Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1 – Tuan Abel Ardante
- Chapter 2: Bab 2 – Dua Ardante Muda
- Chapter 3: Bab 3 – Permintaan Bernardo
- Chapter 4: Bab 4 – Kamu Yakin?
- Chapter 5: Bab 5 – Sekretaris Plus
- Chapter 6: Bab 6 – Ibu dan Metropolitan
- Chapter 7: Bab 7 – Giliran Si Gondrong
- Chapter 8: Bab 8 – Devano Menyebalkan
- Chapter 9: Bab 9 – Catatan dan Strategi
- Chapter 10: Bab 10 – Nyonya Jatuh
Lates Chapters
Bab 44 – Done
Semua mata tertuju pada Marini. “Bertahun-tahun aku juga marah dan menolak apa yang harus kami alami. Kenapa kami diperlakukan tidak adil? Kenapa Tuhan izinkan ini terjadi pada kami? Kalaupun suamiku bersalah, haruskah dia dihukum dengan cara itu?” Marini meneruskan. Semua mendengarkan, begitu juga…
Bab 43 – Pertemuan
“Mas, kenapa ke sini?” Rosia tidak habis pikir, mereka masuk ke halaman mansion Ardante. “Ibu kamu menunggu di sini, Rosia.” Catherine yang menjawab. “Apa?” Rosia kaget bukan kepalang mendengar itu. Ada apa ini? Mereka turun dari kendaraan dan masuk ke ruang depan yang…
Bab 42 – Hancur
Rosia menunggu Catherine memberi penjelasan. Tidak mungkin Ale minta Rosia tinggal dengannya. Itu tidak akan baik, Ale adalah seorang laki-laki. Sekalipun dia dekat, seperti kakak buat Rosia, mereka bukan saudara kandung. Apalagi dengan dekatnya hubungan Ale dan Catherine, Rosia akan canggung sekali sering…
Bab 41 – Ros?
Rosia keluar kamar Ale. Perlahan dia berjalan sambil memandang ruangan demi ruangan. Dia harus pergi dari situ. Rosia akan pulang ke Surabaya secepatnya. Tetapi, Rosia tidak melihat tas miliknya ada di mana di kamar Ale. Rosia harus mendapatkannya lalu segera cabut. Sampai di…
Bab 40 – Sebenarnya
“Tidak, aku tidak mau, tidak …” Rosia menggeleng-geleng. Dia berusaha bicara dengan kuat tetapi tubuhnya terasa begitu lemah, dan suaranya sulit sekali keluar. Rosia membuka mata dan … “Ini di mana?” Rosia mencoba duduk memandangi sekelilingnya. Dia ada di sebuah kamar yang tidak…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1 – Tuan Abel Ardante
Dengan dada berdebar-debar, Rosia Jingga Kinasih memandang pria berusia lebih setengah baya di depannya. Kumis tebal dan jambang memenuhi dagu dan rahang pria itu, membuatnya tampak berkharisma dan penuh wibawa. Posturnya yang tinggi dan gagah sekalipun sudah tidak lagi muda, menunjukkan dia bukan…
ReadmoreChapter 2: Bab 2 – Dua Ardante Muda
“Baik-baik bekerja. Tidak mudah mendapat pekerjaan zaman sekarang. Kalau kamu tahu membawa diri, pasti pimpinan kamu senang.” Pesan itu jelas terdengar di telinga Rosia. “Iya, Bu. Aku akan kerja dengan baik. Ibu sehat terus, ya? Aku akan pulang bulan depan, sekalian ada tanggal…
ReadmoreChapter 3: Bab 3 – Permintaan Bernardo
Entah kenapa dada Rosia tiba-tiba meletup dan berdebar kuat begitu melihat dua anak Abel ada di kafe itu. Apakah ini kafe favorit mereka juga? Apakah hari keberuntungannya memang sudah tiba? Rosia sepertinya punya kesempatan berkenalan dengan anak Abel lebih cepat dari yang dia…
ReadmoreChapter 4: Bab 4 – Kamu Yakin?
