Table of Contents
- Chapter 1: Bab: 1 Kebahagiaan
- Chapter 2: Bab: 2 Makan malam
- Chapter 3: Bab: 3 Cobaan datang
- Chapter 4: Bab: 4 Pilihan sulit
- Chapter 5: Bab: 5 Kehidupan baru
- Chapter 6: Bab: 6 Pindah jalur
- Chapter 7: Bab: 7 masuk ke dunia gelap
- Chapter 8: Bab 8
- Chapter 9: Bab: 9 misi pertama yang sesungguhnya
- Chapter 10: Bab: 10 bukan lagi bocah
Lates Chapters
Epilog: luka terakhir
Malam itu gelap. Bukan hanya karena bulan tertutup awan, tapi karena hati Sintensy sendiri menolak cahaya. Ia berdiri di pinggir sebuah desa yang kini berubah. Bukan lagi desa kecil dengan sawah dan jalan tanah seperti yang ia ingat waktu kecil. Sudah ada…
Bab: 30 Bayangan di balik peluru
Malam itu angin membawa aroma logam dan tanah basah, saat Sintensy duduk sendirian di atap bangunan tua dekat stasiun kereta terbengkalai. Di depannya, layar tablet tua yang berhasil ia hidupkan kembali menampilkan satu nama yang berulang kali muncul di jaringan komunikasi antara kelompok…
Bab: 29 Tulang untuk tulang
Langkah Sintensy menyusuri lorong-lorong sempit kota bawah tanah, tempat di mana cahaya lampu menggantung seperti sisa-sisa harapan. Sorot matanya tajam, dingin, tapi tak lagi terbakar oleh amarah tak terarah. Kini dia tahu siapa musuhnya. Bukan lagi bayangan masa lalu yang kabur, tapi wajah…
Bab: 28 Bayangan yang tak terjawab
Langkah Sintensy membawanya kembali ke reruntuhan desa tempat ia dibesarkan. Tanah itu kini ditumbuhi ilalang liar, rumah-rumah tinggal puing. Hanya beberapa fondasi yang masih terlihat—jejak hening dari tragedi yang mengubah hidupnya. Ia berjalan pelan, menyusuri bekas jalan tanah, melewati tempat ia dulu…
Bab: 27 Dalam kabut tanpa jalan pulang
Beberapa hari berlalu. Atau mungkin seminggu? Sintensy tak tahu pasti. Waktu terasa seperti potongan-potongan kabur yang melayang dan jatuh tanpa bunyi. Ia tinggal di rumah kayu peninggalan Pak Gino, yang dulu dijadikan tempat rehat dan menyusun rencana. Sekarang, rumah itu hanya tempat…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Bab: 1 Kebahagiaan
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan hutan lebat, hiduplah seorang bocah bernama Sintensy. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, tapi penuh kehangatan. Ayahnya, seorang pekerja keras, sering mengajak Sintensy ke ladang, mengajarinya cara menanam padi, mengenali jenis-jenis tanaman, dan menangkap belut di…
ReadmoreChapter 2: Bab: 2 Makan malam
Suatu malam, keluarga Sintensy mengadakan pesta kecil. Tidak ada alasan khusus, hanya karena ibunya sedang senang dan ingin memasak lebih banyak dari biasanya. Beberapa tetangga datang, membawa makanan tambahan. Ayahnya membawa gitar tua, mulai memetik senar dan menyanyikan lagu-lagu desa yang sudah akrab…
ReadmoreChapter 3: Bab: 3 Cobaan datang
Langit sore itu terlihat begitu damai, awan putih melayang pelan di atas desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah dan hutan. Anak-anak masih bermain di lapangan tanah, orang-orang tua bercengkerama di teras rumah, dan beberapa ibu sedang menjemur padi di halaman. Namun, tak ada…
ReadmoreChapter 4: Bab: 4 Pilihan sulit
Sintensy terus berlari menembus hutan. Ranting-ranting tajam menggores lengannya, tapi ia tak peduli. Kakinya hampir tak sanggup lagi menopang tubuhnya, tapi ketakutan memberinya kekuatan untuk terus bergerak. Ketika suara bentrokan semakin jauh di belakang, ia akhirnya berhenti di balik…
ReadmoreChapter 5: Bab: 5 Kehidupan baru
Sintensy berdiri di atas bukit kecil di pinggiran hutan, menatap desa yang dulu menjadi rumahnya. Namun, yang ia lihat bukan lagi desa yang hangat dan damai. Rumah-rumah hancur, dinding-dindingnya hangus terbakar, dan jalan-jalan yang dulu dipenuhi tawa kini sunyi. …
ReadmoreChapter 6: Bab: 6 Pindah jalur
Matahari mulai naik saat Sintensy membuka mata. Tidurnya tidak nyenyak, tapi setidaknya ia berhasil bertahan semalam. Hutan di sekitarnya terasa sunyi, hanya terdengar suara burung dan gemerisik daun yang tertiup angin Perutnya kembali berontak. Ia harus menemukan makanan yang lebih layak…
ReadmoreChapter 7: Bab: 7 masuk ke dunia gelap
Keesokan harinya, Sintensy menemui pria berjas hitam itu di sebuah gudang kosong di pinggiran kota. Tempat itu tampak kumuh, dengan beberapa orang berbadan besar berjaga di sekitarnya. “Datang juga, ya?” Pria itu menyeringai. “Namaku Raka. Mulai sekarang, kau kerja untukku.” Sintensy…
ReadmoreChapter 8: Bab 8
