Table of Contents
- Chapter 11: Bab 11. Makan Bersama
- Chapter 12: Bab 12. Menjaga Kepolosan
- Chapter 13: Bab 13. Hanya Ingin Memastikan
- Chapter 14: Bab 14. Wajah Hitam
- Chapter 15: Bab 15. Campur Aduk
- Chapter 16: Bab 16. Rumput Liar
- Chapter 17: Bab 17. Diplester
- Chapter 18: Bab 18. Ceroboh Dan Sembrono
- Chapter 19: Bab 19. Sadar Diri
- Chapter 20: Bab 20. Menyangkal Perasaan
Lates Chapters
Bab 30. Belum Saatnya
Eddy terkekeh melihat rona merah di wajah kekasihnya ketika digoda. Dia memeluk Milla erat dan meletakan wajahnya di bahu gadis itu. Entah mengapa dia merasa lebih tenang saat menghirup harum rambut gadis yang telah menjadi kekasihnya tersebut. Eddy tidak pernah melupakan bagaimana…
Bab 29. Mengajarkan Banyak Hal
Eddy langsung membayangkan apa yang selama ini sering diimpikannya tentang Milla. Dia sering bermimpi kalau gadis di hadapannya ini sudah menjadi istrinya dan mereka melakukan banyak hal bersama-sama termasuk tidur bersama. "Aku mimpi tidur di kasur yang sama denganmu," kata Eddy sambil…
Bab 28. Bukan Sekedar Mimpi
Milla hanya menunduk menimbang-nimbang apakah dia harus berbicara jujur kepada Eddy atau tidak? Kalau dia memilih jujur artinya secara tidak langsung dia mengungkapkan kepada pria di hadapannya ini kalau dia memiliki perasaan khusus kepadanya. Sedangkan kalau dia menggunakan alasan lain, Milla tidak…
Bab 27. Kecanggungan Milla
Mendadak keduanya merasakan suhu ruangan menjadi panas hingga keduanya merasa salah tingkah satu sama lain. Eddy menguatkan hatinya untuk terus menatap Milla sementara gadis itu sibuk mengalihkan pandangan matanya ke segala arah dengan wajah yang merah merona. Milla merasa kesal dengan dirinya…
Bab 26. Percikan Api
"Oh, maaf," kata Eddy dengan cepat menggeser tubuhnya Di dalam hati dia merasa deg-degan dan takut kalau-kalau gadis di hadapannya ini akan marah dan merajuk jika melihat dia sudah memasang wallpaper duluan tanpa merundingkan terlebih dahulu dengannya. Milla merasa lega ketika melihat…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Api di villa
"Sudah sampai, Pak," kata sopir taksi kepada Eddy yang saat ini sedang duduk melorot dan terkantuk-kantuk di kursi belakang. Taksi ini ditumpangi Eddy sejak dia keluar dari bandara, karena dia merasa terlalu lelah dan malas untuk naik angkutan umum menuju vila warisan…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Mencari Tempat Lain
Krieet...!!! Tiba-tiba terdengar suara kursi digeser dan helaan nafas panjang dari seorang wanita. Eddy terkejut dan merasa sangat penasaran ingin mengetahui siapa wanita di dalam pondok itu yang telah begitu berani memasuki dan melanggar hak teritorialnya di kawasan vila milik orangtuanya ini.…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Tawaran Kerja
"Lalu apa yang akan Kamu lakukan selanjutnya? Apakah Kamu memiliki pekerjaan?" tanya Eddy ingin tahu. Tiba-tiba Eddy merasa bersalah karena telah mengusir Milla setelah melihat raut kesedihan di wajah cantiknya. Namun, dia juga merasa bingung apa yang harus dilakukannya untuk Milla, saat…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Merasa Serba Salah
Eddy berpikir pasti adiknya banyak menyimpan berbagai informasi tentang Milla. Krieet...!!! Eddy menghela napas mendengar suara berderit dari pintu yang dibukanya. 'Sepertinya semua pintu di vila ini juga memerlukan pembaharuan,' pikirnya sambil memasuki kamar mendiang adiknya yang bernuansa merah muda. Dia lalu…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Alasan Milla
Eddy hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat pada akhirnya gadis itu benar-benar tertidur pulas dengan posisi duduk melorot bersandar di kursi taman. "Sudah kuduga," kata Eddy terkekeh geli ketika melihat Milla yang tertidur pulas di kursi taman. Milla sama sekali tidak menyadari kalau…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Warisan Tak Terduga
Milla memang tidak percaya kalau ayahnya telah meninggalkan harta warisan untuknya ketika dia masih hidup, sebagaimana yang dikatakan oleh Eddy. 'Kalau Aku punya harta warisan, Aku tidak akan bekerja pontang panting hanya untuk membiayai kuliahku di Jakarta,' batin Milla sinis. Dia masih…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Dibatalkan
"Selain itu Aku sibuk bekerja, besok pun Aku harus pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Apakah Kamu tidak apa-apa jika Aku tinggal dan mengerjakan semua ini sendiri?" kata Eddy lagi bertanya pada Milla. "Tidak masalah," jawab Milla datar. Bagaimana pun itu…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Baru Selesai Mandi
