Table of Contents
- Chapter 1: Bab. 1. Pertaruhan Demi Masa Depan Anak Bangsa
- Chapter 2: Bab. 2. Titik Terang yang Diselimuti Awan Gelap
- Chapter 3: Bab. 3. Penentuan di Kantor Dinas
- Chapter 4: Bab. 4. Kabar Buruk dan Pertarungan Sang Tetesan Air
- Chapter 5: Bab.5. Jejak Hitam
- Chapter 6: Bab. 6. Batu yang Mulai Berlubang
- Chapter 7: Bab 7.Bayangan di Balik Data
- Chapter 8: Bab 8. Kursi Kosong dan Panggilan Baru
- Chapter 9: Bab 9. Bab. Koneksi Emas, Jaringan dan Pengaruh di Balik Layar
- Chapter 10: Bab 10. Ironi di Ujung Tombak Nasib Operator Sekolah
Lates Chapters
Bab 30. Panggung Sandiwara di Yayasan Matahari
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden ruang rapat Yayasan Matahari terasa lebih menyengat dari biasanya. Randi duduk di ujung meja oval, memandangi layar proyektor yang menampilkan status "Sinkronisasi Berhasil" untuk tiga unit sekolah sekaligus: SMP, SMA, dan SMK Bintang Timur.…
Bab 29. Di bawah Naungan Matahari
Hari-hari berikutnya membawa Randi ke tengah pusaran pengakuan. Kemenangan Bintang Timur melawan ancaman penutupan telah menjadi desas-desus manis di kalangan yayasan. Tak lama setelah Randi menerima amanah dari SMP Angkasa, kabar itu pun sampai ke telinga Pak Nawar, Ketua Yayasan Matahari yang menaungi…
Bab 28. Matahari Terbit Di Atas Puing
Setelah perpisahan dingin dengan Pak Arman, beberapa hari terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca bagi Randi. Pengangguran bukanlah bagian dari rencana yang ia susun bersama Bu Yuda. Namun, Randi adalah pria yang teruji oleh badai; ia tak berlama-lama meratapi nasib. Integritas yang…
Bab 27. Harga Sebuah Kebenaran
Setelah malam yang sunyi itu, di mana kehangatan Bu Yuda menjadi satu-satunya perlindungan Randi dari badai ancaman Pak Arman, Randi tahu keputusan sudah tak bisa dihindari. Ia memilih integritas, ia memilih ketulusan yang ia janjikan pada Yuda, dan ia memilih ketenangan jiwanya. Keesokan…
Bab 26. Sekolah Sebagai Arena Politik
Strategi Randi yang disarankan oleh Bu Yuda, bermain sabar, mengurangi visibilitas, dan mengalihkan kredit berjalan cukup efektif selama beberapa minggu. Ketegangan dengan Pak Arman mereda, namun hanya sesaat. Ketegasan kepala sekolah itu kembali meninggi, didorong oleh ambisi politik yang semakin menggebu. Suatu pagi,…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Bab. 1. Pertaruhan Demi Masa Depan Anak Bangsa
Randi menyeka keringat di pelipisnya. Bukan karena terik matahari, melainkan karena panasnya ruang kelas X IPS. Randi, seorang lulusan Pendidikan Sosiologi yang cerdas, tahu betul cara membuat materi sekering mungkin terdengar menarik. Namun, kecerdasannya tidak berbanding lurus dengan stabilitas keuangannya. Selama 18 tahun,…
ReadmoreChapter 2: Bab. 2. Titik Terang yang Diselimuti Awan Gelap
Selama sebulan penuh, Randi membenamkan diri dalam tumpukan kode, server, dan prosedur administratif. Ia bagaikan seorang arkeolog yang menggali reruntuhan kuno, mencari rahasia yang tersembunyi di balik sistem Dapodik (Data Pokok Pendidikan) yang rumit. Malam-malamnya dipenuhi cahaya biru monitor. Ia tak hanya menghafal,…
ReadmoreChapter 3: Bab. 3. Penentuan di Kantor Dinas
