Table of Contents
Lates Chapters
Penglihatan Dukun Maruto
Tawang kembali pulang bersama empat santri Ustaz Ahmad. Ia memutuskan untuk menitipkan anaknya di pesantren dalam asuhan ustazah untuk sementara waktu karena khawatir dengan keselamatan mereka. Sementara itu, Ustaz Ahmad memberlakukan penjagaan khusus di pesantren dengan menutup gerbang dan mengaktifkan pos jaga untuk…
Kedatangan Demit-demit
Danyang Manyar berdiri sekian meter dari gerbang melengkung pesantren Darul Ilmi. Kehancuran total lintas dimensi dan kematian masal wadya balanya di Kerajaan Manyar tak dapat terhapus dari pikirannya. Benaknya masih tak dapat menemukan jawaban pada sebuah pertanyaan besar tentang bagaimana mulut kecil dan…
Tak Terduga Terlacak
Matahari tenggelam di ufuk barat. Langit jingga menyinari gapura melengkung bertuliskan Darul Ilmi dalam huruf Arab. Tawang dan ketiga anaknya baru saja tiba di pesantren itu. Ia yang ditempatkan di rumah khusus tamu kecil di samping masjid memandang ke arah halaman di mana…
Amukan Api
Langit yang menjingga mengantar matahari kembali ke peraduan. Desa Marboyo dan Srodoyo yang diselimuti ketenangan tengah bersiap menyambut malam. Suara binatang malam mulai terdengar dari kejauhan mengiringi jendela-jendela dan pintu-pintu di desa itu mulai ditutup. “Celaka!” “Celaka!!!” Tiba-tiba suara teriakan panik terdengar dari rumah di pinggir…
Bencana Besar
Demit Manyar mengamati demit wanita berkaki tujuh yang tengah mendorong-dorong gadis kecil ke arah tungku dengan senyum penuh kemenangan. Gadis kecil itu terlihat tak berdaya dibawah cengkeraman salah satu demit kerajaan Manyar itu. Ia berdiri di depan mulut tungku raksasa dengan mata terbelalak.…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Anak Hilang
“Danar!” “Nar…!” “Danar…!” “Le…!” “Di mana kamu nak?” Suara segerombolan orang bersahut-sahutan memanggil nama yang diharapkan segera muncul. “Benar ya, Mbakyu Ratmi, sampeyan sudah cari kemana-mana?” ucap seorang perempuan dengan rok gambar bunga-bunga, rambutnya yang diikat ke belakang ikut bergoyang ketika ia celingukan…
ReadmoreChapter 2: Kali Manyar
Sebagian warga desa memenuhi rumah Danar ketika anak yang hilang itu dibawa pulang ke rumah. Seseorang yang dianggap “pintar” berada di dalam kamar Danar bersama dengan kedua orang tuanya. Sementara itu, beberapa orang laki-laki berkerumun di ruang tamu dan teras, sedangkan para perempuannya berkumpul…
ReadmoreChapter 3: Sang Manyar
"Haha ...!” Satu sosok gaib tertawa puas. Sosok hitam bertanduk dengan mata merah itu berdiri menyaksikan beberapa manusia yang baru saja menemukan anak hilang dari sungai Manyar. “Akulah Danyang Kali Manyar, dan gunung Pratanda adalah gerbang kekuasaanku! Kali Manyar ini hanya secuil kekuasaandi bawah…
ReadmoreChapter 4: Tak Bisa Ditembus
Pagi di jam manusia. Sosok hitam bermata merah bergerak dengan sangat cepat dari kerjaannya di dimensi lain. Para abdinya mengikutinya dan kemudian menyebar ke tempat-tempat yang ditugaskan. Sosok hitam itu memantau seluruh penjuru Kali Manyar. Lalu, ia berhenti di satu sudut sungai itu.…
ReadmoreChapter 5: Ketakutan-ketakutan
Azan isya berlalu berberapa menit yang lalu. Tawang, wanita berbaju lusuh itu mempercepat gerakannya untuk menyiapkan makan malam di gubuk kecilnya. Gubuk yang hanya berukuran empat kali empat meter dengan satu sekat yang membagi gubuk itu menjadi dua ruang. Satu ruang untuk tempat…
ReadmoreChapter 6: Kisah Seram yang Beredar
Jayid terkejut. Lalu, ia menatap ibunya dengan heran. “Bukankah tanaman itu ditumbuhkan Allah di sungai itu?” “Ah ...,” desah wanita itu lelah. “Iya, Nak. Itu benar. Tapi, siapa di pelosok negeri ini yang nggak kenal dengan keganasan Danyang Manyar?! Siapa?!” Jayid terdiam. Meskipun,…
ReadmoreChapter 7: Manusia Nekad
Sang Manyar berdiri di puncak Gunung Pratanda. Ia memandang hamparan kekuasannya sampai jauh di bantaran sungai Manyar. Demit hijau bermata kuning mendadak muncul di depannya. “Rajaku, manusia dari jenis perempuan yang tak dapat ditembus itu terpantau mendekati tempat yang selalu ia amati.” Jawaban dari…
ReadmoreChapter 8: Tertahan
