Table of Contents
- Chapter 1: Prologue
- Chapter 2: I – When One’s Eyes Awaken to the Sunrise
- Chapter 3: II – When Afternoon Finally Comes
- Chapter 4: III – When They Arrived at The Festival
- Chapter 5: IV – When the Sun Starts to Set
- Chapter 6: V – When He Finally Realized
- Chapter 7: VI – When They Are Fated for an Encounter
- Chapter 8: VII – When Suspicions Taken Over
- Chapter 9: VIII – When Secrets Are Laid Bare
- Chapter 10: IX – When the Light Shines, The Tears Dry
Lates Chapters
XX – When the Charade’s a Masquerade
Gores pena terakhir di kertas ini bertuliskan namaku. Nama yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Nama yang… entah sudah berapa purnama tak pernah lagi kudengar. Seraya melipat bait rinduku kepadanya, semerbak esensi aroma mawar mengisi hidungku. Aroma dari parfum yang menghiasi warna tubuhku.…
XIX – When the Heart Aches for a Dream
Eon menemukan kesunyian yang dia cari, terisolasi dari hingar-bingar para murid yang sedang bergairah mengayunkan pedangnya. Di bawah rimbun pohon kuno, bersama desir lembut yang dibisikkan oleh dedaunannya, Eon menyandarkan tubuh, merasakan kulit kayu yang kasar menekan punggungnya. Untuk beberapa saat, Eon terpaku…
XVIII – When the Duel Finally Commenced
Ellyalana Artemisia membuka jubahnya, memperlihatkan bentuk tubuh ramping yang terbalut oleh tunik abu-abu sepanjang kaki, dan celana kulit yang terkesan sederhana. Berjarak empat meter darinya, Eon Richter tengah melakukan persiapan yang sama. Dua manusia ini saling berhadapan. Terlepas dari segala kebingungan dan keterkejutan…
XVII – When the Guests Arrived
Akhirnya selesai. Aku berdiri seraya mendesah lelah, mencoba melepaskan kepul uap di dalam otakku yang mendidih. Tangan ini menggenggam buku, mengetuk-ngetuknya secara vertikal di atas meja untuk merapikannya. Pelajaran hari ini dimulai dengan lancar, materi yang tersaji pun bagaikan repetisi yang sudah pernah…
XVI – When the Mundane Life Continues
Simbol jantung kehidupan terbangun dan berdetak, lonceng raksasa di puncak menara akademi lantas berdentang. Nyanyian gemanya yang berayun menggetarkan dinding, merayap ke permukaan tanah, menggugah kesadaran dengan panggilan yang lantang. Langkah kaki para pelajar berbondong-bondong kembali ke pelukan ilmu pengetahuan, dan ketika gelombang…
Comments
Satu pemikiran pada “Myriad of Meridium”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Prologue
Saat petaka menghantam, saat api hanya menyisakan bara dan arang, saat samudera mencekik daratan, saat langit berteriak kesakitan, dan saat tanah tak lagi memiliki kasta, sehingga hanya tersisa jiwa-jiwa yang memandang tinggi dari pangkuan surga, atau menengadah dari dalamnya lubang neraka, mengapa hanya…
ReadmoreChapter 2: I – When One’s Eyes Awaken to the Sunrise
Hirup napasnya yang pertama ketika dia membuka iris zamrud itu, panjang dan bersih. Ada tetes air mata yang berpindah dari ujung kelopak mata ke jemari karena usapnya, membuatnya berandai-andai, apa yang telah dia impikan semalam. Perlahan, dia bangun dari baringnya, duduk berjuntai di…
ReadmoreChapter 3: II – When Afternoon Finally Comes
Si gadis menepuk tutup buku hitam tebal yang telah dia baca selama beberapa waktu, masih di dalam kamar si bocah, masih bersandar di dinding, di atas ranjang putih yang nyaman. Sepoi angin menyusup melalui jendela, di mana hiruk-pikuk kian terdengar ketika hari semakin…
ReadmoreChapter 4: III – When They Arrived at The Festival
Minggu pertama di bulan kesepuluh, tepat ketika dedaunan mulai mengering pada babak pembuka musim gugur, tersaji dekorasi kota bercorak merah dan cokelat yang hangatnya perlahan menggantikan gerah musim panas. Di tengah jalanan kota, di sepanjang blok trotoar yang terpasang rapi, masih melongo bibir…
ReadmoreChapter 5: IV – When the Sun Starts to Set
Mereka pergi diikuti oleh bayangan panjang mereka sendiri. Ketika si gadis menoleh ke belakang, terang lampu pesta mulai berpendar, dan riuh festival masih samar terdengar. Sementara ketika si bocah menengadah, ciri wajahnya terbasuh oleh sisa jingga mentari, hangat dan melelahkan. Baik itu lekuk…
ReadmoreChapter 6: V – When He Finally Realized
“Kita sampai, Eon.” Perjalanan pendek telah membawa mereka ke tempat tujuan misterius yang dipilih oleh Lucia, tanpa sepengetahuan Eon. Kepala si bocah mendangak, kelopak matanya berkedip heran, dan bibirnya melongo sebagian. Jauh di hadapan Eon dan Lucia, dijembatani oleh taman yang luas, adalah…
ReadmoreChapter 7: VI – When They Are Fated for an Encounter
Kala itu, langit biru tersiar di atas Huegel. Biru itu begitu cerah, begitu silau, matahari hanya sendiri tanpa adanya gulungan awan yang menemani. Bagi sebagian orang, biru itu terasa panas, dan bagi segelintir kecil dari sebagian itu, seperti contoh, koki dari kedai pai…
