Table of Contents
- Chapter 1: 1. Awal kekacauan
- Chapter 2: 2. Penculikan istri Danuseka
- Chapter 3: 3. Kekejian Sariti.
- Chapter 4: 4. Murka Danuseka
- Chapter 5: 5. Alam Mimpi
- Chapter 6: 6. Sukma yang terancam.
- Chapter 7: 7. Meraga Sukma lagi.
- Chapter 8: 8. Kumbolo.
- Chapter 9: 9. Wanita penguasa alam mimpi.
- Chapter 10: 10. Nyi Ajeng Ratri.
Lates Chapters
84. Akhir perjalanan hidup
Tidak sedikit warga yang langsung jatuh pingsan manakala sosok hitam besar memorak-porandakan tempat berlangsungnya Ritual doa-doa. Melihat hal itu Ajiseka tidak dapat menahan dirinya, pasalnya malam ini adalah malam sakral pemakaman jasad kuno leluhurnya. Ia langsung menghempaskan kekuatan besarnya ke arah sosok hitam…
83. Jasad utuh Sariti
Senja jingga terlewati, temaram pun mengantar sang malam mencapai puncak kelam. Di sebuah bangunan kuno di atas Puncak Punden, beberapa orang tengah khusyuk memanjatkan doa untuk leluhur yang disemayamkan di lokasi itu. Punden Kepaten, nama yang terlontar dari mulut Danuseka akibat beberapa kali…
82. Pertarungan Danuseka melawan Ajeng Ratri
Alam yang temaram memanas. Senyatanya Danuseka tidak selemah seperti dugaan Ajeng Ratri, setiap digdaya yang dikeluarkan mampu di halau begitu mudah oleh Danuseka. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat alam ilusi buatan Ajeng Ratri itu hancur lebur, sayangnya setelah kehancuran itu terjadi Ajeng…
81. Sariti leluhur Ajiseka
Sorot penuh amarah terlihat jelas di tatapan mata Danuseka, sebab sosok arwah yang ada di depannya tidak lain adalah Sekar Sari atau Sariti. Dahulu semasa hidup dan di jaman terbentuknya keraton Setyaloka, Sekar Sari merupakan salah satu anak pemilik keraton dari istri kedua…
80. Bantuan Dewi Panguripan
Raja Tirta Dunya membisiki Ajiseka agar keluar dari pusaran air Danau, hal itu di lakukan karena tidak adanya pengawasan dari pihak lain. Sedangkan pemuda siluman ikan titisan iblis itu bukanlah lawan yang tepat untuk Ajiseka. Tentu raja Tirta Dunya sudah mempertimbangkan dan menelisik…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: 1. Awal kekacauan
“Romo, semalam Aji bertemu Eyang. Eyang menyuruh Aji segera belajar Kanuragan supaya bisa menjaga keraton Setyaloka dan wilayah Punden dari incaran wanita yang bernama Sariti.” Aktivitas Danuseka terhenti seketika saat putranya berbicara, “Oya? Kamu tau dimana keraton itu, Nak?” 13 tahun lalu…
ReadmoreChapter 2: 2. Penculikan istri Danuseka
“Ki Danuseka!” Tiba-tiba saja Danuseka hadir di depan utusan yang memanggilnya, “Ada apa, Kang? Adakah sesuatu yang genting di bawah sana, Kang?” “Ketiwasan, Ki. Nyai dibawa makhluk selendang berkepala manusia, Ki!” Mendengar aduan itu dada…
ReadmoreChapter 3: 3. Kekejian Sariti.
