Table of Contents
Lates Chapters
Bab 23
Hampir satu bulan setelah meninggalnya Sasti, Pak Dandi datang membawa berita bahwa kematian Sasti itu murni bunuh diri. Rupanya selama beberapa waktu, Sasti tidak benar-benar meminum obat-obatnya melainkan disimpannya ke dalam saku baju atau celananya, dan Sasti meminum obat-obatan tersebut untuk mengakhiri hidupnya…
Bab 22
"Sastiiiii ... apa yang terjadi, Nak? Kamu kenapa?" Rahayu histeris melihat keadaan Sasti yang tampak sangat kacau itu. "Mah, awas! Itu dokter mau menangani Sasti! Mama agak minggir ke sini!" Roy menarik bahu istrinya dan langsung ditepis dengan kasar oleh istrinya. "MAH!" hardik…
Bab 21
Kring! Kring! Dering suara telepon kembali terdengar, Bik Muna yang mendengar deringan telepon itu bergegas menuju ke ruang keluarga untuk mengangkat gagang telepon agar berhenti berdering. [Halo. Assalamualaikum. Rumah keluarga Hendrawan di sini, ada yang bisa dibantu?] tanya Bik Muna kepada penelepon di…
Bab 20
Dengan tergesa, Kania menyapukan make-up tipis dan natural ke wajahnya yang memang sudah cantik itu. Tidak sampai sepuluh menit, Kania sudah siap berangkat ke kantor. "Bu, Kania berangkat ke kantor dulu. Terima kasih untuk semuanya, Bu. I love you. Assalamualaikum," pamit Kania kepada…
Bab 19
Ayah dan ibu Kania saling pandang lalu bersama-sama menggelengkan kepala, tanda mereka berdua tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Kania. Kania menghela nafas sebelum kembali meneruskan ceritanya, "dulu ... almarhum kakek pernah bilang pada Kania bila kepala kita kejatuhan cicak, maka kita akan…
Comments
Satu pemikiran pada “Santet Pengantin”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1
Di dalam kamarnya yang hanya diterangi dengan sebuah lilin, Kania mengambil boneka yang sudah tertempel foto Rasti. Tanpa ampun, Kania menusuk bagian perut boneka itu berkali-kali. "Rasakan itu, Rasti! Arga lebih pantas untukku!" ucap Kania dengan tawa bahagia. Sejenak Kania terdiam mengingat kenangan…
ReadmoreChapter 2: Bab 2
Sementara itu di dalam kamar sebuah rumah di kawasan Cempaka Putih, tampak Kania masih terus menusuk boneka Rasti dengan senyum jahatnya. 'Kamu harus mati, Rasti! Kamu harus merasakan pembalasanku! Aku akan terus mengejarmu, ke neraka sekalipun,' desis Kania. Di kejauhan suara lolongan anjing…
ReadmoreChapter 3: Bab 3
Malam harinya usai menyelesaikan semua rangkaian kegiatan, Arga pun mengantarkan Kania, tunangannya pulang. "Yang, aku pulang dulu ya. Habis ini, kamu langsung mandi terus istirahat. Jangan begadang, kita udah cukup capek hari ini. Besok pagi aku jemput kamu seperti biasa, begitu selesai bimbingan…
ReadmoreChapter 4: Bab 4
Sementara itu di sebuah rumah mewah di kawasan Permata Hijau, Arga baru saja keluar dari kamar mandi ketika terdengar suara dering dari ponselnya. Sedikit tergesa, Arga mencari-cari di mana ponselnya tadi disimpan. "Ish, mana lagi tu ponsel! Pakai acara ngumpet segala lagi!" gerutu…
ReadmoreChapter 5: Bab 5
Di tempat lain, di sebuah Pub tampak seorang gadis cantik duduk seorang diri menikmati kepulan asap yang lolos dari bibir seksinya. Dalam diam, gadis itu teringat kembali pada sebuah lembaran kenangan yang masih sangat terasa menyakitkan untuknya. "Perempuan itu melabrakku, Kak. Dia menyebutku…
ReadmoreChapter 6: Bab 6
Senyum Rasti mengembang seketika, saat sesosok pemuda itu mendatangi dan mencium kedua belah pipinya bergantian. Pemuda tampan dengan tinggi 189 itu adalah Andra, sahabat Rasti dari kecil. Rasti merasa sangat antusias dengan kehadiran Andra, karena hanya Andra yang bisa membuatnya melupakan lukanya di…
ReadmoreChapter 7: Bab 7
Masa Sekarang Satu setengah jam kemudian, Arga dan Rasti sampai di rumah sakit terdekat. Tergopoh-gopoh, Arga berlari kesana kemari sambil berteriak meminta brankar untuk mengangkat tubuh istrinya yang sudah tidak berdaya itu. "Pak, tolong saya minta brankar! Keadaan istri saya sudah sangat kritis,…
ReadmoreChapter 8: Bab 8
Sementara itu di dalam ruang IGD, para dokter jaga, perawat, bidan sibuk dengan urusannya masing-masing, begitu juga dengan dokter, perawat dan bidan yang menangani Rasti. "Sus, kita harus operasi sekarang karena pasien mengalami banyak kehilangan darah. Tolong kamu siapkan ruang OK dan periksa…
