Table of Contents
- Chapter 1: 1 – Berita dari Istana
- Chapter 2: 2 – Memimpikannya Lagi
- Chapter 3: 3 – Hari Perburuan Tiba
- Chapter 4: 4 – Di Balai Kota
- Chapter 5: 5 – Pulang
- Chapter 6: 6 – Pria di Hutan itu Clarence?
- Chapter 7: 7 – Kabar Duka dari Kota
- Chapter 8: 8 – Selamat Jalan, Pangeran Clarence
- Chapter 9: 9 – Menjadi Idola
- Chapter 10: 10 – Pertengkaran
Lates Chapters
38 – Di Hari Itu
"Yang Mulia, tidak akan apa-apa," bisik Pendeta Benette dengan senyum ramah. Dia tahu Merylin gugup. "Terima kasih," ucap Merylin. Dia tersenyum untuk menghilangkan rasa gemetar. Dia berdiri di sisi Clarence. Rakyat bertepuk tangan gembira melihat mereka berdiri berdampingan. Sungguh serasi. Clarence tersenyum. "Mereka…
37 – Tidak Seindah Bayangan
"Panggil nama saya, Yang Mulia. Saya hanya seorang pelayan," kata Rosa. "Tapi Ibu hampir seumuran ibuku," ujar Merylin. "Mohon ampun, begitu aturannya. Saya bisa ditegur nanti." Rosa menunduk memberi hormat. "Baiklah, Rosa. Ah ... terlalu banyak hal aku harus belajar di sini. Kuharap…
36 – Janji Bersama Selamanya
"Selamat datang di kastil Beauty Star." Dengan menggandeng Merylin, Clarence mengajaknya ke teras kastil yang indah itu. Merylin sungguh terpesona. Tak dia sangka, dia bisa berada di kastil yang sempat beberapa kali dia dengar keindahannya. Di bawah kastil terhampar padang luas dengan warna…
35 – Mempelai Sang Pangeran
Pagi datang. Matahari bersinar cerah. Kota kecil Snowpines bergembira dan bersukacita. Calon raja negri ini akan menorehkan satu langkah hidupnya di kota ini. Dia memilih melangsungkan pernikahan bukan di kota raja, tapi di kota cantik, kota kelahiran mempelai wanitanya. Semua persiapan cukup singkat.…
34 – Malam Perjamuan
Tiba di Snowpines hari hampir gelap. Clarence mengajak keluarga Merylin ke lantai atas di balai kota. Telah disiapkan kamar untuk Merylin, ayah dan ibu. Juga disediakan pakaian yang akan mereka kenakan saat perjamuan keluarga malam itu. Keluarga kerajaan mengundang pembesar kota dan tentu…
Comments
Satu pemikiran pada “The Lost Prince (The Story of Goldy Star Kingdom)”
Tinggalkan komentar
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: 1 – Berita dari Istana
Do you have a dream? Have you dreamt something and it will be true? That is what I hope... * Merylin menatap lembah di bawah rumah kecil tempat tinggalnya. Di kejauhan nampak serombongan pasukan berkuda mendekat ke arah bukit di mana…
ReadmoreChapter 2: 2 – Memimpikannya Lagi
"Merylin! Ayo kita berangkat!" Albert berseru memanggil putrinya. Merylin sedang menyisir rambutnya yang coklat kemerahan. Rambutnya panjang sepunggungnya, ikal di bagian bawah. "Ya, Yah! Aku hampir selesai!" balas Merylin. Dia berdiri, menyambar topi lebarnya yang tergantung di belakang pintu kamar. Lalu ia bergegas…
ReadmoreChapter 3: 3 – Hari Perburuan Tiba
Kemarin ayah mengantar Merylin ke rumah Pastor Charles yang tidak jauh dari gereja. Dan hari ini mereka berangkat ke kota. Pastor Charles dan Arvella akan berada di kota selama tiga hari. Senyum Merylin seperti tidak ada habisnya. Dia sangat gembira. Dari gereja ke…
ReadmoreChapter 4: 4 – Di Balai Kota
"Mari kita turun." Arvella mengajak Merylin ke ruang bawah. Charles sudah menunggu mereka untuk berangkat ke balai kota. Merylin mengikuti langkah Arvella. Charles memandang Merylin. Matanya terpana, senyuman mengembang seketika di bibirnya. "Merylin Annete Jane Everance. Wow! Kamu cantik sekali!" Charles menatap tanpa…
ReadmoreChapter 5: 5 – Pulang
Esok harinya saat sarapan, Merylin jadi pendiam. Tidak seperti biasanya dia suka tersenyum dan ceria. Malam sebelumnya juga Merylin sulit sekali tidur. Dia terus saja menangis. Meski tidak ada suara, air matanya tak berhenti menitik. Dan pagi hari saat dia bangun sama sekali…
ReadmoreChapter 6: 6 – Pria di Hutan itu Clarence?
