Table of Contents
- Chapter 1: Kedatangan Penyewa
- Chapter 2: Apa yang Terjadi?
- Chapter 3: Bayangannya Menghantui
- Chapter 4: Tangan Pucat yang Gemetaran
- Chapter 5: Bab Satu Mahkota Retak
- Chapter 6: Kenapa Ia Begitu Ketakutan?
- Chapter 7: Ada Apa?
- Chapter 8: Bab Dua Mahkota Retak
- Chapter 9: Bab Tiga Mahkota Retak
- Chapter 10: Mahkota Retak, Pertengkaran
Lates Chapters
Tertampar Fakta
Dengan tak sabar, lipatan kertas itu kutarik. Aku masih berharap itu kertas yang bukan fotokopi surat nikah. Dan ketika aku membuka lipatan kertas itu, “Ah!” Aku menjerit. Ini memang sebuah fotokopi surat nikah! Nama kedua mempelai adalah Sakti Atmajaya dan Ranatya Suksma. Di…
Penasaran Itu Terjawab
“Wah!” seruku sambil menggeleng-gelengkan kepala, cerita yang membuat miris sekaligus salut. Suara ketukan di pintu kembali terdengar. Pegawai keluarga ini membawakan makan siang di atas nampan. Lalu, ia kembali keluar dari kamar ini. Eh?! Tiba-tiba apa yang baru saja kubaca membuatku teringat akan pembicaraan…
Aku Tidak Gila
Kisah dalam Mahkota Retak II ini membuat mataku seolah tak mau berhenti menatap baris demi baris dalam layar ini. Dan saat pegawai Ibu mertuaku mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa aku sudah ditunggu makan siang oleh ibu dan kedua adik iparku, aku hanya membuka…
Harga yang Harus Dibayar
Tidak!!! Bagian diriku yang lain menolak ide itu. Kenapa? Kenapa aku harus menyerah pada kesakitan ini? Sementara, Arjuna dan orang-orang jahat itu bahagia. Tidak! Aku harus keluar dari kesakitan ini dan menentukan kebahagiaanku sendiri. Bukankah aku sudah memulainya dengan semua yang kulakukan sampai…
Mahkota Retak II
Layar telepon genggam langsung menampilkan bab satu dari judul buku yang kunanti. Ah! Ternyata kesibukan itu membuatku tak sempat memantau platform penulisan yang kuikuti ini. Dengan tak sabar mata ini mulai membaca bab pertama. Begitu kuat keinginan Ibu Arjuna untuk membuatku tetap mendekam di…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Kedatangan Penyewa
Seorang perempuan berdiri di depan pintu. Jujur saja, aku agak terpana melihat penampilannya. Ingin kuurungkan kesepakatan yang telah ada, tetapi pasti aku akan menjadi perempuan tanpa hati di abad ini. Paduan tubuh kurus dan wajah pucat dengan rambut agak awut-awutan, serta baju yang…
ReadmoreChapter 2: Apa yang Terjadi?
Pagi. Suara kicau burung membawaku kembali ke alam nyata, meninggalkan alam mimpi yang sempat terganggu tadi malam. Mimpi yang tak lagi indah, karena kombinasi mimpi buruk yang menyelusup. "Ah, kenapa harus dipikirkan lagi sebuah mimpi?" Pagi ini ada kenyataan baru yang harus dihadapi. Tidak membutuhkan waktu lama…
ReadmoreChapter 3: Bayangannya Menghantui
Pagi yang cerah. Seharusnya begitu juga hati ini. Bagaimana tida? Aku berada di resort yang asik ditemani oleh orang yang selalu kurindukan. Namun, sesuatu yang mengganjal ini membuat senyum tak selebar biasanya. Karena aku terus bertanya, mengapa bayangan Si Penyewa berkelebatan tanpa henti? Setelah mobil…
ReadmoreChapter 4: Tangan Pucat yang Gemetaran
“Ya?” ujarku sambil ikut melirik ke kanan dan ke kiri, ikut mencari apa yang kira-kira menjadi sebab rasa takut yang ada di matanya. Apa benar dia takut ada orang lain di ruangan ini? Aku kembali mempertanyakan prasangka pada diri sendiri. Kekepoan ini bergejolak,…
ReadmoreChapter 5: Bab Satu Mahkota Retak
Setelah kepergian perempuan itu, aku menutup pintu samping, lalu melangkah dengan ringan ke kamar tidur, melanjutkan kegiatan yang terhenti tadi. Pikiran ini berusaha keras mengesampingkan rasa penasaran tentang penyewa kamar samping itu dengan susah payah. Perlu usaha keras untuk menghapuskan bayangan wajahnya yang…
ReadmoreChapter 6: Kenapa Ia Begitu Ketakutan?
“Apa itu?” Bunyi krusak-krusek membangunkanku, juga suara air yang mengalir turut serta menghilangkan rasa kantuk. Ternyata aku tak sengaja terlelap sebelum menyelesaikan cerita yang kubaca di layar smartphone tadi malam. Matahari belum tinggi, tetapi langit sudah terang benderang. “Eit, seperti ada orang yang hilir…
ReadmoreChapter 7: Ada Apa?
