“Bisakah seseorang yang kita cintai berubah?”
Sebuah pertanyaan melintas setelah membaca Mahkota yang retak pada bab ini.
Jika benar cinta itu bisa berubah, kenapa cinta harus berubah?
Tak bisakah semua upaya dikerahkan untuk menjaganya?
Dapatkah cinta itu lenyap?
Jika benar cinta bisa lenyap, lalu ke mana perginya indah cinta yang mampu membawa pecinta melanglang ke angkasa?
Aku mengatupkan kelopak mata. Sedikit khawatir menyelusup di hati. Akankah hal itu juga terjadi padaku?
Kisah itu membuat hati ini bergerak.
Nyatanya, cinta tidak sesederhana lima huruf yang disandangnya. Cinta memiliki naungan, akar, dahan dan daun yang menyertai, dan kita harus menerima semua apa yang ada pada cinta.
Dan kadang, ketika cinta usai dan topengnya terkuak, pedang-pedang panjang akan mencuat dari bawah naungan cinta dan akan melukai para pecinta sehingga akan membuatnya menggelepar berdarah-darah.
Aku bergidik.
Selarik doa terbersit, semoga diri ini tidak dan tidak akan pernah tertancap pedihnya cinta, bahkan durinya sekalipun.
Aku melanjutkan membaca bab berikutnya yang sayang untuk dilewatkan, ya… walaupun bab ini pernah kubaca sebelumnya.
Kejadian-kejadian berikutnya adalah hal-hal yang biasaterjadi di telenovela, sebuah keluarga yang tidak menyukai menantu atau orang baru yang datang ke rumahnya.
Segala cara dilakukan untuk menciptakan neraka bagi orang yang tidak disukai tersebut.
“Apa salahku?”
Itu yang selalu aku ucapkan dalam hati.
Bagaimana mimpi indah yang sudah ada dalam genggaman mendadak berubah dan tercabik-cabik, porak-poranda dilanda badai.
Tidak menyangka apa yang sering terdengar dan terlihat di drama-drama televisi kini kualami. Seakan keberadaanku di rumah indah ini adalah satu kesalahan.
Arjuna yang seharusnya menjadi payung untukku di sini, tak ubahnya orang asing. Semua hal dari dirinya yang pernah kukenal sirna.
Lembut, perhatian, sayang dan cinta, musnah!
Setiap saat suamiku itu pulang, dia selalu langsung ditarik oleh keluarganya, meninggalkan aku yang hanya dapat melihat kebersamaan itu dari kejauhan.
Hingga suatu ketika aku menjumpainya di tempat kerja, perusahaan mertua.
“Tunggu sebentar ya, Bu! Bapak sedang sibuk,” ucap saptam yang mempersilahkan aku untuk duduk di kursi lobi kantor.
Aku hanya mengangguk, kesal dan langsung menyerbu tanpa izin. Kenapa yang seperti ini masih terjadi padahal aku sudah berulang kali mengabarkan bahwa hari, jam ini, aku ingin bicara.
Tetapi masih saja … ternyata bukan hanya di rumah, di kantor ini pun masih juga sulit untuk menemuinya.
Jarum jam terasa bergerak sangat lambat. Dan menunggu dengan berteman emosi yang menggunung itu menambah kemurkaan.
Aku mencoba menghela napas untuk menekan kemarahan yang menggelegak.
Satu jam berlalu, aku mulai ragu, apa aku harus bertahan menunggunya?
“Apa harus di sini?” seru sebuah suara yang membuat kepala ini langsung menoleh.
“Apa ada tempat lain?” ucapku lirih setelah terdiam cukup lama.
Kecewa ini apakah terbaca olehnya?
“Apa yang ingin dibicarakan?” ucap Arjuna sambil duduk di sofa.
“Apa menurutmu semua baik-baik saja?” jawabku pilu.
“Sudah kubilang, ini hanya sementara. Jangan meminta untuk kembali ke kota sebelumnya!” ucapnya dengan jengkel.
“Sadar nggak sih Mas, kalau semua berubah?” ucapku menahan sesak di dada.
“Ratri … tolong! Ini kantor dan ini juga yang mau dibahas?” jawabnya dengan muka kesal.
“Kalau begitu, ayo ngobrol di tempat lain!” balasku ketika sampai di ujung sabarku.
“Aku sibuk,” jawabnya, kemudian beranjak dari sofa dan pergi meninggalkan aku.
Mata ini memanas ketika ingin memuntahkan simpanan airnya. Tetapi, kedatangan seseorang dengan seragam security ini menahan itu.
“Mari saya antar keluar, Bu,” ucap saptam itu dua menit kemudian.
