Table of Contents
Lates Chapters
Aku mencintaimu
Rasa takut kini menyelusup ke diriku. Dengan test pack di tangan, aku menghela napas untuk ke sekian kali. Mataku tak beranjak dari wadah yang menampung air kemihku. Tanganku gemetar setiap kali mencelupkan alat yang ada di ujung jari ini. Alhasil, mataku kembali terpejam…
Percobaan pertama
Beberapa bulan terlewati tanpa kendala. Pengobatanku lancar dan syukurnya Tuhan mudahkan. Hari ini jadwal kontrol kembali dan dadaku berdegup lebih kencang dibanding sebelumnya. Biasanya hanya pemeriksaan rutin melihat perkembangan pengobatanku, tapi kali ini kami akan memutuskan menjalani program kehamilan seperti apa setelah mioma…
Semakin resah
Satu bulan terlewati sejak Dimas melontarkan ajakan untuk memeriksa kesehatan dan mencoba bayi tabung. Bukan aku tak mau, hanya saja setelah mendengar ajakannya, isi kepalaku semakin riuh dengan banyaknya pertanyaan yang entah harus dijawab siapa. Akan tetapi, pagi tadi tiba-tiba aku berubah pikiran…
Kita akan baik-baik saja!
Nyatanya aku masih belum sepenuhnya tenang. Omongan negatif terus berdatangan ke telinga. Entah itu langsung mau pun tidak. Hal itu membuat suasana hatiku kian memburuk belakangan ini. Dimas sepertinya menyadari itu tak ayal ikut pusing memikirkan diri ini, terlebih dia terkadang seperti makhluk…
Teman Ngopi Selamanya
“Nanti kita makan siang bareng ya,” pinta Dimas. Pagi ini kami sudah sama-sama rapi untuk berangkat ke kantor masing-masing dan terkadang kami memang akan makan siang bersama untuk menjaga kebersamaan kami. Mengingat kami sama-sama penerus perusahaan dan sebelum aku hamil lalu punya anak,…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Kenangan Menyakitkan
“Sah, alhamdulillah.” Suara beberapa tamu di luar sana terdengar hingga ke dalam kamar pengantin tempat kami berada. Mataku melirik pada pengantin wanita yang saat ini sedang berpelukan haru dengan kakaknya. Dia memakai kebaya putih tulang dengan bawahan kain batik motif truntum. Motif batik…
ReadmoreChapter 2: Masa lalu yang terulang
Tadi pagi aku terbangun dengan keadaan yang mengerikan. Mata bengkak dengan sisa dandanan yang sudah berantakan di seluruh wajah. Semalam ketika sampai rumah, aku sudah tak punya tenaga lagi untuk membersihkan diri karena telah kuhabiskan untuk menangis. Kini, memijit pelan pangkal hidungku, merasakan…
ReadmoreChapter 3: Menikmati kesendirian
Kopi pertama pagi ini, hitam, pahit dan penuh ampas. Seperti penolakan yang tak pernah terucap dan baru terlihat saat manis habis tercecap. Aku mencintai kopi. Awalnya karena terpaksa saat harus menghadapi beratnya menjalani semester akhir, tapi berujung pada hati yang terbuai dalam kenyamanan…
ReadmoreChapter 4: Fakta yang tertunda
Seminggu berlalu, aku memutuskan untuk kembali beraktivitas. Dimulai dengan olahraga pagi. Dengan mengenakan sport bra dilapisi dengan kaos crop top putih dan celana pendek setengah paha, aku mulai memasang airpod lalu melalukan pemanasan. Aku menyeka keringat yang keluar dari tubuhku. Rasanya lebih segar…
ReadmoreChapter 5: Pria kulkas
Aku menyesap kopi dengan perlahan, menikmati pekatnya rasa pahit yang berbalut kelembutan susu dan sedikit manis. Meninggalkan kepenatan dunia dan kesedihan dengan hadirnya kenyamanan yang tercipta. Kepahitan kopi seolah menyihir untuk memasuki dunia lain, di mana waktu bisa kuhentikan sesaat. Ketika sesapan demi…
ReadmoreChapter 6: Cinta Dan Keluarga
Akhir pekan ini, aku memutuskan untuk pulang ke rumah Mama. Sudah sejak kejadian itu aku tak ke sana dan menghindar dari segala macam komunikasi. Papa bahkan sampai datang ke kantor, namun tentu saja aku kabur dan bersembunyi di divisi lain. Aku mengerti Papa…
ReadmoreChapter 7: Papa Kecewa
Sangat jarang sekali rasanya melihat papa marah hingga wajahnya memerah, kulit Papa-ku putih dengan perawakan indo. Ya, papa adalah campuran Aceh dengan Inggris sedangkan mama adalah orang Bandung asli. Terbayang, ‘kan, wajahku seperti apa. Dan beliau termasuk orang yang tenang, bahkan di saat…
ReadmoreChapter 8: Pilihan Sulit
