Table of Contents
Lates Chapters
Bab 9. Hidup Bahagia
Beberapa hari berlalu sejak Imas kembali ke sisi Baskoro. Hidupnya kini terasa seperti mimpi yang tak pernah berani ia bayangkan sebelumnya. Dahulu, ia terbiasa dengan kerasnya kehidupan, setiap hari bergelut dengan kekurangan, mengais rezeki di tengah kemiskinan yang membuatnya nyaris kehilangan harapan. …
Bab 8. Kembalinya Imas
Beberapa waktu berlalu sejak Baskoro mulai merasakan nikmatnya hidup sebagai orang kaya. Rumah kontrakan kecil yang dulunya kumuh kini terlihat lebih terawat. Pagar bambu yang dulu reot telah diganti dengan pagar besi sederhana. Baskoro bahkan membeli sepeda motor baru yang kinu terparkir rapi…
Bab 7. Kaya Mendadak
Dalam perjalanan pulang, langkah Baskoro terasa lebih berat dari sebelumnya. Meski besek penuh uang ada di tangannya, tapi kata-kata Mbah Romo terus bergema di kepalanya. "Jangan pernah berhenti. Jangan pernah mengingkari janji." Setibanya di rumah, Baskoro segera mengunci pintu, memastikan jika tak…
Bab 6. Ritual
Malam semakin larut, dan hawa dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Di tengah kegelapan malam, Baskoro berjalan menyusuri gelap dan sempitnya jalan yang ditumbuhi semak belukar. “Berhenti!” titah Mbah Romo setelah mereka tiba di tengah-tengah hutan. Tak ada sinar yang menerangi, kecuali…
Bab 5. Gadai Sukmo
Baskoro menahan napas ketika darahnya mengalir dari jari yang baru saja Mbah Romo iris. Darah merah pekat itu menetes masuk ke dalam wadah batu tua, bercampur dengan cairan hitam pekat yang berbau anyir, menyengat hidungnya. Wadah itu bukan sembarang wadah, terbuat dari…
Comments
Satu pemikiran pada “Pesugihan Sate Gagak”
Tinggalkan komentar
9 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Awal Penderitaan
Suara langkah kaki Baskoro menggema di lorong kantor yang sudah mulai sepi. Karyawan-karyawan lain tampak sibuk berkemas, beberapa lainnya masih berbincang ringan sambil melirik ke arah jam, menunggu waktu pulang tiba. Baskoro berjalan dengan langkah berat menuju ruang manajer, tempat panggilan yang…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Pertengkaran
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Rumah kecil di pinggir kota, yang Baskoro sewa dengan segala keterbatasan, kini terasa lebih kosong dari sebelumnya. Baskoro baru saja pulang. Setiap langkahnya terasa berat ketika menjejak ke lantai yang mulai terasa usang. Tubuhnya gontai,…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Perginya Imas
Malam itu, hujan turun deras mengguyur atap rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Baskoro duduk di kursi reyot yang terletak di ruang tamu yang lebih mirip gudang. Pikirannya melayang, kosong, namun penuh beban. Suara rintik hujan yang biasanya menenangkan, kini tak lagi memberi…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Pergi ke Dukun
“Pesugihan!” Heru berbisik pelan, seolah takut didengar orang lain. “Heh, jangan gila kamu, Her!” sergah Baskoro. “Baskoro, ayolah,” ucap Heru lagi serah menyodorkan gelas minuman pada Baskoro. Sedang Baskoro sendiri terdiam, melihat air yang bergoyang di dalam gelas itu, sebelum…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Gadai Sukmo
Baskoro menahan napas ketika darahnya mengalir dari jari yang baru saja Mbah Romo iris. Darah merah pekat itu menetes masuk ke dalam wadah batu tua, bercampur dengan cairan hitam pekat yang berbau anyir, menyengat hidungnya. Wadah itu bukan sembarang wadah, terbuat dari…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Ritual
Malam semakin larut, dan hawa dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Di tengah kegelapan malam, Baskoro berjalan menyusuri gelap dan sempitnya jalan yang ditumbuhi semak belukar. “Berhenti!” titah Mbah Romo setelah mereka tiba di tengah-tengah hutan. Tak ada sinar yang menerangi, kecuali…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Kaya Mendadak
Dalam perjalanan pulang, langkah Baskoro terasa lebih berat dari sebelumnya. Meski besek penuh uang ada di tangannya, tapi kata-kata Mbah Romo terus bergema di kepalanya. "Jangan pernah berhenti. Jangan pernah mengingkari janji." Setibanya di rumah, Baskoro segera mengunci pintu, memastikan jika tak…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Kembalinya Imas
Beberapa waktu berlalu sejak Baskoro mulai merasakan nikmatnya hidup sebagai orang kaya. Rumah kontrakan kecil yang dulunya kumuh kini terlihat lebih terawat. Pagar bambu yang dulu reot telah diganti dengan pagar besi sederhana. Baskoro bahkan membeli sepeda motor baru yang kinu terparkir rapi…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Hidup Bahagia
Beberapa hari berlalu sejak Imas kembali ke sisi Baskoro. Hidupnya kini terasa seperti mimpi yang tak pernah berani ia bayangkan sebelumnya. Dahulu, ia terbiasa dengan kerasnya kehidupan, setiap hari bergelut dengan kekurangan, mengais rezeki di tengah kemiskinan yang membuatnya nyaris kehilangan harapan. …
Readmore






Baca cerita serunya, jangan lupa untuk dukung author ya teman-teman. Tinggalkan jejak dan komentar sebagai tanda sayang… 😍