Dendam Rosia Jingga

Bab 10 – Nyonya Jatuh

Tok tok tok!

Rosia mengetuk pintu ruangan Devano yang setengah terbuka. Di dalam pria itu duduk santai dengan kedua kaki dia naikkan di atas meja.

“Masuk!” Terdengar perintah Devano.

Rosia masuk dan duduk di kursi dekat pintu. Devano masih sibuk menelepon. Rosia dengan cepat tahu si gondrong sedang menelepon kekasihnya yang sok manja itu.

“Bucin. Dasar,” ucap Rosia di hati.

Lebih lima menit berlalu, barulah Devano menyudahi panggilan, lalu pindah duduk di kursi yang bersebelahan dengan Rosia.

“Cek ini. Pastikan semua sesuai. Nanti kalau Berny tanya jangan sampai salah paham.” Devano menunjukkan berkas laporan hasil survei yang akan dia berikan pada Bernardo.

“Baik, Tuan.” Rosia mulai memperhatikan berkas-berkas itu.

Beberapa menit kemudian Rosia selesai. Tetapi Devano tidak memperhatikan, dia sibuk dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.

“Saya kira sudah semuanya, Tuan. Ini tidak akan jadi masalah,” kata Rosia.

“Oh, oke.” Devano mengangkat muka memandang Rosia, lalu balik melihat layar ponsel di tangannya.

“Kalau begitu saya permisi, Tuan,” kata Rosia lagi sembari dia berdiri.

“Eiitt! Belum selesai. Kita ke ruangan Berny. Ayo!” Devano bangun dan berjalan menuju pintu kantor itu.

Rosia menarik napas dalam. Untuk kesekian kali, Doris benar. Devano tidak akan mau menjawab sendiri, dia akan memastikan Rosia ada dengannya saat dia bicara dengan Bernardo.

Mereka pindah lantai, menuju ke kantor Bernardo, menggunakan lift.

“Kamu senang kerja di sini?” Pertanyaan tidak terduga Devano lontarkan.

Rosia memandang Devano.

“Aku beneran tanya. Kamu senang tidak?” tegas Devano.

“Tidak sama sekali, Gondrong!” Rosia berteriak. Tapi hanya di hatinya.

Kalau mau jujur, kelakuan Devano ini membuat Rosia sebal. Dia memang bertingkah semaunya, terlalu santai, dan tidak serius dengan pekerjaan.

“Saya bekerja belum dua minggu, Tuan. Masih perlu penyesuaian.” Jawaban normatif yang Rosia berikan.

“I see,” ujar Devano. “Kalau disuruh memilih, bagian yang mana yang kamu paling suka? Yang menurut kamu cocok sama diri kamu?”

“Kenapa nanya terus? Kayak HRD saja!” Lagi-lagi gerutu itu hanya terdengar di hati Rosia.

“Di bagian promosi, digital marketing saya kira,” jawab Rosia.

“Hmm, berarti kamu kerja bareng aku terpaksa, ya?” Devano mencondongkan tubuhnya, mendekat, hingga jarak mereka tidak lebih dari dua puluhan senti.

Rosia kaget dan mundur dua langkah. Devano kembali menarik tubuhnya pada posisi semula.

“Saya tetap bersedia belajar apapun, Tuan.” Rosia menjawab dengan tegas dan jelas.

“Good girl,” sahut Devano.

Lift terbuka. Devano keluar dan Rosia mengikuti. Sampai di kantor Bernardo, ketegangan terasa. Kakak Devano pria yang sangat serius, Setiap menit buatnya sangat berharga. Percakapan mereka berjalan lancar, karena laporan yang Devano berikan sebagian besar Rosia yang menjawab dan memberikan penjelasan.

“Doris benar, kamu memang bagus,” kata Bernardo setelah selesai pembicaraan mereka.

Rosia menarik napas lega. Dengan pujian itu, dia akan mampu bertahan di perusahaan. Kesempatannya masih terbuka. Dua pria yang bertolak belakang jiwanya ini harus bersiap, jika satu kali mereka akan kehilangan banyak hal karena amarah yang membara di dada Rosia.

“Terima kasih kepercayaannya, Tuan,” ucap Rosia dengan suara tenang.

“Oke, Berny, aku balik. Sisanya urusan pembelian dan lain-lain, aku tidak mau ikut campur,” kata Devano. Dia berdiri dan bersiap keluar ruangan itu.

Rosia pun ikut berdiri.

“Rosia, bisa kamu tunggu sebentar? Ada yang aku mau bicarakan dengan kamu,” ucap Bernardo menahan Rosia.

“Soal apa, Tuan?” Rosia memandang Bernardo. Debaran di dada Rosia tiba-tiba muncul. Jika Bernardo yang meminta, Rosia seketika tegang. Beda sekali dengan Devano, dia membuat Rosia kesal.