“Kamu siap?” Doris menatap lekat-lekat pada Rosia. Hari kedua bekerja, Rosia akan bertemu dengan Bernardo. Entah apa yang akan pria itu minta untuk Rosia lakukan. Tentu Rosia berharap bukan hal yang terlalu sulit dan dia bisa memberi kesan baik pada anak pemilik perusahaan…
ReadmoreChapter 5: Bab 5 – Sekretaris Plus
Wanita tingi kurus dengan outfit sangat modis berjalan mendekat. Tatapan kesal ada di wajahnya. Rosia tidak akan lupa dengan wanita itu. Selly, sekretaris Abel Ardante. “Pagi, Bu Selly. Mohon maaf, Bu, itu tidak sengaja,” jawab pria yang dipanggil Pak Diman itu. “Aku yang…
ReadmoreChapter 6: Bab 6 – Ibu dan Metropolitan
Ketakutan Rosia lenyap. Bernardo tidak melakukan hal yang aneh-aneh padanya. Selama makan siang itu, Bernardo bicara hal-hal normal, bahkan tidak terlalu membahas pekerjaan. “Aku harus kenal pegawai yang bekerja denganku. Apalagi jika aku menemukan dia punya kapasitas untuk melakukan pekerjaan besar. Kalau aku…
ReadmoreChapter 7: Bab 7 – Giliran Si Gondrong
Devano maju dua langkah dan berhadapan dengan dua wanita di ruangan itu. “Neng Doris! Aku ga banyak waktu,” ucap Devano tegas. “Aku tidak bisa menunda lagi jadwalku, Pak Dev. Rapat kita sedikit lambat selesai. Bisa berantakan urusanku besok,” kata Doris menolak Devano. Rosia…
ReadmoreChapter 8: Bab 8 – Devano Menyebalkan
“Kenapa? Kamu tidak suka makan malam denganku?” Pertanyaan itu membuat Rosia kaget. Devano berpikir apa? Devano menelisik wajah cantik Rosia. Hidungnya kecil, tidak terlalu mancung tapi pas di wajahnya. Mata Rosia tidak lebar, tetapi bulat dan indah. Bibirnya tipis kalau dia mengatupkannya sedikit…
ReadmoreChapter 9: Bab 9 – Catatan dan Strategi
Rosia melempar tubuhnya di atas kasur di kamar kos yang sempit. Dia tengkurap sambil memegang ponsel. Dia menelepon ibu lagi karena ingin meneruskan pembicaraan siang yang terjeda. Ibu senang Rosia menghubungi. Perbincangan lumayan panjang terjadi. Rasa rindu ditumpahkan hingga lega. Usai itu, Rosia…
ReadmoreChapter 10: Bab 10 – Nyonya Jatuh
Tok tok tok! Rosia mengetuk pintu ruangan Devano yang setengah terbuka. Di dalam pria itu duduk santai dengan kedua kaki dia naikkan di atas meja. “Masuk!” Terdengar perintah Devano. Rosia masuk dan duduk di kursi dekat pintu. Devano masih sibuk menelepon. Rosia dengan…
ReadmoreChapter 11: Bab 11 – Senyum Manis Wanita Lemah
Rosia bingung harus bersikap bagaimana. Devano benar-benar membuatnya tidak karuan. Pria itu masih memeluknya kuat dan terus menangis. Devano bahkan meremas baju yang Rosia kenakan. Tubuh Rosia sedikit tertarik makin merapat pada Devano karena hampir tidak mampu menahan berat tubuhnya. Aroma wangi lembut…
ReadmoreChapter 12: Bab 12 – Keluarga Aneh
Rosia seketika menggigit bibirnya. Apa yang dia ucapkan? Apa urusannya Devano kerja atau tidak dengan hidup Rosia? “Nggak!” Devano menjawab dengan nada suara meninggi. Apakah dia akan marah karena pertanyaan Rosia? ”Aku ga bakal bisa mikir. Aku ga akan ke kantor!” Devano masih…