Aku hanya mengangguk pasrah, lalu berjalan keluar.Lalu, taxi yang menunggu membawa aku pergi dari tempat ini.
Beberapa saat kemudian apa yang di dada ini tak mampu lagi dibendung.
“Berhenti!” seruku pada sopir taxi.
“Di mana, Bu?” jawab sopir taksi sedikit kebingungan.
“Di mana saja,” balasku tak mau tahu. Dan itu membuat bapak tua ini tambah kebingungan.
Kemudian sopir taksi itu menurunkan aku di sebuah taman kota.
Lalu, aku keluar dari taksi dan berjalan mencari tempat yang tidak menarik perhatian. Kemudian, menumpahkan semua yang ada di dalam dada ini. Air mata mengalir deras.
Setelah tangis ini usai, aku memandang taman kota dengan danau buatan yang indah ini dalam waktu lama.
Dan tak terasa, langit mulai berubah warna. Semburat jingga menandakan kedatangan senja.
Tetapi, tubuh ini berat untuk beranjak, mengingat tempat yang akan dituju. Menurutku, itu bukan rumah, tapi itu prototipe neraka.
Tiba-tiba suara dering telepon genggam membuatku terkejut.
“Di mana?” ucap suara berat begitu aku menerima panggilan itu. Itu suara bapak mertua.
“Pulang!” lanjutnya tanpa menunggu jawaban pertanyaan yang ia lontarkan terjawab.
Dan perintah tegas itu membuatku harus kembali.
Dan beberapa saat kemudian taksi memasuki gerbang rumah megah ini.
“Ah! Kenapa aku harus kembali ke sini?” sesalku dalam hati.
Dan ketika aku melangkah ke dalam rumah ….
“Sepertinya sebentar lagi akan ada kejadian buruk,” demikian firasat ini bicara melihat semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu menyambut kedatangan menantu yang tak diinginkan ini.
“Duduk!” ucap orang paling dihormati di rumah ini, bapak mertua. “Jangan lagi datang ke kantor untuk membicarakan masalah pribadi!” Suaranya datar tapi menohok.
Laki-laki dengan badan tegap itu langsung beranjak dengan meninggalkan tatapan berduri.
Dan sepertinya aku ditinggalkan pada tiga mulut harimau yang sebentar lagi akan mencabik-cabik telinga dan hatiku.
Dan benar saja … hal itu terjadi.
“Sudah berbulan-bulan di sini, masih saja nggak ngerti. Tinggalkan kebiasaan udikmu itu! Ini keluarga yang terhormat dan mengutamakan kesantunan!” seru adik tertua suamiku.
Ucapannya tidak terlampau kudengar karena aku sibuk mengalihkan pikiran ke tempat lain.
“Hem … masih saja! Eh! Tuh perusahaan yang bikin kamu bisa makan di sini!” Suara ini pasti suara adik bungsu suamiku.
“Sepertinya semua harus diakhiri,” ucap suara termengerikan yang pernah kudengar, ibu suamiku.
Kemudian, ketiganya beranjak dan pergi meninggalkan aku yang terdiam di ruang tamu.
Selalu saja … diam.
Karena itu saja yang bisa kulakukan, diam.
Aku tahu, menjawab justru akan memperburuk nasib.
Tunggu!
Apa maksud dari “semua harus di akhiri?”
Was-was langsung menghantam jantung!
Tetapi, otak ini tidak mampu lagi berpikir.
Dengan berat, aku membawa tubuh lemah ini ke kamar tidur. Kemudian, aku merebahkan badan pada kasur indah yang menyedihkan ini.
Aku lupa kapan terakhir aku dimanusiakan.
Oh! Mungkin waktu itu, hari sebelum masuk ke gerbang rumah megah ini.
Aku melarikan semua ini dengan segera tidur dan berharap ketika bangun semua ini hanya mimpi.
Entah berapa lama aku tertidur, ketika aku bangun, telinga ini mendengar sebuah percakapan dari depan kamar.
“Ayolah, Nak! Temui dia! Wanita ini tak hanya cantik, tapi berpendidikan dan berasal dari keluarga terpandang. Ibu akan bahagia sekali jika dia menjadi istrimu.” Suara Ibu suamiku menyusup ke gendang telinga.
Dan detik itu juga, hal itu menghancurkan saluran telinga, membran timpani dan semua struktur penopang yang ada di indra dengarku.
Mata ini langsung terbuka, kantuk dan lelah lenyap seketika.
“Bu….’” Suara suamiku terdengar lelah.
“Siapa? Istrimu? Sudah gampang itu.” Suara enteng Ibu suamiku kembali terdengar.
“Ugh ….” Seketika dada ini makin sesak.