Jam baru menunjukan pukul sembilan. Tapi, Tawang sudah membawa keranjang terakhir ke pinggir sungai. Ia memindahkan isi keranjang ke gerobak kayu, lalu menatap dataran di tengah sungai itu dengan bergidik. “Aneh sekali! Sebenarnya aku takut, tapi ....” Ia menoleh ke arah keranjangnya yang…
ReadmoreChapter 9: Menembus Mimpi
“Ah! Manusia brengsek!” Danyang Manyar mengumpat ketika tubuhnya merasa terbakar dan berasap. Tanpa melepas pandangannya, ia menjauh dari rumah itu sampai jarak ia nggak bisa lagi mendengar doa itu. “Aku hanya berjarak dua jengkal ketika mengikutinya menjual hasil curian dari dataran sungai Manyar. Tapi, begitu…
ReadmoreChapter 10: Mimpi yang Mewujud
Tawang terbangun. Ia melihat ke arah jam kecil di atas lemari kayu. Jam menunjukan pukul tiga dini hari. Ia mengusap keringat di dahi. “ Mimpi itu benar-benar seperti nyata!” Ia menggumam lirih seraya menatap Mumtaz dan Jidan yang tidur dengan nyenyak di sampingnya.…
ReadmoreChapter 11: Jelmaan
“Bodoh! Manusia goblok! Kere sok kaya!” Seketika mata merah Danyang Manyar berkobar, dari tubuhnya keluar nyala api ketika melihat manusia yang diincarnya justru mengubur emas ke tempat semula. Tubuh tak kasat matanya melesat mengikuti perempuan dari jenis manusia itu yang berjalan bergegas meninggalkan…
ReadmoreChapter 12: Setan Dari Jenis Manusia
Jayid berjalan mondar mandir di rumah barunya hanya terdiri dari tiga ruang. Ia ke ruang tidur ibunya di rumah papan itu dan melihat Mumtaz yang menemani Jiddan yang tertidur pulas. “Belum ada tanda-tanda ibu pulang?” Seketika Mumtaz menoleh dengan wajah khawatir. “Ya.” Jayid…
ReadmoreChapter 13: Sesajen Agung
Seorang polisi berdiri di depan orang yang menyerang Tawang. “Jangan bertindak diluar batas! Atau kalian akan dikriminalkan!” Teriakan polisi itu membuat riuh rendah teriakan itu mereda. Seorang aparat desa meminta warga untuk mundur. “Mohon tenang, Bapak-bapak, Ibu-Ibu! Kita nggak bisa begitu saja mengusir Bu…
ReadmoreChapter 14: Tamu Tak Diundang
“Aku nggak percaya ini!” Batinnya bergolak. Tawang berjalan dengan sangat tergesa menuju kediaman Ustaz Ahmad yang berjarak sekitar seperempat jam dari rumahnya. Tapi, hatinya sedikit tenang karena sudah meminta ketiga anaknya untuk masuk dan mengunci pintu. “Apa tanaman dan ikan-ikanku merugikan demit Manyar…
ReadmoreChapter 15: Mendadak Koma
Tawang menghela napas dalam. “Aku nggak merasa mengganggu siapapun. Kalau hanya memanen tanaman di kali Manyar, salahku di mana?” “Ha?!” Mirah pura-pura terkejut dengan gaya mengejek. “Salahnya di mana? Kok bisa Mbakyu Tawang masih nanya?” Tawang mengembuskan napas panjang. “Ya, udah. Terserah saja…
ReadmoreChapter 16: Tumbal Demit Genipati
Demit Manyar duduk di singgasananya dengan bahagia. Sebuah piring besar berisi tulang belulang baru saja diangkat dari meja besar yang ada di dekatnya setelah ia puas menghirup saripati dari tulang-tulang itu. Demit hitam bermata merah itu tertawa terbahak. Tawa riangnya membuat demit hijau…
ReadmoreChapter 17: Bencana Besar
Demit Manyar mengamati demit wanita berkaki tujuh yang tengah mendorong-dorong gadis kecil ke arah tungku dengan senyum penuh kemenangan. Gadis kecil itu terlihat tak berdaya dibawah cengkeraman salah satu demit kerajaan Manyar itu. Ia berdiri di depan mulut tungku raksasa dengan mata terbelalak.…
ReadmoreChapter 18: Amukan Api
Langit yang menjingga mengantar matahari kembali ke peraduan. Desa Marboyo dan Srodoyo yang diselimuti ketenangan tengah bersiap menyambut malam. Suara binatang malam mulai terdengar dari kejauhan mengiringi jendela-jendela dan pintu-pintu di desa itu mulai ditutup. “Celaka!” “Celaka!!!” Tiba-tiba suara teriakan panik terdengar dari rumah di pinggir…
ReadmoreChapter 19: Tak Terduga Terlacak
Matahari tenggelam di ufuk barat. Langit jingga menyinari gapura melengkung bertuliskan Darul Ilmi dalam huruf Arab. Tawang dan ketiga anaknya baru saja tiba di pesantren itu. Ia yang ditempatkan di rumah khusus tamu kecil di samping masjid memandang ke arah halaman di mana…
ReadmoreChapter 20: Kedatangan Demit-demit
Danyang Manyar berdiri sekian meter dari gerbang melengkung pesantren Darul Ilmi. Kehancuran total lintas dimensi dan kematian masal wadya balanya di Kerajaan Manyar tak dapat terhapus dari pikirannya. Benaknya masih tak dapat menemukan jawaban pada sebuah pertanyaan besar tentang bagaimana mulut kecil dan…
Readmore





