Table of Contents
Lates Chapters
Ilusi Duniawi
Di tengah gemerlapnya dunia, aku terpaku dalam sebuah ilusi. Cinta... yang digadang-gadang sebagai pelipur lara, kerap menjebakku dalam bayangan semu. Aku mencarinya di sudut-sudut kesenangan fana, berharap menemukan kedamaian yang abadi. Namun, yang kutemukan hanyalah kekecewaan dan kehampaan. Dalam perjalanan ini, aku menyadari…
Goresan Tinta
Di kanvas putih malam, Aku melukis rindu, Dengan kuas imajinasi, Aku menggoreskan kisah kita. Setiap titik dan garis, Menari di atas lembaran, Menggambarkan detik-detik indah, Yang tak terlupakan dalam ingatan. Aku menari dengan kata-kata, Seperti pena yang menari di atas kertas,…
Pembaringan Terakhir
Aku tak melihat apapun selain gundukan tanah itu. Dia yang kini telah tertutup oleh debu dan terabaikan. Dia kini telah terasingkan dan terlihat begitu usang. Aku terdiam, berdiri sendiri di sini. Mengingat semua kenangan kelam yang telah dia sematkan. Kini, aku tenggelam dalam…
Muara Sunyi
Pada malam yang terlalu sibuk untuk merasakan pahitnya rindu, aku lebih memilih menimang pilu dengan pecahan tangis yang kerap melukai keheningan. Kesepian itu kian terasa merepotkan, ketika pikiranku berkelana kesana kemari, mengejar layang-layang bertuliskan angan, terbang memutuskan ikatan yang erat digenggam cinta.…
Waktu
Fajar, untuknya yang biasa pergi tanpa kabar Pagi, untuknya yang kini telah pergi Siang, untuknya yang sudah tak memiliki kasih sayang Senja, untuknya yang tak lagi tersenyum manja Dan malam, untuknya yang kini semakin diam Waktu, untuknya yang tak ingin lagi bertemu …
Comments
8 Chapters
Chapter 1: Yang Tak Kau Tahu
Hari itu mentari datang menyapa. Memberikan sebuah senyum dan sapa manja. Dia datang seolah menawanku dengan sejuta pesona. Aku kira Itu adalah sebuah teguran bahagia, namun ternyata itu pembawa pesan duka. Duka yang bekas menjadi sebuah luka, dan membuat raga menjadi…
ReadmoreChapter 2: Ratapan Hati
Ku tatap dirimu wahai sang bahar Kilaumu tak lagi berpendar Hilang tanpa sinar Tak lagi tampak kekar Ku menengadah Menatap langit yang sedang berbenah Awan hitam berarak searah Mengacuhkanku yang hanya diam berpasrah Ku lantunkan senandung sedih Dengan nada yang teramat…
ReadmoreChapter 3: Setitik Mentari
Di ujung timur kulihat mata sang fajar mulai terlihat Semburat merah mulai menggeliat Langit perlahan menjadi cerah tanpa sekat Biru, memenuhi layar angkasa tanpa sekat Di antara hangatnya pagi yang mulai menerangi hari Ada hati yang kini berseri-seri Bunga layu mulai segar…
ReadmoreChapter 4: Waktu
Fajar, untuknya yang biasa pergi tanpa kabar Pagi, untuknya yang kini telah pergi Siang, untuknya yang sudah tak memiliki kasih sayang Senja, untuknya yang tak lagi tersenyum manja Dan malam, untuknya yang kini semakin diam Waktu, untuknya yang tak ingin lagi bertemu …
ReadmoreChapter 5: Muara Sunyi
Pada malam yang terlalu sibuk untuk merasakan pahitnya rindu, aku lebih memilih menimang pilu dengan pecahan tangis yang kerap melukai keheningan. Kesepian itu kian terasa merepotkan, ketika pikiranku berkelana kesana kemari, mengejar layang-layang bertuliskan angan, terbang memutuskan ikatan yang erat digenggam cinta.…
ReadmoreChapter 6: Pembaringan Terakhir
Aku tak melihat apapun selain gundukan tanah itu. Dia yang kini telah tertutup oleh debu dan terabaikan. Dia kini telah terasingkan dan terlihat begitu usang. Aku terdiam, berdiri sendiri di sini. Mengingat semua kenangan kelam yang telah dia sematkan. Kini, aku tenggelam dalam…
ReadmoreChapter 7: Goresan Tinta
Di kanvas putih malam, Aku melukis rindu, Dengan kuas imajinasi, Aku menggoreskan kisah kita. Setiap titik dan garis, Menari di atas lembaran, Menggambarkan detik-detik indah, Yang tak terlupakan dalam ingatan. Aku menari dengan kata-kata, Seperti pena yang menari di atas kertas,…
ReadmoreChapter 8: Ilusi Duniawi
Di tengah gemerlapnya dunia, aku terpaku dalam sebuah ilusi. Cinta... yang digadang-gadang sebagai pelipur lara, kerap menjebakku dalam bayangan semu. Aku mencarinya di sudut-sudut kesenangan fana, berharap menemukan kedamaian yang abadi. Namun, yang kutemukan hanyalah kekecewaan dan kehampaan. Dalam perjalanan ini, aku menyadari…
Readmore