Setelah malam itu, Sintensy semakin serius dalam latihannya. Ia bukan lagi sekadar anak liar yang ingin bertahan hidup—ia ingin menguasai dunia bawah dengan caranya sendiri. Pak Gino mulai memberinya tugas yang lebih sulit. Tidak lagi sekadar mencopet atau menyelinap, kini ia harus…
ReadmoreChapter 9: Bab: 9 misi pertama yang sesungguhnya
Setelah pertemuan dengan Ronald, Sintensy menerima sebuah amplop berisi informasi targetnya. Nama, kebiasaan, tempat tinggal, hingga rutinitas hariannya sudah tercatat rapi. Targetnya adalah seorang pria bernama Rendra, pemilik jaringan bisnis yang menjadi duri dalam daging bagi Ronald. Rendra bukan orang sembarangan—ia…
ReadmoreChapter 10: Bab: 10 bukan lagi bocah
Setelah berbulan-bulan latihan, akhirnya hari itu tiba—hari di mana Sintensy akan membuktikan bahwa ia bukan lagi bocah jalanan, melainkan pemain dalam dunia bawah. Pak Gino menyerahkan sebuah amplop hitam. ”Buka,” katanya. Sintensy membuka amplop itu dan menemukan foto seorang…
ReadmoreChapter 11: Bab: 11 unjuk diri
Beberapa hari setelah insiden di bar, suasana di tempat Pak Gino menjadi lebih serius. Sintensy merasa ada sesuatu yang berbeda dalam cara gurunya memandangnya—seperti sedang mengukur sejauh mana kemampuannya berkembang. Malam itu, setelah makan malam yang singkat, Pak Gino memanggilnya ke…
ReadmoreChapter 12: Bab: 12 menghadapi taufan
Malam itu, Sintensy duduk di sebuah kamar apartemen kecil yang disediakan oleh Pak Gino. Ia memandangi foto Taufan Surya di tangannya. Seorang pria berkacamata dengan senyum tipis. Terlihat ramah, tapi dari cerita yang ia dengar, pria ini jauh lebih berbahaya dari kelihatannya.…
ReadmoreChapter 13: Bab: 13 semakin dalam ke dunia gelap
Setelah kejadian dengan Arel, geng mereka semakin kuat. Nama Sintensy mulai dikenal luas di dunia bawah. Ia bukan lagi anak jalanan yang berkelana tanpa arah, melainkan sosok yang ditakuti dan dihormati. Namun, semakin tinggi seseorang naik, semakin banyak yang ingin menjatuhkannya. …
ReadmoreChapter 14: Bab: 14 menguasai permainan
Setelah percakapannya dengan pria akuntan itu, Sintensy kembali duduk di meja Pak Gino. Pria tua itu tersenyum puas. “Bagus,” katanya. “Kau sudah mengerti bagaimana memanfaatkan situasi.” Sintensy menyadari sesuatu. “Jadi ini bukan hanya soal membaca orang, tapi juga soal memberi mereka…
ReadmoreChapter 15: Bab: 15 perang tanpa wajah
Perang Tanpa Wajah Malam itu, angin dingin menyusup ke celah-celah jendela tempat persembunyian mereka. Sintensy memegang amplop hitam itu, membaca kembali tulisan di dalamnya. "Kami tahu siapa kalian." Pak Gino berdiri di sudut ruangan, menghisap rokoknya dengan tenang. “Sang Bayangan…
ReadmoreChapter 16: Bab: 16 Dalam jebakan bayangan
Sintensy dan Pak Gino menyusuri gang-gang gelap di distrik selatan kota, tempat jaringan informasi dunia bawah berdenyut tanpa henti. Mereka tahu, semakin dalam mereka menggali, semakin besar risiko yang mengintai. Pak Gino melangkah dengan hati-hati, tatapannya menyapu setiap sudut jalan. "Kalau Victor…
ReadmoreChapter 17: Bab: 17 hanya sebentar
Serangan pria itu begitu cepat hingga Sintensy hampir tak bisa mengikutinya dengan mata. Ayora, bagaimanapun, telah mengantisipasi. Ia menangkis serangan pertama dengan pisaunya, memutar tubuh untuk menghindari tendangan yang menyusul. Pak Gino mundur, matanya tajam menganalisis pergerakan lawan. "Dia bukan orang biasa,"…
ReadmoreChapter 18: Bab: 18 Dansa di tengah kekacauan
Sintensy dan Pak Gino melangkah lebih dalam, menyusuri lorong gelap di sisi gudang. Teriakan dan suara tembakan masih menggema, memberi mereka cukup waktu untuk menyusup tanpa diketahui. "Siap?" tanya Pak Gino pelan. Sintensy mengangguk. Mereka bergerak cepat. Pak Gino membuka pintu…
ReadmoreChapter 19: Bab: 19 Bayangan ancaman baru
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Setelah pria misterius itu pergi, hanya suara langkah Pak Gino dan napas berat Sintensy yang terdengar di gudang usang itu. Lampu neon yang menggantung di langit-langit berkedip pelan, seolah memberi pertanda bahwa sesuatu telah berubah. …
ReadmoreChapter 20: Bab: 20 Bayangan yang memburu bayangan
Hari-hari berikutnya diisi dengan latihan yang tak biasa. Bukan lagi sekadar bertarung atau bertahan hidup, tapi menyusup ke dalam jaringan musuh, memahami bagaimana mereka berpikir, dan bahkan menciptakan kebingungan di antara mereka sendiri. Pak Gino memperkenalkan metode baru: simulasi psikologis. Setiap pagi,…
Readmore