“Dan apa pun keputusan Samsudin, papa harap kamu tetap angkat kaki dari sana.” Tegas Papa. Kata-kata papa semalam masih terus berputar di kepalaku. Ucapan itu seolah menyihir untuk memberikan keputusan cepat dan menggiring pemikiranku untuk mengikuti kemauan papa agar menjadi penerus perusahaannya. Tadi…
ReadmoreChapter 9: Tempat Kerja Baru
Pak Burhan terdengar sedikit kecewa ketika aku menghubunginya dan meminta maaf karena tidak bisa ikut bergabung di perusahaan keponakannya. “Baiklah, saya tidak akan memaksa. Saya harap jika kamu tidak nyaman di tempat baru dan ingin pindah kerja, jangan sungkan untuk menghubungi saya. Kapan…
ReadmoreChapter 10: Teman Ngopi
“Hai, gadis kopi dingin.” Tegur seorang pria yang tiba-tiba saja sudah duduk di seberang mejaku sambil tersenyum geli. “Kita ketemu di sini.” Aku mendongak dan terkekeh sendiri, bagaimana bisa aku bertemu dengannya di sini. “Kopi aku masih hangat kok, aku bahkan baru beberapa…
ReadmoreChapter 11: Kencan
[Aku akan sampai 30 menit lagi.] Sekali lagi aku membaca pesan masuk dari Dimas beberapa menit lalu. Ini akhir pekan dan kemarin dia tiba-tiba mengajakku keluar jalan-jalan hari ini. Sikapnya yang selalu melakukan dan bicara hal spontan kadang membuatku kaget dan geli dalam…
ReadmoreChapter 12: Aku Harus Bahagia
Makan malam tempo hari adalah hari terakhir aku bertemu Dimas. Setelahnya hanya menerima makan siang yang dia kirim ke ruangan lalu sore harinya aku menghindar dengan sekuat tenaga sampai hari ini. Tak terhitung panggilan juga pesan masuk yang sengaja tak terjawab. Dan meski…
ReadmoreChapter 13: Gagal Move On
Pagi ini suasana hatiku cukup baik. Setelah kemarin sore puas menghabiskan waktu dengan Dimas dan pillow talk bersama Mama, aku semakin yakin untuk bisa mulai membuka hatiku kembali. Sudah cukup beberapa bulan ini aku berusaha berdamai dengan diri sendiri, kini saatnya aku mulai…
ReadmoreChapter 14: Kamu Bajingan!
Nafasku sedikit tercekat. Berada dalam gedung bekas kebakaran setelah beberapa jam dalam ruangan tertutup, membuat dada sedikit sesak dan pusing perlahan datang menusuk kepalaku. Ardi... Pria itu mengambil tas beserta isinya dari tubuhku. Membuang kunci yang dia kantongi, lalu mematikan ponselku. ‘Sial... sial...…
ReadmoreChapter 15: Berhenti Jadi Sahabat
Aku tersenyum manis melihat salah seorang perempuan berbaju merah dengan ikatan rambut ponytail datang menghampiriku. Riasan natural menambah kadar kecantikannya ditambah dengan perawakan tubuh semampai dan langsing juga kulitnya yang putih membuat dirinya makin terlihat sempurna. Kala itu adalah pertemuan pertama kami, di…
ReadmoreChapter 16: Berdamai dengan rasa sakit
Hari ini aku sudah boleh pulang setelah menginap tiga malam di rumah sakit. Tadinya mama memaksa untuk pulang ke rumahnya, tapi aku butuh waktu sendiri. Sudah cukup beberapa hari kemarin aku menahan sakit dan memberikan senyum terbaik. Kali ini aku butuh memberikan tubuh…
ReadmoreChapter 17: Mulai pendekatan
Aku berputar sekali lagi di depan cermin. Memastikan gaun biru tua dengan lengan sesiku dan panjang selutut ini sudah terlihat rapi dan pas membalut tubuhku. Mendekat sedikit lalu mengecek juga pulasan natural yang terlihat sempurna. “Kenapa gugup banget, sih,” gumamku sendiri. Semalam Dimas…
ReadmoreChapter 18: Aku, kamu dan kopi
Kuhirup pelan aroma kopi susu yang begitu manis menenangkan. Cangkir yang disodorkan Dimas saat ini masih mengeluarkan uap panas dan menambah sempurna sore ini dengan pemandangan pepohonan, jejeran rumah dan kendaraan berlalu lalang di depan sana. Iya. Selepas makan siang tadi, Dimas mengajakku…
ReadmoreChapter 19: Senyum Dimas, canduku!
“Mas, anak kita enggak yang mendadak gila, 'kan, setelah pulang dari puncak?!” cibir mama membuat aku menoleh dan memberengut kesal. “Bisa jadi, sih.” Tambah papa sekarang yang ikut menggoda tanpa melepaskan tatapannya dari ponsel. “Apaan sih, Papa Mama, enggak ada kerjaan ya.” Kesalku. …
ReadmoreChapter 20: Tertangkap basah
Sesuai janji kami semalam, pagi ini kami memang sarapan bersama. Meski awalnya Dimas ingin sarapan di luar kantor, namun aku memaksa dengan alasan waktu yang mepet. Jadi, kami harus bersyukur dengan kopi dan roti. “Benar kamu cuma mau roti dan kopi? Tak ingin…
Readmore





