Table of Contents
Lates Chapters
14. Amarah Yang Tertunda
"Berhenti, Kak. Apa yang Kakak lakukan, lihat semua orang menatapmu!" desis Ni Luh. Bagaskara menyentak tangan Ni Luh, dia tidak peduli. Langkahnya terus mengejar Sarita. Namun, wanita itu sudah menghilang di tengah kerumunan para tamu dan pengunjung malam amal. Bagaskara pun melangkah…
13. Ramah Tamah
"Mama!" Seorang anak laki-laki naik ke panggung menghampiri Sarita dan Sagara. Pria kecil yang tampan berjalan tegap. "Hai, Tampan. Siapa nama kamu?" tanya pembawa acara. "Alifian Waluyo!" "Wow, apakah ini mama dan papa kamu?" "Iya, ini keluargaku." …
12. Keluarga Waluyo
Pembawa acara segera memulai acaranya. Satu per satu barang dilelang dengan cara bertahap. Ni Luh terlihat begitu antusias kala sebuah kalung permata bertahtakan belian rubi merah. "Kak, tawar kalung itu untukku!" pinta Ni Luh Ayu. "Baik, persiapkan saja uangnya!" "Iih,…
11.
"Maaf, Anda salah orang!" Sarita langsung melangkah pergi meninggalkan kedua orang masa lalunya. Aulia pun mengikuti langkah Sarita dari belakang sebelumnya memastikan pada salah satu karyawan untuk memerhatikan dua pembeli itu. "Bunda, Bagas tidak salah lihat 'kan. Tadi itu benar Saritaku?"…
10.
Sarita menuruti langkah putranya meninggalkan wanita bersama putrinya yang cantik itu. Tanpa Sarita tahu, Sagara telah melihat dan mendengar semua kalimat perempuan itu. Dahinya mengernyit, seakan dia pernah melihat wajah perempuan tersebut. "Paman!" teriak Alifian saat dilihatnya Sagara berdiri dengan bersedekap dan…
Comments
14 Chapters
Chapter 1: 1. Malam Laknat
Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang. Hujan semakin deras dengan angin bertiup kencang. Sarita terlihat mulai kedinginan, sedangkan Bagaskara terus melajukan kendaraannya. Di tengah lebat hujan, pria itu tidak memedulikan teriakan Sarita untuk menepi, hingga akhirnya di sebuah pos kampling Bagaskara menepikan kendaraannya. …
ReadmoreChapter 2: 2. Cambuk
Setelah malam itu, Sarita menjadi gadis yang pendiam. Gadis itu terus menghindar agar tidak bertemu langsung dengan Bagaskara yang sekarang sedang menjadi dosennya. Baik di kampus maupun di rumah, Sarita selalu menghindar. Dia tidak ingin melihat wajah lelaki yang sulit untuk dia raih.…
ReadmoreChapter 3: 3. Nikah
Anne menerima cambuk leluhurnya itu, dia menggerakkan dengan tenaga penuh. Terdenhar suara ujung cambuk yang menyentuh lantai. Suaranya membuat hati wanita bagai teriris pisau tajam, perih. Sarita bergidik ngeri membayangkan jika punggungnya terpecut hingga 100 kali cemeti. "Tuhan, tolong-lah hamba!" batin Sarita.…
ReadmoreChapter 4: 4. Misterius
"Aneh!" "Sarita!" teriak Anne memanggil nama gadis itu. Sarita gegas berlari menuju ke asal suara. Dia termangu menatap kehadiran pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tegap. Anne mempersilakan tamunya untuk masuk ke ruang kerja. Lalu menyuruh Sarita untuk menyiapkan…
ReadmoreChapter 5: 5. Talak
