Table of Contents
Lates Chapters
32. Imam Sempurna
Wanita adalah makhluk Tuhan yang lama bila bersiap, Angga sudah rapi dengan kemeja biru navy-nya, warna yang sama dengan gaun pilihan Amanda. Sementara Amanda, wanita itu masih merias diri di depan cermin. Dia ingin terlihat sempurna bila bersandingan dengan Angga meskipun dia tidak…
31. Semakin Manja
"Angga," panggil Amanda, lalu mendekati Angga yang sedang mencuci tangannya di westafel karena baru saja selesai makan. "Kenapa, Yang?" "Aku mau bicara, penting!" Angga mengeringkan tangannya, lalu menarik pinggang Amanda mendekat menghilangkan jarak di antara mereka.…
30. Rasa Takut
Tidur Amanda harus terusik saat dengan nakalnya Angga terus menerus menelusupkan kepalanya ke dalam ceruk leher Amanda membuat wanita itu terpaksa membuka mata padahal dirinya masih sangat mengantuk. "Pak Dirut, bisa diem nggak! Aku ngantuk mau tidur," geram Amanda. Namun,…
29. Lamaran Tak Terduga
"Sabar Yud, Amanda bukan jodoh kamu. Kalian mungkin ditakdirkan hanya sebatas teman." Yuda mendesah pelan, jujur dia sempat berharap bahwa sandiwara yang Angga ciptakan akan menjadi nyata dan akhirnya Amanda akan memilihnya dan meninggalkan lelaki itu. Namun, sayang itu hanyalah harapan dan…
28. Kado Sialan
Amanda bahagia, hubungan mereka telah diketahui banyak orang dan dia tak perlu lagi bersembunyi dari siapa pun bahwa atasannya, Dirut di perusahaan adalah suaminya sendiri. Setelah dirasa cukup tenang, Angga meminta wanita itu membersihkan diri. Dia sangat tahu bahwa Amanda sangatlah lelah dan…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: 13. Kesalahpahaman
Amanda menghentikan langkahnya ketika Yuda memanggil, meski harus menjaga jarak dengan pria itu, tetapi dia tak bisa karena pria itu adalah sahabatnya sejak lama. Yuda melangkah mendekat, meminta waktu supaya bisa berbincang dengannya. Amanda diam sejenak, melihat arloji di tangan karena…
ReadmoreChapter 2: 14. Mulai Sayang
"Minggir Yud! Aku harus kembali ke ruanganku," ucap Amanda setelah perbincangan mereka usai. Yuda bergeming enggan berubah dari posisinya yang menghalangi jalan Amanda hingga akhirnya dengan lancang lelaki itu mencium Amanda membuat wanita itu terbelalak tak percaya. Dia berniat…
ReadmoreChapter 3: 15. Membenarkan Ucapan Mama
Mendengarkan musik sambil beraktifitas membuat Amanda sedikit santai apalagi bila mengingat hubungannya dengan Angga yang telah berjalan dengan baik, dia merasa jadi wanita paling bahagia. Lelaki itu tak lagi berkata kasar atau pun berwajah dingin kepadanya yang ada hanyalah senyuman dan kemanjaannya.…
ReadmoreChapter 4: 16. Penantian Berakhir
"Amanda." Merasa namanya dipanggil dia menoleh, lalu terbelalak menatap seseorang yang telah dia rindukan selama beberapa tahun terakhir. "Nggak lupa, 'kan, sama aku?" tanya lelaki manis berlesung pipi itu sambil menatap Amanda yang kini merubah ekspresi terkejutnya…
ReadmoreChapter 5: 17. Terbongkar
"Sebentar!" teriak Amanda dari arah dapur saat rungunya mendengar suara seseorang mengetuk pintu. "Iya sebentar!" teriak Amanda lagi sambil berusaha melanjutkan masakannya yang hampir selesai. Namun, orang iseng dari balik pintu masih saja mengetuk pintu tersebut. "Astaga! Siapa,…
ReadmoreChapter 6: 18. Kemanjaan Angga
Amanda dan Angga menikmati weekend mereka di Bandung dengan hati gembira, Vero sudah menyiapkan villa khusus untuk keduanya. Katanya, sih, anggap saja kado pernikahan untuk mereka meski kadonya telat. "Ayah!" pekik gadis kecil berambut ikal itu sambil memeluk kaki…
ReadmoreChapter 7: 19. Kecemasan
Lengkap sudah semua kebahagiaan Amanda, keinginannya untuk mendapatkan cinta Angga telah terwujud. Hadirnya Vero, lelaki yang amat dia sayangi layaknya seorang kakak dan kini Fara—sahabat Amanda—wanita cantik yang selama empat tahun tak pernah dia lihat atau pun peluk. Keduanya saling melepas rindu, bercerita…
ReadmoreChapter 8: 20. Semakin Jauh
