Table of Contents
Lates Chapters
Tidak sengaja bertemu Almira
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Maya kemudian di suruh mertuanya ke minimarket depan komplek untuk membeli keperluan mertuanya. "Maya…" panggil Margareth nyaring. "Ya mah," jawab Maya. "Belikan ini di minimarket sana, awas kalau kamu kabur!" ucap Margareth menyerahkan catatan kecil. "Mamah kan bisa pergi sendiri," tolak Maya. "Berani ya membantah…
Margareth Menemani
"Boy.. Gimana kalau mamah temani istrimu saja? Kasihan dia masih belum sembuh total, nanti kalau butuh bantuan gimana?" usul Margareth yang langsung membuat hati Maya gelisah. "Please boy jangan kabulin.. Mamahmu ada niat terselubung," batin Maya gelisah. "Besok rencananya aku masih cuti kok mah, mungkin…
Maya pulang dari rumah sakit
Dua minggu sudah, akhirnya Maya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, sebuah berita yang membahagiakan bagi Maya karena mulai hari ini sudah tidak ada lagi tangannya yang pegal karena terpasang infus dan juga pemandangan setiap hari yang isinya obat-obatan, jarum suntik, serta makanan yang…
Merebut Perhatian Maya
Kini Maya sudah berada di kamar inapnya dan akan berbaring di ranjang. Adit sigap menuntun Maya berdiri dan membantunya tidur, ketika Boy masuk, ia melihat pemandangan yang merusak mata indahnya. "HEI APA YANG KAMU LAKUKAN PADA MAYA? DIA SEDANG SAKIT!! JANGAN MESUM!!!" pekik Boy…
Kehadiran Adit menjenguk Maya
"Sus.. Suster, sini.." teriak Boy. "Iya, ada apa pak?" tanya suster setelah menghampiri Boy. "Tau gak dimana pasien yang ada dikamar ini, namanya Maya," ucap Boy panik. "Kalau hanya nama, maaf Pak saya tidak ingat nama-nama pasien," ucap suster lalu Boy menunjukkan foto…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Maya Ingin Bekerja di Kota
Maya tidak mau terus menerus menjadi beban kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani di lahan orang dengan upah yang tidak seberapa, bisa untuk makan saja mereka bersyukur, maka dari itu, tekad Maya sudah sangat kuat dan juga bulat untuk mengubah nasib…
ReadmoreChapter 2: Boy Yudhistira
Di pusat kota yang penuh hiruk pikuk dunia, ada salah satu pria yang sangat membatasi dirinya dengan wanita. Dia adalah Boy Yudhistira-memiliki fisik sangat sempurna dan banyak kaum hawa yang sangat mendambakan, tak hayal dimana pun berada selalu menjadi pusat perhatian. Apapun…
ReadmoreChapter 3: Kebimbangan Maya
Besok Maya akan berangkat ke ibukota untuk bekerja dan juga mengubah nasib keluarganya. Maya berharap penuh pada pekerjaan ini. Setelah selesai berkemas, kini Maya menemui kedua orang tuanya untuk meminta izin. Awalnya sang ayah menolak, baginya Maya masih terlalu muda untuk merasakan…
ReadmoreChapter 4: Menikah
Setelah kepulangan dari rumah orang tuanya, Boy langsung menyuruh Handoko untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Maya dalam waktu seminggu. Hanya Handoko yang mengetahui pernikahan kontrak sang majikan. Maka dari itu, Handoko tidak mau mengecewakan majikannya. Segala keperluan ia persiapkan sedetail mungkin, bahkan sampai menyewa…
ReadmoreChapter 5: Awal mula kehidupan
Setelah acara pernikahan juga resepsi berlangsung dengan lancar dan meriah kini keduanya langsung meninggalkan gedung dan bergegas menuju mansion Boy. Maya dibuat kaget dengan keberadaan rumah baru Boy yang tidak sama dengan apa yang ditempati Maya ketika pertama kali datang ke kota. Karena takut…
ReadmoreChapter 6: Maya oh Maya
Setelah semalam dengan aksi hebohnya yang membuat seisi rumah pada panik, kini pagi hari sekali, tepatnya pukul 5 pagi Maya sudah bangun dan langsung menuju dapur. "Non mau ngapain disini? Kalau butuh sesuatu kan bisa tekan bel," tanya pembantu kaget. "Ya mau masak lah bi…
ReadmoreChapter 7: Maya membuat Resah
Setelah keduanya bersiap, kini Boy kembali dibuat heran dengan penampilan istrinya itu. Memang dia memakai pakaian yang ada di lemari, namun, itu pakaian yang di gunakan untuk di rumah, apa Maya gak bisa membedakannya? Terlebih tidak ada polesan make up, semakin menambah keprihatinan…
ReadmoreChapter 8: Sikap berlebihan Boy
"Syukurlah.. Mau kemana, nona cantik? Apa salah ruangan??" tanya pria itu. "Mau cari angin saja," jawab Maya lalu menunduk. "Kebetulan sekali, saya ada tugas di luar, mau ikut?" ajak pria itu dan Maya merasa bimbang. "Tidak, pak, terima kasih, saya mau di sekitar sini saja," jawab…