“Oke, aku duluan,” sahut Devano dan melangkah menjauh.

“Tugas yang aku berikan sama kamu hari itu sangat bagus. Aku mau kamu membuat lagi beberapa konsep. Ini …” Bernardo membuka file yang lain di komputer dan memberikan penjelasan pada Rosia.

“Berny!!” Devano di depan pintu, memandang pada Bernardo dan Rosia.

Bernardo dan Rosia menoleh cepat karena panggilan itu terdengar panik.

“Apa lagi?” sahut Bernardo kesal.

“Telepon dari rumah. Mama jatuh.” Devano terlihat sangat cemas. Mukanya memerah dan rambutnya sedikit awut-awutan.

“Kamu jangan bercanda!” tukas Bernardo.

“Buat apa? Aku mau ke rumah sakit sekarang!” Devano bergerak terus karena menahan tegang yang dia rasa.

“Sial! Aku ada meeting sangat penting. Kamu pergi sendiri saja.” Bernardo mulai ikut cemas.

“Aku, Berny, kamu tahu aku.” Devano membuka kedua tangannya, meminta Bernardo ikut dengannya.

“Rosia.” Bernardo menoleh pada Rosia. “Kamu ikut Devano. Dia bisa kalang kabut kalau ke rumah sakit sendirian.”

“Saya, Tuan? Tapi …” Rosia bingung. Ini urusan keluarga kenapa Rosia dibawa-bawa?

“Anggap saja kamu dinas luar! Aku bayar sebagai lemburan tiga kali lipat hitungannya! Jelas? Kamu ikut Devano!” Suara Bernardo meninggi. Dia tidak mau dibantah.

“Baik, Tuan,” ucap Rosia dengan suara menciut.

Dengan kebingungan, Rosia mengikuti Devano. Kembali berdua di kendaraan mewah merah mengkilat. Kali ini dengan kondisi Devano panik sepanjang jalan. Dia bergumam tidak jelas setiap sekian menit. Rosia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya mengingatkan Devano berhati-hati menyetir, karena dia sangat panik.

“Mama pernah hampir meninggal. Aku di rumah sakit sama dia waktu itu. Aku …” Tiba-tiba saja Devano bercerita. “… melihat bagaimana mama berjuang agar tetap bertahan. Itu pengalaman yang sulit aku lupakan. Sejak itu, aku takut … kalau harus berurusan dengan rumah sakit.”

Rosia memandang Devano. Jadi itu alasannya dia tidak mau ke rumah sakit sendiri.

“Hello!? Apa kabar aku, Gondrong!? Ayahku mati di depanku karena ayahmu!” Teriakan itu kalau boleh ingin Rosia lontarkan di depan muka Devano.

“Sorry, mungkin kamu berpikir aku pria lemah. Tapi, memang begitu …” Devano berbelok, sedikit lagi mereka akan sampai.

Rosia kembali melihat ke jalanan yang ramai. Dia mengepalkan kedua tangannya. Ada-ada saja yang harus dia hadapi dengan anak-anak Abel. Setelah ini, Rosia akan bertemu istri Abel.

“Coba papa ga ke Malaysia. Kenapa mama mesti jatuh? Yang jaga dia ngapain aja, sih?” ujar Devano. Panik belum berkurang dari nada suaranya.

Sampai di tujuan, bergegas mereka masuk ke ruang gawat darurat. Perawat mengajak Devano masuk. Tapi dia meminta izin agar Rosia juga diperbolehkan masuk. Perawat terpaksa mengizinkan.

Di dalam ruangan, wanita setengah baya, dengan rambut kecoklatan terbaring lemah. Matanya terpejam dengan wajah pucat. Ada alat bantu pernapasan dan lainnya yang menopang agar wanita itu tetap bertahan.

Melihat pemandanga itu Devano seketika menangis. Dia menarik Rosia dalam pelukannya dan melepas tangisnya yang dia coba tahan agar tidak terdengar keras. Rosia gelagapan. Dia tidak siap. Devano benar-benar memeluknya kuat, seperti meminta tolong agar tidak ditinggalkan sendirian.

 

 

*

*

 

#20harimencarimaaf

#day6

#novelgoodcompetition

 

Lates Chapters

Bab 44 – Done

Semua mata tertuju pada Marini. “Bertahun-tahun aku juga marah dan menolak apa yang harus kami alami. Kenapa kami diperlakukan tidak adil? Kenapa Tuhan izinkan ini…

Bab 43 – Pertemuan

“Mas, kenapa ke sini?” Rosia tidak habis pikir, mereka masuk ke halaman mansion Ardante. “Ibu kamu menunggu di sini, Rosia.” Catherine yang menjawab. “Apa?” Rosia…

Bab 42 – Hancur

Rosia menunggu Catherine memberi penjelasan. Tidak mungkin Ale minta Rosia tinggal dengannya. Itu tidak akan baik, Ale adalah seorang laki-laki. Sekalipun dia dekat, seperti kakak…

Bab 41 – Ros?