Gadis itu kemudian membaringkan tubuhnya yang lelah sehabis bekerja dan panas-panasan di taman dengan perasaan nyaman. Milla membentangkan tangan dan kakinya di atas kasur yang telah biasa dia gunakan untuk tidur sejak dia masih kecil. "Akhirnya bisa istirahat dengan nyaman di rumah,"…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Bukankah Sekedar Orang Lewat
'Barang kali setelah semuanya dibicarakan, Eddy mau kembali menghidupkan listrik di pondok aku,' harap Milla dalam hati. Eddy mengajak Milla masuk ke dalam vila dan mengajaknya ke dapur untuk duduk di meja kopi yang berada di dapur. Meja itu hanya berukuran enam…
ReadmoreChapter 10: Bab 10. Tertarik
"Mengapa Kamu menatapku seperti itu? Apakah Kamu tidak terima pada apa yang Aku katakan mengenai sepupu angkat Kamu itu?" tanya Milla kesal mendapat tatapan menyelidik dari pria di hadapannya itu. 'Apakah Dia marah? Hah! Yang benar saja, dasar aneh, bukankah Aku yang…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Makan Bersama
"Apakah Kamu tetap akan pulang?" tanya Eddy mengerutkan kening khawatir. Milla terdiam. Dia benar-benar bingung sekarang. Di satu sisi dia takut untuk pulang kembali dalam keadaan gelap gulita seperti saat ini, tapi dia juga merasa tidak enak jika harus menginap di vila…
ReadmoreChapter 12: Bab 12. Menjaga Kepolosan
"Aku memiliki usaha yang bergerak di bidang jasa online," jawab Eddy sambil menopang dagunya dengan punggung tangan dan tersenyum menatap Milla yang sedang menghabiskan potongan pizza terakhirnya secara perlahan. "Jasa online?" tanya Milla heran. Akhir-akhir ini Milla memang sering mendengar usaha online…
ReadmoreChapter 13: Bab 13. Hanya Ingin Memastikan
Milla ingat sekali bagaimana perasaannya ketika mengetahui pacarnya itu berdusta. Dia merasa seakan langitnya runtuh sebab, semuanya terjadi di saat Milla sedang berduka karena kehilangan ayah dan sahabat terbaiknya. Saat itu dia benar-benar merasa sendirian, tidak punya orangtua dan kerabat, tidak ada…
ReadmoreChapter 14: Bab 14. Wajah Hitam
Milla memasuki kamar Shasha yang semasa hidupnya sangat dekat dengan Milla hingga seperti anak kembar dan kemana-mana selalu bersama. Hanya pada saat Milla kuliah di Jakarta saja mereka mulai berpisah. Namun, masih tetap berhubungan lewat medsos dan hubungan telepon. Selain ruang keluarga,…
ReadmoreChapter 15: Bab 15. Campur Aduk
"Harum sekali, beruntung Aku sebelum pulang ke sini sempat membeli sekotak teh kesukaanku di Jakarta, kalau tidak akan sangat sulit sekali untuk mendapatkannya di sini karena teh ini hanya di jual di perkotaan saja," kata Milla kepada dirinya sendiri merasa bangga pada…
ReadmoreChapter 16: Bab 16. Rumput Liar
Ini adalah pengalaman baru baginya. Selama ini Eddy sama sekali tidak pernah merasakan perasaan seperti yang dialaminya sekarang. 'Apakah perasaan ini yang dinamakan jatuh cinta? Apakah mungkin Aku jatuh cinta pada gadis yang saat ini ada di hadapanku ini? Kami baru saja…
ReadmoreChapter 17: Bab 17. Diplester
"Apakah Aku terlihat bercanda? Bagaimana kalau Kamu datang ke pondok ku dan melihat sendiri bagaimana tanaman rumput itu menghiasinya," kata Milla sambil terus menatap lahan kosong di depannya. Eddy terdiam. Kalau sampai dipakai untuk menghias rumah berarti gadis di sampingnya ini benar-benar…
ReadmoreChapter 18: Bab 18. Ceroboh Dan Sembrono
"Apakah Kamu sadar dengan apa yang Kamu katakan barusan?" tanya Milla tidak habis pikir. Tadinya Milla berpikir orang tampan seperti Eddy pasti memiliki selera yang bagus soal penataan dan keindahan, itu sebabnya dia bertanya tentang tanaman apa yang cocok untuk halaman vila.…
ReadmoreChapter 19: Bab 19. Sadar Diri
"Kita mungkin bisa melihat-lihat vila yang ada di sekitar sini dan menjadikannya sebagai referensi tanaman apa yang biasanya ditanam oleh pemilik villa lain," saran Eddy. Selain vila miliknya memang terdapat juga beberapa vila lain yang merupakan milik beberapa artis dan pengusaha ibukota,…
ReadmoreChapter 20: Bab 20. Menyangkal Perasaan
Milla merasa heran dengan sikap Eddy yang tidak jelas itu. Dia jadi merasa gelisah sendiri. Di dalam hati dia bertanya-tanya apakah dia telah jatuh cinta kepada Eddy? Apakah Eddy juga merasakan hal yang sama? Milla menggelengkan kepalanya untuk mengusir semua pertanyaan ambigu…
Readmore