"Tolong ... aku terluka ... aku di mana?" Dia menatap Merylin. Dia mengernyitkan dahi menahan sakit. Ada darah mulai mengering di wajahnya. "Apa yang terjadi denganmu, Pangeran?" tanya Merylin lagi. "Aku ... aku ..." Pria itu memegangi kepalanya. "Ah ... aku tidak tahu…
ReadmoreChapter 7: 7 – Kabar Duka dari Kota
Pagi tiba. Matahari bersinar cerah. Merylin baru selesai memberi makan unggasnya. Dia masuk dapur. Ibunya sedang menyiapkan bubur dan susu hangat untuk Clarence. Ayah sudah berangkat ke kota, mencari kabar jika ada keluarga yang kehilangan putra mereka. "Boleh aku bantu, Bu?" tanya Merylin.…
ReadmoreChapter 8: 8 – Selamat Jalan, Pangeran Clarence
Dua hari berlalu. Pagi itu ayah dan ibu pergi ke ladang. Merylin baru selesai menimba air dan membersihkan kakinya. Pastor Charles Brown datang. Merylin menemuinya di ruang depan "Anak Manis, apa kabarmu?" sapa Charles ramah seperti biasa. "Baik. Tapi tidak soal Clarence," jawab…
ReadmoreChapter 9: 9 – Menjadi Idola
Dengan gembira Merylin dan Clarence membantu ayah panen di ladang. Pak Randall dan Pak Thompson juga membantu. Memang biasa begitu kehidupan di desa ini. Saling membantu saat panen. Hasil panen musim ini lebih banyak dari yang sebelumnya. Albert terlihat sangat puas. Hari Minggu…
ReadmoreChapter 10: 10 – Pertengkaran
Clarence menghentikan Snowy dan melompat turun dari punggung kuda itu. Jesse dan Merylin yang melihat Clarene datang tersenyum ke arah Clarence "Hai, Clark! Mau bergabung? Seru sekali kami main hari ini!" sapa Jesse ramah. Wajahnya terlihat bersemangat. Clarence tidak menjawab. Wajahnya masam. Dia…
ReadmoreChapter 11: 11 – Ingat Semuanya
"Yang mulia ..." Clarence mengulang kata-kata Merylin. "Sering kudengar ... ah ... kepalaku ..." "Clark, jangan dipaksa." Charles memegang bahu Clarence. "Sepertinya perlahan kmau mulai ingat masa lalumu. Aku rasa siang ini kita berdoa untuk pemulihanmu." Charles berlutut di sisi kursi. Merylin dan…
ReadmoreChapter 12: 12 – Ke kota Raja
Clarence tak memalingkan pandangannya, masih lurus menatap Merylin. "Tidak. Clarence sudah mati. Aku adalah Clark. Henry ingin menggantikan ayahanda, biarkan saja. Kurasa dia juga berhak atas tahta raja. Dia bagaimanapun adalah anak ayah dan ibu. Jadi raja atau tidak, bukan hal yang penting…
ReadmoreChapter 13: 13 – Istana
Merylin menatap ibunya. "Clark adalah Pangeran Clarence." "Jangan main-main, Merl. Pangeran Clarence sudah wafat," tandas ibu cepat. "Untuk apa aku berbohong, Bu?" ujar Merylin. "Beberapa hari lalu, Clarence terbentur dengan keras di kepalanya. Dan itu membuatnya ingat kembali siapa dirinya. Dia menceritakan apa…
ReadmoreChapter 14: 14 – Kamu Bukan Anakku!