ReadmoreChapter 13: Bab 13 – Trauma, Amarah, Kecewa
Devano tidak mau mengalah. Dia membantah Abel dengan berani. ”Aku tidak mau berdebat denganmu! Kamu merusak hariku saja. Jangan kuatir, aku segera pulang!” Klik. Panggilan itu berakhir. ”Abelardo Ardante. Kenapa kamu masih hidup?” Devano berkata dengan geram yang naik ke ubun-ubun. Wajahnya merah.…
ReadmoreChapter 14: Bab 14 – Tuan Abel dan Selly
Kembali ke kantor. Deretan pekerjaan menunggu Rosia. Dia harus bergerak cepat agar target terpenuhi. Sekalipun dia meninggalkan kantor atas permintaan Bernardo dan Devano, urusan pekerjaan tidak bisa minta excuse. Karena jika Rosia lambat, berpengaruh pada deadline yang lain. ”Dua hari terpaksa lembur. Mau…
ReadmoreChapter 15: Bab 15 – Mansion Mengagumkan
- Oya? Boleh saya buatkan, Tuan? Mungkin Nyonya Erli berkenan. Rosia menawarkan diri, dia harus berani bertindak. Tidak segera datang balasan dari Devano. Rosia berharap-harap cemas. Tapi permintaannya seperti bodoh saja. Bukankah di rumah Devano banyak pembantu dengan gampang bisa menyiapkannya untuk Erlina? …
ReadmoreChapter 16: Bab 16 – Mau Lagi
Di depan Rosia, dengan posisi berdiri yang resmi wanita berseragam putih dipadu coklat gelap memandang Rosia. ”Aku kepala pelayan di rumah ini. Terima kasih untuk kebaikan hati Nona. Boleh aku terima bubur untuk Nyonya? Saya harus mengantarkan sarapan segera.” Ramah dan ada senyum…
ReadmoreChapter 17: Bab 17 – Ketegangan Doris dan Devano
Rosia mengambil ponsel dan memberikan pada Devano yang seketika makin girang mendapat panggilan itu. Sarapan penuh sayang terdengar dan berlanjut dengan untaian kata manis Devano lemparkan buat kekasihnya. Hampir sepanjang jalan ke kantor, Rosia harus menekan rasa canggung yang mendera karena mendengar percakapan…
ReadmoreChapter 18: Bab 18 – Kepedihan Nyonya
Rosia hampir masuk kamar mandi, telepon nyaring berdering. Devano menghubungi. ”Sudah siap? Ayo!” ”Mas Dev, sedikit lagi. Sepuluh atau lima belas menit lagi, ya?” Rosia meminta waktu bersiap. ”Aku sudah di tempat kos kamu, menghadap taman dengan bunga mawar dan dahlia. Ada pohon…
ReadmoreChapter 19: Bab 19 – Risol Mayo
”Pagi, Kak.” Suara lembut dan ramah terdengar lagi dari bibir Erlina. Wanita itu mengulurkan tangan ke arah Abel. Dia memandang penuh sayang pada suaminya. Abel mendekat, duduk di kursi tepat di sisi kiri Erlina. Dia melihat juga pada Devano lalu ke arah Rosia.…
ReadmoreChapter 20: Bab 20 – Mencurigai Selly
”Tenang, Rosi. Kamu sudah bekerja dengan sangat baik.” Rosia menghibur diri sendiri. Lalu dia bergegas kembali ke dapur dan mengambil lagi risol mayo. Dia letakkan di piring kecil 3 biji dengan saos dan mayonaise, kemudian dia taruh di atas nampan kecil. ”Non, sama…
Readmore





