Setelah kepergian perempuan itu, aku menutup pintu samping, lalu melangkah dengan ringan ke kamar tidur, melanjutkan kegiatan yang terhenti tadi.
Pikiran ini berusaha keras mengesampingkan rasa penasaran tentang penyewa kamar samping itu dengan susah payah.
Perlu usaha keras untuk menghapuskan bayangan wajahnya yang menyedihkan itu dari pikiran ini.
Dengan posisi rebah dan kaki terganjal bantal guling, tangan menggenggam smartphone, jari-jari ini, langsung menuju ke satu platform baca online yang aku ikuti.
Sedikit heran dan penasaran kenapa penulis idola belum juga mengunggah tulisan terbarunya.
Mungkin kak penulis itu masih sibuk mengerjakan yang lain atau apalah, demikian aku berprasangka.
Akhirnya kuputuskan untuk membaca tulisan yang telah lalu. Novel berdasarkan kisah nyata yang kuikuti ini berjudul Mahkota yang retak. Sebuah novel yang diangkat dari kisah sejati sang penulis.
Entah bagaimana aku terkadang merasa related dengan apa yang dia tulis. Seperti kisah pada bab satu ini.
Awalnya semua terasa indah.
Sebuah kisah cinta yang sempurna dan aku merasa menjadi perempuan yang paling beruntung mendapatkan dia.
Arjuna, laki-laki itu.
Betapa segala yang ada pada dirinya, sesuai dengan nama yang ia sandang. Ganteng di atas rata-rata, terpelajar, berasal dari keluarga berada, lembut, perhatian dan semua sifat baiknya akan memenuhi lembaran cerita ini jika kutuliskan.
Dalam kisah cinta ini, sinar matahari menjadi bumbu kebahagian dan deras hujan menjadi penambah kerinduan.
Aku juga tidak tahu, bagaimana semua terasa tanpa cela, seolah sempalan surga terlempar ke bumi dan akulah pemilik keindahan itu.
Semua orang di dunia ini seperti tidak memahamiku, tapi tidak dengan dia. Jika semua benda semesta bergerak menjauhiku, dia tidak akan membersamai benda-benda itu.
Tahukah kalian?
Suaranya saja bisa mengaktifkan dophamin dalam otak dan memberikan sensasi adiktif. Dan tatapan matanya itu, tidak dapat dipungkiri menjadi sumber penghasil serotonin hingga menjadikanku bahagia tiada tara.
Aku tidak sempat bertanya, beginikah jatuh cinta?
Tidak juga sempat menelisik, benarkah ini cinta?
Aku tidak mau tahu dan memilih buta, tenggelam dalam rasa, menelantarkan logika yang terkapar tak berdaya.
Setelah, setahun keindahan demi keindahan ini menyelimuti kehidupan ini, di penghujung tahun, berkat yang luar biasa mengetuk kediamanku.
Kami menikah dan melangsungkan perayaan pernikahan dengan sederhana di sebuah tempat ekslusif di hotel berbintang.
Aku meletakkan smartphone, menghela napas beberapa kali untuk kemudian menatap langit-langit kamar.
Bab satu Mahkota Yang Retak ini kalau kupikir, hampir mirip dengan apa yang kualami. Jatuh cinta.
Karakter Arjuna mirip sekali dengan cintaku, Sakti.
Sakti juga laki-laki yang lembut, penuh perhatian dan pokoknya, tipe laki-laki yang dapat membuat para wanita tak mampu beralih.
Secara fisik, dia juga memiliki ciri-ciri yang membuat setiap mata wanita yang sepintas lihat jadi menoleh dan tak ingin beralih.
Aku yang penakut, peragu dibuat nyaman berada di sampingnya.
Dan satu lagi yang kurasakan ketika bersama laki-laki itu, karakter suka menyelidik dan ingin tahu dalam diri ini menjadi tumpul, tak terasah dengan baik.
Ketika bersamanya, aku lebih sibuk untuk ingin tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Penasaran dengan perasaan laki-laki yang memukau mata itu, membandingkan yang kurasakan dengan apa yang ia rasakan.
Sibuk bertanya, apakah ia merasakan hal yang sama?
Belum lagi jika muncul pertanyaan, apakah ada wanita lain selain diriku?
Dan hal ini akan tambah menyibukkan pikiran yang akan mencari-cari alasan untuk meyakinkan diri bahwa akulah satu dan satu-satunya wanita yang ada di pikiran laki-laki ini.
Takut kehilangan?
Itu pasti!
Di zaman ini, banyak wanita yang dengan bangga memproklamirkan diri jadi pelakor. Tanpa malu, tanpa ragu, semua diterabas untuk menuntaskan keegoan diri. Tidak peduli ada hati yang porak poranda.
Hal buruknya, terkadang cemas hadir dalam hati, mengusik diri, mencari cara untuk menjaga dia dari ancaman pelakor.
Sesaat aku berpikir, aku merasa sama dengan penulis Mahkota yang Retak ini, tidak sempat membawa logika ketika jatuh cinta.
“Ah!”
Aku hanya mampu menghela napas untuk mengakui kenyataan ini.
Bunyi notifikasi pesan masuk sejenak mengalihkan perhatian.
“Aa!” seruku pelan. Yang sedang dipikirkan namanya terpampang di notifikasi yang menyembul di bagian atas layar.
“Jangan tidur terlalu larut!” Pesan Sakti itu membuat bibir ini tersenyum.
“Sebentar …,” balasku dengan menambah emoji berlambang love berwarna merah muda.
“Pasti sedang baca tulisan dari pengarang idola itu,” tebaknya sekian detik kemudian.
Mungkin jika ada yang melihat, bakal menyangka kalau aku telah gila, karena saat ini aku sedang senyum-senyum sendiri membaca pesannya itu.
Bagaimana tidak? Laki-laki yang sedang berada di jauh dari rumahku ini seolah telah memasang cctv di kamar ini hingga mengetahui apa yang sedang aku lakukan.
Hati ini sempat mengembang karena berprasangka hal ini terjadi karena kekuatan cinta yang ada di antara kami.
“Tahu saja,” balasku dengan menyertakan emoji wajah dengan tiga lambang love mengitari wajah.
“Jangan keasyikan sampai tak sadar bergadang atau tidur terlalu larut!” Pesannya kembali terbaca.
Nomor kontak tercinta itu kembali membuatku tersenyum. Perhatian seperti ini selalu saja kurindukan.
Hati ini kembali mengembang membaca tulisan itu. Apa begini hati wanita?
Membaca tulisan di bawah bendera perhatian saja sudah di awang-awang rasanya.
“Siap, Bos,” balasku sambil kembali menyertakan lambang love berwarna pink.
Lalu chat dari si Cinta ini diakhiri dengan menuliskan pesan yang terbaca sebagai ungkapan cinta dan selamat tidur untukku.
“Ah!” jeritku sambil jari jemari mengetikkan balasan.
Apa saja yang ia tuliskan, apa saja yang ia katakan, mengapa selalu membuat hati ini kebat-kebit.
Kemudian, jari ini menutup aplikasi perpesanan dan kembali membuka aplikasi platform penulisan online yang terpasang di smartphone.
Aku memiringkan tubuh dan mengganjal kepala dengan tambahan bantal, posisi ini paling nyaman untuk melanjutkan kalimat dari bab satu yang tadi belum sempat kubaca.
Semua keindahan yang kurasa berakhir ketika Arjuna memboyongku pulang ke rumahnya dan mempertemukan aku dengan keluarga. Ayah, adik, kakak dan Ibunya, mertuaku.
Seketika aku ikut merasa kesal setelah membaca paragraf ini.