"Ke ruang atas!" titah Henry. Berdua dengan Clarence, dia mengangkat tubuh ibunya. Mereka bawa ke kamar dan dibaringkan di sana. "Kamu jaga ratu di sini," kata Henry pada prajurit itu, yang tak lain adalah Clarence. "Siap, Yang Mulia." Clarence menghormat. Henry keluar kamar…
ReadmoreChapter 15: 15 – Titip Ini Buat Clarence
Clarence mengambil ketopongnya, memakainya di kepala, keluar kamar ibunya. Dia masuk ke kamarnya dan menangis di sana. Dia terduduk lemas bersandar pada lemari besar di kamar itu. Sedang di kamarnya, Felicia menutup dan mengunci pintu. Dia menjatuhkan diri di ranjang. Menangis tanpa suara,…
ReadmoreChapter 16: 16 – Penobatan Raja Baru
"Lengkap sudah penjahat negri ini," batin Clarence. "Kasihan pangeran itu," ujar Matthew. "Dia akan tertawa dan merasakan kemewahan serta tahta hanya sehari saja. Begitu dia terbaring karena terlalu bahagia, di atas ranjang besarnya, dia tak akan bangun lagi. Pedang akan menancap didadanya. Lalu…
ReadmoreChapter 17: 17 – Aku Masih Hidup
Jam 9 tepat, terompet pertanda upacara mulai dibunyikan dengan lantang. Henry berjalan dengan gagah menuju panggung kebesaran. Diikuti merelina yang bersidi agak di belakangnya. Ratu Felicia juga berjalan mengikuti. Marelina mengambil tempat di sebelah ayahnya. Felicia dan Henry di kursi utama. "Kenapa Ibu…
ReadmoreChapter 18: 18 – Kedukaan Mendalam
"Hari itu kau menyerangku dan berkata ingin membunuhku. Aku sangat terkejut. Aku berusaha menghindar karena aku tak ingin bertarung denganmu. Tapi hari ini kita buktikan siapa yang berhak meneruskan tugas memimpin negri ini. Ataukah negri ini harus jatuh ke tangan jahatmu dan jendral…
ReadmoreChapter 19: 19 – Janji Clarence
"Ampun, Yang Mulia. Itu bukan kesalahan Pangeran Clarence. Saya bersalah, ampun, yang Mulia." Jesse memberanikan diri berlutut tak jauh di sisi Felicia. "Siapa kamu?" Felicia menoleh pada Jesse. "Jadi kamu yang membunuh Henry?" "Ibu, Jesse menyelamatkan aku." Clarence berlutut di sisi ibunya dan…
ReadmoreChapter 20: 20 – Di Pemakaman
Pagi-pagi Jesse sudah bersiap pulang ke Greenpines. Jesse menolak waktu Clarence ingin mengutus pasukan menyertai perjalanannya. Dia lebih senang pergi sendiri, agar tidak menyolok dan menjadi perhatian rakyat sepanjang jalan yang dia lalui. Clarence tidak memaksa, tapi dia memberi cukup banyak hadiah untuk…
Readmore






Cerita roman kerajaan. Intrik, haru, dan manis. Thank you yang sudah mampir, ya … take the good mesaage in it.