Ruangan serba putih terpampang ketika aku membuka mata.
Tak seorang pun kulihat menungguku, tidak juga suamiku.
Di mana laki-laki yang katanya dulu mencintaiku itu?
Aku memejamkan mata. Merasa bersalah sekaligus bodoh.
Semua kekacauan di rumah megah itu membuat aku tidak menyadari hal paling penting dalam hidup, mengandung anak.
Aku terus memejamkan mata, berusaha menahan hati yang bergolak.
Sesaat kemudian, langkah-langkah kaki mulai mendekat.
“Kalau kondisinya stabil, besok bisa pulang.” Suara sorang wanita terdengar.
“Baik, kalau begitu,” jawab suara laki-laki, itu suara suamiku.
“Janin yang gugur masih ada di laboratorium, nanti bisa diambil,” sahut suara perempuan, kemungkinan besar itu suara perawat.
Suara perempuan itu kemudian ber-echo di dalam hatiku, gaungnya tak berhenti meski kucegah.
Tubuh ini terasa sakit luar biasa.
Tak lama kemudian, aku membuka mata ketika merasa seseorang berdiri di dekat ranjang.
Betapa mataku menatap penuh kebencian pada laki-laki yang hanya menatap dalam diam itu.
“Mungkin lusa Kamu bisa pulang,” ucapnya kemudian setelah menatapku cukup lama.
Hanya itu?
Hanya itu?!
Dan-
Pulang?
Pulang ke neraka itu?!
Oh!
Mendadak gumpalan kemarahan di dada tak bisa lagi kutahan.
“Aaa …!” Aku menjerit menuntaskan segala kebencian.
Bantal dan semua benda yang ada di nakas melayang ke arah laki-laki yang menyebut dirinya sebagai suami itu.
Lalu, dua perawat wanita datang dan memberikan suntikan penenang.
***
Hari ini aku terbangun, lalu menatap penuh kemarahan pada kamar mewah milik keluarga suamiku ini.
“Mana anakku?” seruku pada laki-laki yang sedang mengganti kemeja itu.
“Ratri, anak kita sudah nggak ada,” jawabnya pelan, wajah laki-laki itu tampak lelah.
“Kenapa tidak diambil anak itu dari lab rumah sakit?” ucapku setengah berteriak.
“Untuk apa?” balas suamiku.”Ratri … sudah seminggu ini, itu saja yang ditanyakan, sudah kita lupakan yang telah lalu, kita ….” Suaranya mulai meninggi.
“Lupakan? Mudah sekali itu keluar dari mulutmu!” teriakku tambah kencang.
“Ratri, apa kita harus kita bertengkar tiap hari seperti ini?” Teriakannya lebih keras dariku.
“Ya! Aku hanya minta anak itu dibawa pulang,” seruku, mataku melotot.
“Itu hanya janin, janin, Ratri,” teriaknya kencang.
Betapa kalimatnya itu menambah luka yang sudah menganga.
Mengapa?
Mengapa tak sedikit pun bapak dari janin itu memahami perasaanku.
Kemana pengertiannya?
Kemana kelembutanya?
Amarahku menggelegak tak terkendali.
Aku mulai mengamuk, melemparkan semua isi kamar ini.
Tak satu pun benda-benda di kamar yang menyedihkan ini selamat dari amukanku.
Laki-laki itu ketakutan dan keluar kamar.
Aku mengejarnya, tetapi terlambat, pintu kamar telah ditutup dan dikunci dari luar.
Kini tubuhku menggelesot, bersandar di balik pintu. Energi yang kumiliki terkuras habis dan semua terlihat gelap.
Aku tak sadarkan diri.
***
Suara dari balik pintu membangunkanku.
“Sepertinya istrimu sudah tak waras,” ujar suara perempuan, suara ibu suamiku.
“Ah … mungkin dia masih shock karena kehilangan bayinya,” jawab suara lain, suara suamiku.
“Banyak kok yang kehilangan bayinya, tapi nggak begitu,” sahut suara perempuan lain.
“Iya, kayaknya memang sudah tak waras lagi perempuan itu.” Suara perempuan lain menimpali.
Kemudian suara-suara perempuan dalam keluarga ini, sahut menyahut, memberikan analisa dan memaparkan bukti bahwa istri saudaranya tidak waras lagi.
Air mataku mengalir deras mendengar suara-suara yang tak kunjung berhenti itu.
“Sudah, pokoknya besok pagi kita bawa dia ke rumah sakit jiwa,” ujar suara ibu suamiku memutuskan.
“Bu …,” jawab suara suamiku tanpa daya.
Hah?!
Tunggu!
Rumah sakit jiwa?
Aku?!
Aku terhenyak dan bangkit berdiri.
Tidak!!
Jangan sampai keluarga jahat ini menganiayaku lebih jauh.
Aku harus melakukan sesuatu.
Malam makin larut.
