Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1: Sketsa Yang Belum Usai
- Chapter 2: Bab 2: Garis Yang Terputus
- Chapter 3: Bab 3: Jejak yang Disembunyikan
- Chapter 4: Bab 4: Rahasia Di Balik Rumah Sakit
- Chapter 5: Bab 5: Warna Yang Menipu
- Chapter 6: Bab 6: Goresan Yang Tak Kasat Mata
- Chapter 7: Bab 7: Sketsa Ketujuh dan Bayangan Masa Lalu
- Chapter 8: Bab 8: Topeng yang Mulai Retak
- Chapter 9: Bab 9: Gema Di Balik Dinding
- Chapter 10: Bab 10: Sketsa Kesepuluh
Lates Chapters
Bab 20: (Final) Keabadian Goresan
Hari ke-20. Galeri Nasional Jakarta berubah jadi benteng, penuh petugas keamanan dan ratusan wartawan dari berbagai penjuru. Pameran tunggal tangan emas ini udah bukan sekadar pameran seni sekarang, ini kayak panggung pengadilan paling terbuka buat skandal terbesar tahun ini. Di ruang…
Bab 19: Penebusan Di tengah Badai
Pagi itu, hari ke-19. Semua stasiun TV, semua lini media sosial penuh dengan rekaman skandal dari Hotel Grand Majesty semalam. Nama Reno Pratama dan keluarganya benar-benar hancur. Polisi sudah mulai menyelidiki dugaan pencucian uang dan pengancaman, semua bukti terpampang jelas di layar…
Bab 18: Perjamuan Di Ujung Tanduk
Lampu kristal raksasa di ballroom Hotel Grand Majesty memancarkan cahaya yang membuat mata perih, dan buat Damian, rasanya seperti ribuan jarum menusuk retina. Dari balik tirai hitam di ruang kontrol yang sempit, Damian berdiri kaku. Seragam pelayan hotel yang kebesaran menggantung di…
Bab 17: Runtuhnya Menara Gading
Malam terakhir sebelum badai besar. Studio rahasia Damian sekarang sunyi, rasanya seperti napas saja enggan lewat di dalamnya. Damian duduk di lantai, bersandar lemas pada kaki kanvas ke-17 yang catnya belum kering. Tangannya gemetar, terbalut perban putih menutupi luka gesekan kuas, juga…
Bab 16: Sang Penjagal Kehormatan
Udara di studio rahasia itu benar-benar menusuk tulang. Dingin, seperti semuanya berhenti bergerak. Damian berdiri di depan kanvas ke-16. Cuma pakai kaus dalam hitam yang sudah belepotan cat. Tangannya kaku, otot-otot lengan menegang tiap kali dia menghujamkan kuas ke kanvas. Raut wajahnya…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1: Sketsa Yang Belum Usai
Bab 1: Sketsa yang Belum Usai Jakarta malam itu terasa aneh. Langit penuh awan gelap, angin datang, kadang pelan, kadang kencang. Bau tanah basah ikut terbawa, bikin suasana makin berat. Rasanya, sebentar lagi hujan deras bakal jatuh di rooftop gedung tua ini.…
ReadmoreChapter 2: Bab 2: Garis Yang Terputus
Pagi di penthouse mewah Damian selalu terasa dingin. Dari luar, tempat itu tampak megah dengan dinding kaca tinggi yang memamerkan Jakarta, tapi buat Damian, ini cuma penjara kaca dan dia terkurung di dalamnya. Ada perasaan sesak di dadanya, campur aduk dengan…
ReadmoreChapter 3: Bab 3: Jejak yang Disembunyikan
Matahari baru saja tenggelam. Langit Jakarta masih menyisakan sisa-sisa cahaya jingga yang muram. Di studio kecilnya, Damian terpaku di depan sketsa kedua. Dia nggak bisa mengalihkan pandangan dari gambar mata yang menangis itu. Di pupilnya, ada bayangan gedung tinggi. Itu jelas-jelas…
ReadmoreChapter 4: Bab 4: Rahasia Di Balik Rumah Sakit
Pagi itu, langit Jakarta tampak muram, seolah-olah ikut merasakan gelisahnya Damian. Gerimis tipis menari di kaca jendela penthouse, menetes perlahan seperti air mata yang tak mau berhenti. Damian berdiri di depan cermin, membenahi kemeja hitam mahal yang menempel di tubuhnya. …
ReadmoreChapter 5: Bab 5: Warna Yang Menipu
Studio Damian nggak lagi sunyi kayak biasanya. Bau cat minyak yang dulu dia benci soalnya ngingetin sama masa-masa nggak punya duit, sekarang malah jadi napas sehari-harinya. Di tengah ruangan, ada kanvas raksasa yang berdiri tegak. Ia sudah siap, nunggu giliran dipamerin di…
ReadmoreChapter 6: Bab 6: Goresan Yang Tak Kasat Mata
Pagi hari keenam pengerjaan sketsa ini rasanya beda. Ada ketegangan yang nggak biasa. Damian bahkan belum mau pegang kuas. Dia berdiri di balkon penthouse, matanya ngelihatin Jakarta yang macetnya nggak habis-habis. Tangan kirinya megang undangan pameran yang baru dicetak. Nama Damian…
ReadmoreChapter 7: Bab 7: Sketsa Ketujuh dan Bayangan Masa Lalu
Pagi di hari ketujuh rasanya berat, lebih dari biasanya. Damian duduk terpaku di depan kanvas kosong, tapi pikirannya terus diganggu suara tangis Lintang semalam. Di meja, sketsa wajah Lintang masih tergeletak. Setiap kali matanya jatuh ke situ, dia langsung ingat kalau ada…
