Aku menahan napas ketika mendengar suara pintu bagasi dibuka.
Suara kantong plastik yang dipegang terdengar gemerisik.
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Beberapa saat kemudian suara pintu bagasi ditutup terdengar.
Dengan cepat aku memompa oksigen ke dalam paru-paru. Bau kantong plastik dan apa yang ada di dalamnya begitu menyengat ketika masuk ke lubang hidung.
Lalu, mobil ini kembali berjalan.
Aku sedikit lega, sedikit.
Aku pasrah menunggu sampai mobil ini berhenti di suatu tempat. Berharap semua lancar tanpa kendala yang berarti.
Dan entah berapa lama tubuh ini berada di dalam tumpukan kantong-kantong plastik ini sampai pada satu waktu mobil ini berhenti.
Beberapa saat suara pintu depan terbuka, lalu ditutup terdengar.
Pasti pengemudi sedang meninggalkan mobil ini.
Dengan cepat tangan ini menyingkirkan tumpukan kantong-kantong yang menindih tubuhku.
Aku mengedarkan pandangan keluar jendela, mengecek apakah ada orang yang ada di sekitar mobil.
Dan setelah memastikan kondisi aman, pintu bagasi yang sedikit tergancal ujung plastik kubuka.
Sesaat kemudian aku terkejut, sesuatu sepertinya menahan gerak kakiku.
Dengan menyingkirkan kantong plastik yang masih menindih kaki, sebuah kain tampak menyangkut pergelangan kaki. Tapi, kain itu dapat ditarik dengan mudah.
Dan ternyata, kain itu adalah sebuah taplak meja yang kotor. Mungkin pemilik mobil ini mengunakannya sebagai lap.
Aku tersenyum.
Taplak kotor itu bisa digunakan untuk menutupi tulisan rumah sakit jiwa yang ada di belakang kaos yang kupakai.
Setelah keluar dari mobil itu, aku menyusuri jalan yang ramai.
Siang sebentar lagi berlalu, panas matahari tidak terasa terik.
Jam berapakah ini?
Aku nggak tahu, yang pasti langit masih terang, tetapi terasa teduh.
Tunggu!
Aku seperti mengenali rumah makan yang berada di depanku.
Kaki ini melangkah ke salah satu sudutnya dengan tergesa, dan benar saja, sebuah telepon genggam terselip di celah itu.
Ah!
Aku senang sekali. Aku merasa menemukan satu harta karun.
Sayang kesenangan itu terhenti ketika bunyi perut yang keroncongan menyadarkanku.
Sepertinya, aku harus mengisi lambung ini. Tetapi dengan apa?
Aku berjalan beberapa langkah dan menemukan pintu belakang dari warung itu.
“Bu, apa Ibu butuh orang untuk cuci piring?” ucapku, aku bicara senormal mungkin. Ini pertama kalinya aku bicara semenjak dimasukan ke rumah sakit jiwa.
Ibu tua itu tampak terkejut ketika tiba-tiba melihatku muncul di pintu belakang rumah makannya. Ia menatap dengan penuh curiga.
Tapi, aku malah melirik ke kanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada petugas rumah sakit jiwa yang mengejar.
“Dibayar dengan makanan saja, Bu,” pintaku, bau makanan tercium menambah perih lambung.
Wanita tua mengambilkan beberapa kue, lalu memasukkan itu ke dalam plastik.
“Ini ambil saja, sedang gak butuh orang untuk cuci piring,” ucapnya sambil mengangsurkan bungkusan itu.
Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Segera kue-kue dalam plastik itu mengisi lambung ini.
Dan setelah rasa lapar hilang, aku melanjutkan langkah hingga beberapa saat kemudian kaki ini berhenti di depan sebuah rumah megah.
Tunggu!
Bukankah rumah megah ini rumah suamiku?
Ah … tentu saja, bukankah ini masih kotanya?
Rumah makan itu memang tidak begitu jauh dari tempat ini.
Ah!
Kenapa tanpa sadar kaki ini berjalan ke sini?
Aku menyembunyikan tubuh ini di balik pohon ketika menatap rumah megah yang seperti neraka itu.
Dan memandang rumah itu membangkitkan luka.
Kemarahan dan kekecewaan yang biasa diredakan oleh obat-obatan itu rasanya ingin dilampiaskan. Tapi.
Tunggu!
Jika kemarahan itu lepas dari belenggu dan aku menjerit di sini, bisa saja yang dari dalam rumah itu keluar dan menangkapku lagi.
Dan tentu saja, kesempatan untuk lari dari rumah sakit jiwa belum tentu ada lagi.
Kemarahan harus bisa ditahan sebisa mungkin.
Tangan ini mencengkeram bagian samping baju tanpa sadar.
Ayo otak, berpikirlah!
Apa yang harus dilakukan sekarang?
