retak halus, yang tak…
ReadmoreChapter 5: Rumah yang Tak Lagi Ada
~Beberapa rumah tak punya atap, hanya kenangan yang menggantung di langit-langit kepala.~ --- Ada satu tempat yang tak tercantum di peta, tetapi terus-menerus kupanggil dalam mimpi. Di sana, hujan turun pelan tanpa membuat baju basah. Aroma tanah seperti kenangan manis yang belum…
ReadmoreChapter 6: Luka yang Kutemani
~Luka ada agar tak lupa rasanya mencintai.~ --- Aku tidak lagi ingin pura-pura baik-baik saja. Aku juga tak lagi ingin sembuh sepenuhnya. Hari kemarin terlalu panjang untuk aku tutup dengan senyum. Terlalu banyak malam yang aku lewati dengan pertanyaan yang sama dengungnya…
Readmore





