Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1. Aku Bukan Anakmu
- Chapter 2: Bab 2. Perjuangan
- Chapter 3: Bab 3. Realita Jakarta
- Chapter 4: Bab 4. Nama Baru
- Chapter 5: Bab 5. Ritme Baru
- Chapter 6: Bab 6. Luka dan Rindu yang Tertahan
- Chapter 7: Bab 7. Batuk yang Tak Kunjung Berhenti
- Chapter 8: Bab 8. Panggilan yang Dinanti
- Chapter 9: Bab 9. Semangat yang Kembali
- Chapter 10: Bab 10. Dua Panggung, Dua Perasaan
Lates Chapters
Bab 16. Luruh
“Bapak … aku pulang.” Tanpa aba-aba dan tanpa memikirkan harga diri lagi, Aisyah langsung tersungkur di depan ambang pintu. Tangannya menyentuh lantai teras yang dingin, dahinya hampir menyentuh punggung kaki lelaki yang selama ini ia jauhi. “Pak, maaf ….” Suaranya pecah dan tangisnya…
Bab 15. Dari Depan Pintu
Suara doa Dimas masih terngiang di kepala Aisyah bahkan setelah semuanya kembali hening. Fakta itu jatuh baginya seperti pukulan telak. Bukan keras dengan suara gaduh, melainkan pelan dan tepat menghancurkan dinding yang selama ini ia bangun. Ia duduk lama di tepi ranjangnya, memeluk…
Bab 14. Separuh dari Dunia
“Ah, sudah,” ucap Aisyah kemudian. Pelukan itu perlahan mereda, meski sisa tangis masih tersangkut di napas mereka masing-masing. Aisyah mengusap wajahnya dengan punggung tangan, berusaha mengembalikan ketegaran yang tadi runtuh begitu saja. Ia menatap Dimas beberapa detik, lalu menarik napas panjang. “Masuk,” katanya…
Bab 13. Runtuhnya Pertahanan
Suasana masih dipenuhi isak tangis Dimas yang terputus-putus ketika suara langkah tergesa terdengar dari ujung gang. “Ashley!” Suara perempuan itu terdengar jelas, sedikit terengah, memanggil dengan nada yang akrab. Aisyah yang masih berdiri dengan wajah tegang dan mata memerah langsung menoleh cepat. Ekspresinya…
Bab 12. Di Depan Pintu
Dimas berdiri kaku di depan sebuah rumah kontrakan bercat krem pucat dengan pagar besi hitam sederhana. Rumah itu tidak mewah, tetapi jelas lebih besar dibanding rumah mereka di kampung. Halamannya sempit, hanya cukup untuk satu motor dan beberapa pot tanaman yang tertata rapi.…
Comments
Satu pemikiran pada “Wajah di Balik Papan Itu”
Tinggalkan komentar
16 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Aku Bukan Anakmu
Jakarta, 2018 Aisyah menatap amplop cokelat di tangannya dengan rahang yang mengeras. Tangannya bergetar menahan amarah yang sudah memuncak sejak tadi pagi. UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS HUKUM Surat penerimaan mahasiswa itu terasa berat di tangannya. Bukan karena kertas di dalamnya tebal, tapi karena impian…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Perjuangan
Pak Firdaus berdiri membeku di ambang pintu. Matanya menatap nanar ke arah gang sempit tempat Aisyah menghilang ditelan kegelapan malam. Ingin sekali ia melangkahkan kaki untuk mengejar putrinya, tetapi tubuhnya seakan kehilangan seluruh kekuatannya. “Aku bukan anak Bapak lagi.” Kata-kata itu bergema keras…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Realita Jakarta
Jakarta - Kos-kosan Bu Sumi, Pukul 01.00 Dini Hari Aisyah terbangun dari tidur yang tidak nyenyak saat mendengar suara pintu terbuka dengan keras. Ia mengerjapkan mata yang masih setengah sadar, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu yang tiba-tiba menyala terang. "Hah? Siapa kamu?"…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Nama Baru
Aisyah berdiri di depan cermin besar yang ada di ruang ganti dengan jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Tangannya gemetar saat ia merapikan ujung rok pendek berwarna hitam yang terasa asing di tubuhnya. Atasan tanpa lengan itu cukup ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Ritme Baru
Hari-hari berikutnya berjalan seperti arus yang awalnya membuat Aisyah yang kini telah berganti nama menjadi Ashley hampir tenggelam di dalamnya, perlahan justru ia pelajari cara agar bisa mengapung di atasnya. Malam demi malam ia kembali ke tempat yang sama. Lampu redup, musik berdentum,…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Luka dan Rindu yang Tertahan