ReadmoreChapter 8: Bab 8: Topeng yang Mulai Retak
Pagi itu, Jakarta benar-benar muram. Langit penuh awan kelabu, dan semuanya terasa berat. Damian masih kepikiran soal mati lampu semalam. Sketsa Persimpangan Hati tetap terpajang di sudut studio, terus menegaskan satu hal, perasaannya nggak lagi lurus-lurus saja ke Ayu. “Damian, hari ini…
ReadmoreChapter 9: Bab 9: Gema Di Balik Dinding
Malam itu di studio, dinginnya menusuk, lebih dari biasanya. Detik jam dinding berdentam keras di kepala Damian, seperti palu yang tak henti-henti. Di layar ponselnya yang sudah retak, pesan dari Ayu masih menyala. Pesan itu terasa seperti teriakan minta tolong nggak bisa…
ReadmoreChapter 10: Bab 10: Sketsa Kesepuluh
Hari pertama dari sembilan hari terakhir sebelum hari H. Studio sudah nggak mirip studio lagi lebih kayak barak pengungsian. Kaleng cat di mana-mana, kertas-kertas sketsa nempel di dinding, dan meja Lintang penuh sama bau kopi hitam yang pekat banget. Damian belum…
ReadmoreChapter 11: Bab 11: Benang Kusut
Pagi hari kedelapan sebelum hari pameran. Damian terbangun dengan punggung kaku, tapi genggaman tangan Lintang semalam masih menyisakan kehangatan di jemarinya. Ia menatap Lintang yang baru saja terbangun dan langsung sibuk dengan ponselnya. "Ada apa, Lin?" tanya Damian, suaranya serak. …
ReadmoreChapter 12: Bab 12: Di Balik Topeng
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Galeri Goresan Cahaya berubah total malam ini artistik banget, tapi ada nuansa dingin dan misterius yang susah dijelaskan. Lampu-lampunya redup, cuma menyorot langsung ke sketsa-sketsa Damian yang sekarang dipajang di bingkai mewah. Di ruang…
ReadmoreChapter 13: Bab 13: Retakan Di Dinding Kaca
Pagi itu, setelah Private Viewing, studio Damian terasa kayak sisa-sisa perang. Cat kering menempel di lantai, puntung rokok yang biasanya hampir nggak pernah dia sentuh sekarang jadi pelariannya, dan kertas-kertas yang berserakan cuma jadi saksi betapa ruwetnya kepala Damian. Dia belum tidur…
ReadmoreChapter 14: Bab 14: Simfoni Kegilaan
Studio Damian sudah nggak mirip tempat berkarya lagi. Sekarang, suasananya berubah total lebih seperti markas rahasia daripada ruang seniman. Di atas meja, peta wilayah Puncak, Bogor, terbuka lebar. Di sebelahnya, sketsa-sketsa setengah jadi berserakan, seolah menunggu giliran untuk dilirik lagi. Damian…
ReadmoreChapter 15: Bab 15: Retak Yang Tak Bersuara
Hujan badai mengguyur Jakarta, seolah langit ikut merasakan kegelisahan yang menyelimuti studio rahasia Damian. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu pijar kuning temaram, Damian tampak seperti hantu. Pakaiannya ternoda cat, rambutnya berantakan, dan tulang pipinya semakin menonjol. Namun, matanya mata itu…
ReadmoreChapter 16: Bab 16: Sang Penjagal Kehormatan
Udara di studio rahasia itu benar-benar menusuk tulang. Dingin, seperti semuanya berhenti bergerak. Damian berdiri di depan kanvas ke-16. Cuma pakai kaus dalam hitam yang sudah belepotan cat. Tangannya kaku, otot-otot lengan menegang tiap kali dia menghujamkan kuas ke kanvas. Raut wajahnya…
ReadmoreChapter 17: Bab 17: Runtuhnya Menara Gading
Malam terakhir sebelum badai besar. Studio rahasia Damian sekarang sunyi, rasanya seperti napas saja enggan lewat di dalamnya. Damian duduk di lantai, bersandar lemas pada kaki kanvas ke-17 yang catnya belum kering. Tangannya gemetar, terbalut perban putih menutupi luka gesekan kuas, juga…
ReadmoreChapter 18: Bab 18: Perjamuan Di Ujung Tanduk
Lampu kristal raksasa di ballroom Hotel Grand Majesty memancarkan cahaya yang membuat mata perih, dan buat Damian, rasanya seperti ribuan jarum menusuk retina. Dari balik tirai hitam di ruang kontrol yang sempit, Damian berdiri kaku. Seragam pelayan hotel yang kebesaran menggantung di…
ReadmoreChapter 19: Bab 19: Penebusan Di tengah Badai
Pagi itu, hari ke-19. Semua stasiun TV, semua lini media sosial penuh dengan rekaman skandal dari Hotel Grand Majesty semalam. Nama Reno Pratama dan keluarganya benar-benar hancur. Polisi sudah mulai menyelidiki dugaan pencucian uang dan pengancaman, semua bukti terpampang jelas di layar…
ReadmoreChapter 20: Bab 20: (Final) Keabadian Goresan
Hari ke-20. Galeri Nasional Jakarta berubah jadi benteng, penuh petugas keamanan dan ratusan wartawan dari berbagai penjuru. Pameran tunggal tangan emas ini udah bukan sekadar pameran seni sekarang, ini kayak panggung pengadilan paling terbuka buat skandal terbesar tahun ini. Di ruang…
Readmore