Rana, sosok itu sekarang menjadi misteri yang ingin kuungkap. Magnetnya mampu menarikku untuk selalu ingin memikirkannya. Kehadiran perempuan itu mampu memecah konsentrasi, pikiran ini kini terbelah, tidak lagi tersedot pada laki-laki yang beberapa saat ini telah menjadi epicentrum dari getaran-getaran yang ada di…
ReadmoreChapter 8: Bab Dua Mahkota Retak
Belum cukup kekagetanku, tubuh perempuan yang terlihat marah ini terlihat kaku. Mulutnya terbuka dan mengeluarkan teriakan keras. Tanganku mengepal erat, mengikuti degup jantung yang berpacu kencang. Aku teringat adegan kesurupan-kesurupan yang ada di televisi dan video-video di platform media sosial. “Rana!”…
ReadmoreChapter 9: Bab Tiga Mahkota Retak
“Bisakah seseorang yang kita cintai berubah?” Sebuah pertanyaan melintas setelah membaca Mahkota yang retak pada bab ini. Jika benar cinta itu bisa berubah, kenapa cinta harus berubah? Tak bisakah semua upaya dikerahkan untuk menjaganya? Dapatkah cinta itu lenyap? Jika benar cinta bisa lenyap, lalu…
ReadmoreChapter 10: Mahkota Retak, Pertengkaran
Hati ini terasa panas. Ingin sekali langsung menghambur keluar dan melabrak ibu suamiku itu. Tetapi apa daya, sekali lagi, aku hanya bisa ... diam. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Lebih baik mencari waktu yang tepat dan bicara dengan kepala dingin, bukan? Aku…
ReadmoreChapter 11: Mahkota Retak, Janin
Ruangan serba putih terpampang ketika aku membuka mata. Tak seorang pun kulihat menungguku, tidak juga suamiku. Di mana laki-laki yang katanya dulu mencintaiku itu? Aku memejamkan mata. Merasa bersalah sekaligus bodoh. Semua kekacauan di rumah megah itu membuat aku tidak menyadari hal paling…
ReadmoreChapter 12: Mahkota Retak, Tak Ada Tempat Sembunyi
Dengan telanjang kaki aku berlari. Mobil ambulance itu mengejar ketika aku menoleh. Kerikil tajam menusuk telapak kaki tak lagi terasa. Jalanan yang ramai memudahkan untuk menghilang dari pandangan para pengejar. Tetapi, sayangnya, petugas dari rumah sakit jiwa itu turun dari ambulance dan dengan cepat menyusul…
ReadmoreChapter 13: Mahkota Retak, Pulang
Aku menahan napas ketika mendengar suara pintu bagasi dibuka. Suara kantong plastik yang dipegang terdengar gemerisik. Jantungku seakan berhenti berdetak. Beberapa saat kemudian suara pintu bagasi ditutup terdengar. Dengan cepat aku memompa oksigen ke dalam paru-paru. Bau kantong plastik dan apa yang ada…
ReadmoreChapter 14: Mahkota Retak, Amplop
Dengan langkah lunglai kaki-kaki ini melangkah menyusuri gang sempit di samping rumah. Kabar yang baru saja kudengar itu seolah membuat seluruh otot-otot tubuh tercerabut. Dengan meneguhkan hati, kupaksakan kaki ini terus berjalan. Meskipun langkah terasa kian berat ketika sesak di dada makin tak terkendali.…
ReadmoreChapter 15: Mahkota Retak, Tak Dibiarkan Bebas
Kalaulah ada penobatan hari tersedih di dunia, mungkin hari inilah saatnya. Sepertinya kabar meninggalnya kedua orang tuaku kemarin belum cukup menjadi satu batu ujian besar yang datang di hidupku. Surat ini buktinya! Satu surat yang menegaskan tindakan ibu suamiku yang tengah membuktikan kata-katanya untuk melenyapkan…
ReadmoreChapter 16: Apa Cemburu Itu Beralasan?
Telepon genggam yang berada di atas kasur itu menjerit-jerit dengan layar yang menyala. Nama Sakti terpampang di layar menyala itu. “Halo,” sapaku riang saat menekan tombol terima panggilan. “Kenapa lama sekali jawabnya, Sayang?” Terdengar suara Sakti, cintaku dari seberang sana. Uh! Sakti nggak tahu…
ReadmoreChapter 17: Perlahan Berubah
Biasanya, aku yang akan merasa insecure jika ada wanita lain yang akan mengambil laki-laki ini dari sisiku, tetapi apa iya cemburunya itu seperti apa yang kurasakan. Ah! Bisa jadi hari ini ia capek atau ada masalah di pekerjaannya hingga jadi lebih sensitif dibanding hari…
ReadmoreChapter 18: Pertanyaan Calon Mertua
Rana tersenyum kikuk, lalu menggeleng-geleng pelan. “Apa saja yang Ayla dengar, anggap saja tidak ada,” ucapnya dengan ekspresi wajah yang ... aneh. “Begitu?” ujarku heran dan sebenarnya aku ingin meminta penjelasan lebih lanjut. Tetapi, sepertinya usaha ini bakalan sia-sia, Rana sudah membenamkan wajahnya di antara lutut yang…
ReadmoreChapter 19: Siapa yang Ia Maksud?
Raut wajah calon mertuaku itu tampak sangat serius dan terbaca sangat menginginkan jawaban yang mengikuti kemauannya. “Em ... saya malah tidak tahu akan ada masalah seperti ini, Bu. Dalam rentang satu tahun ini, kami sama-sama saling mengenal pribadi kami masing-masing saja,” jawabku dengan lembut.…
ReadmoreChapter 20: Menuntaskan Rasa Penasaran
“Siapa wanita yang dimaksud?” gumamku tak sadar. Aku buru-buru menutup mulut, takut gumanan ini terdengar. Tapi, siapa wanita yang dimaksud oleh dalam pembicaraan itu? Siapa wanita yang baru disebut? Tempat apa yang baru dikhususkan untuk wanita itu? Rasa penasaran ini langsung menggelegak bak air mendidih. Lalu,…
Readmore