Randi tiba di Kantor Dinas Pendidikan Kota dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan kemeja rapi yang sengaja ia siapkan untuk memberi kesan formal dan meyakinkan. Setelah melalui proses administrasi yang cukup berbelit, ia akhirnya dipersilakan masuk ke ruang Kepala Bidang (Kabid) SMP. Ruangan…
ReadmoreChapter 4: Bab. 4. Kabar Buruk dan Pertarungan Sang Tetesan Air
Randi kembali ke SMP Bintang Timur menjelang sore, tubuhnya terasa lelah, tetapi di balik kemejanya, ada ketegasan yang mendidih. Langkahnya di koridor yang sepi itu terdengar seperti genderang perang yang baru saja dimulai. Ia langsung menuju ruangannya, dimana Pak Arman sudah menunggu, menggenggam…
ReadmoreChapter 5: Bab.5. Jejak Hitam
Malam sunyi, Randi tidak lagi berkutat dengan data tetapi kini telah berubah menjadi sang akuntan dadakan Dua hari Randi bekerja dalam kesunyian yang mematikan di ruang administrasi SMP Bintang Timur. Setelah berhasil membersihkan data Dapodik, kini ia berhadapan dengan labirin angka dan…
ReadmoreChapter 6: Bab. 6. Batu yang Mulai Berlubang
Setelah menyerahkan LPJ Dana BOS Tahap 1 yang bersih dan mendapatkan tanda terima resmi, Randi kembali ke SMP Bintang Timur. Ia tahu, secara administratif, ia telah mengikat tangan Pak Kabid. Semua data vital yang menjadi alasan penutupan (Dapodik dan LPJ) kini sudah valid.…
ReadmoreChapter 7: Bab 7.Bayangan di Balik Data
Lorong-lorong SMP Bintang Timur terasa menyesakkan, bukan oleh debu, melainkan oleh beban tak kasat mata yang kini dipikul Randi. Di matanya, layar monitor memancarkan cahaya dingin yang beradu dengan keringat di pelipisnya. Bukan sekadar data, melainkan labirin digital berisi nama-nama, nilai, dan kode-kode…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Kursi Kosong dan Panggilan Baru
Bukan hanya Dapodik yang takluk di tangan Randi. Setelah Dapodik selesai ia kuasai setiap validasi dan sinkronisasi kini berjalan nyaris sempurna, Randi mengalihkan fokusnya pada sistem keuangan yang tak kalah ruwet, ARKAS (Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah). Jika Dapodik adalah jantung, maka…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Bab. Koneksi Emas, Jaringan dan Pengaruh di Balik Layar
Setelah sukses menunjukkan wajah baru SMP Bintang Timur di hadapan para Kepala Sekolah MKKS, pengakuan terhadap Randi tidak hanya datang dari tingkat kepemimpinan. Di balik layar, di dunia yang penuh spreadsheet dan server, para operator sekolah mulai membicarakan namanya. Randi dikenal bukan hanya…
ReadmoreChapter 10: Bab 10. Ironi di Ujung Tombak Nasib Operator Sekolah
Keberhasilan Randi sebagai Plt Kepala Sekolah tidak serta merta menghapus ingatannya sebagai operator yang berjuang. Justru, posisi barunya memberinya perspektif yang lebih jelas dan menyakitkan tentang ironi yang terjadi di balik layar pendidikan swasta. Melalui pertemanannya dengan Pak Jaya dan operator-operator lain, Randi…
ReadmoreChapter 11: Bab. 11. Nafas Kedua dan Operasi Citra
Randi duduk di mejanya, menatap dashboard Dapodik yang kini berwarna hijau, menandakan validitas sempurna. Ia telah menang di semua lini internal. Dan penutupan SMP Bintang Timur pun akhirnya dibatalkan. Sekolah tersebut dianggap bersih dan dapat beroperasi kembali. Inilah hasil perjuangan para seluruh stakeholder…