Rosia keluar kamar Ale. Perlahan dia berjalan sambil memandang ruangan demi ruangan. Dia harus pergi dari situ. Rosia akan pulang ke Surabaya secepatnya. Tetapi, Rosia…

Bab 40 – Sebenarnya

“Tidak, aku tidak mau, tidak …” Rosia menggeleng-geleng. Dia berusaha bicara dengan kuat tetapi tubuhnya terasa begitu lemah, dan suaranya sulit sekali keluar. Rosia membuka…

Bab 39 – Pengakuan

Rosia menatap Abel lekat-lekat. Pria itu terbaring dengan mata terpejam. Terlihat lelap, seakan-akan dia tidak sakit sama sekali. Rosia maju tiga langkah lebih mendekat. Dia…

Bab 38 – Please

Dua hari berlalu. Rosia tidak bertemu dengan Bernardo dan Devano di kantor. Mereka sibuk dengan Abel yang masih dalam masa kritis. Rosia pun tidak bisa…

Bab 37 – Abel Tumbang

“Mereka kacau dan menyebalkan, Nyonya. Suamimu yang membunuh ayahku. Anak-anakmu hanya beruntung saja karena suami Nyonya sukses. Mereka membuat aku kesal karena aku harus kehilangan…

Bab 36 – Peluk Aku, Rosi

Rosia hampir melepaskan pelukan Bernardo, tapi dia urungkan. Dia membiarkan Bernardo memeluknya dengan kuat. Dia seperti ingin melepas beban yang sangat berat yang menekan begitu…

Bab 35 – Kejutan di Ruang Meeting

Bernardo menahan geram yang menggulung di dadanya. Tapi dia sudah menduga ini yang akan terjadi. Kalau sedang suntuk karena wanita, ayah dan adiknya tidak bisa…

Bab 34 – Jadilah Pria Dewasa!

Sampai di rumah Doris. Wanita itu tampak agak pucat dan loyo. Berbeda dengan keceriaan yang selalu dia tunjukkan. Tetapi saat mendapatkan pizza, dia lebih cerah…

Bab 33 – Di Antara Tiga Ardante

“Papa percaya sama aku?” Bernardo berhadapan dengan Abel. Ketegangan sangat terasa di ruangan itu. Abel duduk bersandar pada punggung kursi dengan wajah merah. Ada amarah…

Bab 32 – Pertengkaran

Rosia membeku. Dunia di sekelilingnya seperti berhenti. Yang dia rasa sekujur tubuhnya panas. Detak jantungnya begitu cepat seolah-olah tidak terkendali. Sementara setiap engsel tubuhnya seperti…

Bab 31 – Devano Galau Parah

"Rosi, kamu paham pasti maksud Ibu. Kamu satu-satunya harta Ibu yang paling berharga. Setelah ayahmu pergi, apa yang Ibu perjuangkan? Kamu, Nak. Kamu kesayangan Ibu."…

Bab 30 – Jaga Diri, Jaga Hati

"Happy birthday, Mom. Love you so much." Bernardo memberikan kecupan di kedua pipi Erlina, lalu menyerahkan bunga dan bingkisan yang dia siapkan. "Makasih, Bern. Cantik…

Bab 29 – Ibu, Selly, dan Erlina

Bernardo bangun pagi itu dengan kepala pening. Semalam dia asyik di club dan pulang lewat jam dua pagi. Saat dia membuka matahari sudah terang. Dia…

Bab 28 – Ibu Di Mana?

"Aku mesti balik. Lain kali kita lunch bareng lagi." Ale berdiri dan bersiap meninggalkan kafe itu. Ale berjalan mendekati Catherine. Dia berbicara sebentar dengan wanita…

Bab 27 – Di Kafe Catherine

Rosia pun menanyakan pertanyaan yang sama, berulang kali dan tidak ada jawaban yang memuaskan. "Pertanyaan bodoh itu masih kadang aku tanyakan." Doris tersenyum kecil, senyum…

Bab 26 – Tetap di Dekatku

Kembali Bernardo menjalankan kendaraan dan melanjutkan perjalanan. "Kurasa Bu Selly memang pegawai yang cakap, dia bekerja dengan sangat baik." Rosia bicara setelah sekian lama hanya…

Bab 25 – Rahasia Selly

"Maaf, Tuan. Ini teman lama saya. Mas Ale." Rosia malah memperkenalkan Ale pada Bernardo. Bernardo hanya menatap datar. Ale memperhatikan Bernardo dan Rosia. Dia merasa…
error: Content is protected !!