Bagaskara masih saja meluapkan emosinya hingga suara lembut memanggilnya. "Mas!" Tangan lembut Sarita terulur menyentuh lengan suaminya, "Aku bisa jelaskan semua, percayalah!" lanjut Sarita. "Apa yang ingin kau jelaskan? Semua sudah terlihat jelas," kata Bagaskara. "Aku dijebak, dan yang menjebak…
ReadmoreChapter 6: 6. Terdampar
Sarita keluar dari mansion aneh milik Madam Anne, kakinya berjalan tanpa arah. Dua hari dua malam wanita muda itu terus menyusuri trotoar tanpa tujuan. Hingga di hari ketiga perutnya berbunyi cukup nyaring. "Akhirnya rasa lapar itu datang juga!" gumam Sarita. Pandangannya…
ReadmoreChapter 7: 7. Liontin Biru
Cukup lama Sarita pingsan, jam sepuluh pagi saat sinar mentari masuk dalam kamar melalui jendela yang terbuka tirainya. Perlahan tubuh Sarita menggeliat, kedua matanya membuka. Pandangannya menyapu ruangan yang berwarna biru laut. Warna yang sudah lama dia dambakan sejak masih kecil. Tapak…
ReadmoreChapter 8: 8. Tabir Mulai Terbuka
"Aku sendiri tidak tahu cerita mengenai liontin itu. Yang pasti benda itu sudah melingkar di leherku sejak aku bayi. Itu keterangan yang kudapatkan dari simbok," jawab Sarita. " Aku Sagara Arnold Waluyo, tunggu satu minggu hasil tes dna. Sementara satu minggu ini…
ReadmoreChapter 9: 9. Saudara
Sarita terdiam, matanya menatap deretan huruf yang menyatakan kecocokan 100%. Wanita itu menatap pada pria di depannya, lalu mengangguk. "Bagaimana langkah kamu selanjutnya, Sarita?" tanya Sagara. "Aku ingin lahiran lebih dulu, kemudian perbaiki sikapku untuk membalas semua ini!" "Bagus. Apa…
ReadmoreChapter 10: 10.
Sarita menuruti langkah putranya meninggalkan wanita bersama putrinya yang cantik itu. Tanpa Sarita tahu, Sagara telah melihat dan mendengar semua kalimat perempuan itu. Dahinya mengernyit, seakan dia pernah melihat wajah perempuan tersebut. "Paman!" teriak Alifian saat dilihatnya Sagara berdiri dengan bersedekap dan…
ReadmoreChapter 11: 11.
"Maaf, Anda salah orang!" Sarita langsung melangkah pergi meninggalkan kedua orang masa lalunya. Aulia pun mengikuti langkah Sarita dari belakang sebelumnya memastikan pada salah satu karyawan untuk memerhatikan dua pembeli itu. "Bunda, Bagas tidak salah lihat 'kan. Tadi itu benar Saritaku?"…
ReadmoreChapter 12: 12. Keluarga Waluyo
Pembawa acara segera memulai acaranya. Satu per satu barang dilelang dengan cara bertahap. Ni Luh terlihat begitu antusias kala sebuah kalung permata bertahtakan belian rubi merah. "Kak, tawar kalung itu untukku!" pinta Ni Luh Ayu. "Baik, persiapkan saja uangnya!" "Iih,…
ReadmoreChapter 13: 13. Ramah Tamah
"Mama!" Seorang anak laki-laki naik ke panggung menghampiri Sarita dan Sagara. Pria kecil yang tampan berjalan tegap. "Hai, Tampan. Siapa nama kamu?" tanya pembawa acara. "Alifian Waluyo!" "Wow, apakah ini mama dan papa kamu?" "Iya, ini keluargaku." …
ReadmoreChapter 14: 14. Amarah Yang Tertunda
"Berhenti, Kak. Apa yang Kakak lakukan, lihat semua orang menatapmu!" desis Ni Luh. Bagaskara menyentak tangan Ni Luh, dia tidak peduli. Langkahnya terus mengejar Sarita. Namun, wanita itu sudah menghilang di tengah kerumunan para tamu dan pengunjung malam amal. Bagaskara pun melangkah…
Readmore





