Table of Contents
Lates Chapters
30 (end)
[embed]https://youtu.be/iLlLLBuuvVU?si=A1we1kaLuanXFjSj[/embed] Javas mengulurkan tangan ke arah Masha. Gadis itu memaksakan diri untuk berdiri walau kedua kakinya masih lemas seperti jeli. Javas tersenyum memandang satu persatu bocah remaja yang masih menggunakan seragam SMA itu. Mengingatkannya pada dia dan sahabatnya bertahun-tahun yang lalu. ”Terimakasih, ya…
29
Masha meremas ujung jari tangannya, sesekali juga mengigit kuku-kukunya, kemudian mendongak menatap jalanan dan membuang napas setelahnya. Itu berulang kali ia lakukan sambil berkali-kali memanjatkan doa. Masha memutuskan kembali ke halte bus diikuti Kale yang dari tadi berdiri diam di dekatnya. Gadis itu…
28
Senyum Masha menguar saat melihat Brian membuang tongkat, balik badan, dan berlari begitu saja. Apa ini? Apa dia terlalu percaya diri karena berpikir Brian benar-benar menyukainya dan akan pulang bersamanya? Dengan perasaan campur aduk Masha terduduk, menunduk, dan mendongak saat merasa ada seseorang…
27
Sudah seminggu semenjak Brian pulang dari sumah sakit. Keadaan pria itu sudah baik-baik saja selain, kakinya yang masih menggunakan penyangga serta luka-luka bekas goresan yang juga belum memudar sepenuhnya. Pelaku-pelaku itu, papanya sempat memberi peringatan ke keluarga Brian dan tentu saja itu tidak…
26
"Kalian pacaran?" tanya Ara saat hanya ada dia dan Brian saja di sana. Gadis itu memang sengaja menyuruh kedua orang tuanya agar mengistirahatkan diri di rumah karena sejak kepulangan mereka, keduanya belum istirahat sepenuhnya. Brian masih menunggu untuk diobservasi selama satu hari sebelum…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: 1
"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, yang ada hannyalah sesuatu yang disebut takdir di masa depan.... " " Sudah makan, tadi...mmm, sekarang? Lagi keluar sama teman-teman. Iya, nanti Brian segera pulang. Iya, Brian hati-hati...oleh-oleh? Enggak usah...ok, terserah." Brian sedikit mengigil. Tidak biasanya…
ReadmoreChapter 2: 2
[embed]https://youtu.be/m3DZsBw5bnE?si=OgxG74f0bAuKGodb[/embed] ”Brian, tahu kehilangan itu sakit. Namun, rasa sakit itu tidak benar-benar bisa dijelaskan setelah ia mengalaminya….” ”Turut berduka cita ya, Bri.” ”Kamu yang sabar, ya?” ”Kalau ada apa-apa hubungi, Om saja.” Brian yang mendengar itu, hanya bisa diam sambil sekedar…
ReadmoreChapter 3: 3
"Dewasa itu pasti! Siap tidak siap." "Paman sebenarnya ndak enak harus mengatakan ini saat jenazah Andita dan Bastian baru dikebumikan. Namun, perusahaan juga harus tetap dijalankan. Ribuan karyawan nasibnya bergantung pada perusahaan ini. Dan kamu, Paman yakin belum cukup mumpuni, jika harus…
ReadmoreChapter 4: 4
"Ada kalanya, terkadang akan ada hal baru, situasi baru, bertemu orang baru, dan kalau beruntung, adik baru, misalnya." Apakah ini nasib sial? Nasib baik? Nasib baik dan sial? Ara tahu matanya berhari-berhari butuh sekali penyegaran setelah melihat berlembar-lembar soal ujian semesternya yang…
ReadmoreChapter 5: 5
"Semua punya porsi sedih masing-masing, dan itu tidaklah salah." Brian terbangun dari tidurnya. Bibirnya berkedut bersusah payah menahan erangan. Tidak ... dia tidak boleh menangis. Rasanya sakit sekali. Pria itu meremas dadanya sambil sesekali memukulinya. Ini mimpi yang kesekian kali. Mimpi ini…
ReadmoreChapter 6: 6
"Benci adalah rasa suka yang tertunda" "Cepat Ara keburu berangkat papamu, entar!" Ara meringis, walau hanya dari panggilan telepon saja, suara sang mama masih terdengar begitu menyeramkannya saat masuk ke dalam telinganya. "Iya Mama ... Ara turun ini bentar lagi," balasnya…
ReadmoreChapter 7: 7
"Uda punya pacar belum?" tanya siswi berponi. "Kenapa pindah? Biar bisa move-on dari pacar lama, ya?" lagi, kali ini giliran teman satu bangku siswi berponi itu yang bertanya. "Kok baru pindah sekarang, sih? Sudah lama tahu menunggu jodoh, gue." "Hey ... ganteng gitu…
ReadmoreChapter 8: 8