Tetapi, otak ini tak mau istirahat, kantuk lenyap entah kemana.
Andai menuruti keputusasaan ini, ingin rasanya melompat dari balkon. Tetapi, sejurus kemudian aku berpikir, jika harus mati aku tak ingin mati di sini, di tempat keluarga jahat ini.
Tidak!!
Jangan sampai.
Sejak kepulanganku ke rumah ini, pintu kamar ini selalu dikunci. Dengan alasan, khawatir jika aku melukai perempuan-perempuan keluarga suamiku itu.
Lalu, bagaimana harus keluar dari rumah ini?
Ibu suamiku itu, tentu tak main-main dengan ucapannya. Lalu, aku merasa harus tidur sebentar untuk mengembalikan energi.
Aku terbangun oleh bunyi getar alarm telepon genggam yang kuletakkan di bawah bantal.
Aku beranjak, lalu membuka pintu balkon.
Di bawah sana tentu keluarga ini sedang sarapan tanpa mempedulikanku.
Di sebelah balkon ini ada jendela dari ruangan lain di lantai dua ini.
Dengan hati-hati, aku berjalan pada bagian fasad yang menonjol, bagian yang berfungsi sebagai hiasan bangunan.
Dengan susah payah, akhirnya jendela ini terjangkau. Lalu, tanpa kendala yang berarti, tangan ini bisa membuka jendela yang kurang mendapat perhatian ini.
Ini hanya jendela dari salah satu lorong yang ada di lantai dua ini, bukan jendela kamar atau ruangan penting lain.
Dengan melangkah pelan aku menuju sebuah celah di antara dinding dan buffet indah dengan ukuran besar.
Ini merupakan tempat persembunyian yang terbaik untuk sementara.
Ketika orang-orang di meja makan keluar untuk mengantar para laki-laki di rumah ini untuk berangkat kerja di teras depan, aku bisa menuruni tangga tanpa terlihat.
Dan yang saat ini terasa sangat menyedihkan, dari sini terlihat jelas keluarga suamiku sedang sarapan.
“Bu, apa kita nggak malu sama orang lain? Gimana kalau orang lain tahu? Masak keluarga kita yang terpandang ini punya mantu gila,” ucap Bapak gusar.
“Duh, Pak! Gimana sih? ‘Kan bisa diatur biar orang lain gak tahu,” balas ibu suamiku sewot.
“Gimana caranya?” sahut bapak sambil mengangkat cangkir dan kemudian menyeruput kopi.
“Bapak ini, gimana sih? Jangankan membuat orang lain tak tahu, menghapus catatan pernikahan saja bisa,” ucap ibu suamiku dengan pongah.
Suamiku terlihat terkejut dan menatap ibunya dengan tak berkedip.
“Begini, ibu nggak ingin keluarga calon istrimu nanti tahu masalah ini. Jadi, sebaiknya kita hilangkan catatan pernikahan kalian,” ucap wanita itu percaya diri.
“Bu, itu ‘kan ada catatannya di KUA,” sahut si bungsu.
“Eh … eh! Sudah kamu anak kecil tahu apa? Pokoknya serahkan saja urusannya sama ibu!” pungkas wanita itu tak sabar.
Betapa sakitnya menyaksikan semua itu dari sini.
Seribu jarum saat ini seperti sedang menusuk kepalaku.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, aku harus melihat laki-laki yang disebut suamiku itu hanya diam, tertunduk tanpa daya.
Saat yang ditunggu-tunggu tiba, satu per satu orang-orang di meja makan itu beranjak dan keluar ke teras rumah.
Dengan cepat aku menuruni tangga dan melewati ruang makan.
Saat ini pembantu-pembantu di rumah ini tentu sedang konsentrasi membukakan gerbang atau kegiatan di service area untuk menyelesaikan pekerjaan.
Dengan cepat, tubuhku yang sekarang kurus tak terurus ini menyelinap keluar pintu dapur. Lalu, berpindah dari tempat bersembunyi ke tempat bersembunyi lain.
Pintu gerbang dibuka.
Dan jantung ini seakan mau meledak.
Karena mobil-mobil dari rumah ini yang akan keluar dari gerbang berpapasan dengan sebuah mobil yang akan masuk halaman rumah ini, mobil yang baru datang itu berwarna putih dengan bertuliskan RSJ Puspa Wangi.
Dua mobil dari rumah ini tetap keluar dari gerbang, sedangkan ambulance masih berhenti di dalam gerbang.
Lalu, ambulance tersebut masuk dan berhenti di depan teras. Pegawainya disambut oleh ibu suamiku.
Momen itu tak kusia-siakan, dengan cepat aku berlari keluar gerbang.
“Hah! Mbak Ratri! Mbak Ratri!” teriak pembantu yang sedang berada di pintu gerbang,
“Kejar …!” Suara ibu suamiku terdengar panik di belakang sana.