ReadmoreChapter 12: Bab. 12. Janji di Ujung Perpisahan
Setelah malam-malam panjang Randi membagi energinya antara merapikan administrasi sekolah dan menjaga Arumi, keadaan kekasihnya memasuki fase kritis. Kanker Rahim itu tidak mau berkompromi. Seminggu setelah pencairan Dana BOS Tahap 2, Randi mendapati dirinya duduk di samping Arumi, menggenggam tangan yang kini semakin…
ReadmoreChapter 13: Bab 13.Senandung Pelangi yang Menguning
Setelah kepergian Arumi, ruang duka yang Randi dekap perlahan diusik oleh riuh desakan. Godaan untuk melangkah maju datang bukan hanya dari sudut sekolahnya, melainkan merambat melintasi batas, bersemi di sekolah Bu Sara. Mereka, para “mak comblang” tak kasat mata, seolah bersekutu menyatukan Randi…
ReadmoreChapter 14: Bab. 14. Antara Pusara dan Dermaga
Randi tidak memilih melamar dengan tergesa-gesa. Ia memilih jalan yang lebih sulit dan konsisten. Membuktikan keseriusannya melalui tindakan dan kehadiran yang tak pernah absen, sebuah strategi untuk meluluhkan hati Bu Yuda yang menuntut kesucian niat, bukan sekadar kata. "Yuda butuh bukti. Dia takut…
ReadmoreChapter 15: Bab 15. Tembok Itu Telah Runtuh
Minggu sore itu, semesta seperti bersekutu. Grup Pattasa berencana menjenguk salah satu anak dari anggotanya yang sedang sakit, dan seperti biasa, Randi menjadi pengantar utama Bu Yuda. Kehadiran Randi kini terasa begitu alami, tak ada lagi yang mempertanyakan atau menyindir, kecuali sesekali tatapan…
ReadmoreChapter 16: Bab 16. Badai di Gerbang Janji
Keesokan harinya, setelah janji yang Randi ucapkan di depan Grup Pattasa, ia merasa seringan bulu. Kebahagiaan Bu Yuda yang terlihat samar, namun nyata, adalah hadiah terindah atas segala perjuangannya. Randi siap mengatur pertemuan dengan Kak Syarif; ia sudah merencanakan bagaimana membicarakan hal ini…
ReadmoreChapter 17: Bab 17. Ikrar Di Kampung Halaman
Berkat uluran tangan Bu Yuda dan dukungan moral yang ia berikan, Randi mampu menata pikirannya. Uang tunai dari Bu Yuda memang sangat membantu, namun yang jauh lebih berharga adalah keyakinan bahwa ada seseorang yang tulus bersedia berdiri di sampingnya. Masalah pernikahan Bayu, putra…
ReadmoreChapter 18: Bab 18. Membuka Hati Keluarga
Satu bulan telah berlalu sejak pernikahan Bayu. Kehidupan di rumah Randi perlahan kembali normal. Bayu dan Putri, meskipun masih remaja, memulai hidup baru dengan bimbingan Randi dan keluarga. Beban Randi berkurang drastis, namun ia tahu, ada satu janji yang menggantung dan harus segera…
ReadmoreChapter 19: Bab 19. Menepati Janji Suci
Malam itu, setelah berhasil menghubungi Kak Syarif, Randi merasa perlu berbicara langsung dengan Bu Yuda, bukan hanya untuk memberitahu tanggal, tetapi untuk mengucapkan terima kasih yang tertunda atas ketulusannya. Randi menghubungi Bu Yuda. “Assalamualaikum, Bu Yuda. Maaf mengganggu malam-malam.” Suara Bu Yuda terdengar…
ReadmoreChapter 20: Bab 20. Janji Yang Di Sempurnakan
Tiga bulan setelah lamaran di Panakkukang, Randi dan Bu Yuda mengikat janji suci. Berbeda dengan harapan banyak orang, Bu Yuda memilih melangsungkan resepsi pernikahan di rumah peninggalan orang tuanya sebuah rumah tua yang memiliki nilai sejarah dan sentimental mendalam bagi Bu Yuda. Rumah…
Readmore