"Anak sial." Brian memejamkan matanya erat-erat ketika mengingat pesan yang baru diterimanya. Pesan dari anonim, namun dia tahu pasti siapa yang mengirimkannya. Dua bulan sudah berlalu, namun rasa sakitnya masih belum juga sirna. Apalagi pesan-pesan yang diterimanya akhir-akhir ini seperti alarm untuk jangan…
ReadmoreChapter 9: 9
"Pria itu enggak baik." "Gue tahu." Brian menoleh ke arah spion. "Cewek aneh." Ara terkekeh. Gadis itu menatap langit yang sudah berhiasi bintang-bintang. Motoran malam-malam seperti ini ternyata menyenangkan juga. Dia mulai memejamkan mata menikmati momen langka ini. Mencoba melupakan kejadian tadi saat…
ReadmoreChapter 10: 10
"Nilai ulangan kalian sudah Ibu berikan. Untuk yang remedial, bisa menemui Ibu sepulang sekolah besok di kantor. Brian sekalian ajarin teman-temannya yang lain, ya? Khususnya Randy, dari sepuluh soal hanya satu yang kamu jawab benar. Itu saja caranya juga salah ... nyontek ya…
ReadmoreChapter 11: 11
"Hey, ayo! Jadi pulang, enggak?" Kale menyadarkan Brian dari lamunannya tentang Leo baru saja. Brian akhirnya pulang, sengaja ia membelakangi teman-temannya untuk melirik Leo yang ternyata ikut juga keluar gerbang sekolah dengan motornya. Sempat melewati halte bus yang berjarak lima ratusan meter dari…
ReadmoreChapter 12: 12
Brian berjalan di trotoar yang sepi. Sekolahnya memang agak masuk ke dalam dan agak jauh dari jalan raya. Namun, siswa yang tidak mengendarai kendaraan pribadi, masih tetap bisa nyaman berjalan di sana karena banyaknya pepohonan rindang berjejer di sepanjang jalan. Brian memang sengaja…
ReadmoreChapter 13: 13
Ara mematikan televisi lalu menyalakan lagi. Mematikannya, kemudian mengulanginya untuk menyalakan kembali. Begitu terus, sebab dirinya bosan setengah mati. Seharusnya dia sudah berada di rumah teman-temannya, namun karena pesan dari sang mama dia harus memastikan adik barunya ada di rumah sebelum ia pergi.…
ReadmoreChapter 14: 14
"Gila gila gila!" Kenapa dia malah mengusap kepala Ara alih-alih menghindar dengan segera? Brian memukul-pukul kepalanya. Otaknya perlu direparasi, sepertinya. Oh, apa jangan-jangan akibat pukulan yang didapat tadi, mengakibatkan dirinya mengalami cedera kepala? Tunggu, kenapa Ara tadi mendekatkan wajahnya? Oh, mungkin gadis itu…
ReadmoreChapter 15: 15
"Hidup dan pilihan, seolah manusia tidak memiliki kebebasan" Leo memegang lengan Masha. Menatap sahabatnya itu dengan pikiran yang saling beradu. "Lo, yakin, Sha? Gak mau cari solusi lain dulu, gitu? Bisa nggak sih lo tunggu gue dulu, buat cari pinjaman? Gue ada…
ReadmoreChapter 16: 16
"Kenapa lo mau?" Brian menatap Leo. "Kenapa gue harus enggak mau?" Leo mendadak menawarkan hal aneh yang pada awalnya, Brian sulit mempercayainya. Bahkan, berulang kali dia memastikan apakah tawaran itu nyata atau hanya akal-akalan Leo untuk mengerjainya. Ini seorang Masha. Melihat gadis itu…
ReadmoreChapter 17: 17
"Kenapa muka lo, Bri?" "Kenapa?" "Lah, ditanya juga!" "Pria tidak pernah bercerita." "Tapi diam-diam beol di celana." Kale sontak tertawa sampai menunduk memegangi perut, mendengar keasbunan kedua temannya. "Habis berantem ya lo, Bri? Gue kira anak pinter…
ReadmoreChapter 18: 18
Masha menyandarkan kepala pada salah satu pohon dari berbagai pohon yang ditanam ditata rapi di sekitaran pemakaman. Seperti pemakaman pada umumnya, pemakaman ini juga cukup sepi. Masha menatap lekat satu gundukan yang masih banyak bunga-bunga segar di atasnya. Iya, itu adalah tempat bersemayamnya…
ReadmoreChapter 19: 19
"Mau ke mana?" tanya Ara kepada Brian. Begitu pria itu terlihat berpenampilan lebih rapi dari biasanya. Namun, bukannya menjawab, pria itu malah mengabaikannya. "Heh! Diajak bicara juga!" "Kamu sendiri mau ke mana?" Ara berdecak. "Di mana-mana itu pertanyaan balasnya adalah jawaban, bukan malah…
ReadmoreChapter 20: 20
"Tumben telat, Bri?" todong Randy begitu melihat Brian baru meletakkan tasnya. "Ngantuk banget gue, Rand." Semalam Brian baru bisa tidur saat cengkaraman Ara mulai mengendor. Entah itu pukul berapa. Yang jelas saat terbangun, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Dia hanya cuci…
Readmore