ReadmoreChapter 8: VII – When Suspicions Taken Over
Anak kecil itu mengerutkan dahi. Begitu pula dengan jemari yang terus mengepal erat menyembunyikan basah gelisah dari telapak tangan. Dia menelan ludah ketika melihat mereka pergi, dan dia pun berlari, saling berpisah semakin menjauh. Napasnya terengah, jantungnya berdegup kencang. Dia merasa panik tak…
ReadmoreChapter 9: VIII – When Secrets Are Laid Bare
Detik waktu kembali ke dalam hawa musim gugur. Di bawah lembayung senja yang kian memudar, di atas dedaunan kering yang berserakan mewarnai jalan, dan di tengah hingar-bingar sebuah perayaan, di dalam selimut keberlangsungan festival. “Awal mula aku penasaran tentang siapa dirimu sebenarnya, Lucia,…
ReadmoreChapter 10: IX – When the Light Shines, The Tears Dry
Tiupan angin melemaskan tubuh. Pohon yang rindang adalah payung yang sejuk. Batang kerasnya pula adalah sandaran yang nyaman. Rerumputan di tanah, permadani sang alam. Biru di langit adalah tanda senyuman. Sejauh mata memandang, damai menyapa, dan tawa menggelitik. Bunyi ketukan kayu mengisi ruang…
ReadmoreChapter 11: X – When Tears Flow Deep into The Earth
Teriakan pekik Lucia menggema ke penjuru jalanan, mengundang perhatian yang tak diinginkan. Sesaat dia melarikan diri dari kediaman Aventine, seluruh mata tertuju padanya, saling berbisik dan menggunjing, mengada-ada cerita yang tak jelas kebenarannya. Jauh di belakang si gadis, masih mengejar tak kian sampai,…
ReadmoreChapter 12: XI – When Sun Shines on The Spiral Garden
Matahari terbit dan terbenam. Bulan pun bersinar lalu menghilang. Tanggal di dalam kalender terus dicoret, hari kian berjalan. Sang waktu seolah tak peduli, tentang apa yang telah mereka alami. Tentu, tak ada makhluk hidup yang saling berucap selamat tinggal, namun jantung kota ini…
ReadmoreChapter 13: XII – When the Decision Finally Made
Si gadis memimpin langkah melewati sisi Taman Strovilorn. Dia terus bungkam, sementara si bocah juga berat bibir untuk membuka obrolan. Di tengah habitat terbuka yang lega, suasana dalam hati keduanya justru sempit sesak. Eon terus mengikuti gemerisik kaki Lucia, terlihat semakin mendekati sebuah…
ReadmoreChapter 14: XIII – When I Came to Know Her
Apakah dunia selalu seterang ini? Sejak saat Ayah membawaku keluar dari rumah, mendorongku ke sana kemari di atas kursi rodaku, aku tidak bisa benar-benar menyesuaikan mata ini untuk terbuka sepenuhnya. Selain itu, apakah manusia memang selalu seriuh ini? Aku sadar aku tengah berada…
ReadmoreChapter 15: XIV – When Nights Passed in My Solitude
Sampai saat ini, aku masih mengingatnya. Kurasa sedikit lucu, bagaimana aku bisa mengingat semua hal kecil dan remeh saat bersama anak itu, bahkan ketika aku dan dirinya telah lama tak bersua. Hmm, apa mungkin karena aku merindukannya, aku bisa mengenang hari-hariku yang dulu?…
ReadmoreChapter 16: XV – When Days Have Gone in Seasons
Hari-hari datang dan pergi silih berganti. Berkat desakan sang waktu, dia yang dahulu lebih memilih untuk bertengger di dalam sangkarnya, kini harus melangkah keluar dan mulai mengepakkan sayapnya. Bagaikan membuka lembaran kosong, kepergian salah satu orang terkasih dari hidupnya seperti menjadi katalis atas…
ReadmoreChapter 17: XVI – When the Mundane Life Continues
Simbol jantung kehidupan terbangun dan berdetak, lonceng raksasa di puncak menara akademi lantas berdentang. Nyanyian gemanya yang berayun menggetarkan dinding, merayap ke permukaan tanah, menggugah kesadaran dengan panggilan yang lantang. Langkah kaki para pelajar berbondong-bondong kembali ke pelukan ilmu pengetahuan, dan ketika gelombang…
ReadmoreChapter 18: XVII – When the Guests Arrived
Akhirnya selesai. Aku berdiri seraya mendesah lelah, mencoba melepaskan kepul uap di dalam otakku yang mendidih. Tangan ini menggenggam buku, mengetuk-ngetuknya secara vertikal di atas meja untuk merapikannya. Pelajaran hari ini dimulai dengan lancar, materi yang tersaji pun bagaikan repetisi yang sudah pernah…
ReadmoreChapter 19: XVIII – When the Duel Finally Commenced
Ellyalana Artemisia membuka jubahnya, memperlihatkan bentuk tubuh ramping yang terbalut oleh tunik abu-abu sepanjang kaki, dan celana kulit yang terkesan sederhana. Berjarak empat meter darinya, Eon Richter tengah melakukan persiapan yang sama. Dua manusia ini saling berhadapan. Terlepas dari segala kebingungan dan keterkejutan…
ReadmoreChapter 20: XIX – When the Heart Aches for a Dream
Eon menemukan kesunyian yang dia cari, terisolasi dari hingar-bingar para murid yang sedang bergairah mengayunkan pedangnya. Di bawah rimbun pohon kuno, bersama desir lembut yang dibisikkan oleh dedaunannya, Eon menyandarkan tubuh, merasakan kulit kayu yang kasar menekan punggungnya. Untuk beberapa saat, Eon terpaku…
Readmore






Lanjut!