“Uhuk! Uhuk!” Pagi di rumah kecil itu selalu dimulai dengan suara batuk. Batuk kering yang panjang, berat, dan terasa seperti mengoyak dada dari dalam. “Uhuk!” Pak Firdaus menutup mulutnya dengan sapu tangan lusuh. Dadanya terasa panas, napasnya pun sesak, tetapi ia berusaha menahannya…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Batuk yang Tak Kunjung Berhenti
Pagi itu terasa sedikit berbeda. Udara masih sama dinginnya di kampung itu. Rumah kecil itu masih tetap sederhana seperti biasa, tetapi ada kegelisahan yang menggantung sejak Subuh. Bu Ratna sudah bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyiapkan air hangat, pakaian bersih, dan sarapan…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Panggilan yang Dinanti
Ponsel itu masih bergetar di tangan Pak Firdaus. Nama di layar membuat penglihatannya kabur oleh air mata yang tiba-tiba memenuhi pelupuk mata. Aisyah. Sudah dua tahun lamanya. Dua tahun ia menunggu kabar. Dua tahun ia berdoa setiap malam. Dua tahun sudah Pak Firdaus…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Semangat yang Kembali
Setelah panggilan telepon itu berakhir, Pak Firdaus masih duduk lama di tepi ranjangnya. Ponsel tua di tangannya sudah tidak lagi menyala, tetapi suara Aisyah masih menggema di telinganya. “Aku baik-baik saja, Pak.” Kalimat sederhana itu berulang-ulang ia ingat. “Ya Allah … alhamdulillah. Aisyah…
ReadmoreChapter 10: Bab 10. Dua Panggung, Dua Perasaan
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, tahun demi tahun mulai berganti membawa perubahan dalam hidup mereka masing-masing. Di rumah kecil itu, hari sedang terasa sibuk. Zahra yang kini sudah mulai duduk di kelas 4 SD sedang merapikan buku-buku barunya di ruang tamu sambil…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Paket Datang
Mereka akhirnya memilih sebuah restoran di dalam pusat perbelanjaan yang cukup ramai. Bukan tempat yang terlalu mewah, tetapi jauh lebih nyaman dibanding tempat makan yang biasanya mereka datangi setelah pulang kerja malam. Rina membuka menu dengan mata berbinar. “Gue pesen banyak, ya?” Ashley…
ReadmoreChapter 12: Bab 12. Di Depan Pintu
Dimas berdiri kaku di depan sebuah rumah kontrakan bercat krem pucat dengan pagar besi hitam sederhana. Rumah itu tidak mewah, tetapi jelas lebih besar dibanding rumah mereka di kampung. Halamannya sempit, hanya cukup untuk satu motor dan beberapa pot tanaman yang tertata rapi.…
ReadmoreChapter 13: Bab 13. Runtuhnya Pertahanan
Suasana masih dipenuhi isak tangis Dimas yang terputus-putus ketika suara langkah tergesa terdengar dari ujung gang. “Ashley!” Suara perempuan itu terdengar jelas, sedikit terengah, memanggil dengan nada yang akrab. Aisyah yang masih berdiri dengan wajah tegang dan mata memerah langsung menoleh cepat. Ekspresinya…
ReadmoreChapter 14: Bab 14. Separuh dari Dunia
“Ah, sudah,” ucap Aisyah kemudian. Pelukan itu perlahan mereda, meski sisa tangis masih tersangkut di napas mereka masing-masing. Aisyah mengusap wajahnya dengan punggung tangan, berusaha mengembalikan ketegaran yang tadi runtuh begitu saja. Ia menatap Dimas beberapa detik, lalu menarik napas panjang. “Masuk,” katanya…
ReadmoreChapter 15: Bab 15. Dari Depan Pintu
Suara doa Dimas masih terngiang di kepala Aisyah bahkan setelah semuanya kembali hening. Fakta itu jatuh baginya seperti pukulan telak. Bukan keras dengan suara gaduh, melainkan pelan dan tepat menghancurkan dinding yang selama ini ia bangun. Ia duduk lama di tepi ranjangnya, memeluk…
ReadmoreChapter 16: Bab 16. Luruh
“Bapak … aku pulang.” Tanpa aba-aba dan tanpa memikirkan harga diri lagi, Aisyah langsung tersungkur di depan ambang pintu. Tangannya menyentuh lantai teras yang dingin, dahinya hampir menyentuh punggung kaki lelaki yang selama ini ia jauhi. “Pak, maaf ….” Suaranya pecah dan tangisnya…
Readmore






Hai … salam kenal untuk semua pembaca NOVELGOOD …
Wah, deg-degan juga ya, bersa uji adrenalin, nih. Ketika jari-jari ini tiba-tiba saja nekat masukin buku ke kontes menulis.
Semoga menang, ya, Aku.
Yuk, Kak. Baca cerita serunya novelet saya ini, dijamin banyak bawangnya.