Ah! Andai bisa mengambil barang-barangku yang masih tertinggal di sana.
Tapi, apa semua itu masih ada?
Mungkin tak satu pun tersisa, sudah dibakar atau dibuang oleh perempuan-perempuan yang ada di dalam rumah itu.
Dan suamiku?
Laki-laki itu?
Ah! Tak tahan diri ini mengingatnya.
Aku berlari meninggalkan rumah megah itu, kembali ke dekat rumah makan yang sebelumnya kujumpai.
Lalu, otakku yang sudah lama dilumpuhkan ini mencetuskan ide untuk berjalan ke sebuah toko ponsel.
“Ini harganya berapa ya, Mbak?” ucapku pada penjaga toko ponsel itu.
Perempuan berkerudung ini mengambil telepon genggam dan mengecek kondisinya.
“Model tahun lalu ya?” balasnya.
“Hah! Tahun lalu?” seruku terhenyak.
Berapa lama aku ada di rumah sakit jiwa?
Berapa lama yang kuhabiskan untuk menatap kosong pada lorong-lorong bangsal-bangsal itu?
“Kenapa, Mbak?” ucap wanita itu yang sejak kedatanganku menatap penuh curiga.
“Ah, nggak papa, Mbak. Eng … saya lupa bulan berapa belinya. Em, tak terasa waktu berlalu dengan cepat,” ucapku kaku.
“Benar mau dijual?” tanyanya menegaskan.
Aku mengangguk tanpa ragu.
Telepon genggam itu aku aktifkan. Dengan cepat semua data kupindahkan pada memory card kecil yang ada di dalam sana.
Lalu, benda kecil dan kartu sim dikeluarkan dari gadget itu. Kemudian, lembaran-lembaran uang berpindah ke tanganku.
Ada yang harus kutuju setelah ini.
***
Malam telah tiba ketika aku memasuki sebuah rumah sakit.
Beberapa pasien terlihat berjubel di teras bangsal.
Untuk menunggu pagi, aku merasa tidak masalah jika harus tidur di teras bangsal ini, pura-pura sebagai keluarga pasien.
Untung saja, tidak ada pengecekan tanda pengenal yang harus dibawa keluarga pasien yang menunggu, sepertinya malam ini akan aman.
Uang dalam kantong plastik kupeluk erat agar aman.
Akhirnya pagi datang.
Aku mendaftar sebagai orang yang akan mengambil sesuatu yang tertinggal di laboratorium.
Untung data diri masih tersimpan di rumah sakit, sehingga tidak perlu menunjukan kartu pengenal.
Hati ini berdegup tak beraturan, khawatir, rumah sakit ini akan melaporkan pada keluarga suamiku.
Syukurlah, karena pagi hari rumah sakit belum sibuk, dengan cepat benda yang itu dapat kuperoleh.
Lalu, aku berlari mencari angkutan umum, agar segera keluar dari rumah sakit ini.
Aku berlari sambil mendekap erat benda itu, benda itu juga kusatukan dengan uang yang masih tersisa.
“Kamu aman di sini, Sayang,” batinku bicara pada benda itu.
Dua jam kemudian aku sampai di rumah orang tuaku.
Ah! Lama sekali rasanya tidak menginjakkan kaki di rumah ini.
Kok, rumah ini tampak tak terawat, di mana kedua orang tuaku?
Sepertinya, rumah ini sudah lama tidak ditempati.
“Ibu, ini Bu Surya ke mana ya?” tanyaku pada seorang yang berada di dekat rumahku.
“Bu Surya? Mbak ini siapa?” tanya wanita itu, tetanggaku ini tampak tak mengenaliku.
“Saya … saya …,” jawabku bingung.
Kalau kukatakan sejujurnya, apa wanita ini akan melapor pada keluarga suamiku?
“Bapak dan Ibu Surya ‘kan sudah meninggal, ada anaknya satu, perempuan tapi sepertinya tak pernah pulang,” ucap Ibu itu sambil terus memperhatikanku.
Deg!
Jantungku mencelos.
Jawaban itu membuatku terkejut bukan kepalang.
Tubuh ini gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Ingin rasanya berteriak dan menangis menjerit-jerit. Tetapi, sekali lagi, aku harus menahan diri sekuat tenaga.
Jangan sampai … jangan sampai aku dibawa ke rumah sakit jiwa lagi!
Mulut ini tak sanggup bicara, aku hanya menganggukkan kepala untuk pamit.
Tanpa mempedulikan tatapan wanita itu, aku berjalan memasuki jalan sempit di samping rumah. Ada pintu belakang yang bisa dibuka dengan mudah di sana.
Aku benar-benar ingin segera masuk ke rumah orang tuaku dan melepaskan semua yang sudah tak lagi bisa ditahan ini.
“Pak, Bu, Ratri pulang. Anak Bapak dan Ibu akhirnya bisa pulang.”