Wilayah Punden semakin mencekam. Obor-obor menancap di sembarang tempat, menerangi sebagian lokasi yang semula gelap gulita. Ya! Pasukan dari golongan manusia yang dipimpin oleh Sariti mulai beraksi, mereka berasal dari suatu daerah yang telah dikuasai oleh pengaruh pimpinan lelembut…
ReadmoreChapter 4: 4. Murka Danuseka
Ketika kebengisan dipertontonkan oleh Sariti, tetua wilayah punden tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa mengutuk sosok yang berdiri angkuh di atas sebuah batu besar. Ya! Sariti mengendalikan seluruh lawannya. Dia memanfaatkan amarah rekan-rekan Danuseka. Cukup lama tubuh para tetua berada dalam kendali…
ReadmoreChapter 5: 5. Alam Mimpi
Terik mentari pagi menghangatkan wajah-wajah sendu warga Punden. Berjibaku mengurusi puluhan mayat sisa tragedi semalam, duka diwilayah Punden tidak terelakkan lagi. Jangankan puluhan nyawa, satu nyawa saja melayang akibat kebengisan, mereka sangat menyayangkannya. Belum genap satu bulan memangku tanggung jawab, Danuseka sudah di…
ReadmoreChapter 6: 6. Sukma yang terancam.
Cicit burung mengantar langkah riang Ajiseka. Tekadnya yang kuat membuat dirinya mantab meninggalkan ayahnya. Bahkan, embun pagi yang dingin tidak menyurutkan ayunan langkahnya. Tepi Selatan menjadi tujuan pertama Ajiseka, ia dijemput oleh dua orang tetua yang cukup mumpuni. Belum lagi pengawalan diam-diam Ki…
ReadmoreChapter 7: 7. Meraga Sukma lagi.
Dewi Panguripan. Wanita dari bangsa lelembut beraliran putih, memiliki paras yang ayu dan berbudi baik. Sosoknya tidak banyak di kenal, sebab ia sendiri sejatinya sudah menjauh dari permasalahan-permasalahan dunia. Tetapi, tidak untuk keturunan penguasa Punden, pemilik keraton Setyaloka yang kini moksa. Kehadirannya yang…
ReadmoreChapter 8: 8. Kumbolo.
Dhar! Dhar! Senyum mengembang manakala Ajiseka mampu membuat makhluk itu terpental jauh. Namun, bukan niat Ajiseka untuk melukai, ia gegas mengayunkan langkahnya menghampiri sosok yang baru saja terpental. “Maafkan aku, aku tidak berniat sekeras itu melemparmu,” tangan Ajiseka mencoba meraih pergelangan makhluk besar…
ReadmoreChapter 9: 9. Wanita penguasa alam mimpi.
Teng! Dalam sekejap Ajiseka tersadar, melihat sekeliling dan memastikan jika dirinya telah benar-benar kembali. Senyumnya mengembang manakala bilah-bilah bambu tersusun rapi mengitari Sekitarnya , dan itu artinya ia benar-benar berada di kediaman Ki Sawung. ‘Syukurlah aku sudah kembali.’ monolog Ajiseka. Ia keluar dari…
ReadmoreChapter 10: 10. Nyi Ajeng Ratri.
“Lepaskan aku!” Ajiseka ingin meronta manakala wanita sepuh itu seperti memangkas waktu. Pasalnya, dirinya dan wanita sepuh tidak berjalan saat mendekati gubuk, tetapi setiap kedipan mata posisinya semakin mendekati gubuk reot miliknya. “Tenangkan dirimu, Nak Mas. Nanti Kau akan senang di gubukku, aku…
ReadmoreChapter 11: 11. Gadis kecil menyebalkan
Beberapa saat berada di tempat persembunyian membuat Ajiseka bosan, ia hanya mendengar ledakan-ledakan dan sesekali mendengar ocehan kedua orang yang bertarung. Tetapi setelah dirinya merasakan hawa panas ia langsung mencari sumbernya di sekeliling tempatnya berada. Namun, Ajiseka malah melihat tontonan yang menarik perhatiannya,…
ReadmoreChapter 12: 12. Dewi Panguripan.
Lompatan tinggi disertai tendangan meluncur deras ke tubuh Ajiseka, tetapi Ajiseka tidak kalah cepat bergerak, ia memiringkan tubuhnya guna menghindari serangan. Bam! “Aaakh! Bedeb*h!” teriak si gadis kecil manakala tendangannya meleset dan mengenai tanah kering. Dia terhempas cukup keras. Bahkan, efek dari tendangannya…
ReadmoreChapter 13: 13. Menakar Niat.