ReadmoreChapter 9: Acara makan malam
Hari ini, Boy sengaja tidak ke kantor, lantaran ingin mengajari sang istri belajar bagaimana tata cara makan di dalam keluarganya, karena mamahnya mengundang untuk acara makan malam. Awalnya Boy menolak, karena ancaman Margareth, akhirnya bersedia datang. "Kalau sampai beneran tidak datang, jangan salahkan mama…
ReadmoreChapter 10: Acara makan malam 2
"Saya mau melanjutkan sekolah, tante," jawab Maya dengan tenang. "Kenapa sampai sekarang belum juga sekolah?" tanya Silvi menjebak. "Karena waktu itu saya belum lolos, tahun ajaran depan mau berusaha lagi, semoga saja lolos," jawab Maya dengan tenang hingga membuat Boy kagum. "Apa yang membuatmu tidak lolos?"…
ReadmoreChapter 11: Pergi ke pasar
*Menceritakan bagaimana Boy, Maya juga Tinah pergi ke pasar tradisional guna menyambut kedatangan teman lama ayahnya. Awal mula yang membuat Boy merasa lebih bersyukur dengan kehidupan yang di rasakan selama ini.* Pagi hari sekali, Maya dan Tinah sudah bersiap untuk ke pasar, keduanya…
ReadmoreChapter 12: Marah besar
Setelah acara pertemuan, kini kedua orang tua Maya bergegas menuju kamar karena badannya sudah sangat lelah apalagi ibunya yang tadi harus ke pasar dengan drama yang dialami Boy dan anaknya. Begitu juga dengan Maya yang ingin masuk ke kamar namun d icegah oleh Boy. "Ada…
ReadmoreChapter 13: Bersitegang
Pagi harinya, Maya sedang menyapu halaman depan sambil bernyanyi, tanpa disadari, ada yang sedari tadi memperhatikan. Akhirnya Adit menepuk pelan bahu Maya. "Selamat pagi, May,""Adit, sejak kapan disini?" tanya Maya terkejut. "Daritadi," jawab Adit sambil tersenyum. "Kenapa aku tidak tau?" gumam Maya yang didengar oleh Adit. "Karena…
ReadmoreChapter 14: Ketahuan
"Muak dengan Adit, jangan di limpahkan ke saya!" protes Maya kesal. "Karena kamu penyebab utama semua ini, kenapa dengan lancang nya menerima perjodohan itu?" tanya Boy mengintimidasi. "Perjodohan? Jangan sembarangan kalau berbicara! Lebih baik saya keluar saja," protes Maya dan tangannya ditarik sampai…
ReadmoreChapter 15: Pulang ke kota
Pagi hari yang cerah, menjadi suram, kehadiran Adit membuat Boy kesal. Memang, kedua orang tua Maya menyambut baik kedatangannya. "Kenapa kalau bertamu pagi sekali? Dasar tidak sopan!! Pagi hari itu waktunya orang beraktivitas," gumam Boy yang di dengar Maya. "Siapa yang bertamu?" tanya Maya…
ReadmoreChapter 16: Anniversary wedding Margareth dan Bowo Yudhistira
Hari ini, Maya di ajak ke sebuah butik terkenal, di sana, Maya di layani oleh beberapa pelayan yang sudah menanti kehadirannya, terdapat beberapa model pakaian yang sangat cantik dan terlihat mewah, ketika di suruh memilih, dirinya merasa kebingungan karena semuanya bagus. Akhirnya, Boy meminta…
ReadmoreChapter 17: Membuat Kegaduhan
Tidak berselang lama, kedua orang tua Boy menghampiri anaknya untuk menanyakan ada keributan apa. Melihat banyaknya orang yang berkerumun namun diam membisu, membuat mereka semakin bingung. "Di sini rupanya," ucap Yudhistira mendekati Boy dan Maya. "Ada apa ini?? Kegaduhan apa yang sudah kamu buat?" tanya…
ReadmoreChapter 18: Rencana licik Almira
Melihat foto mantan kekasih yang kini sudah menjadi suami orang, membuat Almira merasa tidak rela, baginya, hanya dia yang boleh memiliki Boy. Janji yang dulu pernah di ikrarkan harus ditagih kembali, tak peduli posisinya nanti dia menjadi madu, yang terpenting, kembali ke dalam…
ReadmoreChapter 19: Margareth tinggal di mansion
Pagi hari sekali, Margareth sudah tiba di mansion anaknya tanpa memberitahu terlebih dahulu, sontak saja, keduanya sangat kaget, apalagi, melihat Margareth membawa dua koper besar yang kemudian di bawa oleh pembantu ke kamar tamu. "Mama? Kenapa pagi-pagi sekali sudah datang?" tanya Boy kaget. "Selamat pagi,…
ReadmoreChapter 20: Akting harus baik
Setelah Boy pulang kerja, Margareth mengundang anak dan menantunya untuk duduk di ruang tengah, untuk menginterogasi dan mencari tahu penyebab apa yang membuat keduanya pisah kamar. "Ada apa, Mah? Sepertinya serius sekali," tanya Boy tiba-tiba feelingnya tak baik. "Sangat serius, Boy," jawab Margareth penuh penekanan. Melihat…
Readmore