Amanda terbangun dari tidur saat rungunya menangkap suara orang memasak di dapur. Dia mengernyit dan bertanya-tanya dalam hati, bukannya dia tengah seorang diri di rumah. Dia pun tak meminta siapa pun untuk ke rumahnya di pagi buta, demi menghilangkan rasa penasaran Amanda beranjak…
ReadmoreChapter 9: 21. Cinta Buta
Cinta memang buta, tak peduli meski yang dicintai membuat luka. Selalu berpikiran yang baik-baik saja supaya tak terjadi yang tidak diinginkan. Namun, meski dia selalu berpikiran baik, tetapi nyatanya hal buruk yang dialami. Angga mulai menjauh itu menurut pemikiran Amanda, hari-harinya mulai terasa…
ReadmoreChapter 10: 22. Kecewa
"Aku mau bicara penting." Amanda menghampiri Angga yang baru saja datang dan sedang bersantai di ruang tamu. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa lelaki itu sangat kelelahan. "Sebentar, Yang. Aku masih capek." "Aku tunggu di taman belakang."…
ReadmoreChapter 11: 23. Tidak Sempurna
Melakukan sesuatu yang tak diinginkan memanglah sulit. Namun, tak ada pilihan lain selain melakukannya. Sejak ia tahu kenyataan menyedihkan itu, secara perlahan mulai menjauhi sang suami meski rasanya begitu berat. Senyuman yang selalu menghiasi bibirnya pun kini jarang terlihat. Amanda…
ReadmoreChapter 12: 24. Kabur
Semakin mendekati hari H, Angga semakin sibuk. Hampir setiap hari berangkat pagi dan pulang tengah malam dan hampir setiap malam juga Amanda selalu menangis di dalam kamarnya, ia tak mau Angganya menikah lagi, tetapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Meminta bercerai kepada…
ReadmoreChapter 13: 25. Janji Palsu
Terlalu banyak menangis membuat Amanda merasa lelah dan akhirnya tertidur. Ia kembali terbangun ketika mendengar namanya dipanggil berulangkali. Amanda mengernyit, merasa asing dengan tempatnya saat ini—taman yang begitu sejuk dan indah dengan banyaknya tanaman hijau. "Amanda, sini Sayang!" …
ReadmoreChapter 14: 26. Pernikahan Angga
"Bohong! Kurangku apa, Angga? Aku kurang cantik atau kurang seksi sampai kamu nyari wanita lain? Ayo, jawab!" lontar Amanda membuat Angga mendesah pelan. Bingung harus meyakinkan bagaimana lagi. Angga menarik Amanda ke dalam pelukannya, menenangkan wanita itu yang mulai menangis…
ReadmoreChapter 15: 27. Anniversary
Acara demi acara berjalan dengan lancar, Angga sibuk menemui para kolega perusahaan yang hadir hari itu. Dalam hati Amanda memaki karena merasa iri ini bukanlah pesta untuk pernikahannya dengan Angga melainkan pesta lelaki itu bersama istri barunya. Dia juga melihat semuanya, tatapan kagum…
ReadmoreChapter 16: 28. Kado Sialan
Amanda bahagia, hubungan mereka telah diketahui banyak orang dan dia tak perlu lagi bersembunyi dari siapa pun bahwa atasannya, Dirut di perusahaan adalah suaminya sendiri. Setelah dirasa cukup tenang, Angga meminta wanita itu membersihkan diri. Dia sangat tahu bahwa Amanda sangatlah lelah dan…
ReadmoreChapter 17: 29. Lamaran Tak Terduga
"Sabar Yud, Amanda bukan jodoh kamu. Kalian mungkin ditakdirkan hanya sebatas teman." Yuda mendesah pelan, jujur dia sempat berharap bahwa sandiwara yang Angga ciptakan akan menjadi nyata dan akhirnya Amanda akan memilihnya dan meninggalkan lelaki itu. Namun, sayang itu hanyalah harapan dan…
ReadmoreChapter 18: 30. Rasa Takut
Tidur Amanda harus terusik saat dengan nakalnya Angga terus menerus menelusupkan kepalanya ke dalam ceruk leher Amanda membuat wanita itu terpaksa membuka mata padahal dirinya masih sangat mengantuk. "Pak Dirut, bisa diem nggak! Aku ngantuk mau tidur," geram Amanda. Namun,…
ReadmoreChapter 19: 31. Semakin Manja
"Angga," panggil Amanda, lalu mendekati Angga yang sedang mencuci tangannya di westafel karena baru saja selesai makan. "Kenapa, Yang?" "Aku mau bicara, penting!" Angga mengeringkan tangannya, lalu menarik pinggang Amanda mendekat menghilangkan jarak di antara mereka.…
ReadmoreChapter 20: 32. Imam Sempurna
Wanita adalah makhluk Tuhan yang lama bila bersiap, Angga sudah rapi dengan kemeja biru navy-nya, warna yang sama dengan gaun pilihan Amanda. Sementara Amanda, wanita itu masih merias diri di depan cermin. Dia ingin terlihat sempurna bila bersandingan dengan Angga meskipun dia tidak…
Readmore