Degh! Ajiseka tersentak kaget manakala Dewi Panguripan berucap. “Eum ... Apakah tadi saya berucap sesuatu?” Tanya Ajiseka kepada Dewi Panguripan. “Panggil saja kanjeng Ibu. Bukankah Kau sedang memikirkan itu Ajiseka?” jawab Dewi Panguripan sembari menoleh ke arah Ajiseka. “Tapi ....” Ajiseka menggaruk kepalanya,…
ReadmoreChapter 14: 14. Misi pertama.
Gemericik air menyadarkan Ajiseka yang masih terpejam, perlahan dirinya membuka mata, tidak berbeda jauh dengan padepokan Kahuripan. Tetap temaram tanpa adanya cahaya. Bahkan, dirinya mencari tempat untuk menyandarkan diri agar lebih leluasa memandang luasnya telaga yang begitu indah. Menikmati sejenak keindahan yang ia…
ReadmoreChapter 15: 15. Penjaga Mustika bening.
Langkah Ajiseka terhenti manakala mendengar lengkingan keras dari gadis yang bernama Galuh, beruntung sesak didadanya sudah mulai sepenuhnya pulih, secepatnya Ajiseka kembali ke arah suara. “Galuh!” teriak keras Ajiseka. Pasalnya gadis yang menolong dirinya terpelanting dan terhempas tidak jauh dari telaga. “Eh eh…
ReadmoreChapter 16: 16. Bertemu putri Kumbolo.
Reruntuhan tanah bercampur ranting menimbun tubuh kecil Ajiseka, dirinya tidak kuasa menahan serangan gencar yang di lakukan oleh Tirtawani. Bahkan, Ajiseka tidak sempat mengeluarkan satu-pun digdaya yang ia miliki. Kalaupun siap, kemungkinan dirinya hanya bisa mengandalkan ilmu Kanuragan yang merupakan serangan fisik dengan…
ReadmoreChapter 17: 17. Mustika Bening dan wadah lain.
Raga tanpa Sukma lambat laun akan terlihat melemah, tapi tidak dengan raga Ajiseka, kondisinya mengikuti kondisi sukmanya yang berada di luar raga. Seperti halnya di padepokan Kahuripan, raga Ajiseka terlihat tenang, sebab di alam lain sukma Ajiseka sedang melakukan proses meditasi, ya! Meditasi…
ReadmoreChapter 18: 18. Menuju Padepokan Balungwojo.
Dua sosok alam gaib berkumpul dalam satu tempat, membicarakan langkah terbaik mengenai Ajiseka. Ajiseka sendiri hanya diam mendengarkan perbincangan yang sejatinya tidak begitu ia pahami. Kumbolo yang mendominasi perbincangan, sebab ialah pemilik Mustika bening yang saat ini berada di cangkangnya. “Lihatlah wadah itu…
ReadmoreChapter 19: 19. Jatidiri Kumbolo.
Dagh! Benturan energi terjadi manakala sejengkal lagi bayangan putih menghantam tubuh Ajiseka. Keduanya jatuh bergulingan, gumpalan hitam pun perlahan memudar, lalu lesap bersamaan dengan jatuhnya sang pemilik digdaya. Ajiseka berusaha bangkit, begitu juga dengan sosok yang memiliki tinggi hampir sama dengan Kumbolo itu.…
ReadmoreChapter 20: 20. Pemuda asing yang usil.
Sebuah bangunan berdiri Kokoh di dataran tanah yang begitu lapang. Tempat itulah murid-murid Ki Balung Wojo berlatih Kanuragan juga kebatinan, ya! Dua jalur ajaran menjadi satu. Kolaborasi tepat yang di inginkan oleh Ajiseka, itulah sebabnya dirinya dikirim oleh Dewi Panguripan ke padepokan Balung…
Readmore