ReadmoreChapter 9: Bab 9
Trash! Kuku-kuku panjang itu berhasil merobek sesuatu di dalam sana dan senyum lebar, lebih tepatnya seringaian karena yang tampak di dalam mulut wanita itu adalah gigi-gigi runcing yang siap menyobek apa pun menjadi serpihan. Dengan sekali tarikan keras, tangan itu keluar dengan membawa…
ReadmoreChapter 10: Bab 10
Jadi anak saya meninggal, dok. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, terima kasih untuk usaha yang sudah dokter dan tim berikan untuk anak dan istri saya. Saya sangat menghargainya, saya permisi mau ke bagian pemulasaraan jenazah dulu, dok" pamit Arga kepada dokter Indri. Dengan…
ReadmoreChapter 11: Bab 11
"Arga, papa dan mama minta maaf karena datang terlambat. Sebenarnya kami tadi langsung berangkat setelah menerima telepon darimu, tapi nggak tahu kenapa mobil papa tiba-tiba saja mogok dan nggak mau dinyalakan lagi mesinnya. Jadi kami terpaksa harus menunggu tukang bengkel langganan kita untuk…
ReadmoreChapter 12: Bab 12
Sementara itu di kediaman Indra, papa Arga, para tetangga mulai berdatangan untuk membantu proses pemakaman anak Arga. Beberapa ibu, membantu memasak dan menyiapkan air minum serta camilan untuk para pelayat dan keluarga beserta beberapa penggali makam. Sementara itu para bapak bersiap untuk menyalatkan…
ReadmoreChapter 13: Bab 13
"Iya! Itu dia! Yang saya lihat mungkin sama persis dengan yang bapak lihat sekarang. Gedebog pisang!" tandas Pak Johan. Pak Candra mengangguk-angguk dengan wajah pucat pasi, dia masih tidak mengerti bagaimana mungkin jenazah bisa tiba-tiba saja berubah menjadi gedebog pisang atau memang dari…
ReadmoreChapter 14: Bab 14
Mereka bertiga berdiskusi bagaimana sebaiknya, karena sangat tidak mungkin menyampaikan hal ini kepada keluarga besar Arga yang sedang berkabung saat ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk mendatangi Ustadz Hasyim, ustadz yang merangkap sebagai salah satu imam di masjid di itu. Setibanya di kediaman ustadz,…
ReadmoreChapter 15: Bab 15
Kania menyeringai puas, dia merasa begitu bahagia melihat penderitaan Arga dan Rasti sudah di mulai. Dia menimang boneka jerami berbalut kafan dengan foto Rasti masih menempel erat di badannya. Bibirnya tersenyum smirk, membayangkan kehancuran Rasti, sahabat yang telah tega menusuknya dari belakang. 'Ini…
ReadmoreChapter 16: Bab 16
Citra memahami perasaan suaminya, sejak Irvan mengetahui perihal kehancuran rumah tangga putri mereka yang akhirnya membuatnya terkena stroke, Irvan seakan tidak ada keinginan untuk hidup karena bagi Irvan putri semata wayangnya itu adalah sebuah permata rapuh yang tidak boleh dihancurkan siapa pun juga. …
ReadmoreChapter 17: Bab 17
Kania melirik pantulan wajahnya di layar ponsel yang masih digenggamnya, d noia melihat ada sesosok wanita tengah berdiri tepat di belakangnya, wanita itu tampak mengulurkan tangan kirinya yang pucat pasi dengan kuku-kuku runcingnya ingin memegang bahu kirinya. Deg! Detak jantung Kania terasa berhenti…
ReadmoreChapter 18: Bab 18
Tiba-tiba angin dingin berhembus di dalam kamar Kania yang tertutup rapat, membuat tirai kamar dan hiasan yang bergantung di dinding kamarnya bergoyang-goyang tanpa ada yang menyentuh. Nyala api di lilin yang dinyalakan Kania pun meliuk-liuk seakan hendak padam, cermin besar di dinding kamarnya…
ReadmoreChapter 19: Bab 19
Ayah dan ibu Kania saling pandang lalu bersama-sama menggelengkan kepala, tanda mereka berdua tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Kania. Kania menghela nafas sebelum kembali meneruskan ceritanya, "dulu ... almarhum kakek pernah bilang pada Kania bila kepala kita kejatuhan cicak, maka kita akan…
ReadmoreChapter 20: Bab 20
Dengan tergesa, Kania menyapukan make-up tipis dan natural ke wajahnya yang memang sudah cantik itu. Tidak sampai sepuluh menit, Kania sudah siap berangkat ke kantor. "Bu, Kania berangkat ke kantor dulu. Terima kasih untuk semuanya, Bu. I love you. Assalamualaikum," pamit Kania kepada…
Readmore






Welcome to my book, My beloved readers.
Happy reading 😍